
Di kota jakarta terdapat manssion megah milik keluarga addison, keluarga terpandang yang disanjung semua orang karena keharmonisannya. Namun kata harmonis tidak tepat untuk mendeskripsikan kondisi saat ini.
Keluarga addison sedang berkumpul dengan lengkap untuk menghakimi salah satu putri keluarga mereka, yaitu el. Mereka memusatkan tatapan tajam yang menghunus pada el, namun el seolah buta dan acuh terhadap keluarganya.
"jelaskan masalah apa lagi ini!" tanya altarick syagirro addison, dia adalah kepala keluaga addison.
Jenuh dengan pertanyaan sang ayah, el hanya memutar bola matanya acuh dan ingin beranjak dari duduknya, baru saja berdiri, Tangan el ditarik kuat membuanya kembali terduduk kembali.
"elicya! Dimana sopan satunmu saat orang tua berbicara" altarick menggeram marah melihat kelakuan anak bungsunya yang kurang ajar.
"el, jawab pertanyaan daddy, Apa kamu tuli! " kali ini sang ibu yang berbicara dengan mengeluarkan perkataan yang tajam ialah anatasha gibrain.
"sejak kapan kalian peduli sama el? Jangan sok sok an peduli ya mom.. Dad.. " dengan wajah yang menantang tanpa rasa takut, el menyolot melihat daddy dan mommy.
"bisa sopan nggak sama mommy dan daddy. Lo anak hewan apa setan si! " kali ini sang kakak tertua dibuat geram oleh tingkah laku elicya, Lucas evanzy addison .
"gue anak setan, napa? Masalah buat lo? " el menjawab perkataan lucas dengan lihai dan santai, sambil bersedekap dada dan menyendakan punggunya pada sofa yang empuk.
"El.. Gada harga diri banget lo!" alvaro gerendra addison selaku kakak kedua kini mulai angkat bicara, dia pun bangkit menghampiri elicya dan beridiri tepat di depan elicya yang duduk, tanpa basa basi dia menjambak rambut belakang elicya membuatnya mendongakan kepala.
Elycia meringis menahan sakit dibagian kepalanya karena jambakan dari alvaro.
"kalo orang ngomong tu didengerin setan! " dengan tak beperasan alvaro menghina elicya.
"CUKUP!" bentakan keras dari altarick membuat semuanya terkejut, "alvaro! Lepaskan tanganmu" geram altarick
Alvaro mendengus dan menghempaskan kepala elicya dengan kasar membuatnya terjungkal kesamping, elicya hanya tersenyum miris. Dia menghembuskan nafasnya pelan dan berusaha tenang.
"apa yang salah pada dirimu el, selalu membuat masalah. Dikeluarkan dari sekolah lagi dan lagi, sudah keberapa kalinya ini. Tidakkah kau bosan, apa yang salah denganmu." alrick menatap lawan yang ia ajak bicara, bukannya ketakukan el hanya bersikap santai seperti sudah biasa akan kondisi seperti ini.
Alrick menghembuskan nafasnya kasar melihat kelakuan putri bungsunya "lihatlah al, tidak bisakah kamu menjadi seperti dia! Bagaimana bisa wajah kalian sama tapi hanya kelakuanmu yang mengecewakan! " alrick menujuk anak perempuan yang berada di sampingnya
"dad... kumohon hentikan, kasian el dia pasti juga merasa bersalah" kali ini terdengar suara anak perempuan yang merengek kepada alrick, dia adalah saudara kembar elicya, yaitu alicya agatha addison.
Alrick menghembuskan nafas pelan dan tersenyum lembut pada anaknya al, dia mengusap pelan kepala al "biarkan daddy memarahinya kali ini sayang, tasya bawa al kembali kekamarnya" alrick menyuruh sang istri membawa alicya kedalam kamar, agar dia tidak membela elicya lagi.
"sayang, biarin aja dia dimarahin. Biar dia tau rasa dan ga ngulangi salahnya lagi, uda yuk ke kamar bareng mommy" ujar tasya dengan lembut sembari mengusap pelan punggung alicya.
El melihat semua yang daddy dan mommy lakukan pada al, perlakuan yang benar benar berbeda. Hanya pada dirinya keluarganya berlaku kasar, dan hanya pada al keluarganya memuja. Hanya dirinya yang diperlakukan berbeda, hanya dirinya. Elicya mendengus sembari tersenyum miris, dirinya berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah karena melihat pertunjukan keluarga bahagia didepannya.
El hanya bisa melihat dua punggung wanita yang perlahan menjauh, dari kejauhan dia melihat al yang menoleh kearahnya sembari tersenyum.
"Elicya!.. Baru satu bulan kamu pindah kesekolah itu, dan sekarang kamu dikeluarkan. Katakan dengan jelas alasan kamu berbuat seperti itu! " alrick berkata dengan penuh penekanan dan raut wajah serius, menatap tajam putri bungsunya.
Elicya membalas tatapan alrick tak kalah tajam, beberapa detik kemudia dia mengehela nafas pelan dan mejatuhkan punggungnya ada sofa. "Bosen" satu kata yang keluar dari mulut elicya.
Alrick menggeram tak habis pikir dengan jawban putrinya, "sekali lagi daddy tanya, apa alasanmu"
Elicya tersenyum meremehkan "daddy bebas pilih jawaban el, bosen, seru, asik. Pilih yang menurut daddy bener" alicya merubah duduknya dengan menyilangkan kakinya serta tangannya menompang dagu.
"bisa gak si lo serius hah!" lucas meninggikan suaranya, dia sudah geram melihat kelakuan adiknya yang bar bar dan tak dapat diatur.
