Histories And Memories

Histories And Memories
Awal Dari Sebuah Perjuangan Baru V



"Hmmh...," Gumamku bosan.


Ini sudah satu minggu setelah aku membaca buku hasil pemberian ayahku. Dua buku yang ku baca sebelumnya memang sangat menarik perhatianku. Tetapi enam buku sisanya adalah buku cerita biasa yang membuatku mengantuk ketika membacanya.


Aku sudah menamatkan seluruh bukunya kemarin lusa, membuatku sangat bosan hari ini. Tidak ada lagi buku-buku baru yang dapat ku baca.


Ditambah cuaca hari ini sangatlah buruk sehingga kami sekeluarga harus tetap berdiam diri di rumah. Badai salju mulai mengamuk dan menutupi langit malam hari ini.


Ayah duduk di dekat perapian sambil mengelus elus pisau hasil buatannya tadi siang. Ekspresi bahagia tampak di atas wajahnya yang tampan.


Sedangkan Ibu sedang mengupas buah yang mirip dengan anggur berwarna hitam di dapur. Ibu membeli banyak buah-buahan saat pergi ke pasar minggu kemarin. Tak heran jika meja makan penuh dengan buah beberapa hari ini.


Aku sedang duduk bersimpuh di atas karpet, tidak tahu apa yang harus ku lakukan di saat seperti ini. Mungkin tidur adalah satu-satunya pilihan untuk mengatasi rasa bosanku.


"Hey Reinver, kemarilah...," Ucap ayahku penuh semangat.


"Ya," Jawabku dengan nada datar sambil berjalan menuju ke perapian tempat ayah berada.


"Lihatlah pisau buatan ayah ini, terlihat cantik bukan?" Cakap ayahku dengan tangan kanan yang sedang memegang pisau berwarna silver itu.


"Ya, lumayan," Jawabku


"Ayolah, Ayah tahu kamu sedang bosan. Bagaimana jika besok pagi kamu ikut ayah ke pusat kota?" Tanya ayahku.


"Hah?" Jawabku terkejut.


Aku selama ini belum pernah pergi jauh dari rumah. Jangankan pusat kota, Aku hanya mentok pergi ke sekeliling rumah untuk bermain. Ibu selalu melarangku untuk pergi terlalu jauh dari rumah. Mungkin Ibu hanya khawatir terjadi apa-apa jika aku pergi jauh darinya.


"Hey, apa kau yakin akan mengajak anak kita pergi ke tempat kerjamu? Sambung Ibuku yang sedang duduk di bangku meja makan.


"Tentu saja, mengapa tidak?" Lanjut Ayah.


"Bagaimana Reinver, apa kau tertarik?" Tanya jelas ayahku sekali lagi.


Mataku berbinar terang mendengar ajakan ayahku. Aku ingin pergi keluar untuk melihat sesuatu yang baru. Tanpa dijawab pun, mereka pasti tahu dari ekspresi wajahku yang berseri.


"..., Baiklah." Ucap ibu setelah melihat anaknya yang sangat bersemangat.


"Yeah..," Sambung ku.


"Kalau begitu, besok bangun pukul enam pagi. Bersiaplah, kita akan berangkat 30 menit setelahnya." Jelas Ayah.


"Siap komandan." Jawabku sekaligus mengakhiri percakapan Malam hari ini.


Hari semakin gelap. Suara kicauan burung hantu ditambah dengan auman serigala membuat suara yang begitu nyaman saat didengar.


Ayah dan Ibu pergi ke kamar mereka terlebih dahulu, disusul olehku yang langsung pergi masuk ke kamar setelah buang air kecil.


Waktu pun berlalu.


Aku terlalu bersemangat untuk besok pagi, sehingga aku tidak bisa tidur. Aku ingin tahu seberapa besar pusat kota dibanding dengan desa tempat kami tinggal. Sedikit demi sedikit suasana malam yang sunyi membuat mataku meredup sampai akhirnya Aku tertidur.


-


"Ceklek" Suara kunci pintu yang terbuka.


"Reinver, kamu jadi ikut atau tidak?" Ucap ayah mengagetkan ku yang masih terlelap.


"Ha.., Jam berapa ini?!" Tanya ku heran sambil melihat ke arah jam dinding.


Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Aku segera bangun dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap meninggalkan ayahku di depan pintu kamar tanpa menjawab pertanyaannya.


"Haish, Kesiangan Aku...," Gumamku dalam hati sambil memakai pakaianku.


"Kami berangkat...," Ucapku dan Ayahku bersamaan.


"Hati-hati dijalan.....," Lanjut Ibu.


Kami pun pergi menuju pusat kota dengan menggunakan sepeda milik Ayah. meninggalkan Ibu sendiri di rumah. Selama sepuluh menit perjalanan kami, hanya rumah-rumah kecil yang kami lewati.


Setelah kami meninggalkan tembok desa tempat tinggal kami, Terlihat hutan dengan pohon gundul yang ditutupi oleh salju putih. Kami melewati jalan setapak yang sepi. Mungkin orang-orang malas keluar di hari yang bersalju ini. Lalu kami melewati sungai yang membentang dengan melewati jembatan kayu yang mungkin ukurannya dua kali lebar jalan setapak tadi.


