
"Wush....," Suara angin musim semi meniup pepohonan yang masih ditutupi oleh salju putih.
Waktu.....,
Bersifat relatif. Dapat dipercepat, tetapi tidak dapat diperlambat. Oleh karena itu, kita tidak dapat kembali menjelajahi masa lalu, dan hanya dapat memandang jauh ke masa depan.
Aku masih ingat dengan jelas tentang teori relativitas Einstein yang dijelaskan guruku ketika aku masih duduk di bangku sekolah. Entah mengapa aku tiba-tiba ingin mengingat masa lalu yang telah kulalui sebelum aku lahir di dunia ini.
Hari ini adalah awal musim semi di daratan utara. Atmosfer yang dingin mulai berubah perlahan. Meninggalkan dinginnya salju, mendatangkan hawa hangat. Salju yang menutupi pepohonan mulai terbawa angin, lalu berubah menjadi air yang bening. Meninggalkan kesan putih bersihnya.
Tiga tahun telah berlalu sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di atas karpet perpustakaan ini. Sejak hari itu, hampir setiap hari Aku ikut dengan ayah pergi ke pusat kota hanya untuk sekadar membaca buku di perpustakaan ini.
Ribuan buku, jutaan lembar, hingga milliaran kata telah ku baca selama kurang lebih tiga tahun belakangan ini. Aku menghabiskan sebagian besar waktu ku hanya untuk membaca. Orang lain mungkin melihatku sebagai bocah yang tidak normal. Disaat anak-anak lain menghabiskan masa kecilnya untuk bermain, Aku hanya duduk di atas bangku di dalam perpustakaan yang sepi ini.
Jarang-jarang Aku melihat orang yang masuk ke perpustakaan. Mungkin hanya sekitar dua atau tiga orang yang datang ke perpustakaan setiap harinya. Mereka pun hanyalah lansia yang notabene nya adalah orang yang sudah tidak memiliki banyak waktu untuk hidup di dunia ini.
Walaupun begitu, Aku tidak pernah bosan untuk pergi ke sini. Buku-buku di sini selalu mendampingi ku sepanjang waktu. Bahkan tiga tahun saja tidak cukup untuk mengkhatamkan semua koleksi buku yang ada di perpustakaan ini.
Besok adalah hari ulangtahun ku yang ke enam. Aku berencana untuk pergi ke daratan tengah saat akhir musim semi ini untuk menentukan sejarah apa yang akan ku terima.
-
Setiap tahunnya, para petinggi daratan tengah akan membentuk satu pasukan untuk berkelana ke setiap penjuru benua yang bertujuan untuk mencari anak-anak yang berusia enam tahun untuk menjadi 'Subject Histories', yaitu suatu tes untuk mengetahui sejarah apa yang akan diterima oleh mereka.
Anak dengan hasil tes yang dia rata-rata akan ditarik oleh daratan tengah dengan tujuan untuk menghindari monopoli kekuatan yang akan digunakan suatu daerah tertentu. Anak itu akan dididik dan dipindahkan ke daratan tengah secara paksa. Sedangkan anak yang hasil tes nya buruk akan dipulangkan menuju tempat asalnya. Adapun anak dengan hasil yang normal akan diberikan pilihan. Ingin pulang, atau menetap di daratan tengah.
Tentu saja ini merupakan satu langkah dari daratan tengah untuk meminimalisir peperangan yang terjadi. Sejauh yang ku baca, peperangan di benua ini sudah ada di tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Terutama konflik antara Sighnovia dan Medanovia. Daratan barat laut dan timur laut itu sudah menjadi musuh bebuyutan sejak lama. Entah konflik apa yang terjadi, hingga mereka diharuskan untuk berperang.
Begitulah yang tertera di dalam buku yang ku baca sekitar satu bulan lalu. Aku pun tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud dengan 'Subject Histories' itu. Durasinya juga tidak jelas, apakah itu sementara atau selamanya kita harus berada di daratan tengah.
"Hey Reinver, ayo bersiap untuk pulang. Hari sudah mulai gelap." Ucap ayahku.
"Ya..., tunggu sebentar. Aku akan segera ke sana." Jawabku.
