I Have Two Husband'S

I Have Two Husband'S
1. Terbangun Dan Mendapatkan Dua Suami



Perempuan itu, menguap beberapa kali sambil menggosok-gosok hidungnya yang tersumbat. Nayaka Arinta namanya atau biasa dipanggil Arin. Perempuan itu adalah seorang pegawai di sebuah perusahaan terbesar.


Sekarang beginilah hidupnya setiap hari, duduk di depan komputer dan mengetik, mengetik, mengetik, seolah-olah keyboard mempunyai alunan yang mendayu-dayu hingga membuatnya candu.


Arin mendesah karena lelah. Ponselnya yang berada di sebelah komputer bergetar. Arin membuka matanya lebar-lebar karena matanya sudah redup sejak tadi.


Ia benar-benar merasa lapar dan itu sudah membuatnya mengantuk. Tapi melihat apa isi pesan di ponselnya semua rasa kantuk Arin lenyap begitu saja dan tidak tersisa sama sekali.


“Ada apa?”


Arin langsung menoleh ke arah Bitna yang duduk di meja sebelahnya. Wanita itu terlihat lelah karena menghadapi kertas-kertas dan komputer. Namun ia masih memperhatikan Arin.


“Aku harus pulang sekarang. Tolong beritahu atasan.”


“Tapi kenapa? Ada sesuatu yang mendesak?” tanya Bitna yang diam-diam melihat raut wajah Arin yang menyusut.


Tangan Arin mulai mengemasi benda-benda yang berada di mejanya. Dengan cepat ia berdiri dari duduknya.


“Aku harus pergi, adikku mengalami kecelakaan dan sekarang masuk rumah sakit. Bitna tolong beritahu atasan dan buat surat izin untuk beberapa hari. Terima kasih, kamu penyelamatku.”


Arin langsung keluar dari ruangannya meninggalkan Bitna yang masih terbengong. Perempuan itu lalu mengernyitkan keningnya.


“Bukankah dia tidak mempunyai seorang adik,” ucap Bitna dengan sedikit bingung.


Arin pergi dengan raut wajah yang penuh kecemasan. Setiap kali melihat Jam Arin merasa semakin di buru waktu yang semakin sedikit. Ia khawatir akan kondisi adiknya.


Arin berhenti di halte bus untuk menunggu bus, namun sepertinya tak ada bus pun yang akan datang. Ia lalu menelisik jalanan berharap menemukan sebuah taksi.


Tepat setelah beberapa menit, ia menemukan taksi yang melintas. Arin meneriakinya namun sepertinya pengemudi itu tak mendengarnya.


Arin bergerak secepat mungkin ke tengah jalan saat melihat Jalanan sepi. Ia menyeberang jalan untuk menghentikan taksi tersebut.


Tiba-tiba jantung Arin seakan berhenti saat mendengar bunyi klakson yang memekakkan telinganya. Ia berusaha menoleh, tapi ternyata matanya terpejam karena sorot lampu yang begitu menyilaukan matanya.


Lalu benturan keras membuatnya tergeletak di jalanan dengan keadaan yang tidak di ketahui nya. Beberapa bagian tubuhnya mulai terasa nyeri, semuanya seperti mimpi. Banyak orang yang berkerumun di sekitarnya dan mengatakan kalau dirinya harus di bawa ke rumah sakit. Arin masih tidak bisa membuka matanya namun ia masih bisa mendengar suara dengan samar.


.........


Arin membuka matanya perlahan. Ia terbangun dengan perasaan yang aneh. Ia menegakkan kepalanya yang terasa berat dan memandang ke sekeliling. Arin memandangi kamar bernuansa modern.


Arin menggeliat berusaha bangkit. Ia terkejut saat menyadari kulitnya sedang bersentuhan dengan kulit orang lain di dalam selimut.


Arin memandangi laki-laki yang berada di sebelahnya, sedang tertidur pulas sambil memeluknya.


Ia termenung memandangi laki-laki itu yang sangat tampan dengan rambutnya yang berwarna hitam legam dan terlihat sangat dewasa meskipun sedang tidur. Aromanya begitu maskulin hingga bagai morfin.


Arin segera membalikkan tubuhnya saat jantungnya mulai tak karuan. Ia terlalu tersedot dalam kekaguman yang tak berujung.


Sebuah kecupan manis mendarat di bahunya di sertai belaian hangat di lengannya. Matanya membelalak saat merasakan sesuatu yang keras tengah menyentuh pantatnya.


Arin menelan salivanya dengan susah payah. Ia lantas menggeliat agar menjauh darinya namun yang terjadi itu semakin mengeras dan semakin terasa.


Arin menoleh kepada laki-laki itu, dia baru bangun dan tersenyum semanis mungkin kepadanya. Matanya belum begitu terbuka dengan sempurna karena baru bangun tidur.


“Sayang, kamu sudah bangun?”


Arin mengangguk sambil terus memandangi laki-laki itu dalam jarak yang sangat dekat. Keheranan sudah menyesaki benaknya dalam keadaan overdosis.


“Apakah kamu baik-baik saja?”


Arin menggeleng masih dengan ekspresi bingungnya.


“Aku tahu kamu sedikit bingung, istriku.”


“Istrimu?” Arin bingung dan termenung.


Pria itu tersenyum manis dan membelai pipi Arin. “Aku tahu kamu bingung. Mari kita mulai dari awal. Ini akan menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu. Ingatanmu akan kembali. ”


“Apakah aku mengalami sesuatu?”


