
Dikediaman keluaga addision terlihat sangat sunyi karena semua penghuninya sudah tertidur lelap dengan damai, namun beda halnya dengan alvaro yang masih tetap siaga di ruang keluarga, matanya menyalang melihat pintu masuk, hatinya tampak gundah menunggu seseorang yang tak kunjung pulang, padahal ini sudah larut malam.
Waktu terus berjalan, sudah 3 jam lamanya alvaro masih setia menunggu, dan menunggu, dirinyapun sudah dipenuhi amarah, saat ini jam sudah menunjukan pukul 00.00.
Tiba tiba pintu rumah terbuka menampilkan sosok gadis yang sudah tak menggenakan seragam sekolahnya, melainkan baju bebas. Rahang alvaro mengeras, diapun mengikuti langkah kaki gadis itu dari belakang yang sedang menaiki anak tangga menuju kamarnya, namun baru saja dia mengeluarkan kunci kamarnya tangannya ditarik kasar.
"ehh apa,an si lo kak" ucap el terkejut, namun tak disahuti oleh alvaro, dia menarik paksa tangan el memasuki kamarnya. Dia menghempas kasar tangan el dan mengunci pintu kamarnya lalu membuang kuncinya lewat jendela.
" lo gila, ngapain buang kuncinya" teriak el, namun tetap sama alvaro tak menanggapi ucapannya.
"lo tau udah jam berapa?" ucap alvaro pelan namun penuh intimidasi.
"lo pikir gue **** gatau jam berapa?" el menjawab dengan sinis, walaupun dia takut, dia berusaha menyembunyikan itu dan berusaha bersikap santai.
Alvaro memiki sifat yang sama mutlak dengan altarick, sifat tempramentalnya dirinya tidak bisa mengendalikan emosi.
"uda lupa lo kalo masih punya runah hah? Oh gue tau, lo jual dirikan. Berapa banyak duit yang dia kasih buat lo sampek lo rela ngasih tubuh lo! " ucap menusuk alvaro
El hanya bisa tertawa hambar mendengar perkataan alvaro yang menusuknya, tangannya mengepal erat menahan emosi dan tangisnya, lagi lagi alvaro menyakitinya, tidak hanya secara fisik namun mental dan batinnya.
"lo jual tubuh lo ke laki laki brengsek itu kan, uda berapa lama lo jadi jal*ng, hah!" lanjut alvaro dengan nada tinggi.
Alvaro tak perlu takut pertengkarannya terdengar, karena kamarnya dirancang untuk kedap suara, jadi dia bisa bebas berteriak tanpa membangunkan seisi rumah.
"kalaupun gue jual diri apa peduli lo, gausah sok sokan berperan jadi kakak buat gue, karena dari awal gue tau lo benci sama gue" mata el mulai berkaca kaca, dadanya benar benar sesak, "biarpun gue merubah sikap kaya adek kesayangan lo, akankah perlakuan lo berubah ke gue, enggak kan. Karena lo benci ke gue, jadi ga usah bertingkah seolah lo peduli sama kehidupan gue" mata el sudah memanas, sedikit demi sedikit air matanya lolos.
Alvaro diam terpaku karena ucapan el, diapun mendengus tak percaya, "hah... Karena ini gue ga nyesel buat ngebenci lo, selain gue muak liat muka lo, gue juga makin jijik liat tubuh murahan lo" ucap datar alvaro
El hanya menatap nanar wajah kakaknya, semudah itu dia berfikir bahwa dirinya wanita rendahan. El menangis menatap pilu alvaro, dadanya sesak namun sekuat mungkin dia menahan agar isakannya tak keluar.
Tiba tiba ponsel el berdering menandakan seseorang sedang menelfonnya, elpun mengambil ponsel yang ada disaku celananya, dan terpampang nama glen disana, baru saja akan mengangkat panggilan tersebut, alvaro sudah dengan cepatnya merampas ponsel el.
El terkejut bukan main atas tindakan alvaro, kenapa kakaknya mulai memasuki kehidupanya, harusnya alvaro acuh padanya seperti biasanya, dengan begitu dia tidak akan merasa bersalah kepada siapapun.
Alvaro menggeram, giginya saling bertautan ketika melihat nama yang membuat hp adiknya berdering. Pasti itu pria brengsek yang bersama adiknya sepulang sekolah, bahkan pria tak beretika yang membuat adiknya pulang tengah malam
"lo sint*ng ya, apa.an si lo kak, balikin ponsel gue, cepet" ucap el.
"gak, mulai besok lo berangkat dan pulang bareng gue! " ucap datar alvaro
El menganga tak terpecaya dengan ucapan kakaknua, beru semenit lalu mereka bertengkar, berbagai hinaan alvaro lontarkan padanya. Namun, apa ini dengan tiba tiba alvaro berubah menjadi kakak yang posesif menurutnya, atau fikirannya saja terlalu jauh.
