
Arin beberapa kali mengedipkan matanya. Ia bernapas dengan berat dan panjang. Suatu hal yang tak terduga terjadi di siang hari ini.
Saat menunggu Bitna, tiba-tiba seorang wanita hamil menghampirinya dan menyiramkan segelas air putih tepat di wajahnya. Tetesan air tersebut menetes di baju Arin.
“Hanya ini yang bisa kulakukan karena aku hamil.”
Arin langsung membuka mulutnya, ingin menyemburkan sesuatu dari sana.
“Bisa jelaskan, kenapa kamu melakukan ini padaku?”
“Kamulah yang harus menjelaskannya padaku! Kamu adalah selingkuhan suamiku! Dimana kamu belajar sopan santun?” sosok wanita itu bersedekap sambil memicingkan matanya.
Jadi dia Nana
“Ah, begitu rupanya. Semua sudah jelas sekarang.”
“Apakah kamu tidak tahu dia sudah menikah?” tanya Nana sambil memperlihatkan cincin di jari manisnya.
Arin menoleh ke kanan untuk mengatur napasnya lalu ia kembali menatap Nana dengan tenang.
“Ya, aku tidak tahu.”
“Kamu tidak tahu setelah mengencaninya beberapa bulan? Kamu berani berbohong padaku!” teriak Nana. Pengunjung kafe yang lainnya langsung menoleh.
“Kamu yang tidak tahu suamimu bersamaku beberapa bulan.”
“Hei! Jadi maksudmu kamu tidak bersalah!” Nana ingin kembali menyerang Arin namun niat itu ia urungkan karena beberapa tatapan pengunjung kafe yang memperhatikan mereka.
“Ya, ku rasa begitu.”
“Yang benar saja. Kamu *****.”
Arin tersenyum saat ia mendengarnya.
“Setidaknya kamu bisa melampiaskannya padaku tapi aku tidak bisa melampiaskannya padamu. Haruskah, aku juga menyirammu dengan air?”
“Kamu!”
“Aku harap kalian bahagia.”
Arin berdiri dan melihat setiap lekuk badan Nana.
“Untuk anakmu juga.”
Arin langsung pergi dari kafe tersebut. Saat ia membuka pintu untuk keluar ia tak sengaja berpapasan dengan Bitna.
“Hei kamu ingin kemana?”
“Kita pindah tempat.”
“Ada apa dengan wajahmu? Kenapa basah?”
“Hujan tiba-tiba datang,” ucap Arin santai.
Bitna yang berjalan beriringan dengan Arin langsung melihat ke atas untuk memastikan bahwa hari ini langit tak ternoda dengan mendung.
“Tapi langitnya tampak cerah.”
Saat ini Bitna sudah duduk di samping Arin. Mereka berdua berada di ruang tengah apartemen Bitna.
“Bagaimana bisa dia berbuat seperti itu? Dasar gila!” Ujar Bitna
saat Arin bercerita kepadanya mengenai apa yang baru saja terjadi meskipun tidak secara terperinci.
“Ah aku sangat pusing. Akhir-akhir ini badanku terlalu mudah untuk merasa lelah.”
“Tunggu dulu! Arin kamu tidak sedang hamil kan?”
“Apa? Mana mungkin? Aku sama sekali tidak muntah-muntah kan? Lagi pula, aku hanya stres dan beban di pundakku banyak jadi aku mudah lelah.”
“Tapi semua ciri-cirinya ada. Kamu sangat gampang lelah, tidak suka bau daging padahal daging adalah makanan yang sangat kamu sukai. Tidak semua wanita hamil mengalami morning sickness yang mengharuskan mereka untuk muntah-muntah.”
“Mana mungkin itu terjadi,” Arin menggumam dengan suara lemah.
“Hei. Aku penasaran. Lakukan tes sekarang!”
Arin termenung.
“Tidak! Lebih baik aku pulang.”
Arin langsung meraih tasnya dan berjalan keluar.
“Hei kamu tidak bisa pergi begitu saja.”
.........
Arin kembali termenung. Ia membuka pintu kamar mandi dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Namun benda yang ada di tangannya tidaklah sama lagi. Di sana ada dua garis dengan warna yang nyata dan jelas.
Bagaimana perasaannya sekarang? Tidak sedih, tidak juga senang. Semuanya terasa kosong dan hampa. Sekarang apa yang harus di lakukannya? Benarkah dirinya harus mengatakan semuanya kepada Aska.
Jelas ini adalah anak Aska. Karena ia hanya melakukannya pada Aska. terdiam lama. Menggugurkannya? Dia bahkan tidak terpikir untuk melakukan hal seperti itu? Apakah menggugurkan kandungannya adalah ide yang bagus? Arin tidak mungkin melakukan hal yang bodoh untuk saat ini.