Tak lama kemudian, kami tiba di persimpangan jalan. di sini sangat ramai, banyak sekali orang yang berlalu lalang. Sepeda kami terus berjalan ke depan menembus jalan yang ramai.


Hingga sampailah kami ke depan gerbang tembok yang membatasi pusat kota. seperti biasa, di depan gerbang yang besar itu ada beberapa penjaga yang ditugaskan untuk memeriksa barang bawaan orang yang akan masuk ke pusat kota.


Setelah lima menit mengantri untuk masuk, kami akhirnya dapat izin untuk masuk. Ayah segera menggowes sepeda menuju tempat kerjanya.


Aku terpukau melihat jalan-jalan kota yang sangat ramai dengan rumah-rumah yang rapat. Ini mengingatkanku saat aku masih tinggal di rumahku di bumi. Sepanjang jalan, terdapat banyak toko yang menjual makanan-makanan dan perkakas.


"Nah, sampai juga." Ucap ayah ketika sampai di depan toko nya setelah satu jam perjalanan.


Kami langsung membuka pintu toko dan segera masuk ke dalam. Udara hangat menyambut serta menghilangkan sensasi dingin salju yang masih menempel di wajah kami.


"Hey Voin selamat pagi, siapa yang kau bawa? apakah itu anakmu?" Ucap seseorang dengan tubuh besar sambil melihat ke arah mataku.


"Kau pikir siapa lagi?" Balas Ayahku.


"Yah, rambut putihnya berbeda denganmu," Lanjutnya.


"Sudahlah Albert, dia adalah anakku satu-satunya. Reinver, perkenalkan, dia adalah Albert. Teman kerja ayah." Ucap Ayah.


"Eh.., H-Halo..., Aku Reinver Featherine, dan dia adalah Ayahku." Jawabku kikuk.


Albert pun tertawa setelah melihatku memperkenalkan diri. Ayah segera berganti pakaian dengan memakai apron coklatnya. dia mengambil palu besi dan langsung membuat barang sesuai daftar pesanan yang diberikan Albert.


Aku melihat-lihat sekeliling. Banyak sekali perkakas yang dipajang di sini. Mulai dari peralatan dapur, Hingga pedang besar menghiasi dinding toko. Tak banyak yang datang ke toko Ayah hari ini. Hanya beberapa orang datang untuk mengambil pesanan mereka.


Setelah dua jam aku di dalam toko melihat-lihat koleksi Ayah dan mengamati ayah bekerja, sepertinya Aku mulai bosan. Aku duduk di depan meja kasir dengan kedua telapak tangan menopang dagu ku.


Kemudian Albert datang dan melihatku. Dia menyuruhku untuk pergi ke bangunan sebelah yang tidak lain adalah perpustakaan kota. Semangatku kembali lagi. Aku meminta izin Ayah untuk pergi ke perpustakaan kota. Lalu ayah pun mengizinkanku dengan nada yang sambil lalu.


Aku segera keluar toko dan masuk ke perpustakaan. Saat tiba di dalam, Suasananya sangat sepi, berbeda sekali dengan toko ayahku yang dipenuhi suara palu yang beradu dengan paron besi.


Tidak ada seorang pun di sini selain pustakawan penjaga perpustakaan. Pustakawan itu menatap wajahku dan membiarkan Aku pergi masuk ke dalam untuk membaca.


Banyak sekali buku-buku di sini. Aku dapat melihat mulai dari buku pengetahuan, cerita, ataupun dongeng sekalipun ada di sini.


"Woaaahhhh...," Ucapku dalam hati.


Aku mulai mengambil dan membaca buku-buku itu satu per satu hingga matahari mulai terbenam. Ayahku yang sudah selesai bekerja masuk ke perpustakaan dan memberitahuku bahwa sudah saatnya pulang.


Aku terlalu terbawa suasana hingga lupa bahwa aku ada di perpustakaan. Aku pun langsung menutup buku dan ikut ayahku untuk pulang.


Jalan setapak dengan lampu taman yang menghiasi setiap sudut jalan memang sangat indah. Tetapi berbeda hal ketika setelah menyeberangi jembatan antara desa dan pusat kota. Suasana hutan yang sunyi dilengkapi dengan pekatnya malam menimbulkan suasana menyeramkan.


Aku meminta Ayah untuk segera menggowes sepedanya dengan cepat. Lalu dibalas dengan tawa yang sedikit mencairkan suasana menyeramkan itu.


Sesampainya di rumah, kami disambut oleh hidangan lezat yang disiapkan Ibu. Ibu bertanya-tanya tentang apa yang kulakukan dan bagaimana kesan ku terhadap pusat kota.


Aku pun menceritakan mulai dari Albert, koleksi perkakas Ayah, hingga perpustakaan yang sangat besar. Aku meminta untuk pergi ikut dengan Ayah lagi besok, lantaran ingin membaca lebih banyak buku di perpustakaan. Ibu pun mengangguk tidak bisa melawan hasrat membaca ku.


Canda tawa menghiasi malam hari itu. Hingga akhirnya makan malam pun selesai dan satu per satu dari kami pergi tidur ke kamar masing masing.


"Satu lagi hari yang tidak dapat dilupakan." Ucapku pelan.