I Have Two Husband'S

I Have Two Husband'S
7. 37,6 derajat



Aska masuk ke kamar dan melihat boneka sapi besar mengambil alih tempatnya di atas ranjang. Arin memeluknya dengan nyaman di sana.


“Kapan kamu membelinya?” Aska berbisik sambil naik ke atas tempat tidur dan duduk di dekat Arin yang membelakanginya.


Arin menoleh. “Kemarin.”


“Aku tidak bisa berbagi.”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak suka berbagi hal-hal yang menjadi milikku!”


Aska berusaha menyingkirkan boneka sapi yang dipeluk istrinya lalu menggantikannya dengan lengannya.


“Mana boleh kamu memeluknya!” Ia memeluk Arin semakin erat dan lengannya menekan perut Arin agar rapat kepadanya. Arin tidak melawan.


Aska masih memeluknya erat. satu ciuman mendarat di pipinya, lalu leher, bahu, sampai tulang selangka.


“Besok kita akan ke Singapura. Tidurlah dengan nyenyak.”


“Ya.”


Aska tidak melepaskan pelukannya dan memejamkan mata. Kepalanya bersandar di tengkuk Arin dan ia pun benar-benar terlelap.


.........


PAGI-PAGI sekali, Arin sudah terbangun dari tidurnya. Ia melihat Aska yang masih terbaring di sampingnya.


Arin menatap laki-laki itu lebih dalam. Wajah yang sama sekali berbeda. Wajahnya yang sedang tidur terlihat sangat manis. Wajah tampan dan menenangkan.


Arin mengerjapkan matanya beberapa kali. Ini bukan saatnya untuk terpesona kan?


“Aska, ayo bangun!”


Aska tidak bergeming. Ia masih terlelap dan tidak peduli dengan suara Arin.


“Kamu akan ketinggalan pesawat.”


Kali ini dia hanya menggeliat. Arin mulai mengusahakan banyak cara untuk membangunkannya, memanggil-manggilnya dengan keras, menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi Aska kelihatannya tidak ingin bangun.


Arin hendak pergi dari ranjangnya tapi ia merasakan tangan Aska menarik lengannya dengan kuat dan dalam tempo yang sangat cepat tubuhnya sudah berada di bawah tubuh Aska, wajah mereka sangat dekat tinggal beberapa inchi lagi sebelum bibir Arin menyentuh bibirnya.


“Biarkan aku tidur sebentar lagi!” Aska berkata parau, ia lalu meninggalkan tubuh Arin dan membaringkan kepalanya di atas pangkuan gadis itu.


“Tapi kamu bisa ketinggalan pesawat.”


“Kita berdua akan ketinggalan pesawat.”


“Aku tidak ikut ke Singapura.”


Mata Aska langsung membuka. Tak hanya itu, Aska juga langsung terbangun dan menatap Arin.


“Kenapa?”


“Aku merasa tidak sehat.”


Tangan hangat Aska langsung mendarat ke dahi Arin. “Tidak terlalu panas.”


“Aku demam. Suhuku tiga puluh tujuh koma enam derajat Celsius. Aku mungkin terkena flu. Kepalaku terasa berat.”


“Tidurlah.”


“Bagaimana perjalanan ke Singapura.”


“Aku akan menundanya.”


“Tidak! Jangan! Maksudku, bukankah kamu di sana untuk berbisnis. Kamu akan kehilangan banyak uang.”


“Aku tidak apa-apa. Aku akan di sini denganmu.”


“Tapi aku merasa tidak enak. Kamu pergilah, aku tidak apa-apa di rumah sendirian.”


“Aku mengkhawatirkanmu.”


“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”


Aska mendengus, “Kamu istirahatlah dengan baik. Aku akan ganti baju setelah itu pergi ke rumah sakit untuk memeriksamu.”


“Aku akan pergi ke rumah sakit sendiri.”


“Arin!”


“Maksudku, aku akan pergi ke rumah sakit setelah mengantarkanmu ke bandara.”


Aska mengangguk lalu pergi ke kamar mandi. Sepeninggal Aska ke kamar mandi. Ia bergegas ke lemari dan memilihkan kemeja yang akan Aska pakai ke Singapura.


Aska keluar dari kamar mandi dan meraih kemeja yang diberikan Arin.


“Aku menyuruhmu untukmu istirahat.”


“Aku ingin melayani suamiku sebelum dia pergi.”


Arin mengambil dasi berwarna dasar hitam dan membantu Aska memakainya. Dengan cepat Aska meraih pinggangnya.


“Keep Your Hand!” ucap Arin saat kegiatannya dikacaukan oleh Aska.


