I Have Two Husband'S

I Have Two Husband'S
3. Perlakuan Manis Yang Membuat Meleleh



Digtya baru saja keluar dari kamar mandi sambil berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia memandangi ranjangnya yang sudah kosong.


Pagi ini ia tidak mendapati Arin di sampingnya. Rencananya ia akan mencarinya pagi ini. Digtya lantas segera keluar dari kamar untuk mengambil air guna membasahi kerongkongan yang sedang kering. Saat ingin membuka kulkas, Digtya menaikkan sebelah alisnya karena menemukan sebuah catatan kecil di sana.


Tangannya segera mengambil benda tersebut. Rupanya gadis itu hanya meninggalkan sebuah catatan kecil yang memberitahukan bahwa dirinya harus berangkat kerja pagi-pagi sekali.


Desah nafas Digtya terdengar samar diselingi senyum manis.


Maaf suamiku, aku harus berangkat pagi. Aku berjanji akan pulang lebih awal. Dari istrimu tersayang.


“Manis sekali.”


Digtya pun melanjutkan aktivitasnya.


Matahari menunjukkan kemampuan terbaiknya. Langit biru dengan semburat awan putih menambah keagungan yang dimilikinya.


Arin masih berkutat di kursinya. Arin sekarang sudah benar-benar kalut. Bayangan tentang Aska semalam yang hampir emosi terlintas di benaknya. Jangan lupakan bayangan Digtya juga yang akan marah karena ia tidak di sampingnya.


“Apa yang kamu pikirkan?” Seseorang menepuk pundak Arin dengan pelan, Bitna.


“Tidak ada.” Arin mengusahakan sebuah senyum.


Bitna mengangkat tumpukan map itu dari atas meja Arin. “Kamu sudah mengerjakan semuanya.”


“Ya.”


“Aku jadi semangat setiap kali mau menyerahkan map ini. Tidak sia-sia punya Bos setampan dia! Ngomong-ngomong dia masih lajang atau sudah beristri?”


“Apa? Siapa maksudmu?” tanya Arin bingung.


“Tentu saja presdir kita,” ucap Bitna.


“Ah.” Arin mengangguk.


“Kurasa dia masih Lajang, dia tidak pernah menyinggung soal Keluarga. Dia masih muda dan tampan, menikah di saat sekarang adalah pilihan bodoh untuknya.”


“Apakah dia setampan itu?” tanya Arin penasaran karena menurutnya tidak ada yang lebih tampan dari kedua suaminya. Aska dan Digtya.


“Sangat banyak yang menggemarinya. Ayolah, siapa yang tidak bisa menolak laki-laki sepertinya? Tampan, kaya, berprestasi, dewasa semua wanita akan mendekatinya. Aku beruntung sekali bisa menjadi sekretarisnya.”


Arin hanya menganggukkan kepalanya dengan canggung.


“Aku akan menyerahkannya sekarang.”


“Arin, kamu dipanggil Presdir,” sebuah suara datang. Suara itu berasal dari seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan presdir. Perempuan itu, segera pergi setelah melihat Arin mengangguk.


Bitna terperangah. Perempuan itu menyerahkan kembali semua pekerjaan milik Arin.


“Cepat pergi! Jika tidak, dia bisa mengamuk lagi dan kantor bisa kembali riuh.”


“Lagi? Dia bos galak?”


Arin segera memperbaiki ekspresi bingungnya saat melihat tatapan heran dari Bitna.


Arin meninggalkan meja kerjanya dan segera melangkah menuju ruangan orang nomor satu di kantor itu kemudian mengetuk pintu beberapa kali dan membukanya secara perlahan.


Arin masuk sambil menunduk dalam. Ia kembali berusaha menutup pintu dan berdiri tegang.


Arin tidak berani menatap pria di depannya. Ia hanya menunduk sambil menunggu interupsi dari sang presdir.


“Kenapa hanya berdiri di sana?”


“Ya?”


Arin segera mendongak dan saat melihat seseorang yang duduk di kursi Bos, ia terperangah.


Arin menatap papan nama yang ada di atas meja kerja. Jaguar Aska. Dia menikah dengan seorang Presdir? Tapi kenapa semua karyawan di sini tidak tahu bahwa pimpinan kantor mereka sudah menikah. Apakah pernikahan mereka dirahasiakan?


Arin mendekat kemeja kerja dan harus berdiri di hadapan Aska yang memandanginya dengan tatapan aneh, ia merasa kikuk.


“Ini beberapa dokumen yang harus presdir tanda tangani,” ucap Arin dan meletakkan map itu di meja Aska.


“Apakah kamu sudah makan siang?”


“Belum.”


“Bagus, makan siang bersamaku. Aku akan menunggumu di pintu samping. Kita bertemu di sana.”


“Ah ya.” Arin tersenyum getir.


Aska memandang wajah Arin yang begitu kecewa. Pria itu mengernyit lalu menarik kesimpulan sendiri.


“Kamu yang meminta untuk merahasiakannya, bukan aku.”


“Apa?”


“Pernikahan kita.”


“Kita sering kali bertengkar di kantor karena masalah ini. Suasana hatiku selalu buruk setiap kali tidak bisa bebas bersama istriku sendiri, setiap kali harus bersembunyi dari pandangan curiga orang-orang. Tapi kamu malah bebas berinteraksi dengan beberapa karyawan laki-laki.”


.........


Arin selalu memandangi jam yang tergantung di tembok. Pikirannya berkelana kemana-mana. Hatinya gelisah setiap mendengar bunyi detik jam.


