
Beberapa bulan kemudian.
Aska menyeruput kopinya dengan nikmat seolah-olah kehangatan yang ditimbulkan oleh kopinya membuat Aska dapat melupakan semuanya.
Suara tangisan si kecil yang ingin digendong dan ingin dimanja dinikmatinya seolah-olah alunan musik orkestra.
“Tidak bisakah kamu menemani Ken?”
Nana tiba-tiba datang dan memberikan sebotol susu hangat untuk Ken. Nana terdengar menggerutu sambil mengajak Ken bermain.
“Aku akan berangkat kerja.”
“Kamu ini ayah seperti apa?” tiba-tiba saja emosi Nana meledak melihat perlakuan Aska yang acuh dan apatis.
“Aku bukan ayahnya!” desis Aska dingin.
Nana seketika membeku. Seharusnya ia tidak menuntut Aska terlalu jauh. Aska tidak bisa menerima putranya, bahkan dirinya.
Nana berusaha untuk berubah dan menjadi istri yang baik namun sepertinya Aska tidak ingin memperbaiki rumah tangga mereka. Sampai-sampai Aska menolak tidur sekamar dengan Nana.
Nana merasakan penderitaan meskipun Aska tidak menyiksanya secara langsung. Aska benar-benar tidak pernah menyentuhnya. Nana sudah kewalahan dan tidak sanggup untuk menahannya.
Nana buru-buru menghentikan Aska begitu pria itu berdiri dan hendak mengambil jasnya.
“Bisakah kamu mencium Ken?”
“Aku tidak bisa.”
“Aku tahu kamu marah, benci, tidak suka padaku. Aku akan menerimanya tapi jangan lampiaskan itu semua pada Ken. Dia tidak tahu apa-apa.”
“Bawa dia pada ayahnya. Kamu masih suka bertemu dengannya kan, Digtya?”
“Iya tapi tidak seperti yang kamu duga. Kami bertemu disaat ia ingin bertemu dengan anaknya.”
“Lalu bawa dia pada ayahnya.”
“Egois. Kenapa kamu begitu egois? Aku tahu aku salah karena pernah berselingkuh. Tapi bukankah kamu juga pernah melakukannya? Sekarang kenapa hanya diriku yang dipermasalahkan?”
“Hentikan! Sadarilah, kamu tidak akan pernah hidup bahagia denganku.”
Nana langsung menggenggam tangan Aska. “Katakan apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya. Kita mulai dari awal lagi.”
.........
“Sekarang bagaimana dengan kandunganmu? Kenapa kamu tidak melakukan apa yang aku lakukan?” tanya Lusi.
“Menggugurkannya? Hanya terbesit dalam otakku tapi aku tidak tega jika melakukannya.”
Arin menyodorkan Frappucino caramel di hadapan Lusi. Dengan hati-hati Lusi menghirup aroma yang keluar sebelum mencicipinya.
“Bagaimana?”
“Boleh juga. Aku akan memberikan harga yang pas untuk minuman ini. Oh iya, minggu depan kafeku resmi dibuka. Bagaimana jika kamu mengajari pegawai-pegawaiku cara membuat beberapa resep darimu?”
“Baiklah.”
Arin tersenyum senang. Ia akan mendapatkan uang meskipun hanya bisa untuk jajan.
Arin berdiri dari tempat duduknya dengan hati-hati sambil memegangi perutnya. Kandungannya sudah mulai membesar dan Arin sangat terbatas untuk bergerak.
“Kamu ingin kemana?”
“Aku ingin mengambil susu,” ucap Arin.
Arin mengambil susu botol dari dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia membawa gelas tersebut di ruang tengah.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Arin begitu melihat betapa seriusnya Lusi membaca sesuatu.
“Saat perjalanan kemari aku membeli majalah.”
Arin mengangguk lalu menegak habis susunya.
Lusi lalu teringat sesuatu dan segera melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Aku lupa bahwa ada janji. Aku akan pergi sekarang.”
“Tunggu. Aku juga akan pergi keluar.”
Lusi mengangguk. Arin mengambil sebuah kardigan berwarna merah muda untuk melengkapi gaun polos berwarna putih bersih.
Sepatu balet berwarna putih dengan hak datar menjadi pilihannya.
“Ayo!”
“Aku hanya ingin berjalan-jalan dan menghirup udara segar.”
Lusi mengangguk. “Ah benar aku ada janji di sini. Aska!”
Sebuah senyum mengambang di wajah Arin tapi tidak lama. Saat ia menoleh, ia melihat pria itu. Pria yang selalu ia pikirkan dan tak pernah absen menemaninya dalam mimpi malamnya.
“Arin, ada masalah? Kalian saling kenal?” Suara Lusi menggema.
