I Found Love In Your Hug

I Found Love In Your Hug
Meet You



Luna hanya bisa mematung saat merasakan guyuran air es membasahi kepalanya. ia terlalu takut untuk melihat siapa pelakunya apalagi untuk membalas. Lagipula tidak melakukan apa-apa akan membuat semuanya cepat berakhir untukknya. Ia kira dengan guyuran air itu mereka akan puas. ternyata tidak, seseorang menjambak rambutnya kebelakang hingga kepanya tengadah keatas. Rio, pelakunya adalahh Rio, orang yang dulu pernah disukainya. Disebelahnya berdiri pacarnya dengan senyum licik dan make upnya yang terlihat jelas.


" Siapa  nyuruh muncul disini hah!!" bentak Rio sambil mendekatkan wajah bengisnya kearah Luna.


Luna hanya mampu  merintih menahan sakit tanpa mau menjawab pertanyaanya.


" Kalau ditanya jawab !!!, kamu nggak bisukan!" bentak pacarnya sambil ikut - ikutan menjambak rambut Luna, hingga raut kesakitannya terlihat lebih jelas.


 semua orang yang ada dicafetaria itu tidak memperdulikan kejadian itu, karena bagi mereka Luna bukanlah siapa-siapa, ia hanyalah sampah disekolah mereka yang besar itu. Luna hanyalah anak beasiswa berbeda dengan anak -anak lain yang berasal dari keluarga kaya.


  " Sa..saya mau makan siang" Jawab Luna terbata-bata, air matanya sudah mulai merembes karena sakit.


  " kamu pikir kamu layak disini?" Rio melepas jambakannya dan membiarkan Wina, pacarnya menampar Luna dengan keras.


" Lain kali sadar diri, kamu pikir uang dekilmu layak untuk membayar koki disekolah ini ?, hah!!" bentak Wina.


Luna dengan cepat menutup mata saat melihat tangan Wina bergerak hendak menamparnya, tapi tamparan itu tak kunjung datang. Luna lalu membuka matanya saat merasakan tangannya digenggam, ternyata oleh Wina.


" Ada apa ini" terdengar suara Pak Adi, salah satu guru bk disekolah itu. " kenapa baju Luna basah?" tanya Pak Adi.


" Oh..., gini pak, tadi nggak sengaja saya numpahin air ke Luna, truss saya mau nganterin dia ganti baju, tapi dia nggak mau kayaknya dia marah sama saya." jawab Wina sambil tersenyum menjijikan sambil menggenggam tangan Luna seolah ingin meminta maaf.


" Iya Pak"


" Bener Pak"


Rio dan beberapa temannya membenarkan kebohongan Wina.


" Ya sudah jangan dipermasalahkan lagi. Luna kamu boleh keasrama dulu buat ganti baju.yang lain tolong lain kali hati -hati."  Pak Adi lalu pergi meninggalkan cafetaria.


Begitu Pak Adi tidak terlihat dengan cepat Wina melepaskan tangan Luna dan mengernyit jijik sambil mengibaskan tangannya.


  " ngapain masih disini" tanya Rio judes. " pingin disiram sampai basah kuyup?"


Luna dengan buru-buru pergi meninggalkan cafetaria itu dengan airmata yang merembes. Deangan cepat ia kembali ke asrama, mengunci pintu dan melemparkan dirinya ketempat tidur. ia menangis sesegukan. Diambilnya buku novel buatan ibunya yang diberikan tanpa sempat diterbitkan. Novel itu mulai dibacanya sejak ia berumur tiga belas tahun. dipeluknya buku itu erat-erat.


  " Ma...Luna udah nggak kuat, Luna pingin disayang. Kenapa mama pergi ninggalin Luna?, Luna sayang mama." Luna terus menangis hingga tanpa sadar ia tertidur karena kelelahan.


Luna merasa sulit untuk bernafas seolah-olah ada yang menindih tubuhnya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih mengantuk untuk melihat apa yang menindihnya. yang pertama kali dia lihat adalah langit yang berwarna biru cerah, dan selanjutnya tubuh seorang bocah laki-laki dengan pakaian serba hitam. Luna bisa mendengar hembusan nafas lembut  bocah itu. Dengan perlahan Luna mencoba menurunkan bocah itu dari atasnya, berusaha agar tidk membuat bocah itu terbangun. Setelah berhasil ia berlutut disamping bocah itu dan menatapnya dengan seksama. wajahnya sangat tampan untuk ukuran seorang bocah. rambutnya yang berwarna hitam sangat cocok dengan kulitnya yang berwarna putih bersih. Luna jadi ingin melihat apakah warna matanya coklat keemasan. Hembusah angin yang sejuk membuat Luna menyadari sekelilingnya. Dengan sedikit panik ia melihat sekelilingnya. Kenapa dia bisa ada dihutan?. bukannya tadi ia menangis dikamar asrama?. Dimana ini?, apa yang terjadi?. Lalu siapa Bocah ini?.