Histories And Memories

Histories And Memories
Prolog



Entah mengapa, Aku melihat pemandangan yang begitu indah, pemandangan yang tak pernah kulihat selama Aku hidup di dunia ini.


Apa mungkin karena aku yang tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjelajahi berbagai tempat di atas planet yang bernama Bumi ini?


Satu jam, tidak, ini mungkin sudah setengah hari, atau mungkin sudah seharian lebih aku termenung melihat dunia lain yang entah bagaimana dapat muncul di dalam pikiranku.


Gunung-gunung terhampar luas, sungai berwarna biru cerah yang melintasi daratan megah, dan burung-burung yang beterbangan melintasi cakrawala. "Huh.... apakah ini dunia yang ku idam-idamkan selama ini?" Gumamku dalam hati.


"Reinver.... , ayo buka mulutmu" Suara samar-samar terdengar di telingaku yang terhimpit oleh beberapa alat medis. Perlahan, dunia yang cantik nan indah yang kulihat beberapa saat lalu mulai memudar, menghilang, lalu bercampur dengan warna langit-langit putih rumah sakit.


"Ahh, mimpi yang sama lagi" Ucapku pelan. entah bagaimana aku selalu mendapat mimpi yang sama beberapa kali. Ini mungkin ke empat kalinya aku bermimpi tentang dunia itu.


"Ting.. , ting.. , " Suara sendok yang menyentuh permukaan piring mengganggu ku.


"Cepatlah nak, ayo buka mulutmu, tangan Ibu sudah mulai mati rasa" Kata-kata khas ibuku yang penuh semangat mulai memenuhi telingaku.


"B... , baik bu" Jawabku lirih sambil membuka mulutku.


Aku tahu mungkin Ibu terlihat begitu bersemangat, tetapi ketika aku melihat matanya, kenyataan tidak dapat berbohong, mata Ibu yang menghitam dan kerutan di wajahnya menandakan manusia yang sangat letih. aku selalu berpikir, apakah aku menjadi beban untuknya?


Aku menghabiskan sarapan dengan ibuku yang penuh kasih sayang seperti biasa. Lalu Ibu membopong punggungku menuju kursi roda berwarna putih keabu-abuan.


Kami pergi berkeliling rumah sakit seperti biasa. di tengah jalan, Ibu bertanya kepadaku beberapa pertanyaan. Pertanyaan normal bagi Ibu yang khawatir dengan anaknya yang sedang sakit.


"Bagaimana keadaanmu? sudah mulai membaik?" kata Ibu.


"Yahh, s.. , seperti biasa, mungkin?" Jawabku ragu.


"Oooh, seperti itu yaa, kalau begitu ibu akan pergi bekerja" Lanjut Ibu.


"O.. , oke" jawabku.


Aku sedih melihat kondisiku yang tidak berdaya selama 4 tahun belakangan ini. Oh ya, aku belum bercerita bagaimana aku dapat masuk dan terjebak di rumah sakit ini.


Saat aku berumur lima belas tahun, aku merupakan anak sekolahan yang normal. Anak sekolah yang pergi berangkat sekolah pukul lima pagi kemudian belajar seperti biasa dan pulang pukul dua belas siang. Yang berbeda hanyalah teman-temanku, mungkin tepatnya perbedaan kasta sosial.


Teman-temanku memiliki rumah mewah, kendaraan yang mahal, dan berbagai aksesoris yang menyilaukan. Sedangkan Aku hanya tinggal di perkampungan kumuh nan bau, bahkan untuk makan saja susah.


Aku bersekolah di tempat paling bergengsi di tempat tinggalku dengan bermodalkan nilai yang terbilang di atas rata-rata. Dibandingkan teman-temanku yang memiliki harta keluarga yang berlimpah, aku bagaikan semut di antara para manusia, yang dapat diinjak kapan pun.


walaupun begitu, ada beberapa orang yang bernasib sama denganku. Tidak banyak. Dapat dihitung dengan jari. Tetapi, seiring waktu, teman-temanku mulai pergi satu per satu. Alasan yang wajar dan sederhana, Tidak kuat dengan perlakuan teman yang sangat menyayat hati. Mungkin untuk dipanggil teman saja tidak akan pantas.


Aku terus bertahan dengan tekadku untuk menaikkan derajat keluarga tetapi tiba puncaknya saat menjelang kelulusan sekolah, saat aku pulang, tiba-tiba ada mobil sedan hitam yang melaju kencang menuju ke arahku, dan secara spontan menabrakku yang sedang melewati Zebra cross.


