Hear Me

Hear Me
Hear Me 3



El melajukan mobilnya dengan kencang menembus jalanan kota jakarta, mobil mewah kesayangannya berjalan dengan mulusnya. Perjalanan el diiringi alunan music lovely-billie.eilish, sembari bernyanyi dia menyantap makanannya yang disiapkan bi minah khusus untuknya.


Walaupun hanya roti sandwich dan susu, setidaknya bisa mengganjal perutnya tang lapar. El mengubah laju mobilnya menjadi pelan, saat ini dia sudah tiba di depan gerbang sekolangnya. Alexander high school logo yang begitu besar terpajang apik dihalaman sekolah.


El menghembuskan nafas pelan "hah... Ngapain sih gue disini "


Mau tak mau el pun melajukan mobil memasuki halaman sekolah barunya, dirinya langsung memarkirkan mobilnya dengan mulus ditempat yang sudah disediakan. El terdiam sejenak nampak berkutat dengan pikirannya, tak lamapun dia mengambil tas dan hp nya lalu membuka pintu mobil.


Beberapa siswa pria berparas tampan melihat el yang sedang turun dari mobilnya


"loh al punya mobil baru"


"wiuu makin keren aja bro, mobilnya"


"iya tuh, gila tuh mobil kan merk terbaru"


Perkataan demi perkataan mereka lontarkan, tiba tiba satu diantara mereka menghampiri el dan langsung saja melingkarkan tangannya dipinggul kecil el.


"pagi sayang" ucap laki laki itu


El terkejut bukan main karena ada tangan lancang yang merangkul pingulnya secara posessif, bukankah ini pelecehan seksual batinya. Tanpa aba aba el pun langsung menarik tangan laki laki tersebut, menendang keras kakinya membuatnya jatuh terjungkal kebelakang. Tak tanggung tanggung el mengunci lengannya membuat laki laki itu berteriak kesakitan, dia tidak peduli akan teriakan itu dan masih setia pada posisinya.


"lancang banget lo yah!! Mau gue ilangin nih tangan biar tau diri lo hah! " el membentak seperti kesetanan.


Kejadian ini tak luput dari perhatian siswa dan siswi alexander high school, semua mata tertuju pada mereka, ada yang menatap tak percaya dan ada tatapan memuja. Di sisi lain teman laki laki itu bergidik ngeri dan kebingungan mau menolong dengan cara apa, namun tidak dengan satu laki laki dia antara mereka.


Dengan wajah datar dia berjalan santai menghampiri el "lepas, gak usah cari muka lo" satu perkataan sarkas terlontar dari bibir laki laki itu, dia adalan dion dirgantara ergis. Salah satu murid populer di alexadra high school, sekaligus anak pemilik sekolah tersebut.


El yang mendengar itu mendengus tak suka, dia melepaskan lengan laki laki kurang ajar di bawahnya, dan berdiri menatap seseorang yang sudah dihadapannya. Tinggi mereka terpaut amat jauh, membuat el harus mendongak keatas untuk bisa melihat wajah laki laki itu dengan jelas. "cari muka kata lo? Lo sinting ya"


Dion tak menghiraukan ucapan el dan menolong temannya yang terkapar dibawah memegangi lengannya, "ken.. Bisa bangun gak?"


" menurut pengelihatan lo!" ujar sinis ken pada dion.


Dion hanya memberi isyarat pada kedua temannya yang masih melongo terkejut, kedua temannya pun segera membantu ken untuk berdiri.


Kini ada empat laki laki dihadapan el, laki laki dengan wajah asing namun tampan.


"al.. lo kenapa si jadi kasar banget" kali ini genta yang bertanya heran.


"salah dikasih makan lo sama dion" argan menyahuti omongan genta


Argan & genta menompang ken sedangan dion mengambil tas ken yang jatuh ditanah. Ken masih meringis merasakan nyeri di lengannya.


Dion menatap sinis kearah el, lalu melempar tas ken dan ditangkap dengan sigap oleh el, "lo harus tanggung jawab, gue gak suka liat cewek caper." dion pun melangkah pergi meninggalkan el


El tertawa hambar dengan langkah tegas dia menyusul dion, dan melempar tas ken tepat mengenai kepala dion membuat dion sedikit tersungkur. "ck.. Dasar cowo dungu"


Dion dan ketiga temannya masih belum menyadari bahwa itu bukan al, melainkan el saudara kembarnya, padahal jika mereka lebih jeli lagi melihat ada perbedaan di antara keduanya.


