
Tadi malam Luna tertidur sangat lelap karena kelelahan, setelah mengarang cerita tentang tempat asalnya dan kenapa dia dihutan sendirian, Syukur Roy mau percaya pada ceritanya dan orang-orang disana menyambutnya dengan ramah. Ia membantu rombongan itu mengerjakan beberapa pekerjaan ringan yang bisa dibantunya. Mereka adalah rombongan dari suku Giad, rakyat Ginggard yang daerahnya mengalami kekeringan yang sangat parah sehingga Raja memerintahkan mereka untuk pindah sementara ke daerah lainyang lebih subur sampai masalah di tempat mereka selesai diatasi dengan sihir. Raja juga memerintahkan beberapa kesatria untuk mengawal mereka supaya amandari perampok yang masih belum tertangkap. Luna kadang membantu memijat ibu-ibu yang terlihat sangat kelelahan karena perjalanan itu, atau bermain bersamaanak-anak mereka yang masih terbilang kecil. Anak-anak itu bergantian memintauntuk digendong hingga Luna merasa sangat kelelahan, syukurlah Devian dan Elena memanggilnya untuk memintanya mencerirtakan bagaimana keadaan dunia yang mereka tinggalkan. Devian sudah berada di dunia yang tidak diketahuinya ini sejak iaberumur dua belas tahun, sedangkan Elena sejak berumur enam belas tahun, mereka terlihat rindu akan rumah mereka masing-masing.Tapi entah kenapa saat sedang asik mengobrol mereka tiba-tiba terdiam sambil menutup mata seolah -olah sedang mendengarkan sesuatu, dan saat mereka membuka mata mereka menatap Luna dengan bingung sebelum akhinya menyuruhnya istirahat. Luna merasa mereka sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Pagi-pagi benar mereka membongkar tenda dan melanjutkan perjalanan, para kesatria yang mengawal waktu mereka beristirahat sudah cukup. Luna menepuk-nepuk pipinya pelan supaya tersadar dari kantuknya.
" Luna kamu mau ikut pergi dengan kami?" Tanya Roy." Nanti setelah kami selesai mengawal rombongan ini, kami akan mencarikanmu tabib untuk membantumu memulihkan ingatanmu.
Ya... alasan yang diberikan Luna adalah alasan klise yang sering digunakan dalam novel -novel yang dibacanya, yaitu lupa ingatan. Dan syukurlah Roy tidak curiga dan malah mengasihaninya. Devian dan Elena juga ikut berperan penting dalam kebohongan itu, mereka memberikan argumen yang masuk akal. Mereka berkata mungkin aku sedang mencari sesuatu dan tersesat, lalu panik dan tanpa sengaja mengalami benturan. Luna jadi sedikit merasa bersalah karena sudah membohongi Roy yang sudah begitu baik padanya.
" Kayaknya memang lebih baik begitu" Kata Luna, tapi apa tidak mengganggu, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu kalian."
" Kamu bisa membawa keceriaan pada anak-anak disini, tapi cobalah juga untuk bergaul dengan orang yang lebih dewasa selain aku, Devian, dan Elena. Tidak perlu takut, yang lainnya juga sangat menyukaimu." Jawab Roy.
Luna mengangguk pelan, setelah itu ia membantu beberapa ibu-ibu untuk mengemas bawaan mereka, Luna tidak memiliki apapun yang bisa ia bawa kecuali seragam sekolahnya, tapi itupun sudah sangat kotor dan ada banyak bagian yang robek. beberapa kesatria yang menaiki kuda memimpin dengan perlahan, dan sisanya menjaga di baris paling belakang. Sedangkan Elena telah kehilangan kudanya sebab kudanya digigit oleh ular berbisa. Jadi Luna bisa memiliki teman yang bisa diajaknya mengobrol.
" Kak Elen,kenapa kita tidak menggunakan sihir teleportasi saja supaya lebih cepat sampai?" tanya Luna penasaran.
" Seperti yang kemarin aku bilang, membutuhkan kekuatan dan konsentrasi yang tinggi untuk melakukan sihir. bagi pemula, membawa diri sendiri saja sudah sulit, apalagi harus membawa anak-anak dan orangtua, orang-orang ini bisa kehabisan sihir. meski kekuatan kami kesatria sudah bisa dibilang kuat, kami tidak akan bisa membantu teleportasi orang sebanyak ini. Jika sudah berada satu level saja dibawah raja, sihir teleportasi sudah bisa membawa ratusan orang." Elena menjelaskan.
" Apakah raja kalian begitu hebat sampai-sampai kakak terus menyanjungnya." tanya Luna lagi.
" Tentu saja, Raja Arthur adalah pria paling hebat, tidak hanya itu ia juga tampan dan berkharisma. Udah deh nanti kamu lihat sendiri aja, Tujuan rombongan ini sudah dekat, dan setelah itu kami para kesatria harus pergi memberi laporan, kamu harus ikut." Ajak Elena dengan semangat." Nanti kamu pasti terkagum-kagum melihat kerajaan di tempat ini."