“Kamu mengalami kecelakaan dan amnesia.”


“Amnesia? Aku?”


Pria itu mengangguk pelan.


“Apakah tidurmu nyenyak?”


“Ya.”


“Ah, aku sudah terlambat. Aku harus segera ke kantor.” Laki-laki itu bangkit dan duduk sambil menoleh ke arah Arin.


“Tapi melihatmu seperti ini sepertinya hari ini aku tidak usah ke kantor!” Laki-laki itu memeluk Arin lagi dan menyelusupkan jemarinya ke dalam pakaian Arin dan meremas titik sensitifnya.


Arin mendorong tubuh pria yang mengaku sebagai suaminya itu menjauh. Kedua lengannya segera menyilang ke depan dada dengan kuat saat ia mendapatkan kontrolnya kembali. “Kamu ingin melakukan apa?”


Arin menatap pria itu tanpa suara. Melihat reaksi Arin yang begitu kebingungan membuat pria itu mendengus.


“Haruskah aku memperkenalkan diriku kembali? Baiklah, Aku Jaguar Askara. Aku akan berangkat ke kantor.”


Arin menelan ludahnya. Aska meninggalkan ranjang dan berjalan menuju kamar mandi tanpa mengenakan baju atasannya. Pria itu memperlihatkan dada bidangnya yang begitu menggoda dengan perut membentuk roti sobek.


Apa yang sedang kamu pikirkan Arin? Batin Arin.


Arin segera bangkit dari ranjangnya dan berdiri di depan cermin.


“Kamu kenapa?” Aska bertanya sambil mendekat. Ia menyeka sejumput rambut Arin yang menutupi wajah.


Sekilas Arin melihat kilauan di jari manisnya dan Arin spontan memandang jarinya juga. Ada cincin yang memiliki kilau sama di sana. Cincin kawin? Laki-laki itu benar suaminya?


Arin memegangi kepalanya. “Tidaaak!!!”


.........


Saat ini Arin sudah di depan rumah sakit swasta. Gadis itu ingin memastikan keadaan dirinya.


Arin langsung mendaftarkan diri dan melakukan beberapa tes.


Tangan yang berada di bawah meja, ia kepalkan saat menghadapi sang dokter. Arin melihat dokter sedang melihat hasilnya dengan serius.


“Kenapa?”


“Sederhananya, menurut hasilnya. Ini adalah amnesia.”


Jadi yang dikatakan Aska benar, aku mengalami amnesia. Batin Arin


Arin langsung menelan ludahnya sendiri sebelum berkata, “Apakah itu bisa disembuhkan?”


“Hanya waktu yang bisa menjawab. Singkatnya, kehilangan ingatan adalah hilangnya informasi tentang orang dan kejadian tertentu. Ada hal-hal yang tidak boleh kamu lakukan. Pertama, mencoba mendapatkan kembali ingatanmu. Kedua, orang-orang di sekitarmu mendapatkan ingatan untuk membantumu. Jalani hidupmu seperti biasa, itu jauh lebih penting.”


Kepala Arin tiba-tiba agak pusing karena banyak hal yang mengganggunya. Apalagi saat mendengar penjelasan dokter.


“Jangan terlalu khawatir.”


Arin keluar dari rumah sakit dengan keadaan gontai. Ia memandang langit cerah dan menggerutu di sana seolah takdir sedang mempermainkannya.


“Baiklah, aku akan berdamai dengan takdirku. Lagi pula, dia tampan dan mapan. Aku tidak akan rugi.”


Arin merasa sangat terkesan dengan laki-laki yang bernama Jaguar Askara dan dirinya merasa sangat tertarik. Perpaduan Korea dan Indonesia membuat wajah Aska seperti mahakarya yang mahal layaknya serbuk emas.


Saat Arin ingin melanjutkan langkahnya. Bunyi mesin mobil menderu dan berhenti di depannya membuat jantungnya tiba-tiba berdetak kencang karena keterkejutannya.


Arin memperhatikan seorang pria yang turun dari mobil mewah itu. Tidak sekalipun Arin memalingkan pandangannya dari pria itu.


Tiba-tiba saja, wajah Arin berubah menjadi kaku saat sepasang lengan tengah merengkuhnya.


Gadis itu memaki dirinya sendiri dalam hati karena merasa gugup, dan otaknya lumpuh. Ia bahkan tak bisa mendorong pria yang tidak diketahuinya ini.


“Maafkan aku,” ucap pria itu.


Arin langsung mendorong pria itu.


“Kamu siapa?”


Pria itu tersenyum pada Arin. “Masuklah dulu ke mobil, di sini sangat dingin.”


Pria itu membukakan pintu mobil untuk Arin. Entah apa yang merasuki Arin. Gadis itu masuk begitu saja.


Mobil itu pun melesat membelah jalanan kota yang tidak begitu ramai.


“Apakah kamu sudah makan? Aku sudah membuat makanan untukmu.”


“Kenapa kamu tiba-tiba... Tunggu dulu, kamu siapa?”


“Setidaknya ini yang bisa kulakukan untukmu sebagai suamimu.”


“Apa? Suami?”


“Aku akan tetap di sisimu, jangan khawatir. Aku sudah berhenti dari pekerjaan lamaku. Maaf aku selalu meninggalkanmu sendirian.”


Dia mengatakan suamiku. Aku mempunyai dua suami. Bagaimana bisa? Apakah pria ini mencoba menipuku.


TBC...


Jaguar Aska