
Untuk beberapa saat Luna hanya bisa mematung ditempatnya saat melihat bocah yang sempat tertidur diatasnya menghilang terbawa angin. Ia merasa sangat kaget hingga merasa ketakutan akan hal gaib yang baru pertama kali dilihatnya. Bulu kuduknya meremang seketika, dengan cepat ia berlari tak tentu arah. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah meninggalkan tempat ini secepatnya. Dibenaknya berkelebat bermacam-macam pikiran tentang bocah yang kini ia anggap hantu. Tapi pikiran lain mengatakan tidak mungkin bocah itu adalah hantu karena saat menurunkan bocah itu dari tubuhnya, ia bisa dengan jelas merasakan suhu tubuh, nafas dan menyentuh kulit anak itu secara langsung. Tidak mungkin hantu memiliki wujud sejelas itu, apalagi warna matanya yang berwarna coklat keemasan terlihat sangat hidup dan mempesoana.Luna percaya jika bocah itu sudah dewasa ia pasti enjadi pria paling tampan dari semua pria yang pernah dilihatnya. Sayangnya usia mereka terpaut begiru jauh. begitulah pikirnya.
Luna tidak tahu berapa lama ia berlari, ia lalu berhenti saat ia sudah kesulitan untuk menarik nafas, keringatnya membanjir keman-mana, beberapa bagian tubuhnya tergores oleh ranting dan duri, rambut coklatnya yang biasanya terkepang dua sudah tidak berbentuk lagi. Tapi hal itu tidak menjadi masalah baginya, disela nafasnya ia masih sempat tersenyum lega karena sudah jauh dari tempat yang ia anggap angker tadi. Dengan sedikit tertatrih ia mendekati pohon untuk beristirahat, ia tidak tahu jam berapa saat iini, tapi dari jika dilihat dari warna langit dan matahari, ia tahu sebentar lagi malam akan datang.Ia sedikit ketakutan dan sangat khawatir akan apa yang akan terjadi padanya besok. Tapi untuk saat ini yang paling penting baginya adalah tidur,ia berharap semoga besok ia bisa menemukan jawaban dari semua keanehan yang dialaminya hari ini. dimana ia berada dan kenapa?. Syukurlah Luna bisa beradaptasi dengan tempat tidur barunya dengan cepat, jika saja ia termasuk gadis-gadis manja yang biasa hidup mewah, ia pasti tidak akan bisa tidur sambil duduk ditanah kasar dan bersandar pada batang pohon yang sangat besar dan juga sedikit kasar. Yang sedikit mengganggunya hanya udara dingin yang terasa menusuk kulitnya. Sialnya yang ia gunakan saat itu adalah seragam sekolah yang belum sempat ia ganti karena lelah menangis dan jatuh tertidur. Rok pendek, baju tipis dengan lengan sepanjang siku tidak membantunya mengusir hawa dingin. Syukurlah ia masih menggunakan sepatu dan kaus kaki panjangnya, sehingga kakinya tidak kedinginan.
Sepertinya Luna sangat kelelahan, karena meskipun sangat tidak nyaman ia bisa tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu oleh suara berisik disekelilingnya ditengah malam, bahkan ia tetap tidak terbangun saat tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh sebuah lengan seorang laki-laki berkerudung seperti penyihir. Luna tidak tahu berapa lama ia tertidur, hanya saja saat membuka mata ia kembali merasa aneh dengan sekelilingnya. Yang pertama kali ia lihat adalah atap tenda dan merasakan tikar yang ditidurinya.Ia melihat sekeliling dan bingung ketika menyadari ia sudah tidak berada ditempat ia tidur semalam." Dimana lagi aku sekarang?" umpatnya pelan sambil menggaruk rambutnya frustasi
" Roy, coba kamu periksa keadaan gadis itu, apakah dia sudah bangun atau belum. Aku harus menemuipastur untuk memberikan informasi." perintah suara laki -laki di luar tendanya.
" Oke " jawab suara lain yang
Dengan cepat Luna berkeliling mencari tempat untuk bersembunyi, sayangnya tidak ada satupun tempat untuk bersembunyi dalam tenda itu. Pikirannya dengan cepat berubah, tepat ketika pintu tenda disibakkan ia menggambil benda yang paling dekat dengannya untuk mempertahankan diri.
" Siapa kamu ?" tanyanya sedikit gemetar sambil mengacungkan benda yang dipegangnya.
" Woah....santai" jawab seorang laki-laki sambil mengangkat tangannya santai.
Sinar matahari yang masuk dari belakangnya membuat Luna sulit melihat wajah laki-laki itu.
