
"Hush.... , "
Suara angin dari badai salju yang sangat besar menerpa rumahku. Rumah ku memang kecil, hanya bertumpu pada delapan penyangga kayu yang berdiri kokoh di setiap sudut ruangan.
Atap yang terbuat dari jerami dicampur dengan tanah liat, yang selalu melindungi ku dan keluarga ku dari terpaan angin, hujan, hingga badai salju sekalipun yang membuatku kagum.
Lantai yang dialasi oleh sebuah karpet bulu yang sangat hangat, yang mungkin terbuat dari bulu domba. Selalu membuatku merasa nyaman duduk diatasnya.
Jendela kaca yang jernih di sela-sela dinding kayu hitam yang tak pernah membuatku bosan. entah mengapa, aku sangat ingin untuk tinggal di sini selamanya.
Perapian di depan ku membuat atmosfer rumah ini menjadi lebih hangat. Ketika kamu keluar rumah, mungkin kamu akan dapat melihat dengan jelas kebulan asap yang keluar dari cerobong asap membumbung tinggi menuju langit.
"Reinver.... ," Teriak Ibuku.
"Apaa Ibuuu...,? Aku sedang membaca di sini" jawabku yang sedang sibuk menelaah isi buku lawas yang diberikan oleh ibuku.
"Bantu ibu menyiapkan sup kesukaanmu sini." Ujar Ibu.
"Sreeet... ," Suara yang muncul akibat gesekan antara lutut kaki ku dengan karpet bulu.
Aku langsung buru-buru mengambil pembatas buku berwarna hijau kesayanganku.
"Baik buu, Segera datang" Jawabku penuh semangat.
Aku segera menutup buku dan berlari menuju dapur. Ketika aku membuka pintu dapur, bau semerbak rempah-rempah langsung keluar menyambutku.
sup berwarna oranye yang sudah tiga perempat matang itu merupakan sup sayur-sayuran yang sangat enak. Pertama kali aku mencoba sup buatan ibuku itu, aku langsung terpikat dengan rasa manis dan sedikit rasa asinnya.
sup itu merupakan sup yang dibuat dari bunga Ellimberg yang hanya dapat mekar di daratan utara, yaitu tempat tinggalku.
Tanaman Ellimberg itu sebenarnya ada di seantero daratan, tetapi bunga dari tanaman Ellimberg hanya dapat mekar ketika ada di suhu dan kondisi tertentu. Bunga Ellimberg mekar ketika suhu di bawah titik beku air dan harus selalu menempel pada salju yang ada di daratan utara ini.
"Tolong ambilkan ibu beberapa piring, Reinver... ," Ucap Ibuku dengan penuh kelembutan.
"Ting... , " suara dentingan piring tanah liat yang ku ambil dari wastafel abu-abu sederhana.
Beberapa menit kemudian, Ibu langsung mengambil panci yang masih beruap itu. Ibu juga mengambil sendok sayur yang terbuat dari kayu.
Ibu menuangkan sup ellimberg itu sedikit demi sedikit sampai memenuhi piringku.
Suara siulan katel besi yang nyaring membuat Ibu menoleh ke belakang. Ibu langsung mematikan kayu bakar yang merah menyala itu.
Tak lama kemudian, Ayahku pulang ke rumah dengan mantel cokelat bulu domba yang menjadi ciri khasnya.
Ayah langsung melepas sepatu boots hitamnya dan segera membuka mantel yang dipenuhi dengan salju itu. Ayah pun langsung menggantungkannya di dekat perapian.
Ayahku bekerja di pusat kota dengan menjadi penempa. dia bisa membuat berbagai perkakas rumah sampai senjata mematikan sekalipun. Ayah pernah membuat sebuah pedang yang sangat tajam hingga diakui dan dibanggakan oleh orang-orang sekitar desa ku.
"Ayah pulang... ," Teriak Ayah dengan suaranya yang berat.
Aku dan Ibuku pun segera menyambutnya.
"Ayah, apa itu?" Ucapku sambil menunjuk ke sebuah benda kotak kubus yang di jinjing di tangan kanannya.
"Hahaha... , malaikat kecilku sudah tidak sabar rupanya." Jawabnya.
Lalu Ayahku menaruh kubus itu dan segera mengambil pisau untuk membukanya.
"Sreeet.... ," Suara pisau yang merobek kotak kubus itu.
Wahh, betapa terkejutnya aku. Isi benda tersebut adalah buku. Lima, tidak, setelah ku hitung ada delapan buku di dalam kotak kubus itu.
"Ayah tadi mendapat klien yang murah hati, dia membeli beberapa barang hasil tempaan tangan ayah dengan harga yang lumayan tinggi. Jadi ayah belikan buku-buku ini untukmu. Reinver...., kamu suka membaca kan?" Ujar Ayah.
