
Rara lapar dan Rara ingin ke kantin. Tapi hari ini Rara ingin mendapat ketenangan, mendapat ketenangan satu hari di sekolah saja, Rara sudah sangat bersyukur.
Kantin adalah tempat di mana Akram biasanya menyiksa murid lemah, seperi Rara misalnya, sesuai niat Rara tadi--Rara ingin sekali mendapatkan ketenangannya. Tapi hari ini sepertinya tidak bisa, mengingat perutnya yang harus segera di isi.
Maka dari itu, Rara memutuskan untuk ke kantin. Resikonya biar Rara yang tanggung.
Sesampainya di kantin, Rara menunduk dan jari-jemarinya tampak beradu. Rara khawatir, karna barusan matanya menangkap sosok Akram and the geng, Dan Rara hanya bisa berdoa dalam hati, berharap Akram tidak melihatnya, meskipun itu kecil kemungkinan.
Dan lagi dan lagi, sepertinya kali ini keberuntungan tidak berpihak pada Rara. Akram dan teman-temannya menghampiri Rara, membuat tubuh Rara makin gemetaran takut.
"Hay Clara.." Sapa Akram, tapi nada dalam ucapannya itu terdengar meremehkan.
Rara tidak menjawab. Dia melangkah melewati Akram, dan itu membuat emosi Akram naik. Dengan sengaja dia menyandung kaki Rara hingga terjatuh tersungkur di lantai.
"Aww"
Cyka, Seli dan Kito tertawa menyaksikannya. Cyka berjongkok dan mensejajarkan wajahnya di depan wajah Rara, tepat saat itu juga Rara meringis hebat saat rambutnya di tarik kasar oleh Cyka.
Rara tidak sanggup membendung air matanya, rasanya saat ini harga dirinya sudah hilang. Kenapa dari begitu banyaknya siswa di kantin tidak ada yang berniat menolongnya sama sekali, dunia memang kejam terhadap orang seperti Rara.
"Sakit?"Cyka bertanya, senyum miring tercetak di wajahnya. Dia berdiri menegakan badannya, membiarkan Rara yang masih terduduk tidak berdaya di lantai.
"Hey,siniin juz lo"Perintah Akram, siswa yang di tunjuk Akram tadi berdiri dan melangkah pelan memberikan juz miliknya pada Akram.
Gelas berisi juz jeruk sudah berada di genggaman Arkam. Mungkin kalian tau apa yang akan di lakukan oleh Arkam, sesuai yang kalian pikirkan.
Jus yang akan segera tumpah di atas kepala Rara tiba-tiba di tahan oleh tangan seorang cowok. Gelas tersebut di lempar jauh oleh cowok tersebut, emosi Akram naik, urat-urat di kepalan tangannya terlihat.
"Baru murid baru udah sok belagu lo, yah?! " Akram membentak, menarik kerah baju Fikra yang tingginya sejajar dengannya.
Fikra tampak santai, menepis tangan Akram kasar. Mengusap kerah bajunya seakan-akan tangan Arkam tadi itu bagaikan kuman yang sudah mengotoki bajunya.
"Lo Cowok, tapi suka nyiksa cewek. Cih, Dasar pengecut"
Bug
Satu pukulan mendarat di pipi Fikra, dan Fikra masih tampak santai. Dia berjongkak, mengangkat dagu Rara yang wajahnya kini sudah sangat berantakan, tersirat rasa kasihan di hatinya.
"Citra, bawa Rara keluar. Abang mau ngurusin pengecut ini dulu"Perintah Fikra. Citra menangguk, menarik tangan Rara keluar kantin.
Rara dapat mendengar pertengkaran di kantin, dan itu dia penyebabnya. Di sisi lain Rara bersyukur karna masih ada yang ingin menolongnya, tapi dia juga merasa khawatir kalau saja cowok yang merupakan murid baru di kelasnya itu, terluka hanya karna dirinya.
Belum lagi dia juga khawatir sama cewek yang menarik tangannya, pasti dia akan terkena masalah karna berurusan dengan Akram dan itu juga gara-gara Rara.
Rara berhenti, membuat Citra ikut berhenti.
"Kenapa kak?"Tanya Citra.
"Lo mau bawa gue ke mana?"Rara balik bertanya, Citra tersenyum hangat.
"Ikut aja.."
Citra kembali menarik tangan Rara, membawanya ke suatu tempat, hingga kini mereka berdua berada di taman belakang sekolah, tapi sebelumnya Citra sempat mengambil tas-tas mini di kelasnya baru setelahnya menuju ke taman belakang sekolah.
"Em.. Kak, aku boleh buka kepangan rambut kakak gak? mau aku perbaiki, soalnya berantakan"
"Hah?"
Tampa persetujuan dari Rara, Citra melepas kepangan rambut Rara yang memang sudah tidak tertata rapi hingga kini rambutnya sudah terurai, lalu setelahnya melepas kaca mata besar dari wajah Rara. Rara tidak menolak, malahan dia menunggu apa yang akan di lakukan Citra selanjutnya.
"Wah.. Cantik"Puji Citra. Rara mengerjap, semenjak Sma baru kali ini ada yang memuji Rara cantik.
