
Saat ini genta, argan dan ken sedang bersantai diruang band yang menjadi tempat favorit mereka ketika membolos jam pelajaran. Tidak ada dion diantara mereka, karena dion yang memilih untuk menyediri, memang seperti itulah kebiasaannya ketika sedang tersulut amarah.
"eh nyet, dion napa sih kok aneh banget, ga biasanya dia marah karena hal sepele" tanya ken pada rekannya.
"lagi pms kali dianya" jawab argan yang disambut tawa oleh ken.
Namun beda halnya dengan genta, dia nampak diam membisu dan tak mendengarkan ucapan argan dan ken.
"bener ga sih yang gue lihat tadi, tapi kenpa dia lakuin itu. Buat apa coba ngelukain dirinya sendiri." gumanan pelan genta.
"eh lo liat kan si el kembaran al, dia emang kasar banget *****, sama sodara sendiri aja dia tega" lanjut argan
"ehm bener lo, kok bisa si sifatnya beda. Lo tau sendiri al itu polos, lemah lembut, ga bar bar kaya si el. Sial banget dia punya soda-... "
Brakkk
Ucapan ken terpotong ketika dengan tiba tibanya genta menendang keras gitar didepannya. Membuat argan dan ken terkejut.
"eh lo biasa aja kali, ga usah kek gitu, napa si lo pms juga kaya dion? " ucap argan
"kalian masih ga paham? Atau kalian emang ****?" tanya genta yang sukses membuat argan dan ken naik pitam
"lo kalo ngomong ga ada sopan sopannya ya" bentak ken pada genta
Genta hanya membuang muka dan tertawa hambar "gue heran deh sama kalian bang, bisa bisanya kalian ketipu sama trik murahan." ujar sinis genta
"maksud lo apa hah! " bentak argan
"harusnya lo bisa lihat dengan jelas kalo el itu ga dorong si al. Kalian berdiri tepat dideket mereka, bisa bisanya kalian ga tau" jawab genta yang sukses membuat argan dan ken kebingungan
"ngaco lo, buat apa coba al ngelukai dirinya sendiri, lo kalo ngarang yang berbobot dikit. Dangkal banget si pikiran lo" balas ken
"gen lo jangan nuduh orang sembarangan, lo tau kan siapa yang udah ngebuat tangan ken keseleo. Dan bisa bisanya lo nuduh al kaya gitu, dia itu cewe polos, hatinya terlau baik tau gak" timpal argan pada genta
Lagi lagi genta tertawa renyah, dia paham ga akan ada yang percaya dengan apa yang dia lihat. Karena orang orang hanya akan melihat sekilas dan langsung menyimpulkan, sedangkan genta.
Dia melihat dengan teliti bahwa tangan el sama sekali tidak menyetuh tubuh al, genta tau bahwa ketika el akan membalas pelukan tersebut al malah sengaja menjatuhkan tubuhnya kebelakang membuat seolah olah el yang melukainya.
"lo udah dibutain sama cinta tau gak, gue tau kalo lo suka kan sama al, ngaku aja lo." dengan suara sinisnya genta menyindir argan "tapi sayangnya gue masih belum buta kaya lo, karena kejadian ini gue semakin sadar kalo al ga sebaik yang lo kira. Berhenti muja muja cewe itu atau lo bakalan nyesel" imbuhnya
Argan dibuat naik pitam karena ucapan genta, diapun bangkit dan ingin menghajar genta, namun sebelum pukulannya melayang ken sudah menahannya. Dengan sekuat tenaga dan mengabaikan rasa sakit dilengannya ken menahan argan yang mengamuk.
"lepasin gue, biar gue kasih pelajaran bocah ingusan itu" bentak argan
"ngapain lo diem, cepetan pergi" teriak ken
Gentapun berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan band dengan langkah beratnya, dirinya pun berniat kembali ke ruang kelasnya.
