Hell Theater

Hell Theater
Riddle #3



1. Pembunuhan


Aku terbangun tengah malam dan merasakan suatu perasaan tak enak.


Aku menyalakan lampu mejaku dan melihat genangan darah yang sangat banyak di selimutku.


Aku menjerit dan berlari keluar kamarku. Aku buru-buru turun ke lantai bawah dan melihat Bruni, anjingku, kini terbaring bersimbah darah di ruang tamu tangga.


Aku hendak keluar melalui pintu depan ketika aku mendengar suara di ruang makan. Tidak, pembunuh itu masih ada di sini!


Aku segera berlari ke atas lagi untuk menemukan orang tuaku, berharap mereka masih hidup.


Aku membuka pintu kamar orang tuaku dan melihat kolam darah di lantai. Ayah tewas tergeletak dengan banyak tusukan di dadanya. Sedang di sebelahnya terbaring mayat ibu yang juga penuh lumuran darah.


Aku mendengar sang pembunuh naik ke atas. Pelan namun pasti, ia membuat suara decitan ketika kakinya menginjak anak tangga yang terbuat dari kayu.


Aku meringkuk di pojok ruangan, tak ada lagi jalan keluar. Aku hanya bisa berdoa.


Pembunuh itu kemudian membuka pintu.


Aku bernapas lega. Itu bukan pembunuh, ternyata itu pria berseragam polisi.


Aku hendak berlari ke arahnya, meminta tolong. Namun ia justru bergerak mundur ketika ia melihatku.


“Ke...kenapa?” tanyaku ketakutan, “A...apa ia ada di belakangku?”


Kemudian ia berkata dengan suara tegas sambil berusaha meraih pistol yang ada di sabuknya.


“Nak, tenanglah dan berikan kepadaku pisau itu!”


2. Penyusup


Belakangan ini aku mengalami kejadian tak mengenakkan. Begitu aku pulang, kamarku selalu saja acak-acakan. Tak ada yang hilang sih, tapi ini mulai mengangguku. Akhirnya aku memutuskan untuk memasang kamera CCTV di pojok kamarku.


Di dalam video, seseorang kembali memutar kenop pintu dan membukanya. Itu aku.


3. Hidup Sendiri


Aku tinggal bersama dengan orang tuaku. Tadi malam kami bertengkar hebat. Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal sendiri sejak dari hari itu.


Hari pertama aku hidup mandiri, aku memulainya dengan hal-hal biasa, seperti sarapan, mandi, dan kemudian bersiap berangkat. Oh ya, hampir lupa ... aku harus membuang sampah. Akupun keluar dari rumah dan menyapa tetanggaku yang selalu meyirami tanamannya setiap pagi. Aku kemudian mengunci pintu dan berangkat kerja. Benar-benar hari pertama yang sempurna!


4. Pembunuh Psikopat


Hari ini hari Sabtu. Aku mengundang temanku, Hanif, untuk bermain game di rumah. Hanif dan aku bermain game 'point blank' hingga larut malam.


Setelah cukup lama bermain, kami kelelahan dan memutuskan menonton televisi. Malam itu sangat membosankan karena semua acara prime time sudah habis dan yang tertinggal hanyalah acara berita. Namun ada satu berita yang menarik perhatianku,


“Pagi ini di jalan kenanga terjadi sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbannya adalah seorang guru seni bernama Sinta. Ia dibunuh dan mayatnya ditemukan terpotong-potong. Perlu diingat bahwa senjata pembunuhnya belum ditemukan jadi sangat sulit bagi polisi untuk melacak pelaku sebenarnya ..”


“Wah seram sekali. Bukankah tempat tinggalmu di Kenanga? Berhati-hatilah!” kataku pada Hanif.


Hanif hanya tertawa, “Hahaha, menakutkan sekali, ada pembunuh berantai berkeliaran ...”


“Aku serius. Mungkin ia mengincar korban selanjutnya. Barangkali ia psikopat dan menargetkan guru sebagai korbannya. Bukankah kau guru olahraga?”


“Ya...ya...ya...justru karena aku guru olahraga, aku tak akan takut. Lagipula aku bisa membela diri kalau bertemu dengannya. Eh, hari sudah malam, aku pulang saja.”


“Hei, mengapa kau tidak menginap saja di sini! Bahaya kalau kau pulang malam-malam!”


“Hahaha....aku sama sekali tak takut dengan pembunuh. Apalagi jika dia hanya membawa pisau dapur. Bye!”


Aku mengantar Hanif ke pintu dan begitu ia pulang, aku langsung menelepon polisi.