
Pengembara tersesat dalam sebuah labirin, tak tahu jalan pulang.
Senja berkabut menjemput—dalam —hampa.
Bagaimana cara melarikan diri, jika hanya berputar, berputar, dan berputar.
***
Suasana pasar malam, begitu ramai. Satu-satunya hiburan di kota terpencil sebelah utara, Massachusetts.
Banyak hiburan menarik disana seperti ; rumah hantu, panggung boneka, ramalan tarot, dan banyak lagi. Di antara sekian banyak hiburan ada satu hiburan yang membuatku tertarik, labirin. Sebuah ruangan yang banyak kelok-kelok, dengan cermin di tiap sisi, dan jebakan dimana-mana. Benar-benar membuatku tertantang untuk masuk ke dalamnya.
Suara-suara teriakan terdengar menggema hingga keluar area, berasal dari rumah hantu yang tak jauh dari tempat yang akan kutuju. Kakiku terasa berat, keringatku mulai mengucur dibarengi dengan napas yang mulai tersengal-sengal. Huft... terlalu excited! Maybe!
Seorang gadis penjaga pintu dari arena labirin tersenyum padaku ketika aku sampai di depan pintu masuk.
“Tiket?” Minta gadis itu sambil menjulurkan tangannya.
Kuserahkan selembar tiket padanya. Tapi anehnya, tiket yang kugenggam berubah warna menjadi sedikit usang kecoklatan seperti sebuah tiket lama.
Mungkin tiketnya di buat untuk bisa mengubah warna, supaya lebih seru. Mungkin.
“Ini! Jika nanti aku tak bisa keluar, apakah ada yang akan mencari?” tanyaku pada gadis penjaga pintu masuk.
Ia tersenyum. Ganjil.
“Jawablah, jangan hanya tersenyum,” ucapku kesal.
“Hmm ... kau akan sampai di pintu keluar, selama kau tak memasuki sebuah ruangan berpintu merah. Konon katanya... banyak yang tak bisa kembali setelah memasuki ruangan dengan pintu berwarna merah tersebut. Ingat, pintu berwarna merah!” Ucap gadis itu masih tersenyum
"Bodoh! Kau kira aku percaya dengan omong kosong itu? Hanya sebuah pintu berwarna merah" batinku. Ucapannya membuatku bertambah penasaran. Tak ada orang lain selain aku yang memasuki arena tersebut. Apa mereka tak memiliki nyali? dasar penakut.
Kulangkahkan kakiku dengan mantap. Hawa di dalam terasa berbeda. Sedikit dingin, lembab, dan ... berbau anyir? Semua ruangan terlihat sama, kadang aku terpekik karena terkejut melihat bayanganku sendiri memantul di cermin.
Dikejauhan aku melihat seorang anak lelaki mungkin seusiaku?.
"Heii!" aku memanggilnya dan dia menoleh padaku. Aku berlari ke arahnya.
"Hai apa kau juga baru masuk?" tanyaku.
"Tidak aku sudah lama disini" Jawab anak itu.
"Kau ini payah ya, menemukan jalan keluar saja masak tidak bisa" remehku.
"Begitukah?"
"Iyalah, begini bagaimana jika kita mencari jalan keluar bersama-sama?" tawarku.
"Ide yang bagus!"
"Ngomong-ngomong namamu siapa? namaku Gian roys"
"Salam kenal! namaku Diabolos"
"Cukup panggil aku Dias"
"Oh oke"
Kami menyusuri tempat itu untuk mencari jalan keluar. Akhirnya kami sampai didepan sebuah pintu berwarna merah. Sepintas aku teringat tentang perkataan gadis penjaga pintu tadi "Konon katanya... banyak yang tak bisa kembali setelah memasuki ruangan dengan pintu berwarna merah tersebut".
"Heii!!"
Lamunanku menjadi buyar saat Dias memanggilku.
"Ayo lewat sini!" ajak Dias yang sudah memasuki pintu.
"Tapi kata gadis penjaga tadi bilang pintu ini tidak boleh dimasuki" Ucapku ragu.
"Ohh, apa kau takut? padahal tadi kamu mengejekku payah, ternyata kamu lebih payah"
Mendengar perkataannya aku menjadi sangat kesal.
"Siapa yang takut, aku akan masuk!!!" bantahku geram.
"Hah lagian siapa yang akan percaya tentang pintu merah ini? pasti dia bilang begitu hanya untuk menakut-nakuti ku saja"
Aku pun melangkahkan kaki ku kedalam dan lanjut berjalan dengan dipimpin Dias.
Kulihat Dias tersenyum ganjil dan berkata "menjebak manusia itu mudah sekali ya!"
.
.
.
Pintu merah kembali tertutup, dan Gadis penjaga pintu menulis nama seseorang di sebuah buku tebal berjudul 'Kókkini Pórta'
'Gian Roys , 12 tahun'
"Permisi?" ucap seorang gadis kecil.
"Tiketnya" Minta gadis penjaga itu sambil tersenyum ramah.
.
.
.
**διαβολος - DIABOLOS (artinya penghasut)
κόκκινη πόρτα - KOKKINI PORTA (artinya pintu merah**)