“Aku ingin bermesraan sebelum berangkat ke Singapura.” Bisik Aska.


Kali ini Aska merapatkan tubuh Arin kepadanya, melingkarkan kedua tangannya dan membelai perut Arin yang datar, semuanya benar-benar membuat Arin merinding.


“Aku sakit.”


“Aku tahu. Aku marah dengan diriku sendiri karena tidak bisa menjagamu dengan benar.”


Aska langsung meletakkan kepalanya di pundak Arin. Dari sana, ia bisa mencium aroma parfum yang sangat manis merebak dari tubuhnya dan rambut hitam yang selembut sutra itu memiliki aroma yang lain lagi tapi sangat serasi.


Kedua lengannya melingkari tubuh Arin, mempererat rangkulannya. Detak jantung mereka berusaha saling menyamai ritme kerjanya di dalam tubuh.


Saat ini mereka berdua sudah berada di bandara. Arin berada dalam pelukan Aska dan mengiringi langkahnya. Mereka berdua berjalan bersisian.


“Berapa lama kamu akan ke Singapura?”


“Rencana awal seminggu tapi karena dirimu tidak ikut, mungkin tiga hari.”


“Aska!”


Sebuah sapaan halus membuat perhatian mereka segera beralih.


“Aku mendengar suara yang akrab jadi aku datang. Dan ternyata benar. Lama tidak bertemu.”


“Ya, lama tidak bertemu. Tapi apa yang membuatmu ke sini. Kamu ingin bepergian?”


“Ah, aku ingin pergi liburan ke Singapura.”


“Aku juga akan pergi ke sana.”


“Benarkah? Itu terlihat bagus. Apakah kita dalam penerbangan yang sama?”


“Kurasa ya.”


Sejenak Arin merasa jengkel karena ia merasa diabaikan. Keberadaannya sepertinya dilupakan. Keberadaan wanita itu membuat Arin merasa risih. Arin berdehem pelan.


“Ah, siapa dia?”


“Aku—“


Aska langsung meraih pundak Arin dan merapatkan tubuhnya.


“Dia adalah istriku.”


“Istri?”


Wanita itu lalu memandangi Arin dari unjung kaki hingga kepala.


“Aku pikir tidak ada yang berubah ternyata aku salah. Tapi seleramu pada wanita rupanya berubah.”


“Apa?”


“Itu pujian.” Wanita itu kemudian melihat Arin. “Kamu sangat cantik, benar-benar masuk ke dalam kriteria idaman semua orang, dan Aska juga tentunya!”


“Terima kasih,” ucap Arin.


“Bukan ini yang aku mau.”


“Apa?” tanya Arin bingung.


“Jika seseorang mengatakan ‘kamu sangat cantik’ seharusnya kamu mengatakan ‘Tidak, kamu lebih cantik.”


“Itu...”


“Aku hanya bercanda.”


“Ah...”


“Aska memang seorang laki-laki yang penuh dengan gairah. Kamu harus bersabar terhadapnya? Aku mengerti kau pasti merasa sangat sial sekali karena menikah dengan orang ini!”


Arin melihat Aska kemudian melihat wanita itu. Arin menggerutu di hatinya.


Arin segera mendorong Aska untuk segera masuk melakukan check in. Gadis itu melambaikan tangan seraya memberi instruksi agar Aska jauh-jauh dari wanita menyebalkan itu.


“Arin.”


Arin langsung membalikkan tubuhnya lalu ia tersenyum saat melihat siapa yang memanggil namanya. Matanya yang bening berbinar-binar bahagia.


“Aku terkejut saat kamu memanggilku untuk menjemputmu di bandara.”


“Kenapa?”


“Aku kira kamu akan pergi.”


“Tidak, bukankah kamu ingat saat terakhir kali aku meminta izin padamu. Saat itu aku menemani temanku yang sedang sakit. Dan hari ini, temanku harus berobat ke luar negeri,” ucap Arin. Tentu saja semuanya itu bohong. Arin hanya membuat alibi.


“Aku bersyukur.”


“Kenapa bersyukur?”


“Aku bersyukur, kamu tidak sampai ikut ke luar negeri. Kamu lebih mementingkan temanmu daripada suamimu sendiri.”


Arin tersenyum kecut.


“Dia sudah aku anggap sebagai saudariku sendiri.”


Digtya memegang tangan Arin. “Aku ada pemotretan di pantai. Bisakah kamu ikut denganku di sana. Setelah itu, kita bisa menikmati waktu berdua. Hanya berdua.”


“Tentu saja, itu terdengar bagus.”