Bagaimana tidak? Beberapa menit lalu, Arin mendapatkan dua pesan dari pria yang berbeda. Mereka adalah Aska dan Digtya. Dua pria itu, mengajak Arin untuk pulang bersama.


Arin bingung, Arin takut, Arin resah. Ia bingung harus memilih salah satu dari mereka. Ia takut jika ia akan ketahuan.


“Arin, kamu tidak pulang?” tanya Bitna.


Arin langsung mendongak ke arah Bitna yang sudah berdiri di sampingnya.


“Ah, ya.”


Arin langsung berjalan ke samping Bitna. Mereka memasuki lift dan saat pintu lift tertutup, Arin mendapat sebuah ide.


“Bitna, ayo kita foto!”


Arin hanya tersenyum dan mereka berfoto. Arin langsung mengirim foto tersebut untuk seseorang. Ia juga mengetikan beberapa kata di sana.


Saat mereka sudah berada di luar. Arin memandang seseorang yang mendekatinya.


“Aku pulang bersama.” Pria itu tersenyum yang membuat Arin tidak bisa berpikir. Laki-laki itu selalu berhasil membuatnya merasa bodoh dan kehilangan akal. Dia juga menggenggam tangannya


Arin mengerjapkan matanya.


“Siapa?” tanya Bitna yang berhasil membuyarkan lamunannya.


“Dia...aku pergi dulu. Besok akan kuceritakan. Kamu juga harus segera pulang. Mencari bus di malam hari sangat sulit.”


Arin terburu-buru untuk menyeret Digtya segera pergi. Ia juga beberapa kali meneriaki Bitna untuk segera pergi.


Bukan tanpa alasan Arin melakukan itu. Itu karena ia melihat Aska berada di lobi sedang menelepon seseorang. Ia takut jika dia akan melihatnya bersama Digtya. Ia juga takut jika dia melihat Bitna dan menginterogasi gadis itu.


Pasalnya, Arin berbohong pada Aska bahwa dirinya akan menemani Bitna.


Arin baru bisa bernapas lega saat ia sudah berada di rumah dan memastikan Bitna sudah pulang.


“Aku tidur dulu, karena besok pagi harus segera bekerja!”


“Makan malam terlebih dahulu.”


Arin mengangguk pelan, “Aku akan memasak.”


Digtya segera meraih lengan Arin untuk menghentikannya.


“Ada apa?”


“Pergilah mandi aku yang akan memasak.”


Arin mencubit lengannya dan meringis sakit. Ia tidak bermimpi. Digtya mampu membuatnya meleleh dengan sikapnya yang manis.


Arin segera mengangguk dan tersenyum.


.........


Arin baru saja keluar dari kamar mandi sambil berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia langsung bergegas keluar menuju dapur. Saat berada di sana, ia memandangi Digtya yang penuh konsentrasi sambil meletakkan hasil karyanya di meja makan.


“Sepertinya enak.”


Arin langsung duduk dan di susul Digtya di sampingnya.


“Kamu beruntung karena aku memasak ini untukmu.”


“Kamu juga beruntung karena aku yang memakan semua masakanmu.”


Mereka pun tertawa karena perkataan mereka terdengar lucu.


“Ingin aku ambilkan.”


“Ya.”


“Terima kasih,” ucap Arin sambil tersenyum memandang Digtya.


Ia langsung memasukkan sesendok penuh ke dalam makanannya.


“Apakah enak?”


Arin langsung menoleh ke samping dan mengangguk.


“Ada sesuatu di sudut bibirmu.”


Arin langsung menyeka bibirnya.


“Bukan di sana.”


Arin kembali menyeka bibirnya di sana.


“Bukan di sana juga.”


“Maka kamu harus mengambilnya.”


Entah mengapa Arin menanti dengan senang hati.


“Baiklah.”


Digtya mendekatkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya. Matanya fokus melihat bibir berwarna merah muda itu.


Tangan Digtya mengusapnya lalu seakan terpesona. Ia tertegun di sana.


“Apakah...”


Kata-kata Arin tidak keluar lagi karena semuanya sudah di telan oleh cumbuan Digtya. Arin yang semula kebingungan lalu menikmatinya. Tangan Arin memegang sendoknya dengan erat.


Dimulai dari bibir, dagu dan leher. Akhirnya Arin mengerang, seluruh otot tubuhnya mulai mengejang untuk beberapa waktu hingga ia memalingkan wajahnya dan menyudahinya secara sepihak.


“Apakah kamu tahu sekarang?”


“Hm.”


Arin terlihat sangat malu. Pipinya bersemu merah. Ia meletakkan sendoknya di atas meja kemudian masuk ke dalam kamar. Untuk beberapa saat ia memegang bibirnya.


Di tempat lain, langit di luar jendela mulai mendung, malam ini akan turun hujan yang lebat karena langit begitu gelap karena tercampur awan hitam. Menghela nafas lagi, Aska terlihat bosan.


Ia memandangi ranjangnya yang kosong. Apa yang dilakukannya? Aska menyesal mengizinkan Arin yang katanya menemani Bitna karena temannya itu sedang putus cinta.


Ia harus meneleponnya, Aska harus menelepon Arin.


Aska mendekatkan ponselnya ke telinga dan menunggu Arin mengangkat teleponnya.


“Aku akan menjemputmu?” Kata-pertama yang di ucapkan Aska saat ponselnya sudah terhubung.