Aku menutup buku yang sedang ku baca, dan segera meminta kartu tanda terima untuk meminjam buku ini. Aku keluar perpustakaan dan menemui Ayah yang sedang duduk di atas sadel sepeda tua nya. Sepeda yang masih sama ketika kami berboncengan pertama kali untuk pergi ke sini. Lalu aku duduk di belakang dan sepeda pun melaju menuju ke rumah kami.
"Sepertinya sepeda ini sudah tidak kuat menahan beban kita, Reinver." Ucap ayah sambil menggowes sepeda.
"Yahhh, wajar sih, sepeda ini sudah tua juga. Lihatlah, karat sudah memenuhi seluruh bagian sepeda." Lanjut ku sambil menunjuk ke arah besi berkarat di samping ban sepeda.
"Hahaha, anak Ayah sudah pintar rupanya." Cakap Ayah yang mengakhiri dialog sore hari itu.
di tengah sesi makan malam hari, Ibu menyampaikan bahwa dia mendengar kabar burung pasukan daratan tengah yang telah datang ke daratan utara. Aku pun bersemangat dan ingin segera melihatnya. Tetapi ekspresi Ibu dan Ayah malah sebaliknya. Walaupun mereka tersenyum, tetapi Aku melihat bahwa mereka sebenarnya memasang wajah khawatir.
Makan malam hari ini pun berakhir. Aku segera menuju kamar dan melanjutkan membaca buku yang kupinjam tadi.
Singkat cerita, waktu pun berlalu. Tiba saatnya akhir musim semi. Pasukan berbadan tegap dengan mantel putih berdiri tegak di pusat kota daratan utara. Ribuan orang yang tinggal di daratan utara menyaksikan peristiwa itu.
Termasuk Aku. Aku di sini berdiri bersama Ayah dan Ibuku. Menunggu pendaftaran anak yang akan menjadi 'Subject Histories' dibuka.
Beberapa jam kemudian, Pendaftaran pun dibuka. Aku segera menulis namaku di atas kertas yang diberikan oleh orang yang menjadi penanggung jawab pendaftaran itu.
Kami berkeliling di pusat kota daratan utara untuk terakhir kalinya sebelum Aku pergi ke daratan tengah.
"Kau mau beli permen apel ini, Reinver?" Suara berat ayahku terdengar jelas di tengah kerumunan.
"Ha.... Tidak terima kasih, perutku sudah penuh." Jawabku sambil mengeluh.
Sejak kami berkeliling, Ayah terus menyumpal mulutku dengan makanan yang dijual oleh kedai-kedai di sini. Aku mungkin sudah tidak bisa makan makanan lain lagi hari ini. Ibu hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kami berdua.
"Reinver..., sini. Ibu akan berikan sesuatu yang sangat berharga. Jaga barang ini apapun yang terjadi." Ucap Ibu.
"Ya... ya." Jawabku ketus.
Lalu Ibu memakaikan ku sweater kesukaannya. Sweater yang sama seperti tiga tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke pusat kota.
Sampailah detik-detik terakhir sebelum aku diarahkan menuju zeppelin. Balon udara itu sangat besar hingga bisa menutupi sebagian pusat kota daratan utara. Ada sekitar dua ribu anak yang ikut dalam tes tahun ini. Kami berbaris dan berjalan serempak menuju zeppelin itu berada.
Dilain sisi, terlihat Ayah dan Ibuku yang sedang memandangiku dengan raut wajah sedih. Ayah mungkin terlihat wajar, tetapi ekspresi wajah ibu tampak begitu sedih.
Zeppelin itu pun mulai mengudara. Naik sedikit demi sedikit. Meninggalkan daratan yang di injaknya beberapa detik lalu.
Mataku masih tertuju kepada Ibu. Tangisnya sudah tidak dapat dibendung. dia menutup matanya seakan tidak merelakan ku untuk pergi ke daratan tengah. Lalu samar-samar aku mendengar ibu yang berteriak.
"REFRAIN......, MY MEMORIES." Teriak Ibu sangat kencang sampai terdengar oleh telinga ku di dalam zeppelin.
Tiba-tiba....,
Arrghhh......, kepalaku mulai terasa sakit. Sakit yang teramat sangat. Aku mengerang kesakitan dan akhirnya pingsan tidak dapat menampung rasa sakit ini.