"otak lo udah rusak ya? Barusan lo bilang kalo lo jijik sama gue." tanya el
Alvaro tak menggubris ucapan el, dia mengambil kunci cadangan di loker meja miliknya dan membuka pintu kamar, dia mendorong keras el hingga tersungkur keluar,
"hp lo gue sita, gue ga nerima penolakan mau ga mau lo besok sama gue! "
Alvaropun membanting keras pintu kamarnya dan menguncinya, el tidak terima dengan perlakuan alvaro, dia menendang keras pintu alvaro "dasar sint*ng" iapun beranjak menuju kamarnya, namun dia lupa tasnya masih tertinggal dikamar kakaknya
Baru saja akan berjalan kembali kekamar sang kakak, tasnya sudah terlempar dengan kasarnya membuat semua barangnya berceceran, "dasar bajing*n gilaa" geram el.
***
Seorang wanita sedang gusar dalam tidurnya, setiap menit dia mengintip kearah sang suami guna memastikan sudah tertidur atau belum. Ya wanita itu adalah tasya, nyonya besar keluarga addison. Dia selalu setia mengechek layar hpnya, tiba tiba ada notifikasi masuk.
(keluarlah)
Dengan wajah gusar tasya mengendap ngendap layaknya tikus, kamarnya dan sang suami berada dilantai bawah, memudahkannya untuk keluar tanpa diketahui penghuni rumah yang lainnya. Tasya bergegas membuka pintu rumahnya, dan keluar dengan tergesah gesah.
Di pekarangan rumahnya terparkir indah mobil Berwarna hitam, tasya bergegas lari dan memasuki mobil itu. Masih tampak sepi, baik halamannya dan rumahnya.
Mobil yang mereka berdua tumpangipun melaju dengan mulus meninggalkan pekarangan rumah keluarga addison.
Mobil yang tasya tumpangi membelah jalanan yang masih terlihat sepi, hanya terlihat beberapa pengedara saja, pasalnya saat ini jam masih menunjukan pukul 3 dini hari.
***
matahari tampak malu malu mengeluarkan cahayanya, masuk sedikit demi sedikit melalui celah gorden kamar, menyoroti seorang pria yang masih tertidur dengan damai diatas kasur ternyamannya.
Walaupun dalam keadaan tertidur wajahnya masih terlihat sangat tampan, bulu mata yang panjang, hidung yang mancung, garis rahang yang tegas, benar benar kombinasi wajah yang sempurna.
Seorang wanita menatap kesal putranya yang masih tertidur pulas, bahkan jam sudah menunjukan pukul 7, namun dengan wajah tak berdosanya dia masih pulas dalam mimpinya. Bahkan semua temannya sudah datang dan bersiap makan bersama.
"lion sayang bangun, temen kamu uda dirumah nih. Cepet mandi sayang" ucap tiara dengan memukul pelan badan anaknya namun sang empu tak kunjung bangun.
Tiarapun berjalan menuju kamar mandi dan kembali dengan membawa segayung air, tanpa belas kasih dia menyiram tubuh dion yang masih tertidur membuat dion terkejut bukan main.
"MAMA APA.AN SIH! " bentak dion dengan raut wajah kesal.
Dion benar benar kesal bukan main akan sifat mamanya yang seperti anak kecil, benar benar menjengkelkan serasa dia memiliki adik perempuan. Dion mendengus kasar dan beranjak dari kasurnya, diapun menuju kamar mandi untuk membersikah dirinya.
Dion menuruni tangga dengan penampilan yang rapi dan kece, ia melihat mama berserta sahabatnya bercanda gurau diruang makan. Ya, saat ini ada argan dan ken yang ikut makan dikediaman keluarga ergis.
Dionpun berjalan mendekati meja makan dan duduk dengan tenang, namun dia merasa ganjil, karena sahabat termudanya tak ada disini.
"genta mana?" tanya dion pada temannya
Arga dan ken saling melempar pandang, mereka bingung akan memberi jawaban apa, karena memang mereka bertengkar dengan genta tanpa sepengetahuan dion, jika sampai dion tau, maka habis sudah jiwa mereka.
Dion yang melihat gerak gerik kedua sahabatnya menaruh curiga, dia berfikir pasti ada sesuatu yang terjadi "belajar bisu? " ucap sarkas dion, membuat argan dan ken menelan berat saliva mereka
Pletaakkk
Tiara menjitak keras kepala anaknya. Membuat sang empu menggerang terkejut
"maaa apasiiih, "
"kamu tu yah, udah bangun telat pakek acara ngomelin temen kamu." ucap tiara
"ma dionkan cuman tanya genta dima..-" belum sempat menyelesaikan perkataannya mulut dion sudah disumpal ayah goreng oleh mamanya.
"dari pada banyak omong, udah cepet makan" ujar tiara.