" Cepat beritahu saya kenapa saya bisa ada disini,dan kamu siapa?" Perintah Luna sambil tetap mengacungkan benda yang dipegangnya. Terlihat jelas ia sedang ketakutan.
Laki -Laki itu maju mendekati Luna " Tenang...Tenang ." Perintahnya lembut saat melihat Luna mundur perlahan. " Kamu ada di desa Gingard, kami menemukanmu semalam dihutan dan membawamu kesini, semua akan baik -baik saja. Ok" Laki-laki itu berusaha menenangkan Luna.
Luna berfikir sejenak apakah harus mempercayai laki-laki itu atau tidak." Kamu tidak berbohong kan?" ia masih terlihat ragu.
Laki -laki itu mengganguk singkat" Bisakah kamu turunkan senjatamu?" tanyanya " sebenarnya itu tempat pedangku"
Luna memperhatikan benda yang dipegangnya. ternyata itu hanyalah sarung pedang yang terbuat dari kayu, ia kira itu adalah kayu yang sangat kuat." dengan agak ragu ia menyerahkan sarung pedang milik laki-laki itu. dan buru-buru menjauhinya.
" Santai saja, kami disini mudah bergaul kok. Namaku Roy" Laki-laki bernama Roy itu mengulurkan tangannya.
" Lu..Luna" Jawab Luna tanpa menyambut uluran tangan Roy.
Mendengar ajakan Roy, Luna baru sadar bahwa ia belum makan apa-apa sejak kemarin siang. dengan pelan ia mengikuti laki-laki itu keluar tenda.Sinar matahari pagi dan hembusan angin yang sejuk menyambutnya ketika ia melangkah keluar dari tenda.Ia membuntuti Roy seperti anak kucing yang terlihat risih dengan tatapan sekelilingnya. Ia penasaran ap yang sedang dibisikan oleh mereka. Roy mendudukkannya disebatang pohon tumbang dan meninggalkannya sebentar. Luna hanya bisa duduk menatap ujung sepatunya sambil memainkan kuku jarinya dengan khawatir.Ia bisa merasakan ada berpasang-pasang mata penasaran yang meliriknya.
" Hei !!!" seseorang menepuk bahunya hingga membuatnya terjengkang.
Seorang laki-laki dengan rambut pirang tiba-tiba duduk disebelahnya dan menatapnya dengan senyum ceria. Luna menggeser pantatnya menjauh dari laki-laki itu.
" Aku Devian. kamu?" tanyanya.
" lu..Luna" jawab Luna Ragu.
" Apakah kamu tahu London?" Tanya laki-laki ituterlihat berharap.
Luna menggangguk singkat. Siapa sih yang tidak tahu London, yang terkenal sebagai kota fashion pikirnya.
" Kamu benar-benar tahu London?" Devian terlihat sangat antusias melihat anggukan Luna." Terimakasih Tuhan....akhirnya ada lagi orang yang berasal dari dunia yang sama."
Luna mulai bingung dengan kata- kata Devian." Maksudmu?" Ia mengernyitkan alisnya.
Devian menoleh cepat" ohh..maaf aku terlalu senang jadi lupa keadaan. jadi begini..."
" Luna ini sarapanmu" Roy tiba-tiba datang memotong pembicaraan Devian." Ah..Devian jangan merayu orang baru." Roy menendang kaki Devian menyuruhnya menjauhi Luna.
Luna kehilangan rasa penasarannya akan kata-kata Devian saat melihat makanan yang dibawakan Roy. Perutnya yang kelaparan sudah berbunyi.
" Kamu sarapan dulu, nanti kalu ada waktu aku lanjutin ceritanya" Kata Devian pada Luna Lalu beranjak pergi.
Luna menikmati sarapannya ditemani Roy, ia sedikit lebih nyaman dengan adanya Roy disebelahnya. setelah kenyang ia sedikit kepikiran dengan kata-kata Devian. Dari dunia yang dunia yang sama? maksudnya?. Setelah berfikir lumayan lama, barulah Luna sadar sejak kemarin bahasa yang dia gunakan bukanlah bahasa Indonesia, dan pakaian yang dia gunakan sangat berbeda dengan pakaian yang orang lain gunakan. apakah karena itu sejak tadi ia menjadi pusat perhatian?. Dan juga bahasa yang digunakan Devian bukan bahasa inggris, padahal ia terlihat seperti orang amerika atau inggris. Sebenarnya bahasa apa yang dia gunakan?, darimana ia mempelajarinya. kini Luna terlihat sangat kebingungan. Apa yang terjadi dengannya?.