Arin segera meraih tasnya kembali dan pergi ke rumah sakit.
Arin berjalan di sepanjang koridor rumah sakit lalu masuk ke sebuah ruangan dokter. Ternyata semuanya sama sekali bukan mimpi belaka, sebuah janin sedang berusaha untuk terus tumbuh dalam rahimnya dan itu sangat mengejutkan sekali.
Kembali menyusuri Koridor rumah sakit seorang diri dengan langkah pelan membuat Arin membayangkan betapa bahagianya bila Aska menemaninya. Betapa bahagianya bila rasa ketakutan dan kebingungan yang dirasakannya menemukan tempat untuk berbagi.
“Apakah dia baik-baik saja?”
Arin mendengar suara yang tidak asing. Itu adalah suara Digtya. Arin mendongak untuk melihatnya. Seketika Arin terbelalak, Digtya dan Nana berdiri di depannya.
Arin langsung menyembunyikan dirinya sambil mengamati mereka berdua. Ia bersandar di dinding. Mata dan telinganya ia tajamkan.
Dilihat dari sudut mana pun mereka berdua layaknya suami istri.
“Siapa di sini yang berbohong? Haruskah aku pergi ke sana dan berteriak seperti orang gila. Bahkan saat ini aku meragukan statusku sebagai istri Digtya.”
.........
Arin merasakan lemas yang luar biasa menyerangnya. Ia mengurungkan niatnya untuk bangun dan kembali terpejam. Tapi beberapa detik kemudian ia merasakan seseorang tengah memegang tangannya.
Arin pun membuka matanya secara perlahan.
“Kamu sudah bangun?”
Arin memandang Aska. Wajah pria itu syarat akan kekhawatiran.
“Apa yang kamu lakukan di dalam bak mandi? Apakah kamu berusaha untuk bunuh diri?”
Arin berusaha mengingat-ingat. Kepalanya sangat pusing dan itu cukup untuk membuatnya tidak bisa berpikir apa-apa. Namun ia berusaha untuk mengingatnya.
Ya, Arin memang berusaha menenggelamkan dirinya ke dalam bak mandi karena frustrasi.
“Aku tak sengaja tertidur di dalam bak mandi.”
“Lihatlah akibatnya! Kamu tenggelam di sana dan hampir saja kamu...”
“Aku baik-baik saja.”
Cukup lama Aska memandangi Arin dengan senyum sampai Arin mendorong pipinya sehingga Abiel menoleh kearah lain.
“Aku tidak suka dipandangi seperti itu.”
“Aku hanya merindukanmu. Aku langsung pulang karena hatiku merasa tak nyaman dan lihatlah apa yang aku lihat. bisa-bisanya berpikir untuk tidur di dalam bak mandi yang penuh dengan air.
“Aku hanya sedikit terkejut dan kelelahan. Akhir-akhir ini aku banyak pikiran. Tentang dirimu, Digtya dan Nana. Kalian sangat misterius. Terutama kamu, aku tidak pernah bertanya siapa dirimu, tidak tahu siapa keluargamu dan juga tidak tahu kalau dirimu sudah beristri.”
“Arin. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”
Arin memandang Aska heran. Ekspresi Aska yang sangat serius membuatnya merasa kalau sesuatu yang akan di sampaikan Aska bisa jadi melukainya. Ada apa?
“Arin.”
Aska menyebut namanya Lagi, membuat Arin semakin ketakutan.
”Kita sama sekali belum menikah. Aku bukan suamimu. Semuanya rencanaku. Aku minta maaf kepadamu! Maaf atas perlakuanku padamu selama ini.”
Arin terpaku. Dia belum menikah sama sekali? Astaga.
“Maksudmu?”
Aska tidak menjawab pertanyaannya barusan. Napas Arin mendadak sesak, ia memandangi Aska lebih dalam berharap kalau semuanya adalah bohong. Tapi kelihatannya Aska serius tentang apa yang dikatakannya. Aska bukan suaminya? Berarti Arin tidak punya hak apa-apa terhadap Aska? Hatinya sedih, sangat. Tanpa sadar Arin menyentuh perutnya.
Sebulir air mata menetes lagi, Arin memukul dada Aska dengan tenaga yang seadanya. “Jadi apa yang kamu maksud dengan semua ini? Jadi semua yang kamu katakan itu bohong? Aku menyerahkan diriku kepadamu dan sekarang kamu mengatakan kalau kita tidak punya hubungan apa-apa. Apakah ini lelucon bagimu?”
.
.
.
.
Paling suka bikin pusing plotnya...