Luna hanya mengangguk singkat. melihat sebuah kerajaan secara nyata sepertinya akan menarik, begitulah pikirnya. Rombongan itu sampai saat matahari sudah condong ke barat, dengan berat hati ia mengucapkan perpisahan kepada mereka, bahkan beberapa anak-anak memeluknya sambil menangis memintanya jangan pergi. Tapi Luna menguatkan hatinya untuk tetap mengikuti para kesatria karena disana ada dua orang yang memiliki naksib dan asal yang sama dengannya. Kali ini mereka melakukan perjalanan dengan sihir teleportasi, karena masing-masing kesatria memiliki kekuatan yang cukup dantidak perlu membantu orang lain selain Luna. Luna dibantu oleh Roy karena diantara semuanya Roy lah yang paling berpengalaman. Luna memejamkan matanya dan memegang lengan Roy dengan erat, beberapa kesatria menertawakan tingkahnya yang bagi mereka terkesan imut. maklum bagi kesatria yang menghabiskan waktunya untuk berlatih, jarang bagi mereka untuk melihat gadis cantik seperti Luna apalagi setelah ia merubah penampilannya. Perjalanan itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi Luna merasa sangat pusing daningin muntah. Kakinya mulai goyah saat menginjak tanah. Dengan cepat Roy menahan tubuh Luna agar tidak limbung, lalu membiarkan Devian membopongnya untuk mencarikannya tempat isirahat. Devian membawa Luna kedepan pintu kamar Elena.
" Biarkan dia istirahat sementara, Aku harus melapor pada pangeran. Besok dia pasti dipanggil" ucap devian pada Elena yang sedang berusaha memapah Luna memasukki kamarnya.
Elena mengambilkan minuman hangat dan bubur untuk Luna sebelum membiarkannya istirahat. Keesokan harinya Elena membangunkan Luna dan menyuruhnya cepat mandi, ia memberikan luna gaun baru yang lebih mudah dipakai, ia juga merias Luna sehingga kecantikannya menjadi berkali lipat.
" Kita mau kemana, kenapa aku merasa dihias untuk pergi ketempat tertentu?" Tanya Luna penasaran.
Luna lalu membungkam mulutnya dan membiarkan Elena menyelesaikan pekerjaanya. Setelah itu Elena mengantarkannya ke kerajaan, untuk sesaat Luna sempat terpana melihat betapa besar dan megahnya kerajaan Ginggard. tembok luarnya yang berwarna putih terlihat elegan. Tapi yang lebih membuat Luna terkejut adalah bagian dalamnya, ada begitu banyak barang-barang yang terbuat dari emas dan begitu banyak pelayan yang bekerja disana. Untuk pertama kalinya ia melihat kemewahan semacam itu.
" Ayo.!!" Elena menarik tangan Luna menuju ruang singgasana raja." Aku cuma bisa mengantarmu sampai disini, bersikaplah sesopan mungkin, tidak perlu gugup" kata Luna saat mereka sudah sampai di depan pintu besar yang beberapa bagianyya dilapisi emas.
" Tapi.." Luna tiba-tiba merasa gugup saat mendengar akan ditinggalkan.
Elena mengangukkan kepalanya sebagai isyarat bagi pelayan untuk membukakkan pintu. Elena mendorong Luna masuk dan menutup pintunya. Luna melihat ada seorang pemuda dengan rambut hitam sedaang duduk sendirian disebelah kursi besar yang sepertinya adalah singgasana raja. Dengan ragu-ragu Luna membungkuk hormat kearah orang itu, setelah itu ia menatap sekeliling dan melihat ada sekitar dua puluh wanita dengan rambut berwarna coklat sepertinya sedang berkumpul di tempat itu. Ia mematungdan bingung, apa yang harus dilakukannya sekarang.
" Silakan kamu bergabung dengan mereka " Kata pemuda itu
Dengan perlahan Luna berjalan memdekati gerombolan wanita itu. Ia menebak pemuda didepannya pastilah pangeran yang diceritakan oleh Elena.
" Tidakkah kamu ingin memperkenalkan dirimu?" tanya pemuda itu lagi.
" Eh.." Luna tergagap,beberapa wanita menertawakkannya pelan airmatanya mulai menggenang, ia merasa takut, bingung , dan malu. " Saya Erluna Valdia" jawab Luna sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam supaya tidak ada yang mengetahui ia hampir menangis.
" Dari mana ..."
Pintu terbuka tiba-tiba dan menghentikan perkataan pangeran. " Nova...Kamu..... !! seseorang masuk sambil berteriak dengan keras.
Luna menoleh dengan cepat untuk melihat apa yang terjadi. siap orang yang berani memasuki ruangan ini tanpa sopan- santun.
" Rio........." Ucapnya kaget. dengan cepat ia melepaskan jepitan poninya dan membiarkanyya terurai menutupi sebagian wajahnya,lalu berusaha untuk bersembunyi dibalik tubuh wanita lainnya.