Histories And Memories

Histories And Memories
Awal Dari Sebuah Perjuangan Baru I



"Ha?!... , "


Aku terkejut ketika membuka mataku. Pemandangan yang sama persis dengan mimpiku sebelumnya.


Awalnya Aku hanya berpikir bahwa aku sudah mati, tetapi apa ini? kenangan indah yang diperlihatkan kembali kepadaku? atau hanya bumbu pemanis dari kematianku yang teramat menyakitkan itu?


"Sangat indah... , "


Aku berdiri di atas cakrawala ini seperti ada geladak kaca di bawah telapak kaki ku. aku melihat-lihat sambil menatapi gunung-gunung yang tinggi menjulang. Di puncak beberapa gunung terdapat salju putih yang menutupi pucuk gunung-gunung tersebut. Di bawah salah satu gunung, dipenuhi oleh pohon.


Pohon-pohon tersebut terlihat seperti pohon pinus di bumi, tetapi ukurannya yang berbeda jauh lebih tinggi menjulang sekitar sepuluh kali lipat pohon pinus bumi. Ada juga pohon yang seperti pohon Baobab di bumi. Ada juga beberapa pohon yang memiliki daun besar yang memiliki buah yang menempel di ranting-rantingnya dengan bentuk yang tidak pernah kulihat sama sekali di bumi.


Di lain sisi, terlihat padang rumput yang terhampar luas. Rumput yang bergoyang terlihat begitu hijau. Aku dapat merasakan betapa nyamannya jika dapat berbaring di atas rumput hijau nan lembut itu.


Bunga-bunga berwarna putih yang tumbuh bagaikan bunga musim semi di bumi. di tengah padang rumput itu, berdiri seperti suatu kerajaan dengan bangunan-bangunan yang tinggi menjulang. "Apakah ini adalah bangunan manusia?" Gumamku dalam hati.


Selanjutnya, terlihat samudra biru yang tak berujung sejauh mata memandang. Warna biru muda hingga biru tua bercampur layaknya sirup dan air yang belum diaduk. Aku yakin bahwa di dalam samudra itu terdapat rahasia tersembunyi dunia ini.


Jauh di selatan, samar-samar aku melihat adanya padang pasir dengan bukit pasir yang terbentuk dari badai pasir yang ada di pusat gurun tersebut.


Di utara, terlihat daratan yang putih bersih ditutupi salju. mungkin di sana adalah 'North Pole' dunia ini. di atas salju putih itu, terlihat seperti ada kilatan cahaya berwarna warni. Aurora. Ya, itu terlihat persis seperti yang kulihat di TV rumah sakit.


Kemudian mataku terpaku pada satu tempat yang mengerikan. di mana ada gunung berapi aktif yang terus menyemburkan lava dari perut gunung berapi itu. di lereng gunung-gunung itu terdapat lautan magma yang mengalir. Tak terbayangkan betapa panasnya jika mendekat ke sana.


Matahari di sini berwarna biru. sangat berbeda dengan yang ada di bumi. Awan tipis yang melambai di atas tanganku terasa sangat sejuk.


Aku terus melihat-lihat sekeliling sampai tak terasa hari sudah mulai malam. Pada malam hari, terlihat dua bulan sabit yang saling melengkapi dan ribuan bintang-bintang yang menghias langit malam. seperti membentuk suatu galaxy berupa cakram yang berpusat pada satu objek besar di tengahnya.


Disertai cahaya lampu dari penghuni rumah-rumah dibawahku. Sangat menyejukkan hati jika dibandingkan denganku yang menghabiskan empat tahun dengan suasana rumah sakit yang sanngat membosankan.


Aku bingung, mengapa diperlihatkan pemandangan yang sangat mengagumkan ini? apakah aku akan tinggal di sini sebagai reinkarnasi dari 'Reinver' yang hidup di bumi? Jika iya, maka suatu kebahagiaan tersendiri bagiku memulai suatu perjuangan baru yang mungkin akan ku ingat seumur hidupku.


Sedikit demi sedikit, aku mulai mengantuk dan akhirnya tertidur dengan nyenyak diiringi kicauan burung yang merdu.


