I Have Two Husband'S

I Have Two Husband'S
12. Ingin Waktu Ini Berhenti



Arin memandangi cermin yang berada di kantor Digtya, Wajahnya benar-benar kelihatan sangat buruk. Sebuah lingkaran hitam menemani bola mata yang agak memerah semakin memperburuk penampilannya. Untungnya ia menggunakan kaca untuk menyembunyikan keganjilan di wajahnya.


“Apa sesuatu terjadi padamu? Kamu kelihatan sangat pucat!”


Arin mengangguk, entah mengapa air matanya tumpah begitu saja.


“Apa ini semua ini karena aku? Aku minta maaf.”


Arin duduk di sofa setelah Digtya membuatkan teh hangat. Arin berusaha menghadirkan sebuah senyum dan menerimanya. Ia meminum tehnya seteguk dan meletakkannya di atas meja.


Arin menghela nafas berat, Arin mengangkat wajahnya dan menatap Digtya.


“Katakan sesuatu, apa yang kamu sembunyikan dariku?”


“Apa maksudmu? Tidak ada yang aku sembunyikan darimu?”


Ada perasaan yang aneh menyelusup di hati Digtya tapi dirinya berusaha untuk tidak memedulikannya. Ia memandangi Arin yang kelihatannya tidak suka.


“Nana? Kamu mengenalnya kan? Katanya kamu berteman dengannya? Aku ingin tahu tentang dia.” Arin merasa semakin merasa bersalah saat mengatakan nama wanita itu. Aska sudah membuat Arin yang polos menjadi wanita paling jahat di dunia.


Sementara Digtya mematung. Pria itu sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang besar.


Digtya mengusap lembut di pipi Arin dengan lalu mereka bertatapan. “Kami hanya berteman. Tidak ada hubungan apa pun diantara kami.” Digtya mengatakan dengan suara mantap meskipun keraguannya sama sekali tidak bisa di tutupi.


Arin menyunggingkan senyum kecewanya. Hari ini, Arin akan mengakhirinya. Karena sejujurnya ia merasa sulit.


Arin takut jika kenyataannya Digtya juga mempunyai seorang istri.


“Semua akan ketahuan cepat atau lambat.”


“Apa yang kamu katakan?” tanya Digtya karena tidak mendengar gumaman Arin dengan jelas.


“Sebenarnya aku berbohong padamu.”


“Berbohong?”


“Ya, sebenarnya aku mempunyai pria lain selain dirimu. Aku menyesal bahkan untuk minta maaf.”


Arin menangis di sana.


“Aku terlalu bingung. Saat aku terbangun dari kecelakaan, kamu dan dia hadir mengaku sebagai suamiku. Jadi aku...”


“Kenapa kamu melakukannya?”


“Karena aku menginginkannya. Meskipun aku lupa sebagian ingatanku tapi aku masih mempunyai ingatan masa laluku.


Saat aku remaja, aku tidak mempunyai teman bahkan kekasih. Aku bahkan berpikir, aku akan sendirian. Aku bahkan putus asa, tapi hari itu aku mempunyai kesempatan untuk memiliki dua pria.”


“Kenapa kamu mengatakannya?”


“Karena aku ingin berhenti menjadi wanita jahat.”


Arin benar-benar menangis dan hanya terpaku di sudut sofa. Ia tidak mau mendengar apa-apa, hanya ingin melampiaskan semua perasaannya dan berharap tuntas saat itu juga.


.........


Saat malam datang, Aska yang baru saja pulang dari kantornya terkejut karena tak mendapati Arin di sana.


Aska duduk di tepi ranjangnya. Pria itu mengeluarkan ponselnya memandang dengan tatapan serius. Sebuah GPS sedang melacak keberadaan Arin saat ini.


Aska segera berdiri setelah Arin berhasil dilacak. Baru beberapa langkah, mata Aska tak sengaja melihat cincin yang tergelatak di lantai. Pria itu mengambil cincin dan melihatnya.


“Sial.”


Tak berapa lama Aska secepat kilat menuruni anak tangga sambil berlari keluar dan segera menyalakan mesin mobilnya.


Di tempat lain, Arin sedang meringkuk di sofa dengan menyembunyikan wajahnya di kedalaman telapak tangannya sendiri. Arin mengangkat wajahnya, ia menguap beberapa kali lalu menggeliat.


“Makan malam dulu.” Suara Digtya terdengar sangat lembut.


Arin mengerutkan keningnya lalu menoleh kearah jendela. Di sana rupanya langit sudah petang.


“Sudah malam rupanya.”


“Iya, maka dari itu makanlah. Aku yakin seharian ini kamu belum makan. Setelah ini, kita pulang.”


“Pulang?” Arin terpaku sesaat sambil memandangi Digtya.


“Iya, pulang ke rumah kita.”


“Tapi aku—“


“Arin, dari kemarin hingga saat ini. Kamu adalah istriku yang paling aku suka.”