"IYAA AYAHH... ," Teriakku bahagia.
Aku sudah menyelesaikan semua buku lawas yang ibu pinjamkan kepadaku. Mungkin aku sudah mengulang-ulang tiga sampai empat kali sampai Aku hafal dengan semua alur dari buku-buku itu.
Saat ini, Aku juga sudah menguasai bahasa yang ada di dunia ini bagaikan ahli. Tetapi, saat aku melihat salah satu sampul buku itu, ada beberapa tulisan yang aneh. Sejenis tulisan sambung yang terlihat sangat berbeda dengan tulisan yang biasa ku baca. Tetapi aku seakan mengerti dengan arti dari tulisan itu.
"Makanan sudah siap" Ucap Ibuku di meja makan.
"Baik bu" Jawabku bersamaan dengan Ayah
Entahlah, mungkin aku akan pikirkan nanti saja perihal tulisan itu.
Kami pun segera makan bersama seperti keluarga biasa yang bahagia. Sajian ibu memang tidak pernah gagal. sop Ellimberg dipadukan dengan sejenis oatmeal dan dilengkapi dengan teh khas daratan tengah yang megah menjadi sajian makan malam hari ini.
Setelah makan makan malam selesai, ibu langsung membersihkan sisa cucian piring dan gelas bekas makan kami.
Ayah langsung tidur. Mungkin karena raga nya yang sudah tidak dapat menahan penat.
di luar rumah, badai salju telah usai. Langit mulai menjadi cerah. seperti biasa, aku mengambil kursi kayu kecil dan duduk di samping jendela. Memfokuskan pandangan mataku ke atas cakrawala malam.
Dua buah bulan sabit, dipadukan dengan gemerlap ribuan bintang memang sangat memanjakan mata. Aku berharap dapat melihat aurora seperti saat aku di atas langit. Tetapi ibu mengatakan bahwa aurora hanya ada di situasi dan kondisi cuaca tertentu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Ibu selesai mencuci piring dan menghampiri diriku.
Ibu ikut duduk bersila dengan tangan kanan yang hendak merangkul pundak sebelah kanan ku.
"Mungkin daratan utara merupakan tempat paling damai di benua ini" Ucap Ibuku.
Aku tidak mengerti apa maksud dari 'Tempat paling damai' yang ibu katakan.
Lalu, aku memberanikan diri bertanya, "Tempat paling damai?" Tanyaku.
"Ya, di sini merupakan tempat paling damai yang dapat kamu rasakan," Lanjut Ibu.
Kami melamun sebentar sambil memandangi langit malam. Suasananya menjadi sedikit aneh.
"Bagaimana caraku mencairkan suasana ini?!" Gumamku dalam hati.
Tak lama kemudian, Ibu langsung berbicara, "Inklanovia."
"Inklanovia?!" Tanyaku heran.
Lalu aku berpikir, mungkin sejenis nama untuk suatu daerah. seperti nama-nama benua yang ada di bumi.
"Benua ini bernama benua Fruth. yang di mana di dalam benua ini terbagi menjadi delapan fraksi yang menetap di daratannya masing-masing." Jelas Ibu.
Aku terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan berbagai informasi lalu menjadikannya satu kesatuan.
Walaupun aku masih berusia tiga tahun di dunia ini, aku dapat dengan mudah memahami sesuatu karena pada dasarnya aku merupakan seseorang yang berusia sembilan belas tahun yang sudah bisa berpikir layaknya orang dewasa.
"Fruth.... , benua"
"Fraksi.... , berarti ada perpecahan."
"Damai..... , berarti ada peperangan."
Berbagai macam kalimat kata campur aduk di dalam otak ku.
Sampailah pada hipotesis yang kusimpulkan bahwa di dunia ini, Fruth merupakan suatu benua yang entah mengapa, terdapat sejarah peperangan yang diakibatkan oleh perpecahan yang kemudian menjadikannya delapan fraksi yang saling bertentangan.
"Kamu akan mengerti tentang bagaimana dunia ini bekerja sebentar lagi. Karena kamu berbeda dengan anak-anak lainnya... ," Ucap ibuku sambil melepas rangkulan di pundak kanan ku.
Ibu langsung memecahkan suasana serius yang dimulainya beberapa menit lalu.
"Sudah malam, waktunya tidur. Segera tutup jendelanya. Reinver... ," Ujar Ibu yang sedang jalan menuju ke tempat tidurnya.
Dengan rasa penasaran, Aku pun menutup jendelanya dan berjalan sambil berpikir 'apa maksud dari ibu?'
"Sudahlah, aku akan langsung tidur." Jelasku sambil merebahkan badanku di atas kasur yang empuk. Masih ada hari esok, aku akan menemukan jawabannya apa pun yang terjadi.