Hell Theater

Hell Theater
Riddle #1



1. Kencan Online


Aku sudah lama menjomblo. Karena itulah aku memutuskan ikut sebuah situs kencan online. Namun di sana aku malah menemukan profil Sakura, seorang teman lamaku waktu sekolah.


Karena sudah lama tak berjumpa dengannya, akupun meng-add dia. Beberapa hari kemudian, aku melihatnya online dan kamipun memulai chat.


“Hai, apa kau masih ingat denganku? Kita dulu sekelas waktu SMA.” Kemudian, dengan segera ia membalasku. “Oh, wow. Itu kau! Tentu saja aku ingat.”


“Aku terkejut melihatmu di sini. Wah, kau sama sekali tak berubah. Apa yang kau lakukan sekarang?”


“Aku sekarang di sekolah.” “Sekolah? Universitas kali maksudmu?” “Ya, itu maksudku.”


“Wah, hebat! Selepas lulus, aku langsung bekerja. Aku di Tokyo sekarang. Kau kuliah dimana? Sejak dulu nilaimu memang selalu bagus-bagus.”


“Ah, tidak kok. Tapi akhir-akhir ini aku nggak konsen belajar. Ada pembangunan di belakang rumahku.”


“Belakang rumahmu? Bekas supermarket itu ya?”


“Iya. Kau masih ingat rumahku ya?” “Ya, rumahmu kan di Jalan Takagi, dekat dengan SMA kita. Masih ingat dulu kita sering makan es krim di taman samping rumahmu?”


“Terima kasih.” iapun offline saat itu juga. Aku mulai merasa bulu kudukku berdiri.


2. Rumah Berhantu


Aku tak percaya pada hal-hal berbau gaib. Hantu, setan, alien? Semuanya bullshit. Salah satu temanku yang sangat percaya pada hal-hal begituan berusaha meyakinkanku bahwa semua itu nyata.


Aku mulai kesal dan untuk membuktikan bahwa aku benar, aku akan mencari hantu itu sendiri. Itu satu-satunya cara agar ia diam dan berhenti menggangguku. Maka makam itu, aku pergi ke sebuah rumah tua dimana seorang wanita terbunuh di sana beberapa tahun lalu.


Rumah ini sangatlah sunyi dan terbengkalai. Satu-satunya benda yang menarik perhatianku di rumah bobrok ini adalah garis polisi yang menutup tangga menuju ke lantai dua.


Pembunuhan tersebut pasti terjadi di lantai atas, pikirku. Aku pun merobek garis polisi itu dan menaiki tangga tersebut.


Aku pun menemukan sebuah kamar di sana. Benar-benar sunyi, tak ada suara sedikitpun. Tempat ini pastilah sangat cocok sebagai tempat untuk berkomunikasi dengan hantu (kalaupun benar-benar ada). Aku pun mulai merekam dengan alat perekam yang kubawa.


“Halo? Kalau ada hantu di sini, berikan aku tanda dan buatlah suara.”


Aku berdiri di sana selama 10 menit, menunggu sesuatu untuk terjadi. Namun tak terjadi apapun.


Aku menghentikan rekaman dan menekan tombol “play”. “Halo? Kalau ada hantu di sini, berikan aku tanda dan buatlah suara.” Lalu sunyi.


Nyaliku menciut. Aku berlari sekuat tenagaku keluar dari rumah itu. Tak pernah dalam hidupku aku merasa setakut itu.


3. Doktor yang baik


Selama sebulan, adik perempuanku mengalami koma. Ia hanya terbaring diam di sana dengan alat-alat penyokong kehidupan dan infus yang membuatnya tetap hidup. Ia bahkan tak pernah membuka matanya. Hingga suatu hari, akhirnya dia benar-benar dipanggil Yang Maha Kuasa.


“Kami sudah berusaha sebaik mungkin.” Kata dokter yang selama ini merawatnya. “Terima kasih dok.” Aku menatap sedih jenazah adikku yang terbaring d kamar mayat.


Aku mencoba memeluknya. Dia terlihat cantik dan tubuhnya terasa ringan, mungkin karena semua penderitaan telah dilepaskan dari tubuhnya. “Pasti biaya pengobatan adikku selama ini sangatlah banyak.”


“Lupakan saja hal itu. Kau tak perlu membayar sepeser pun.”


“Benarkah itu?” air mataku mulai menetes. Benar-benar dokter yang baik hati.