"Hoaaam... , nyaman sekali tidur di sini.. ,"


Aku bangun. Tetapi, aku sudah tidak di atas langit lagi. Aku melihat atap kayu yang rapuh di atas wajahku. Aku terbaring di atas sesuatu yang lembut dan bisa bergerak. Mungkin kasur? atau sebuah ayunan?


Lalu Aku melihat seorang perempuan yang duduk disampingku dengan rambut putih panjang yang di ikat dan seseorang lelaki berambut pirang dan bertubuh kekar yang sedang memotong kayu bakar dengan kapaknya besinya yang besar.


Aku merasa terlalu kecil dibandingkan dengan orang-orang itu. kemudian perempuan yang berambut putih itu berdiri dari kursinya dan mulai menggendongku.


"Aaahh, lepaskan akuu... ," Aku berteriak kencang.


"Hah?!" Jawabku kaget. Aku tidak mengerti sama sekali terhadap apa yang diucapkannya. mungkin itu adalah bahasa manusia di sini?


Perempuan itu menggendong dan menghadapkan ku ke kaca bulat yang sangat besar. Aku melihat diriku yang terlihat seperti bayi berumur 3 bulan yang sangat mirip dengan perempuan itu.


Setelah melihat diriku yang berubah menjadi bayi, aku pun kaget bukan main. Aku berpikir sejenak, apakah doa ku dikabulkan? apakah aku dapat mengulang kembali hidupku di sini?


Dengan begitu, aku yang masih kecil mungil ini berjanji terhadap diriku sendiri bahwa aku akan memulai hidup baruku ini dengan sepenuh hati. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatanku yang telah diberikan tuhan ini.


Kemudian aku mulai berpikir bahwa perempuan itu merupakan Ibuku, dan orang yang memotong kayu bakar itu merupakan Ayahku.


Entah mengapa air mata ku tiba-tiba mengalir, mungkin aku teringat dengan Ibuku selama di bumi. Dia merupakan orang paling berjasa dalam hidupku.


kemudian Ibu baru ku membuat makanan dan menyuapi ku dengan bubur, teksturnya seperti bubur bayi. Ayahku masuk ke rumah dengan membawa kayu bakar yang telah dia potong di luar yang sedang bersalju.


Tunggu, bersalju? Aku mengingat-ingat kembali apa yang kulihat ketika ada di atas langit.


"Salju.... , berarti aku berada di bagian utara benua" Bicara ku dalam hati.


Mungkin ketika dilihat dari atas langit, bagian utara merupakan bagian terpencil dari benua ini dibandingkan dengan bagian pusat benua yang kulihat ada bangunan yang menjulang tinggi.


Ataupun di samping samudra yang luas yang di tepi pantainya ada pelabuhan yang sangat megah.


Aku bertanya-tanya, apakah aku berkesempatan untuk pergi ke pusat benua? Aku sangat tidak sabar untuk menjelajahi berbagai tempat di Dunia baru ini.


Tadinya kupikir begitu, tetapi setelah melihat tubuhku, aku harus menjadi lebih dewasa terlebih dahulu dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru di sini. aku harus mempelajari dunia ini dengan benar.


Mungkin bahasa menjadi permasalahan utama. Aku harus belajar bahasa di dunia ini dengan benar terlebih dahulu.


Lambat laun, aku sudah berumur tiga tahun. Aku mulai mengerti sedikit demi sedikit bahasa di dunia ini.


"Reinver, ayo ke sini dan bereskan buku-buku mu itu!" ucap ibuku.


Aku adalah Reinver Featherine. Sementara ibuku adalah Lith Featherine. Dan ayahku adalah Voin Featherine. Aku juga tidak tahu mengapa namaku sama-sama Reinver di bumi maupun di Dunia ini. Mungkin itu merupakan takdirku.


"Baikk buuu.... , " Teriak ku yang sedang bermain di luar.


Aku baru belajar bahasa yang menjadi bahasa umum di dunia ini, mungkin seperti bahasa inggris di bumi.


Aku meminjam buku-buku itu dari Ibuku. Kebanyakan buku itu adalah buku cerita dongeng yang diiringi dengan lirik lagu yang aku tidak mengerti apa artinya.


Ibu berkata bahwa buku merupakan barang yang paling berharga di dunia ini. Aku juga tidak mengerti seberapa berharganya buku-buku itu. tetapi yang pasti, aku akan belajar tentang semua yang ada di dunia ini.