
Arthur terduduk sambil meregangkan badannya, memperhatikan tangan dan tubuhnya dengan kesal.
" Sial !!" umpatnya" kenapa tubuhku mengecil lagi." ia lalu melihat sekeliling dan mendapati seorang gadis berambut coklat sedang menangis dengan bajunya yang aneh.
Gadis Itu menoleh kesana-kemari terlihat kebingungan. hah...sangat mengganggu pemandangan, apalagi tempat ini adalah daerah kekuasaannya, lahan pribadi yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun kecuali adiknya, Nova.
' Hei !!kamu siapa?" Sepertinya bentakan Arthur cukup membuat gadis itu kaget, bisa terlihat dari sentakan bahunya dan raut wajahnya saat menoleh.
" Kamu sudah bangun?, apa aku membangunkanmu?" Tanya gadis itu merasa bersalah.
Arthur mulai merasa kesal, bukannya menjawab pertanyaannya gadis itu malah dengan berani bertanya balik. kesabaranyya yang memang tipis mulai habis.
" Sekarang juga pergi dari tempat ini, aku tidak peduli apa yang kamu tangisi sekarang, tapi aku tidak suka ada orang yang menginjak tanhaku sembarangan." Artur memerintah dengan tegas.
" Gadis itu terdiam, memikirkan apa yang harus ia katakan " Tanah ini milikmu?" tanyanya terlihat tidak percaya.
Artur menggangguk malas sambil bangkit berdiri.
" mengapa bocah sepertimu tinggal disini sendirian ?"tanyanya lagi.
Arthur berjalan mendekati gadis itu hingga jarak mereka sangat dekat." Aku bukan bocah!!" bentaknnya ketus. meski terlihat agak lucu melihatnya menengadah dengan leher mungilmya. " Sekarang juga pergi dari sini!!" perintahnya.
" Kenapa kamu begitu marah?, berhenti memasang wajah cemberut itu bisa mengurangi keimutanmu." Gadis itu dengan berani menjubit pipi Artur dengan gemas.
Arthur merasa sangat terhina, ini pertama kalinya ada orang yang berani menyentuh tubuuhnya tanpa izin dan tanpa sopan santyun berbicara dengannya.
" Baiklah kalau kamu memang ingin tetap ada disini, jangan salahkan aku jika nanti kamu mati dengan menggenaskan" Arthur lalu meleburkan dirinya dengan angin dan menghilang, meninggalkan gadis itu sendirian. Ia masih sempat melihat mata terbelalak gadis itu saat melihatnya menghilang dalam hembusan angin. Ia terlihat ketakutan dan shock.
Melakukan perjalanan teleportasi adalah hal mudah bagi Arthur jika ia sedang dalam kondisi primanya. tapi sayangnya kali ini ia sedang dalam kondisi yang paling parah. Tadi malam entah kenapa tiba -tiba tubuhnya seolah tersedot oleh kekuatan magis yang sangat kuat. Ia berusaha melawan sekuat tenaga, tapi hasilnya nihil. Ia kalah telak. Lalu saat terbangun ia sudah berada di dalam hutan dengan tubuhnya yang sudah mengecil. Biasanya tubuhnya hanya akan mengecil jika ia sedang dalam kondisi hampir kehabisan sihir.. Tapi sudah lama sejak ia terakhir kali berwujud anak kecil, jadi hal ini terasa agak merepotkan baginya untuk melakukan teleportasi. Ia agak sedikit penasaran kekuatan apa yang menariknya begitu kuat hingga membuatnya mengecil. Arthur terlihat sempoyongan ketika menjejakkan kakinya ke lantai saat teleportasi selesai. Dengan terhuyung ia berjalan sambil bersender pada tembok dikanannya.
" Kakak !!!" terdengar teriakan khawatir adiknya disusul dengan derap langkahnya yang terburu-buru " Kakak habis dari mana?, kenapa tubuh kakak mengecil? Kakak sakit ?" Nova bertanya secara beruntun.