**
XII ipa 5
Didalam kelas yang ramai nampak seorang lelaki sedang duduk termenung, dia tidak memperdukan canda gurau teman temannya. Tatapan matanya seakan menyiratkan penyesalan, diapun bangkit dan keluar dari kelasnya
Lelaki itu berjalan dengan perasan marah, menyesal, dan kecewa seakan menjadi satu. Dia membuka kasar pintu atap sekolanya. Lelaki itu berteriak kesetanan sembari menendang semua benda yang dilihatnya, sekan merasakan depresi.
"harusnya gue gak nampar dia, harusnya gue bisa tahan emosi gue, bodohh bodooh gue bener bener bodooh. " teriakan alvaro sembari menatap nanar telapak tangannya
Meskipun dari luar alvaro terlihat sangat kasar kepada el, namun jauh dilubuk hatinya dia juga peduli dengan kondisi el, hanya saja alvaro masih belum mau mengakui keberadaan el, dirinya dibutakan oleh ego.
"kakak macem apa guee, harusnya gue ga nampar dia, Arrghhhh *******!" teriak alvaro.
Dirinya sudah lelah dengan pikirannya, egonya benar benar menolak kehadiran el, tidak ada sedikitpun dia berfikir untuk menyayangi el, namun hatinya berkata lain, membuat dia lelah dengan apa yang dia rasakan.
Alvaropun jatuh menekuk kakinya, menjambak kasar rambutnya sendiri dan merangung raung kerasukan.
**
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 40 menit yang lalu, selurus penghuni kelas yang el tempati sudah pulang, namun el masih setia duduk dibangkunya. Dirinya duduk sambil melamun menatap kosong ke depan, seakan berkutat dengan pikirannya.
"gimana nasib gue ntar dirumah, daddy pasti marah besar ke gue" batin el
Glen yang berniat pulang tak sengaja melihat el yang masih berada dikelas, diapun menengok el melalui pintu
"woy, gak pulang lo? Mau nginep dikelas? " canda glen
El yang melihat kehadiran glenpun langsung merasa tenang, dia mengambil semua barangnya dan berlari ke arah glen, dirinya langsung menubrukan tubuhnya ke tubuh glen, dan memeluk glen dengan sangat erat.
Meski dirinya tak bisa mendapatkan kasih sayang keluarganya, setidaknya orang orang terdekatnya sangat menyayanginya.
"eeh apaain si lo, tiba tiba gini. Terpana liat orang ganteng?" ujar glen sembari mengelus pelan rambut el, dan dibalas anggukan kepala oleh el.
"gue pengen pulang bareng lo" guman el didada glen
"lo kan bawa mobil ****" jawab glen
"gamau, gue pengen pulang sama loo,yah yaah" el mendongak kan kepalanya dan menatap glen dengan berkaca kaca, membuat glen mau tidak mau menuruti permintaan el. Glen pun hanya mengangguk.
Kini mereka berdua berjalan menuju parkiran dengan keadaan el yang masih setia memeluk glen, dan glen hanya melingkarkan sebelah tanganya ke pundak el.
Penampakan itu dilihat langsung oleh alvaro dari kejauhan, dia memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil milik el, dia memang sengaja menunggu el diparkiran berniat memastikan apakah dia baik baik saja, sampai sampai dia tega menitipkan al kepada temannya untuk diantar pulang dengan dalih dirinya ada ekstrakurikuler.
Alvaro melihat el tersenyum bahagia memeluk glen, hati alvaro merasa tersakiti karena el tak pernah berlaku seperti itu padanya, karena memang mungkin perubahan sikap itu juga kesalahanya yang selalu melampiaskan emosinya pada el.
"jadi lo lebih nyaman sama orang lain dari pada sama kakak lo sendiri, lo ga pernah ketawa senyaman itu ketika sama gue ataupun keluarga lo sendiri. Kenapa sikap lo berubah el, kemana lo yang dulu, lo menganggap orang lain keluarga lo, dan keluarga sendiri lo anggap orang lain. Apa yang salah sebenernya sama lo"
Jenuh dengan pikirannya alvaropun melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan halaman sekolah, dengan dipenuhi emosi mobilnya melaju tak karuan. Alvaro memukul mukul stang nya, bentrokan antara pikiran dan hati alvaro membuatnya depresi, membuatnya muak akan semua hal.