Begitu mereka keluar dari studio. Sebuah cengkeraman kuat mendarat di pergelangan tangan Arin. Arin yang tak menduga tindakan itu langsung terhuyung saat ia merasakan suatu tarikan kuat.


“Apa yang kamu lalukan seharian di sini? Apakah begini seorang istri bertindak? Kamu marah karena Nana?” Aska mengertakkan giginya geram.


“Lepaskan aku! kembalilah kepada Istrimu!”


Mata Aska beralih kepada Digtya yang berdiri di depan studio dan memandanginya. Sebuah pukulan penuh emosi melayang, sekali, dua kali, bertubi-tubi dan Digtya tidak melawan.


Arin yang melihat mereka berkelahi berusaha untuk melerai.


“Aku tidak suka melihatmu mendekati istriku.” Teriak Aska. “Aku tidak membunuhmu waktu itu, tapi aku akan membunuhmu sekarang!”


“Aku tahu kamu membenciku. Kamu tidak pernah semarah ini. Saat setiap kali memergoki Nana bercinta denganku. Tapi sekarang kamu bahkan tersulur emosi padaku, padahal aku tidak melakukan apa-apa dengan Arin.”


Arin terpaku. Ucapan Digtya menggema di kepalanya.


“Jadi kalian? Kalian sedang memanfaatkanku.”


Emosi Arin meledak. Ia benar-benar kesulitan menenangkan diri. Cairan beningnya keluar kembali. Ia pun langsung meninggalkan dua pria tersebut.


“Ah Sial!”


Aska memutuskan untuk menyusul Arin yang menyusuri jalanan tanpa berusaha menyetop taksi sama sekali.


“Kamu ingin kemana?”


“Jangan mengikutiku!”


“Bagaimana bisa aku tidak mengikutimu? Kamu adalah istriku.”


Aska meraih tangan Arin dan kembali menyelipkan cincin ke tangannya. Arin tak menolaknya karena ia belum paham betul dengan statusnya saat ini.


Siapakah suaminya? Apakah Digtya atau kah Aska? Siapa yang berbohong? Tapi mengingat Digtya yang tidak menyusulnya. Apakah Aska adalah suami aslinya? Bukan! Itu salah! Aska sudah memiliki istri lain.


Sehari, dua hari, seminggu. Arin tidak berbicara, dan terus menghindar setiap kali Aska berusaha membuka mulut.


Entah karena statusnya yang masih abu-abu atau bukan, Arin merasa selera makannya berkurang dan sering kali tidak bersemangat.


“Arin.” Aska berujar Pelan. Arin memandangnya dan hampir berdiri pergi. Tapi Aska berusaha menahannya dengan kata-kata.


“Aku akan keluar kota pagi ini!”


Hanya sesaat, begitu kata-kata Aska selesai di ucapkan, Arin kembali menjauh. Aska menghela nafas berat.


Aska menyusul Arin ke kamar tamu dimana Arin bersembunyi selama ini, tapi Arin tidak ada di sana, pintu terbuka begitu saja. Arin pergi lagi? Aska merasa kalau kaki-kakinya melemah. Arin sudah marah kepadanya karena Nana.


Aska kembali ke kamarnya, ia harus berangkat pagi ini juga dan mungkin baru akan kembali besok. Hari tanpa Arin bertambah, Aska hampir merasa kalau dirinya akan mati karena ini.


Begitu membuka pintu kamar, Aska hampir terlonjak senang. Arin ada di sana, sedang menyiapkan pakaiannya.


Aska terbelalak. Arin menyelipkan sebuah foto pernikahannya dengan Nana bersama pakaiannya? Arin ingin mengusirnya? Aska mendekat secepat yang dia bisa lalu mengambil foto itu dan membuangnya ke tong sampah.


“Kenapa kamu menyelipkan sampah di bajuku?”


Arin diam, tidak memandangnya, dengan cekatan ia memasukkan barang-barang milik Aska ke dalam tas. Aska mengambil dasi pemberian Arin beberapa hari yang lalu di dalam lemari dan memasukkannya ke dalam tas, Arin bertindak seolah-olah dia tidak peduli. Aska benar-benar putus asa.


“Masih marah?” tanya Aska.


“Menurutmu?”


“Sebelum berangkat ke luar kota. Aku akan ke rumah ibuku. Ada acara keluarga. Seharusnya aku mengajakmu…”


“Ajak istrimu saja!” Potong Arin masih dengan suara datarnya.


“Sampai kapan akan begini? Kamu juga Istriku!”


“Aku yang kedua, aku tidak bisa menuntut banyak. Setelah ini kembalilah ke rumahmu!”


Dalam hitungan detik Arin sudah menghilang dan Aska masih termenung.


Dari balik pintu kamar yang tertutup. Arin menyandarkan punggungnya di sana.


“Aku ingin waktu ini berhenti. Dengan begitu sekarang aku bisa berlari menjauhimu.”


.


.


.


Hubungan mereka masih abu-abu ya...Tenang readers, aku akan menghadirkan plot twist yang sangat membagongkan... jangan lupa putar otak untuk menerka-nerka....