
Sejak masuknya lima orang siswa yang paling di segani di sekolah SMA Mawar. Tidak ada yang berani bersuara, bahkan tertawa sekalipun.
Ingin bersuara takut salah ngomong, karna apa? Karna apapun yang mereka lakukan selalu serba salah di mata mereka.
Semua tidak bergerak saat mata ketua geng bully mencari target. Senyum miring tercetak di bibirnya saat menangkap sosok gadis berkaca mata sedang duduk sendirian di salah satu meja. Tidak ada yang menemaninya.
Kasihan...
Mereka berempat mengikuti langkah sang ketua. Hingga langkahannya terhenti tepat di depan gadis berpenampilan nerd. Gadis tersebut bersikap acuh, di bully pun dia harus pasrah. Karna melawan pun dia tidak akan sanggup.
BRAK..
Suara gebrakan meja terdengar, sebagian pengunjung kantin terlonjak kaget, utamanya si gadis berkaca mata.
"Clara Putri harun, namanya tak secantik rupanya" Ucap si ketua bully. Tidak ada yang tertawa, suasana kantin masih hening. Hingga suara piring yang di susun, membuat Akram- si sang ketua menoleh ke arah mbak siti- pedagang kantin. Mbak siti menyengir seraya membukukkan sedikit tubuhnya.
"Mbak siti bisa diem gak!" Ucap Akram, tidak ada yang berani membantah perintah Akram yang notabene- nya anak kepala sekolah. Sekalipun itu mbak siti.
"Clara yah.. "
"Iya. Lo boleh manggil gue Rara kalau mau"Jawab Clara or Rara.
"Emang gue nanya nama panggilan lo?"
Rara menggeleng santai.
"Kalau gue gak nanya lo gak usah jawab, paham!"
Rara mengangguk.
"Mulai aja lah Ram" pinta Cyka, mereka berlima menahan tawa, membiarkan Rara yang kini sudah menunduk khawatir.
"Kita pemanasan dulu"
______
Yang pertama kali di lihat Rara saat kakinya melangkah masuk ke kelas adalah tatapan orang-orang, utamanya pada seorang cowok yang kini berdiri di depan papan tulis. Wajah nya asing, kemungkinan cowok tersebut siswa baru yang barusan akan memperkenalkan diri tapi terganggu atas kedatangan Rara.
Rara tau kalau dirinya selalu jadi pengganggu.
Tadi pagi, Rara kembali di bully oleh Akram and the geng.
"Clara? Kenapa rambut kamu basah?" Tanya ibu Anti, Rara tidak menjawab. Dia malah menundukkan kepalanya takut, jika dia jujur, apa ibu Anti akan percaya?
Bahkan tentang Akram yang sering mem- bully murid-murid lemah, sama sekali tidak di ketahui oleh guru-guru. Di adukan pun tidak ada yang berani.
Entah cara apa yang di lakukan Akram sehingga tidak ada guru yang mengetahui perilaku busuknya.
"Aku-aku tadi, tadi aku---"
"Sudah, tidak usah di jawab. Kembali ke tempat duduk kamu"
Rara mengangguk, memperbaiki sedikit letak kaca matanya, lalu berjalan menuju bangkunya yang berada pada barisan ke tiga.
"Kamu lanjutin perkenalanmu"
Cowok yang berdiri di depan papan tulis, yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Rara, yang sepertinya ada yang tidak beres menjauhkan pikiran tersebut dan melanjutkan memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Fikra alamsyah"Ucapnya. Singkat, padat dan jelas.
Ibu Anti geleng-geleng. Lalu mempersilahkan Fikra untuk duduk di tempat kosong yang di inginkannya. Yang akhirnya dia memilih bangku tepat di depan Rara.
"Kenapa dia di bully?"
Fikra membatin, melihat penampilan Rara tadi membuat Fikra berpikiran bahwa cewek berkaca mata tersebut habis di bully.
"Mari kita mulai pembelajaran kali ini"
_______
"Ram, katanya ada murid baru di sekolah"Kito memulai topik pembicaraan. Tentang adanya murid baru di sekolah, kini menjadi pembicaraan hangat seontoro murid SMA Mawar.
Akram mengangkat satu alisnya sambil tersenyum. Bagi siapa saja yang melihat senyum Akram, pasti akan menganggap bahwa Akram adalah sosok paling mengerikan. Belum ada yang pernah melihat senyum manis Akram, bahkan sahabatnya sekalipun.
"Cowok? Cewek?"Tanya Seli,si Cewek berambut pirang.
"Dua-duanya"Jawab Kito, selang beberapa detik dia mendapat hadiah dari Seli, sebuah jitakan di kepalanya.
"Apaansih?" kito mendengus kesal.
