
"Tolong.... ," Suara teriakan seseorang yang memekakkan telinga, disusul dengan suara ribuan pasang tapak kaki kuda.
"Anak yang malang... ," Ucap seseorang berbadan besar dengan zirah besi yang menutupi seluruh tubuhnya. dia berdiri di tengah kobaran api yang membara.
Tidak lama kemudian... ,
"Zrak.... ," Suara berat dari tebasan pedang disusul dengan tangisan seorang ibu yang melihat anak lelakinya yang sudah terbelah menjadi dua.
Kobaran api berangsur-angsur menyebar ke seluruh penjuru daratan. Tanah yang tadinya ditutupi salju putih, telah berubah menjadi gersang dengan dekorasi warna merah di setiap sudut tempat.
Di sini.... ,
Di sini aku berdiri, di tempat yang sama ketika aku datang ke dunia ini. Di atas langit dengan pijakan transparan, sehingga aku dapat melihat semua yang ada di bawah telapak kaki ku.
Menyaksikan tragedi pertumpahan darah yang tak mungkin terbayangkan oleh manusia normal. Membuatku ingin muntah, dan ingin segera beranjak pergi saat ini juga.
Legiun Kavaleri yang membuat tanah berguncang. Pasukan berzirah besi dengan pedang besar di tangan kanannya, hingga rapalan kematian dari seseorang yang jauh tak terlihat oleh mata. Seakan mereka mau meluluh lantang kan daratan ini.
Melihat satu per satu desa kehilangan penghuni nya. Lumbung yang terbakar, jalan setapak yang sudah kehilangan bentuknya, hingga rumah yang telah menjadi abu kenangan semata.
Akhir dari sesuatu.
"Tuhan... , apa ini?" Bisik ku pelan.
Aku tidak sanggup melihat rangkaian tragedi ini. Tetapi mataku seakan dipaksa terbuka untuk melihatnya secara runtut dari awal hingga akhir. Lalu tiba-tiba, Aku merasa mengantuk, membuatku pergi dari neraka itu secara perlahan.
"Hah......, " Teriakan ku yang baru terbangun dari mimpi buruk se persekian detik lalu.
Keringat dingin membasahi semua bagian tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Mimpi pertama selama tiga tahun aku hidup di dunia ini. Mimpi yang mungkin cuma angin lalu, atau mungkin yang akan menjadi pertanda, atau mungkin juga yang akan menjadi petunjuk yang akan mengarahkan diriku untuk menjelajahi dunia ini.
"Sialan, mimpi yang sangat buruk." Ucapku tidak percaya terhadap apa yang barusan kulihat.
"Sreet... ," Suara tarikan gorden berwarna merah merona.
Sorot sinar matahari membantu ku untuk tetap tenang. Kilau terangnya memecah gelap kamar sempitku yang dipenuhi buku-buku pemberian ayah semalam. Buku-buku itu belum sempat ku bereskan lantaran rasa malas yang aku rasakan ketika sudah telanjur berbaring di atas ranjang yang empuk.
Aku mengangkat kaki dari ranjang dan langung pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka.
"Ahh, segar sekali" Ucapku ketika membasuh muka ku yang kusut dengan air embun pagi.
Aku mengambil handuk dan pergi kembali ke kamar. Di tengah perjalanan, aku melihat pintu kamar Ayah dan Ibuku yang sedikit terbuka. Aku mengintip sedikit dan mendapati mereka berdua yang masih terlelap.
"Buku-buku yang menjengkelkan" Gumam ku ketika kembali ke kamar.
Dengan setengah hati, Aku pun membereskan buku-buku itu dengan menumpuknya satu per satu dimulai dari yang paling besar sampai yang paling kecil.
"Akhirnya.... ," Cakap ku penuh lega setelah setengah jam sibuk dengan buku-buku itu.
Aku berencana untuk membaca buku pemberian Ayahku itu dimulai dari yang paling ringan terlebih dahulu. Aku mengambil buku tipis yang paling atas. Judulnya adalah,
'Fruth - an Endless World '
Mungkin begitulah kurang lebih jika ku terjemahkan ke dalam bahasa inggris.
Dengan penuh semangat, aku langsung membuka sampul buku itu. Kertas yang masih putih cerah, dihiasi oleh huruf berwarna hitam dan gambar-gambar ilustrasi. Serta yang paling penting, bau dari kertas buku baru menjadi ciri khas yang menjadi kesukaanku ketika membaca.
