
Arin menelisik setiap sudut ruangan yang begitu besar dengan nuansa putih. Rumah ini tak kalah besar dengan rumah milik Aska.
“Mandilah dan ganti baju, aku akan menyiapkan makanannya.”
Arin memandangi Digtya tanpa mengatakan apa pun. Digtya yang memandanginya ikut terheran namun detik berikutnya, pria itu tersenyum.
“Kamar kita ada di lantai atas. Pintu warna putih.”
Arin langsung mengangguk dan berjalan menuju lantai dua. Sementara Digtya pergi ke dapur.
Saat mendapati pintu dengan warna putih, Arin langsung memasukinya dan betapa terkejutnya dia saat mendapati sebuah bingkai foto pernikahan. Di sana adalah fotonya bersama Digtya mengenakan pakaian pengantin.
Digtya tampan dengan Jasnya berwarna hitam sementara Arin cantik dengan gaun berwarna putih tulang.
“Bagaimana bisa ini terjadi?”
Arin kebingungan sendiri. Otaknya sedang berantakkan saat ini. Lantas Arin mencari bukti lain untuk menguatkan dugaannya. Ia membuka lemari dan mendapatkan baju-baju perempuan dengan merek ternama.
Matanya kembali menelisik dan mendapatkan produk-produk kecantikan serta make up di meja rias.
Arin segera memasuki kamar mandi dan mendapatkan sikat gigi sepasang dan juga dua cangkir. Ia juga mendapati sepasang handuk. Tak sampai di situ, sepasang piyama juga tergantung di sana.
“Aku tidak tahu. Apakah ini masuk akal? Tentu saja tidak.”
Embusan napas kembali keluar sekali lagi. Arin masih belum bisa percaya bahwa wanita muda yang berada di dalam cermin sekarang adalah istri dari seseorang. Laki-laki itu, Aska dan Digtya adalah suaminya?
Semuanya masih tidak masuk akal sama sekali, hidupnya benar-benar berubah dalam sekejap mata.
“Sayang, makanannya sudah siap.”
Arin terbangun dari lamunannya saat pintu kamar mandi diketuk.
“Ya!” Arin merapikan dirinya secepat mungkin dan membuka pintu kamar mandi.
“Ayo.”
Digtya tersenyum kepada Arin. Mereka kemudian menuju ke meja makan dan duduk di sana. Tidak sekalipun Digtya memalingkan pandangannya dari Nayaka Arinta.
Arin memandangi meja yang penuh dengan makanan. Ia tak bisa menyembunyikan ketakjubannya. Jarang sekali, ada pria yang bisa masak.
“Kamu sendiri yang memasaknya?”
“Ya, ini kubuat khusus untukmu. Apakah kamu tersentuh?”
Arin langsung mengangguk.
“Makanlah!”
Sepanjang waktu-waktu di meja makan Digtya tidak bisa menghindar untuk memperhatikan Arin yang makan begitu lahap.
Saat Arin menikmati makanannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dan Arin segera membukanya.
Apakah kamu sudah makan siang?
Arin melihat Digtya sebelum membalas pesan dari Aska. Aku sedang makan siang sekarang
Beberapa menit kemudian ponsel Arin kembali berbunyi. Ia melihat ponselnya, bukan pesan yang ia dapatkan melainkan sebuah panggilan.
“Kenapa tidak diangkat?” tanya Digtya.
“Tidak apa-apa,” ucap Arin sedikit tergagap.
“Itu mungkin saja mendesak.”
Arin mengangguk dan berdiri dari tempatnya. Ia menuju ke tempat agak jauh agar Digtya tidak bisa mendengar percakapannya dengan Aska.
“Halo.”
“Apakah kamu makan dengan lahap?”
“Ya.”
“Aku ingin makan siang denganmu tapi aku tidak bisa pulang karena pekerjaanku banyak.”
“Aku tahu. Aku tidak apa-apa.”
“Tapi aku tidak baik dengan itu. Aku akan pulang cepat hari ini dan mengajakmu makan malam di luar.”
“Ya, aku akan menunggumu.”
Arin segera mematikan sambungan teleponnya dan kembali ke meja makan. Ia berdehem sebentar sebelum kembali duduk.
“Siapa yang menelepon?” tanya Digtya.
“Uh, teman.”
“Benarkah? Kenapa menjawabnya harus menjauh dariku?”
Arin membeku di tempatnya, seolah bibirnya sedang kelu. Gadis itu memaki dirinya sendiri dalam hati karena merasa gugup, kenapa ia gugup seperti sekarang, karena Digtya sedang memandanginya seakan sedang menginterogasinya.
“Dia sedang membicarakan tentang masalah pribadinya jadi aku menghargai privasinya.”
Digtya mengangguk, “Makanlah lagi.”
“Ya.”
Arin langsung mengambil sendoknya. Ia menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya sambil melihat Digtya dengan menunduk.
“Aku hampir selesai.”
“Aku akan membantu.”
Arin mengeringkan tangannya dan berbalik melihat Digtya yang sedang memandanginya. Ditatap seperti itu, Arin menjadi salah tingkah.
“Apa yang akan kamu lakukan hari ini?”
“Memandangimu.”
“Apa?”
“Tidak maksudku, aku baru saja mendapatkan pekerjaan baru jadi ada beberapa pekerjaan yang harus aku tangani. Tenang saja, pekerjaanku ini tidak seperti pekerjaan lamaku yang menyita banyak watuku. Kamu istirahatlah di kamar.”