Argan dan ken terkekeh pelan, dalam hati mereka berterimakasih pada tante tercintanya, yang sudah menolongnya dari omelan maut dion.
Akhirnya sarapan pagi mereka berjalan lancar disertai wajah dion yang kesal, sesekali tiara bercanda gurau dengan ken dan argan.
***
Seorang gadis sedang tergesah gesah menyiapkan perlengkapan sekolahnya, dia memasukan dengan asal semua buku bukunya, dengan berbagai gumunan kesal yang keluar dari bibirnya
"hahhh... **** banget sih gue, harusnya tadi gue bangun pagi **** **** begooo, dasar el begoo"
Setelah dirasa sudah siap, dia melihat kaca yang dimeja riasnya, dan mengikat asal rambutnya, menampilkan kesar berantakan namun sangat cantik.
Benar gadis yang sedang terburu buru itu adalah el, dia ingin menghindari kakaknya alvaro, karena dia tau bahwa al juga akan ikut berangkat bersama alvaro, dan dia benci itu.
El membuka kunci pintunya dan keluar, tidak lupa menguncinya kembali. Diapun dengan cepat menuruni tangga dan menuju bagasi disamping manssionnya dan tergesah gesah menuju mobil kesayangannya, mini cooper berwarna merah.
Bagaikan disambar petir, el benar benar terkejut melihat mobil kesayangannya ini, sangat mengenaskan, dirinya terpaku membisu, orang brengsek mana yang lancant melepas semua ban mobil miliknya.
Tiba tiba suara berat alvaro membuat el tersadar dari lamunannya "mau kabur lo? Coba aja jalanin tuh mobil" alvaro sudah berdiri tepat disamping el, dengan memasukan kedua tangannya di saku celanan.
El mendengus tak suka dan membuat pandangnya ke arah motornya, dan hasilnyapun sama, ban motornya sudah terlepas, el menggeram melihat semua kendaraan kesayangannya dalam kondisi mengenaskan,
"dasar gila lo, gada otak ya lo" ucap kasar el pada alvaro.
Namun alvaro hanya menanggapi santai, lagi lagi dia menarik lengan el mendorongnya memasuki mobil miliknya, dan menutup kasar pintu mobil itu. Alvaro berjalan kearah kursi kemudi dan mulai menyalakan mobilnya,
"kakk tunggu al, al bareng kakak" al berlari kecil menuju alvaro dan terkejut bahwa el ada di mobil kakaknya.
"ngapain lo duduk disitu?" dengar sebelas alis yang terangkat al melontarkan kalimat menyinggung pada el.
Elpun keluar dari mobil alvaro dan berdiri dihadapan al "sorry, gue salah sever, pantes pantat gue panas. Ternyata bekas makluk penipu kaya lo"
Al menggeram kesal dengan ucapan, el menyebutnya penipu?, harusnya dia sadar bahwa dia tak diinginkan dikeluarga ini. Harusnya dia bertekuk lutut padanya.
Entah sejak kapan alvaro sudah keluar dari mobilnya, dan membelai lembut rambut al, "maafin kakak ya dek, hari ini kamu berangkat sendiri pakek mobil kamu, mobil kamu uda dianterin tadi malem sama pak dimas" ucap lembut alvaro pada al.
Al melirik sekilas kearah el, dia benar benar tidak rela jika el merebut alvaro darinya, dia tidak ingin itu, dan sampai kapanpun keluarga ini harus sayang padanya, hanya pada al seorang.
"tapi kak, aku kan pengen bareng kakak" dengan wajah sedih yang memelas al menatap alvaro.
Alvaro menghela nafas berat, dia tidak bisa menolak keinginan adik kesayangannya ini, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan el, dia tahu jika al dan el sangat bertolak belakang dan mereka berdua tidak akur, jadi mau tak mau alvaro harus memilih salah satunya.
El melihat kebingungan dimata alvaro hanya bisa tersenyum, dirinya bisa menebak tak mungkin alvaro memilihnya, "lo barengin aja adek manja lo, gue naik angkutan umum, "
Dengan setengah berlari el meninggalkan mereka berdua, dirinya tidak ingin satu mobil dengan al. Karena ada sesuatu kelam yang membuatnya membenci al.
Akhirnya al merasa menang atas semuanya, dirinya memeluk erat alvaro yang tengah menatap punggung el yang perlahan menjauh, "makasih kak" gumana kecil yang terlontar dari mulut manisnya.
"kak, aku ga mau satu mobil sama el, dia udah jahat sama aku, kakak tau sendiri el itu gimana" ucap al ketika mobil mereka sudah melaju menuju ke sekolah.
Namun alvaro tampak acuh, tak peduli dengan perkataan al, ada sedikit rasa bersalah yang ia rasakan pada el, harusnya dia tidak melepas semua ban mobil ataupun motornya, pasti gadis itu sudah berangkat sendiri sedari tadi.