"Gue serius nanya"
"Gue juga serius"
"Emang gue jawab apa?"
"Lo bilang murid barunya cewek sama cowo--"
"Nah, peka juga kan lo"
"Murid barunya ada dua?" Kali ini yang bertanya adalah Akram. Pembahasaan Teman-temannya membuatnya kebawa suasana.
"Ho'oh"Jawab Kito. Lagi-lagi mendapat jitakan di kepalanya, dari tangan yang sama dan rasa sakit yang sama.
"Bilang dari tadi kek!" Cicit Seli. Kito malas berdebat, dia hanya memutar bola matanya malas. Jika di balas pun, yang berakhir menang adalah Seli. Karna Seli cewek dan cewek selalu benar, iya kan?
"Itu dia"Kito heboh, menunjuk ke arah pintu kantin di mana terdapat dua murid baru yang sedari tadi di bicarakan oleh mereka.
"Yang cowok keliatan gagah, yang cewek keliatan cantik meskipun cantikan gue. Gak cocok buat di jadiin target bully" Timpal Cyka sembari mengkriuk keripik singkong, cemilan favoritnya.
"Si cewek berkaca mata kita jadiin target bully tetap kita aja, gimana?"Tawar Kito, semua sudah setuju, tetapi Akram masih kelihatan tampak berpikir.
"Gimana Ram?"Ulang Kito, kali ini di tawarkan untuk Akram yang masih tampak berpikir.
"Gak"
Mereka bertiga mengernyit bingung, padahal cewek berkaca mata itu adalah target favorit Akram,Tetapi kenapa Akram malah menolak?
"Serius amat mukanya, pfft"Akram menahan tawa melihat ekspresi teman-temannya yang menggelikan perutnya.
"Maksud gue tuh, Gak bisa nolak"
Kompak, mereka bertiga memutar bola mata. Jengkel akan sikap Kito yang menurut mereka menyebalkan. Selalu seperti ini, usil.
"Santai aja kale, haha"Akram tertawa usil. Seketika tawanya terhenti, saat mata elangnya melihat seorang cewek berkaca mata yang barusan masuk ke kantin.
Kito, Seli dan Cyka mengikuti arah pandang Akram, beberapa detik kemudian terpapang senyum semeringai di wajah mereka, begitupun dengan Akram.
"Kuy!"
_______
Fikra dan Citra-adik kandungnya, memilih untuk ke kantin. Meskipun Fikra sedikit malas, tapi menolak permintaan Citra itu sepertinya hal yang mutlak. Alasan Citra karna hari ini dia baru menjadi murid baru, jadi dia sedikit gugup jika harus berjalan sendirian ke kantin.
Seperti yang Citra duga, saat ini dia dan Fikra menjadi pusat perhatian dan untungnya Citra mengajak Fikra, Jika tidak, maka Citra seorang diri yang akan menjadi pusat perhatian, kan risih.
"Cit?"Saat sudah memilih tempat duduk, dan memesan dua porsi bakso. Fikra memulai obrolan dengan Citra, karna memang dari tadi ada yang ingin di tanyakannya.
"Apa bang?"
"Ada teman kelas gue yang di bully"
"Urusannya sama gue apa?"Citra bertanya bingung. Pasalnya ucapan Fikra sama sekali tidak ada kaitannua dengan Citra.
Fikra menggeleng.
"dia manis, tapi kenapa dia di bully yah?" Tanya Fikra, dirinya juga tampak berpikir.
"Emang orangnya kayak gimana bang?" Citra balik bertanya. Fikra tidak menjawab, tatapannya malah terfokus ke arah pintu kantin membuat Citra penasaran apa yang sedang di lihat oleh abangnya ini sampai-sampai pertanyaannya saja tidak di gubris.
"Dia orang yang abang maksud, manis kan?"Jelas Fikra, Citra masih memperhatikan cewek tersebut dengan jarak yang sedikit dekat. Sepertinya Citra paham kenapa cewek yang di maksud Fikra itu menjadi target bully.
"Oh.. Pantes"
"Why?"
"Abang perhatiin deh penampilannya. Meskipun ucapan gue sedikit lancang, tapi gayanya.. Kampu-ngan"
"Itu alasannya?"Tanya Fikra, Citra tampak mengangguk ragu bisa-bisanya dia mengejek orang lain, tiba-tiba tersirat rasa bersalah di dalam hatinya.
"Tenang aja bang, gue punya seribu satu cara buat ngerubah dia"
"Hah?"Fikra conge dan tampak bingung. Citra senyum-senyum sendiri, membayangkan idenya jika saja berhasil.
.
.
.
.
jangan lupa tombol suka dan favoritnya di tekan,ok?
biar aku tambah semangat up nya