
Xin Fei sudah selesai dengan rapatnya, ia kembali ke ruang kerja karyawan dan melihat Kuan Yu yang tengah asik mengobrol dengan karyawannya. Cepat sekali Kuan Yu beradaptasi? Batin Xin Fei.
Memang Kuan Yu memiliki kepribadian yang mudah akrab dengan orang lain atau bahasa kerennya friendly.
Xin Fei memesan makan siang untuk para karyawan dan untuk mereka berdua juga anggaplah sebagai traktiran hari jadian merekalah.
"Lagi ngomongin apa sih kayaknya asik banget?" Tanya Xin Fei menghampiri mereka.
Kuan Yu berbalik dan menatap Xin Fei.
"Sudah selesai? Iya ini lagi ngobrol biasa aja." kata Kuan Yu santai.
"Pasti kalian lagi ngomongin aku kan? Telingaku sedari tadi panas nih." kata Xin Fei.
Kuan Yu malah tertawa, yang lainnya juga ikut tertawa karena tebakan Xin Fei 50 persen benar.
"Oh iya, gara gara aku karyawanmu jadi keganggu kerjaannya." kata Kuan Yu baru sadar jika ini masih jam kerja.
"Tidak apa apa, Bukan masalah. Aku tidak akan memarahi mereka apalagi kamu, Kerjaan memang sudah beres sejak kita sampai." Kata Xin Fei.
Tok tok tok.
"Presdir, ada pesanan di bawah." kata sekuriti.
"Oh, iya tolong bawa kesini ya!" kata Xin Fei.
"Kamu pesan apa?" tanya Kuan Yu.
"Aku pesan makan siang untuk kita semua. " kata Xin Fei.
"Wah, terima kasih Presdir Zhang." kata para karyawan.
"Sama sama sudah lama juga kita tidak makan siang bersama kan? makanan kantin juga pasti kalian bosan bukan?"
"Iya, makanan di kantin itu itu Mulu." kata Nona Ling.
"Wah beruntungnya kita punya boss sudah tampan, perhatian dan baik pada karyawannya." kata Nona Jiang.
"Manager Hui tolong nanti bagikan nasi kotaknya ya jika kurang beritahu aku!" kata Xin Fei.
"Siap Presdir."
"Ayo!" ajak Xin Fei pada Kuan Yu.
"Kemana?" tanya Kuan Yu.
"Ke ruangankulah, aku ingin berduaan saja denganmu!" kata Xin Fei.
"Ehem..."
Para karyawan mengerti maksud Xin Fei dan menyuruh Kuan Yu untuk pergi saja. Kuan Yu mengikuti Xin Fei menuju ruangannya.
"Nona An, bisakah kau keluar sebentar atau ke ruang kerja bawah saja makan siang bersama mereka aku mau berduaan saja dengan Kekasihku!" kata Xin Fei kepada sekretarisnya.
Mengerti maksud Xin Fei sekretarisnya mengangguk sambil tersenyum penuh arti di tampah wajahnya ikut memerah. Kuan Yu jadi malu karena orang orang sepertinya berpikir aneh aneh tentang mereka berdua.
"Kenapa hanya berdua saja di satu ruangan? kan mereka jadi berpikir aneh aneh tentang kita?" kata Kuan Yu.
"Ya tak apalah, Biar mereka semua tau jika Kamu adalah milikku!" kata Xin Fei.
" Halo, Shen bawa makananku dan kekasihku ke ruanganku ya!" kata Xin Fei lewat telepon di mejanya.
Kuan Yu duduk di sofa bersantai, tiba tiba Xin Fei melepaskan dasinya. Kuan Yu panik dengan apa yang Xin Fei lakukan.
"Ada apa?" tanya Xin Fei melihat Kuan Yu panik.
Xin Fei duduk di samping Kuan Yu sambil menghela nafas lelah. Kemudian berbaring dengan bertumpu pada Kuan Yu sebagai bantalnya.
"Biarkan seperti ini sebentar ya aku lelah." kata Xin Fei memejamkan matanya.
"Iya." Kuan Yu hanya diam saja sambil menatap wajah Xin Fei.
Tok tok tok..
"Presdir saya mengantar makan siang anda." kata Seseorang yang mengetuk pintu.
"Iya masuk saja." kata Kuan Yu.
Orang tersebut masuk dan terkejut melihat pemandangan di depannya.