Arthur melirik adiknya yang berjongkok di depannya dengan malas. " pertanyaannya nanti saja, bantu aku ke kamar !" perintahnya. " Cepat !!" bentaknya saat meihat adiknya hanya menatapnya dengan panndangan khawatir tanpa ada niat untuk menolongnya.
" He !!!! apa-apan kamu ini?, turunkan aku" Arthur terlihat marah.
Nova hanya menuduk menatap kakaknya sambil nyengir " kapan lagi aku bisa memperlakukan kakak tersayang aku seperti ini" jawabnya sambil mempererat peganggannya pada Arthur yang terus meronta-ronta.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Nova untuk membawa kakaknya ke kamar untuk dirawat. ia meletakkan kakaknya ditempat tidur dan dengan cepat mengggores tanggan kanannya dengan pisau lalu mengarahkan tanggannya ke arah mulut Arthur sedangkan tangan kirinya mengeluarkan sihir untuk membuat Arthur tidak bisa bergerak. Keadaan Arthur terlihat membaik setelah menelan beberapa tetes darah adiknya. Nafasnya mulai teratur.
" Lain kali jangan berikan darahmu kecuali keadaan terdesak !" perintah Artur.
" kapan lagi ada kesempatan untuk menyelamatkan Raja Phernia. Kakak kenapa bisa hamor kehabisan sihir?" adiknya terlihat penasaran.
" Sudah kamu keluar dulu penjelasannya nanti saja, aku mau istirahat.Ingatkan para pasukan untuk tetap berlatih !" Perintah Artur.
Setelah Adiknya keluar dan menutup pintu, Artur kembali terlarut dalam pikirannya, siapa pemilik kekuatan yang menariknya secara paksa. Siapa orang kuat yang bahkan bisa mengalahkannya, selama ini di Kerajaan Ginggard, dia adalah satu-satunya yang terkuat dan karena itulah ia dipilih menjadi Raja menggantikan Ayahnya. Tiba -tiba ia teringat pada gadis yang ditemuinya dihutan tadi.
" Apakah dia pemilik kekuatan itu?" pikirnya" tapi ia terlihat sangat lemah, dan tidak ada sedikit energi sihirpun yang terlihat darinya."
Artur terus memukirkan kemungkinan pemilik sihir itu, dan satu-satunya jalan yang harus dia ambil adalah menanyai gadis itu secara langsung.
"Sial !!!, Kenapa aku meninggalkan bukti sepenting itu dihutan." Umpatnya lalu segera bangkit berdiri. meregangkan tubuhnya dan secara perlahan muncul Sayap hitam yang besar dari punggungnya disertai dengan tubuhnya yang bertambah tinggi. Arthur telah pulih sepenuhnya berkat darah dari Nova. Baju sihirnya secara otomatis membesar mengikuti bentuk tubuh tuannya. Dengan langkah lebar Artur berjalan keluar kamar untuk mencari jendral perangnya..
" Fredrick!!" Panggilnya
" Siap Paduka" Jawab sang jendral cepat sambil berlutut di depan Arthur.
" Sekarang juga bawa beberapa pengawal pergi kedaerah Pherni, tangkap seorang gadis berambut coklat dengan baju aneh di Hutan Teringga, jangan sampai ia lolos atau kalian semua matu !!!" Perintah Arthur.
" Baik Paduka" Jawab Fredrick patuh.
Setelah Fredrick pergi, Arthur merentangkan sayapnya dan terbang ke tempat arwah para tua-tua terkutuk berkumpul, ia harus meminta pendapat mereka mengenai kekuatan misterius dan gadis aneh itu. Kepada adiknya akan ia ceritakan lain kali saat ia ada waktu.
" Siapa sebenarnya identitas gadis bodoh itu?" tanyanya dalam hati sambil terbang dengan gagahnya.