Arin tersadar untuk yang ke sekian kalinya. Lalu tersenyum diiringi sebuah gelengkan halus. “Tidak, hanya mirip dengan seseorang. Aku pergi dulu.
Arin melewati Aska begitu saja. Kenapa bisa bertemu sekarang? Mengapa harus di saat seperti ini? Seharusnya Aska tidak pernah muncul disaat Arin bisa menata hidupnya kembali.
“Arin!”
Arin mengerjapkan matanya, tiba-tiba Aska sudah berdiri di hadapannya dan menghadangnya. Arin nyaris melompat saat Aska memanggil namanya tapi ingatan buruk segera menjalar dengan cepat menghancurkan kegembiraannya.
“Tidak bisakah kita bicara sebentar?”
Arin menggeleng sambil tersenyum kecut.
“Kamu tidak perlu takut karena aku hanya ingin berbicara sebentar saja.”
Arin menundukkan wajahnya sejenak, berusaha untuk terlihat sedang berpikir. Tapi kemudian Arin segera mengangkat wajahnya.
“Bicaralah, aku hanya punya waktu sepuluh menit.”
Aska terlihat terkejut, gugup dan takut.
“Kenapa kamu pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa?”
“Haruskah aku meminta izinmu untuk pergi liburan?”
“Liburan?” Suara Aska terdengar lebih intens “Kamu sedang melarikan diri sayang! Dan aku harus mencarimu seperti orang gila.”
Aska menarik tangan Arin. “Ikut aku!”
Arin berusaha berontak dan melepaskan tangannya dari genggaman Aska, tapi Aska menolak, Ia bahkan melakukan hal yang lebih untuk menunjukkan betapa berkuasanya dia atas diri atas Arin.
Pria itu tidak ingin kehilangan Arin untuk yang kedua kalinya. Arin ada disaat dirinya sudah menyerah, Aska bisa menemukannya dan ia sangat bahagia. Ia menemukan Arin di saat yang tidak terduga, di tempat yang tidak bisa di duga. Jika bukan karena dirinya akan melakukan perjalanan demi bisnisnya, Aska tidak akan menemukannya.
Arin terus saja bertanya dimana Aska membawanya namun pria itu terus saja menjawab dengan berbelit-belit.
Arin berhenti bertanya saat ia melihat sebuah gedung pencatatan sipil.
Aska membukakan pintu mobil dan menjulurkan tangannya, Arin menyambutnya dengan keadaan bingung.
“Untuk apa kita kesini?” Desis Arin.
“Sekarang juga, Kamu tidak boleh menolak.” Aska menggenggam tangan Arin semakin erat. “Arin, Menikahlah denganku atau kamu akan mati.”
Jantung Arin nyaris saja berhenti berdetak saat mereka saling bertatapan tanpa sengaja. Kesadaran Arin tiba-tiba melayang.
Aska menunggu jawaban dari Arin namun sepertinya ia kurang sabar harus menunggu karena Arin yang setia dalam kebisuannya.
Aska menciumnya penuh gairah. Bibir laki-laki itu bergerak lembut di atas bibirnya, lalu lidahnya membuka mulut Arin secara paksa.
Kemudian ciuman itu semakin intens, penuh hasrat dan begitu menggoda. Tidak ingin lepas dan tidak mau berhenti sebelum keduanya merasa sesak, Arin tidak bisa bernafas dan mendorong Aska kuat-kuat. Ia berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“Sudah kukatakan menikahlah denganku atau kamu akan mati.”
“Bagaimana dengan istrimu? Aku tidak ingin merebut milik orang lain!”
Arin memandang wajah Aska lebih dalam.
“Arin, aku ingin jujur padamu. Aku menjebakmu untuk membalas dendam kepada Digtya yang meniduri istriku. Aku ingin dia tahu bagaimana rasanya melihat wanita yang seharusnya bersamanya ada di dalam genggaman orang lain. Tapi aku yang terjebak, Aku terjebak perasaan, terhanyut dalam cinta dan perhatian yang seharusnya kudapatkan dari istriku.”
Aska memeluk Arin dengan sangat erat.
“Sebelum aku berangkat ke sini, Nana mengatakan padaku kalau sebaiknya kami berpisah. Aku sudah melimpahkan semua urusanku pada pengacaraku.”
“Bagaimana dengan anak yang ada di kandungannya?”
“Aku percaya dalam waktu dekat anak itu akan bahagia dalam pangkuan ayah kandungnya!”
“Maksudmu Digtya?”
Aska mengangguk. “Dan aku percaya dalam waktu dekat anak yang lahir dari rahimmu bahagia dengan ayahnya kandungannya. Kamu tidak akan pergi lagi, Kan? Jadilah pendampingku selamanya. Demi diriku, dirimu dan calon anak kita.”
Arin menengadah memandangi wajah Aska yang menatapnya penuh harap. Seulas senyum bahagia hadir di wajah Arin.