"Ups... maaf mengganggu nona. Presdir tidur?" tanya Shen, asisten pribadi Xin Fei.
"Iya, sepertinya dia lelah. Tolong letakan di atas meja, maaf merepotkan." kata Kuan Yu.
"Tak masalah, maaf sudah mengganggu kalian, fufufu.." Shen segera meletakan makanannya di meja dan bergegas pergi takut takut bosnya bangun.
Kuan Yu diam saja sambil memainkan ponselnya, ia menunggu Xin Fei bangun baru makan siang bersama.
Tungkling..
Sebuah pesan masuk.
"Alamak aku lupa lagi." kata Kuan Yu setelah membaca pesan Ming Tian.
Kuan Yu membuka jurnalnya untuk melihat kapan tanggal di kumpulnya.
"Oh, masih ada waktu 5 hari." gumam Kuan Yu.
"Ada apa?"
"hah." Kuan Yu berjengit kaget dan hampir saja ponselnya jatuh.
"Astaga kau mengagetkanku saja!" kata Kuan Yu.
"Heheh, maaf." Xin Fei bangun dan memposisikan duduk tegap.
"Ada apa?" tanya Xin Fei lagi.
"Ini, aku lupa jika ada tugas penting dari kampus. Sepertinya untuk 5 hari kedepan kita tidak bisa bertemu dulu aku mau fokus menyelesaikan tugasku ini." kata Kuan Yu.
"Apa sepenting itu?" tanya Xin Fei.
"Sangat penting bagiku dan sahabatku karena menyangkut kelulusanku. Jika aku berhasil menyelesaikan projek ini aku mendapat jaminan lulus wisuda tanpa sidang." kata Kuan Yu.
"Benarkah? Kalau begitu kau harus selesaikan ini." kata Xin Fei semangat.
"Iya. "
"Lebih baik aku pulang sekarang semakin cepat semakin bagus bukan?" kata Kuan Yu.
"Iya tapi setidaknya makan dulu lah." kata Xin Fei.
"Baiklah." Kuan Yu tersenyum manis dan itu membuat Xin Fei ikut tersenyum.
Selesai makan siang Kuan Yu pamit pulang dan menolak untuk di antar Xin Fei karena Kuan Yu tahu jika Xin Fei sedang sibuk di kantor.
"Aku pulang, nanti aku kirim kabar." kata Kuan Yu.
*
*
*
Sampai rumah Kuan Yu segera mengerjakan tugasnya, bagi Kuan Yu ini bukanlah hal yang sulit karena otak encernya. Jadi ia tak mau mengerjakannya terlalu ngoyo karena takutnya dirinya kelelahan nantinya.
"Sudah jam 7, sebaiknya aku berhenti sampai sini dulu lanjut besok." kata Kuan Yu.
Kuan Yu turun ke bawah untuk makan malam, dan kebetulan Guan Lin baru pulang juga.
"Hai jie, bagaimana hasilnya?" tanya Kuan Yu.
"Kuan, aku akan debut besok dan lusa adalah fashion show perdanaku." kata Guan Lin.
"Selamat Jie akhirnya perjuanganmu tak sia sia selama ini." kata Kuan Yu senang.
"Ini baru anakku, papa Bangga padamu tidak seperti adiknya yang tidak membanggakan ku sama sekali." kata Ayahnya sambil melirik sadis pada Kuan Yu.
Kuan Yu langsung menundukkan kepalanya, sedih, sakit secara bersamaan.
"Maaf pa karena tak bisa membuatmu bangga selama ini." Kuan Yu membungkukkan badannya dan kembali ke kamarnya ia melupakan makan malamnya karena tiba tiba rasa laparnya hilang.
Kuan Yu duduk di kursinya sambil menatap deretan piala penghargaan yang ia dapatkan selama ini.
"Jadi atlet e-sport bukan apa apa ya? Memang tak guna sekali aku ini." katanya miris.
sedangkan di bawah Guan Lin marah pada ayahnya karena berkata seperti itu pada adik kembarnya.
"Papa jangan gitu dong! Kuan juga anak papa! Kuan juga selalu membuat papa Bangga tapi papa saja yang menutup mata!" kata Guan Lin marah.
"Guan siapa yang mengajarkanmu berbicara seperti itu!" kata Ayahnya marah.
"Papa! Papa yang ngajarin!" Guan meninggalkan ayahnya yang terdiam sendirian.
*
*
Tok tok...
"Kuan?"
#
#
#
To be continued