Di dalam halaman pertama, Aku melihat Ilustrasi benua Fruth untuk yang pertama kalinya. Benua yang berbentuk seperti piringan lingkaran itu secara garis besar dibagi menjadi empat daratan utama, yaitu,
Daratan bagian Utara, Inklanovia, Daratan dengan iklim dingin dan bersalju. tempatku tinggal saat ini. Dikenal sebagai daratan tempat peristirahatan. Penduduk di sini merupakan orang-orang yang telah berhasil pulang dari Kelamnya peperangan. Prajurit yang telah dibebas tugaskan, Prajurit dengan tubuh yang sudah tidak sempurna. Prajurit yang sudah berdamai dengan realita.
Daratan bagian Selatan, Nerunovia, yang merupakan daratan yang berpasir. Sebagian besar wilayahnya berupa gurun pasir dengan bukit-bukit pasir yang terbentuk akibat badai pasir. Kebanyakan penduduk di sini merupakan pedagang yang selalu pergi berkeliling benua setiap tahunnya.
Daratan bagian barat, Utanovia, Daratan kerdil yang merupakan tempat gunung berapi aktif yang terus menyemburkan lava keluar dari kawah gunung. di sini merupakan tempat para penempa dilahirkan dan dilatih hingga dapat membuat suatu benda dengan kualitas terbaik.
Daratan bagian Timur, Trufanovia, Daratan dengan gunung-gunung berwarna hijau toska yang tinggi menjulang. Pepohonan hijau serta jalur sungai biru cerah yang berkelak kelok.
Setelah ku baca beberapa halaman lagi, ternyata bukan hanya empat. Di tengah-tengah antara empat daratan itu, ada daratan-daratan sempit lain, yaitu ,
Di bagian Tenggara, perbatasan antara daratan Timur, Trufanovia dengan daratan Selatan, Nerunovia, terdapat Ruetanovia yang merupakan daratan dengan tebing-tebing tandus dengan ngarai besar. Ngarai di daratan Ruetanovia merupakan ngarai terdalam yang sangat mengerikan yang ada di dunia ini
Di bagian Barat Daya, perbatasan antara daratan selatan, Nerunovia dengan daratan barat, Utanovia, terdapat Einnovia. Daratan berupa gurun dengan pusaran tornado api besar yang menutupi seluruh wilayahnya. Tidak kalah mengerikan dengan daratan barat yang penuh dengan gunung api.
Di bagian Barat Laut, perbatasan antara daratan Barat, Utanovia, dengan daratan Utara, Inklanovia, Terdapat Sighnovia. Daratan dengan wilayah kecil jika dibandingkan dengan daratan lainnya, namun memiliki pelabuhan yang sangat besar. Bahkan merupakan pelabuhan terbesar di benua ini. Dijuluki sebagai 'Land of Nautical ' dikarenakan sebagian besar penduduknya yang bergantung dengan lautan biru setiap hari.
Di bagian Timur Laut, perbatasan antara daratan utara, Inklanovia, dengan daratan Timur, Trufanovia, terdapat Medanovia. Daratan subur nan sejuk. Tempat di mana pertanian merupakan pekerjaan utama penduduk di sana. Tanah yang subur disertai udara yang sejuk membuat berbagai tanaman dapat tumbuh subur. Daratan pemasok sayur dan buah utama di benua ini.
Di bagian pusat benua, berdiri bangunan yang sangat besar. Pusat benua ini merupakan wilayah netral. Wilayah yang bebas dari delapan fraksi. di sini, Aku mungkin bisa menemukan apa saja. Mulai dari makanan, bahan baku, suku cadang, alat-alat, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, Pusat benua juga dikatakan sebagai 'Land of Merchant'.
Aku melihat Ilustrasi daratan-daratan itu dengan penuh kagum. Dari yang sangat memanjakan mata, hingga yang paling mengerikan.
Sampailah Aku di halaman terakhir Buku ini. Putih kosong tidak ada apa-apalagi. Mungkin seperti catatan bagi para pembaca.
"Buk.. ," Suara sampul buku yang berat menutup buku.
Aku sudah menghabiskan dua jam untuk membaca satu buku itu. Aku perlu mengembalikan energiku sebelum aku mulai membuka sampul buku lainnya. Istirahat sejenak mungkin adalah pilihan terbaik... ,