Dengan cahaya mata yang redup aku melihat teman-temanku keluar dari mobil, dan bukannya menolongku, mereka malah meninggalkanku terbaring di atas aspal dingin malam hari.


Aku ingin berteriak. Tetapi apa daya, mulutku sudah dipenuhi darah, tertutup rapat, diikuti mata yang sayup-sayup menghitam, meninggalkan saksi bisu perjuangan menghadapi kehidupan yang kelam ini.


Saat aku membuka mata, yang kulihat hanyalah cahaya dan dinding putih dengan suara "Beeep... , beeep... , " mesin di sebelah ku. Pemandangan yang akan kulihat selama empat tahun kedepan.


Seseorang yang selalu duduk setia menunggu di samping tangan kananku hanyalah Ibuku semata. ayahku sudah tiada sejak sepuluh tahun lalu. Air yang keluar dari mata yang sudah tak lagi dapat lagi dibendung. Tangis ku dan Ibu pecah seketika.


Kemudian ibu menjelaskan tentang kejadianku. Tentang bagaimana aku dapat berakhir di rumah sakit mewah ini. Singkat cerita, aku ditemukan oleh pengendara yang lewat dan dibawa ke sini, lalu teman-temanku datang dan menjelaskan kejadian malam itu. Yang tentu saja dengan niat culas untuk menyelamatkan diri mereka dari jeratan penjara.


semua biaya perawatan ini ditanggung oleh 'teman' yang menabrakku. Dengan syarat tidak melanjutkan permasalahan ini ke pihak berwajib.


"Arrrgh.... , Kenapaaa?" Aku berteriak, mengerang melihat nasib ku. Nasib kaki ku yang telah hilang sebelah. Sebenarnya aku sangat ingin menuntut mereka, tetapi ketika aku melihat mata Ibu, aku membayangkan bagaimana cara untuk membayar semua biaya rumah sakit ini setelah seminggu aku koma di atas Ranjang rumah sakit. Apalagi, rumah sakit ini merupakan rumah sakit mewah. setiap malam aku menangis, meminta keadilan untuk diriku, hanya itulah yang dapat kulakukan di atas ranjang ini.


Ibuku hanya dapat bekerja, banting tulang setiap harinya. pergi pagi, pulang tengah malam untuk memenuhi kebutuhan kami.


Waktu kian berlalu, besok adalah hari tepat tahun ke-empat aku berada di rumah sakit ini. Ada keadaan khusus di mana aku harus selalu berada di bawah pengawasan dokter. Bukan karena kaki ku, melainkan ada kelainan saraf otak setelah kecelakaan itu yang dapat membuatku tak sadarkan diri dalam waktu yang lama. Sehingga perlu penanganan khusus dokter.


Pukul 10 malam itu, Aku mendengar bunyi "Beep.... , beeep... , " yang sangat keras. Yap, itu merupakan peringatan bahwa saraf di otakku mulai mengalami gejala kerusakan. Dokter pun masuk ke kamarku dan mulai mengambil anestesi lalu menyuntikkannya ke tangan kananku yang dibarengi dengan suara roda ranjang yang sedang menuju ke ruang operasi.


Aku terbangun di tengah-tengah operasi. Entahlah, aku tidak dapat merasakan apa pun, sampai tiba saatnya aku merasakan rasa sakit yang tidak terbayangkan. rasa sakit yang tidak pernah kurasakan selama aku hidup di dunia. aku ingin memberi tahu Dokter, tetapi tubuhku tidak dapat bergerak. "beeep.... , beeep.. , " "beeeeep...... , "


Gelap.


Senyap.


Tidak ada cahaya.


Tidak ada suara. Hanya ada kehampaan sunyi.


"Apakah ini akhir diriku? maafkan aku ibu, aku hanya menjadi beban bagi mu. kalau bisa, aku ingin bertemu denganmu di kehidupanku selanjutnya... Tunggu, Akankah ada kehidupan selanjutnya? ataukah aku harus berdiam di kehampaan ini selamanya?" Gumamku.


"ARRRGH, TOLONG. TOLONG AKU SEKALI SAJA, TUHAN. Tolong... , sekali saja... , " Teriak ku diiringi tangisan yang membuat tubuhku terduduk lemas.


Lama kelamaan kesadaranku menghilang, lenyap, musnah dilahap kegelapan. Selamat tinggal dunia..... ,