"Oh iya, nama aku Citra adek kelas baru kakak. Aku adek kandung abang Fikra" Ucap Citra, dia mengulurkan tangannya. Cukup lama melayang di udara, yang akhirnya di jabat oleh Rara.
"Clara"
"Kak Rara aja deh, hehe"
Rara tersenyum kikuk, enggak tau mau ngomong apa.
"Deket dikit kak"Rara menurut. Citra tersenyum, lalu mengambil sisir di tas mininya untuk memperbaiki rambut Rara.
"Karet rambut gue di mana?"Tanya Rara, karna tampa karet rambut maka rambutnya tidak akan bisa di kepang.
"Aku buang"Jawab Citra santai, tetap melanjutkan menyisir rambut Rara yang menurutnya lebat dan lembut.
"Gak perlu, di urai cantik kok"
______
Rara terus-terusan menatap arah pintu, berharap bahwa seseorang masuk dari sana. Bangku yang tampak kosong di depannya, membuat Rara khawatir dengan apa yang terjadi pada pemilik bangku tersebut.
Sejak kembali dari taman, Fikra masih belum masuk kelas, padahal pembelajaran sudah di mulai dan itu membuat Rara khawatir. Belum lagi sejak masuk kelas, Rara terus saja di tatap oleh penghuni kelas, membuat Rara berpikiran negatif,Seperti:apakah dirinya tidak cocok dengan rambut terurai?
Karna saran dari Citra tadi, Rara terpaksa mengurai rambutnya. Dia tidak tau cocok atau enggaknya, tapi tatapan para teman kelasnya membuatnya risih.
"Ra?"Panggilan siswa laki-laki dari arah belakang mengharuskan Rara menoleh.
"Iya?"
"Ini maksud soalnya apa yah?" Tanya cowok tersebut, yang di ketahui bernama Andi, salah satu cowok tampan di kelas Rara.
Rara terlihat gugup menjelaskannya, sampai akhirnya rasa gugupnya hilang saat penjelasannya telah di pahami oleh Andi.
"Btw, lo keliatan good kalau rambut lo di urai" ucap Andi. Rara mengedipkan matanya berkali-kali, apakah ini adalah sebuah pujian? Kalau iya, Rara turut senang.
"Makasih"Balas Rara, lalu kembali mengerjakan soal di buku tulisnya. Meskipun pikirannya masih melayang tentang Fikra.
_______
"Kenapa kalian bertengkar?"Ini adalah pertanyaan ke tiga yang di ajukan pak Bagus-Guru BK. Dan dua orang yang menjadi tersangka masih saja diam.
Seperti yang kalian pikirkan, di kantin tadi Akram dan Fikra bertengkar. Dan soal di mana Pak Bagus mengetahuinya, mba Wati yang mengadukannya. Mba Wati terpaksa, karna gelas dan piringnya sudah tiga pecah dan itu karna ulah Akram dan Fikra.
"Akram, padahal kamu siswa teladan di sekolah. Tapi, kenapa kamu bertengkar?"
"Teladan apanya?" Fikra membatin kesal.
"Fikra, padahal kamu masih murid baru di sekolah tapi sudah melakukan satu pelanggaran"
"Dia duluan pak"Akhirnya Fikra angkat bicara, Akram menggeram kesal.
"Alasannya?"Pak Bagus bertanya, ke dua tangannya terlipat.
"Dia nge- bully cewek pak"Jawab Fikra, kesabarannya benar-benar sudah habis.
Akram tidak melawan, demi reputasinya dia harus menahan emosinya.
"Akram, benar?"
"Bohong pak"
"WOE!!******* EMANG LO" Fikra spontan berdiri, menarik kerah baju Akram dan Akram hanya diam saja. Dasar muka dua.
"Fikra, duduk!"Bentak pak Bagus, Fikra kembali duduk, matanya sempat menangkap Akram tersenyum miring, membuat Fikra benar-benar muak.
"Fikra, kamu tau kan, fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan?"
"Tapi perkataan saya bukan fitnah pak, itu kenyataan!"Teriak Fikra. Pak Bagus memegang pelipisnya, pusing dengan keadaan ini.
"Sudah-sudah, sekarang kalian berdua damai"Perintah pak Bagus.
"Bapak gak percaya sama apa yang saya bilang?"
"Salaman, biar masalahnya cepat selesai"
Bukannya menurut, Fikra malah keluar dari ruang BK, sekolah ini benar-benar memuakkan.
"Cih, nyesel gue sekolah di sini"Ucap Fikra sebelum keluar dari ruang BK.
Pak Bagus menggelengkan kepalanya, Pikirnya Fikra benar-benar keras kepala.
"Biar saya sendiri yang urus pak"Ucap Akram, pak Bagus mengangguk sambil mengusap bahu Akram. Akram menyunggingkan senyum, benar-benar akting yang bagus. Ini adalah salah satu cara Akram kenapa guru-guru tidak ada yang mengetahui kelakuan buruknya. Kalau ayahnya tau, bisa-bisa ayahnya marah besar.
.
.
.
tombol suka dan favoritnya udah di tekan kan?