Alvaro cuman memperhatikan dalam diam, dia tidak mau lagi lepas kendali seperti tadi. Dia hanya menahan emosinya dan menyaksikan, walaupun saat ini emosinya diujung tanduk. Terbukti dengan kepalan tangannya yang erat sampai kuku jarinya memutih.
"jawaban apa lagi yang kalian mau hah! Percuma aku jelasin kalian ga akan percaya. Aku bukan putri kesayangan keluarga ini jadi mustahil kalian denger penjelasanku! " el menatap nyalang lucas, dengan sorot mata tajam dan tatapan kecewa.
El menghembuskan nafas kasar mengambil Hp serta tasnya lalu beranjak dari duduknya, dia pun melangkah menuju arah tangga.
"mulai besok, kamu satu sekolah dengan alvaro dan alicya" pernyataan alrick membuat el menghentikan langkahnya dan berbalik melihat alrick dengan tatapan terkejut.
Refleks tas el terjatuh begitu saja, el tertawa hambar dengan mendengar ucapan sang ayah "daddy bercanda? Gak lucu tau gak"
"kamu kira saya bercanda elicya! " alrick memberikan tatapan menantang pada elycia.
"dad.. El lebih milih dihukum cambuk puluhan kali dari pada harus satu sekolah sama monster kaya mereka, el ga mau dad. El bakal cari sekolah sendiri walaupun harus sekolah di sekolah jelek sekalipun asalkan gada mereka! " bantah elicya
"saya tidak menerima bantahan elicya, harusnya kamu paham itu!. Mulai besok kamu sekolah bareng mereka. Biar scoot yang urus kepindahan kamu, dan mau tidak mau kamu saya tidak peduli itu. Ini sekolah terakhir kalinya el, tidak ada ulah lagi dan masalah apapun. Jika sampai kamu dikeluarkan lagi.... "
alrick melangkah tegas menghampiri elicya, alvaro dan lucas meneguk saliva berat karena baru kali ini melihat sang ayah seperti ini.
Elicya menatap terkejut sang ayah yang sudah dihadapannya, karena badan elicya yang pendek membuatnya hanya bisa melihat dada bidang sang ayah.
Alrick menundukkan kepalanya sembari membisikan kalimat yang membuat mata elicya membulat penuh karena terkejut
"jika sampai kamu dikeluarkan lagi, maka pedalaman afrika akan menjadi rumah sampai kematianmu! " alrick tersenyum sinis, dan meninggalkan alicya yang berdiri mematung, air mata nakalnya mulai berjatuhan setetes demi setetes.
"heh... balik kekamar" ucap lucas dan disetujui oleh alvaro, lucas berjalan mendahuli alvaro dan menenggor keras bahu elicya dengan tidak berperasaan.
Tenggoran itu membuat elicya jatuh terduduk dengan menumpahan air matanya tetes demi tetes dan menahan sesak didadanya. Alvaro yang melihat itu memilih berlalu dan tidak menghiraukan elicya.
Scoot selaku orang terpecaya alrick melihat dengan miris nona bungsu keluarga addison. tidak hanya scoot, bi minah selaku pembatu pun ikut menangis melihat keadaan elicya. Bi minah berlari langsung mendekap elicya dalam pelukannaya sembari mengusap pelan punggungnya.
Tidak hanya bi minah, scootpun sama menemani elicya memberikan kekuatan untuk gadis kecil itu. Keadaan elicya benar benar miris, menangis dengan tatapan kosong sembari berguman pelan " tidak adil.. Ini semua tidak adil. " gumanan yang masih bisa terdengar oleh mereka berdua.
**
Lucas dan alvaro yang sedang berjalan menuju kamar mereka melihat adik kesangannya sedang berdiri sambil menyederkan badannya di pintu kamar,
"al ngapain disini? Tidur gih udah malem" pinta lucas pada al, alpun terkejut dan mendongak melihat lucas yang sudah berdiri didepannya.
"gimana? Ayah ngasih hukuman apa?" al bertanya dengan raut wajah yang serius pada lucas.
"gue duluan" satu kalimat dari alvaro dan langsung berlalu memasuki kamarnya yang berhadapan pas dengan kamar alicya.
"mulai besok kalian satu sekolah, dah ya. Tuan putri waktunya tidur ga baik tidur malem" lucas mendorong pelan al dan memasukannya kedalam kamar, diapun tertawa melihat wajah kesal sang adik yang menurutnya sangat lucu.
"tapi kak, al belom selesai tanya" protes al yang tak dihiraukan
Lucas keburu menutup rapat pintu kamar alicya dan berlalu memasuki kamarnya.
Dikamar yang didominasi warna pink itu terlihat alicya yang sedang gelisah terduduk dikasur queen size miliknya, deretan piala dan piagam terpajang indah dimeja belajar yang berukuran besar miliknya. Alicya termasuk murid berprestasi, berbagai macam piala olimpiade dia raih dengan gampangnya.
"kenapasih selalu aja bandingin el sama al, kalo kalian semua bandingin gue sama dia malah makin buat gue pengen jadi yang terbaik, dan merasa bahwa gue orang jahat. kalian semua belum tau aja seberapa hebatnya el, bahkan gue bener bener iri sama dia. "
Al hanya terduduk menyandarkan bahunya pada kasur sembari melipat kakinya, "gimana jadinya kalo dia satu sekolah sama gue, ah udalah dipikir besok aja"
Alpun mencari posisi yang nyaman untuk tidurnya dan menarik selimutnya. Diapun memilih tidur dengan tenang seakan kekhawatirannya hanya sesaat.