Arin mengangguk dan langsung menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya sambil menghela napas panjang. Pikirannya menerawang sampai ke awan.
“Apa yang aku lakukan? Haruskah aku bercerai dengan mereka? Maksudku, ingatanku hilang akan sulit untuk menerima kenyataan yang tak masuk akal ini.”
Arin langsung mengganti posisinya, “Tunggu dulu. Jika aku ketahuan, mereka akan berkelahi memperebutkan diriku? Tidak. Mereka pasti akan membunuhku.”
Arin kembali mengganti posisinya, “Kenapa aku bisa menikahi dua pria. Apa yang aku lakukan dulu? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali?”
Arin kembali merebahkan dirinya ke ranjang kali ini, ia membungkus dirinya dengan selimut. Di dalam selimut, pikirannya masih berkelana kemana-mana. Ia membayangkan kejadian-kejadian buruk yang akan terjadi.
“Ini tidak benar. Apa yang aku lakukan?”
.........
Embusan angin malam membuat Arin mengeratkan selimutnya. Ia terlelap dalam hangatnya di bawah selimut.
Matanya tertutup sempurna seakan tak ada beban hidup yang menghinggapi. Dengkuran halus terdengar seperti alunan musik yang menghanyutkan.
Kedamaian itu tak berlangsung lama saat sebuah deringan ponsel berbunyi memekakkan telinga.
Tangan Arin segera meraihnya sebelum ponsel itu ia terbangkan menghantam tembok. Dengan setengah sadar, Arin melihat siapa yang berani-beraninya mengganggu tidur malamnya.
Melihat siapa yang menelepon. Mata dan bibir Arin terbuka lebar seketika.
“Aska.”
Arin melihat ke arah Digtya yang tidur lelap di sampingnya. Dengan hati-hati dan tak menimbulkan suara. Arin bangkit dan keluar dari kamar Digtya.
.........
Arin menggenggam tasnya dengan erat. Begitu menaiki tangga genggamannya mengendur saat melihat Aska keluar dari kamar utama.
“Dari mana saja, larut malam baru pulang?”
Arin menelan ludahnya dengan susah payah. Ia baru menyadari kalau jam sudah menunjukkan angka 3 pagi.
Arin hanya berusaha menghindar dan tidak ingin melihat wajah Aska. “Aku pergi ke rumah sakit dan aku lupa alamat rumah kita jadi aku menginap di hotel.”
Melihat tak ada respons dari Aska. Arin langsung pergi ke kamar utama. Ia meletakkan tasnya di meja. Aska memandang tas Arin sekilas sebelum menutup pintu kamarnya.
“Lalu bagaimana dengan ponselmu? Kamu bisa menelepon ku kan?”
“Ponselku kehabisan daya. Aku mengisi daya di hotel. Aku lupa untuk menghubungimu karena aku begitu lelah aku langsung tidur sampai tengah hari.”
Lagi-lagi Arin berbohong. Ia bukan orang yang pandai berbohong karena kegugupannya sangat terlihat jelas. Ia menunduk saat ia mulai merasa terintimidasi dengan tatapan Aska.
Aska menyentuh pundak Arin dengan satu jarinya sehingga Arin mundur selangkah dan membuatnya jatuh ke tempat tidur. Gadis itu terpekik kecil saat Aska sudah merangkak di atas tubuhnya.
“Aku sebenarnya marah. Kita tidak bisa makan malam di luar. Tapi mendengar alasanmu itu cukup masuk akal.”
Sebelah tangan Aska terangkat untuk membuka kancing baju Arin. Pandangan mata Aska semakin terlihat bergairah. Terlebih saat melihat leher Arin yang bergerak karena menelan ludah.
“Kamu mau apa?”
“Menghukummu.”
“Tidak bisakah kamu memaafkan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Aku harus tidur, karena besok pagi harus segera bekerja!”
Aska yang mendengar ucapan Arin langsung terkekeh. Pria itu langsung mencium kening Arin dengan mesra.
“Apa yang kamu pikirkan? Aku hanya membantumu membukakan baju. Gantilah pakaianmu dengan yang lebih nyaman.”
Arin masih setengah sadar. Aska menarik dirinya dari ranjang dan berdiri untuk mengambil piyama untuk Arin. Pria itu langsung berbalik dan menatap Arin yang masih terpaku di sana.
“Kenapa? Kamu ingin melakukannya?”
“Huh? Apa?”
Arin benar-benar terkesiap saat wajah Aska sudah berada di depannya. Ia bisa merasakan deru napas hangat Aska dari sedekat itu.
Arin ingin mengatakan sesuatu lagi tapi kata-katanya berhasil di rampas oleh Aska saat laki-laki itu menemukan bibirnya dan segera ********** dengan liar, Arin ingin berteriak tapi Aska cukup pandai mengambil kesempatan dengan menjejalkan lidahnya memenuhi rongga mulut Arin.
Aska menekan tubuh Arin agar bisa lebih rapat lagi menempel padanya. Bukan hanya itu, tangannya yang satu lagi mengangkat pinggul gadis itu agar sejajar dengan bagian tubuhnya yang mengeras di pangkal paha.
Aska cukup kuat untuk membuatnya menggeliat merasakan sensasi sensual yang sangat tidak bisa dielakkan sehingga membuatnya terbuai.
“Beristirahatlah!” Kata Aska dengan suara pelan. Ia melepaskan rangkulannya dari Arin.
TBC.....
Digtya