El jauh lebih pendek daripada al, tubuh el sangat mungil berbeda dengan al yang proporsi badannya tinggi, jika el memiliki tingga 154, maka al 160. Walaupun wajah mereka benar benar mirip mutlak, ada dua hal berbeda, yaitu al memiliki tahi lalat kecil dibawah ekor mata kirinya, sedangkan el memiliki iris mata berwarna biru tua menuruni gen sang ayah.


"anter ken ke uks" ucap dion lalu diangguki oleh kedua temannya.


**


El sedang berjalan seorang diri menyusuri lorong sekolahnya, dengan santainya dia berjalan mencari ruang kepala sekolah. El mengacuh kan setiap orang yang menyapanya seakan mereka teman dekat, membuat orang disekelilingnya bingung.


Akhirnya langkah el menuntunya tepat didepan pintu ruang kepala sekolah, tanpa basa basi diapun membuka kasar pintu kepsek tersebut, membuat seseorang didalamnya terkejut. Namun el hanya menunjukan senyum termanis miliknya sembari menujukan deretan gigi putih miliknya, membuatnya nampak amat cantik.


"sayang.. " satu kata yang keluar dari mulut manis el membuat pria itu menghela nafas pelan sembari tersenyum tulus kearah el.


"ku kira kamu tidak sudi menapakan kakimu kemari" pria itu bangkit dari kursi kebesarannya menuju sofa empuk dan mendudukan bokongnya disana "kemarilah, ada apa lagi hemm"


El merubah wajah cerianya menjadi jutek dalam seketika, dirinya berjalan cepat langsung menjatuhkan dirinya pada sofa dan memeluk pria yang notabenya adalah kepseknya.


"hukumanku kali ini sekolah disini, bisa kau lihat aku sudah muak dan lelah, namun apa boleh buat glen" el memejamkan matanya merasakan kehangatan tubuh pria yang dipeluknya.


Glendra gravius dietrama adalah kepala sekolah di alexander high school, dia bukan pemilik sekolah ini. Dirinya hanya keponakan yang ditugaskan mengambil alih sekolah megah ini, diumur yang terbilang muda yaitu 20thn dirinya sudah menjabat sebagai kepala sekolah. Glen sudah menganggap el sebagai adik yang amat dia sayangi, begitupun sebeliknya.


Bagi el, glen sangat berarti, hubungan mereka memang dekat karena sering bermain bersama sewaktu kecil. Oma glen sangat dekat dengan omanya waktu dulu, jadi mereka sering bermain bersama karena omanya yang memperkenalnya.


Ctakk


"aww.. Lo gila" jitakan keras mendarat dikepala el membuatnya terbangun dan meringis kesakitan


"lo pernah liat cowo gila setampan gue" glen tersenyum dan bangkit sembari menarik tangan el "ayo ke kelas, murid itu belajar bukan mesra mesran sama kepsek sendiri."


"najis banget gue mesra mesra an sama lo" jawab el sarkas.


El mengikuti langkah tegas glen, kondisi glen yang menggenggam tanyanya disaksikan oleh semua guru dan murid yang berada disekitar mereka, dengan tatapan heran seakan tak percaya karena baru kali ini mereka melihat al begitu dekat oleh kepsek.


Wajah tampan bak pangeran eropa yang dimiliki glen memuat semua orang terkesima baik guru ataupun murid menatap glen dengan takjub, bola mata hijau dan rambut blondenya sangat cocok untu glen, belum lagi perawakannya yang sangat tinggi membuat segalanya sempurna.


**


11 ef-ipa 2


Dikelas 11 efektif ipa 2 suasana kelas amat ricuh dan tak terkendali, pasalnya saat ini kelas mereka kedapatan jamkos, al sedang duduk dengan gelisah dikursinya membuat sahabatnya bingung.


"lo napas si ko lemes banget, masih pagi juga" ucap echa teman sebangkunya.


Al yang ditanya langsung menghela nafas kasar, dan menatap sahabatnya echa


"lo taukan si el, dia sekolah disini sekarang, trus tadi pagi gue nemuin dion. Tatapannya dingin banget ke gue di ngehina gue cewek murahan ga ada bedanya sama cabe kiloan" mata al mulai berkaca kaca menahan air matanya


"lo taukan seberapa keras perjuangan gue dapetin dia, dan tiba tiba dia ngomong kasar ke gue" lanjut al


"ga mungkin dion ngomong kasar ke lo al, pasti ada alesannya tau" bantah echa, dan mengusap pelan punggung al "ntar kita tanya temen temen aja yah, gue yakin ada alesan dia ngomong kasar"


Al hanya mengangguk mengiyakan dan menidurkan kepalanya diatas meja, air matanya keluar perlahan lahan. Pasalnya dion sama sekali ga pernah ngomong kasar padanya dan baru kali ini, Membuat jiwa dan hatinya terguncang.