Hell Theater

Hell Theater
Aku mohon



“Kumohon, aku benar-benar memohon kepadamu,” kataku, tapi algojo (Peng-eksekusi) hanya mendesah dan menatapku dengan sangat sedih ketika dia menusukkan jarum infus ke lenganku.


Seorang pendeta duduk di samping ranjangku.


“Setelah ia memencet tombolnya, obat akan diberikan secara berurutan. Kau akan tidak sadar di sekitar tiga puluh detik pertama, dan kemudian akan mati segera setelah itu,” dia menjelaskan lagi, meskipun aku telah mendengar kata-kata itu sebelumnya.


“Apakah kau punya kata-kata terakhir?” lanjut pendeta itu.


“Aku mohon... aku mohon...aku mohon pada anda untuk tidak melakukan hal ini,” kataku.


"Tenang lah! ini tidak akan sakit, tuhan akan ada disampingmu" ucap pendeta itu sambil mengelus kepalaku.


"Aku mohon..."


Pendeta itu mengangguk sedih ke arah Algojo, ia sedih karena melihatkuku yang tidak bisa menghadapi algojo dengan hati nurani bersih.


.


.


.


Meskipun aku belum pernah membunuh orang, Aku sudah seperti ini sepanjang hidupku. Tidak tahu mengapa? tapi setiap kali aku tidak sengaja menyakiti diriku sendiri, orang lain yang berada di dekatku akan mendapatkan luka, sedangkan aku malah tidak merasa a kesakitan sama sekali. Walau begitu aku masih bingung harus menyebut ini sebagai kutukan atau hadiah dari tuhan.


Dulu saat SD, aku pernah tidak sengaja melukai tanganku menggunakan ujung kertas dan tiba-tiba tiga teman yang duduk di kursi sekitarku mengalami pendarahan di jari-jari mereka. Padahal tanganku yang terluka tidak merasakan apa-apa.


Lalu saat di SMA, aku mengalami kecelakaan mobil, meskipun sisi mobil tempatku duduk yang ditabrak, tapi pacarku yang mengalami patah kaki dan anehnya aku tidak terluka sama sekali.


Dari kejadian-kejadian itu, aku jadi selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Aku mengurus diriku sendiri, mencoba untuk menjaga kesehatanku sebaik mungkin.


Dari situ aku bertekad untuk mengurung diriku sendiri di rumah, tapi malah kejadian aneh malah terus menghantui tetanggaku. Dan hal itu membuatku berakhir ditempat ini.


.


.


.


Setelah mengingat-ingat kejadian yang ku alami dulu, Eksekusi pun dimulai. Algojo memencet sebuah tombol yang membuat sebuah cairan berwarna biru masuk ke tubuhku lewat selang infus.


Sekitar tiga puluh detik setelah eksekusi dimulai, aku melihat kedua algojo dan pendeta jatuh ke lantai dengan suara dentuman yang keras.


“aku mohon,” aku mengulanginya dengan sedih.


...


Apa kalian bisa menebak apa yang terjadi? Beri jawaban nya di kolom komentar.


Apa kalian suka cerita ini? Mungkin dibeberapa episode kedepan kalian akan menjumpai beberapa cerita seperti ini. Kalau ada cerita seram lain, kasih tahu author di kolom komentar ya!


Baca juga karya lain author : Surat Terakhir


Jangan lupa di like dan komen ya!


(1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 Btw biar pas 500 kata aja) (◡ ω ◡)