**
"glen, gue ada permintaam ke lo, mungkin ini untuk yang teakhir kalinya gue lakuin ini" ujar el dengan serius.
Glen yang sedang menyetir mobil milik el menjadi gugup, berbagai pikiran negatif mulai menguasainya. Dirinyapun menghentikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan.
"gue ga mau, pokoknya gimanapun caranya lo harus bertahan, lo ga boleh nyerah sama penyakit lo, yah" jawab glen dengan gusar
"gue udah putus asa glen, gue ga bisa nahan sakit ini lebih lama lagi, lo ga tau seberapa menyiksanya glen, karena lo ga pernah ngerain jadi gue" dengan wajah serius el menatap glen.
Mata glen sudah berkaca kaca, dia memeluk erat el yang duduk disampingnya "gue mohon sama lo bertahan buat gue, lo adek kesayangan gue el. Oma bakal sedih kalo lo ga ada, gue mohon jangan nyerah ya, gue bakal selalu ngedukung lo" ujar parau glen
"lo tau, setiap tubuh gue ngeluarin darah, betapa hebatnya sakit yang gue terima, gue ga sanggup. Ini bener bener sakit glen" el pun membalas pelukan glen, tubuh el bergetar hebat.
Glen benar benar bakalan cengeng kalo uda menyangkut el, dari dulu dia tidak akan kuat melihat el yang kesakitan. Seakan sakit itu juga dia alami, "sebutin semua permintaan lo, gue bakal wujudin apapun keinginan lo, ga ada kata terakhir, karena gue ga suka perpisahan. Gue bakal kabulin semua itu el." dengan tangisan yang menjadi dia menciumi pucuk kepala el sembari mengusap punggung mungil el, dapat dirasanya tubuh itu bergetar hebat.
Jika glen berfikir el ikut menangis dengannya maka itu kesalahan besar, saat ini el sedang menahan tawanya, dia mati matian membekap mulutnya agar tidak tertawa, el pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah glen dengan serius dan tenang. Dia berusaha menstabilkan hatinya yang ingin tertawa. Karena wajah glen saat ini benar benar lucu dan konyol menurutnya.
"keinginan gue adalah.... " el menjeda kalimatnya dia menatap intens mata glen, membuat glen kembali menangis, "tolong glen... Beliin gue pembalut" el mempercepat kalimat terakhirnya.
"tunggu... Coba lo ulang?" tanya glen dengan suara paraunya.
"Pembalut, gue pengen pembalut, jan lupa jamu haid juga"
Bagaikan disambar petir di sore hari, glen menatap datar kearah el. Dirinya menghapus kasar air matanya
"BAJING*N LO! tega banget si bikin gue jantungan,hah! Lo mau gue mati muda. Bisa bisanya lo ngerjain gue" teriak glen pada el
El hanya tertawa ngakak melihat glen yang seperti ini, selalu saja gampang dibodohi dengan mudah. "hahahha ***** lo kok ****** banget sih, gada gunanya lo jadi kepsek" el tertawa keras sembari memegang perutnya.
"gue lagi datang bulan, sumpah perut gue rasanya kek dilindes gajah anggora. Gila sakit banget hahaha" imbunya.
Glen sudah merajuk, dengan wajah sembabnya dirinya hanya melirik ke arah el dan segera melajukan kembali mobilnya, namun ada yang membuat fokusnya hilang sedari tadi, dia melihat salah satu memar dipipi el tapi segera dia membuang pikiran negatif. Mungkin memar itu karena el tertidur dimeja batinnya.
**
Suasana di kediaman keluarga addison saat ini sangat damai, tasya, lucas dan al sedang menonton tv diruang keluarga sembari memakan cemilannya.
Awalnya tasya membuat kehebohan karena melihat al yang terluka, membuat semua pembantu kelabakan, bagaimana tidak, tasya hampir memangil semua dokter spesialis yang tidak diperlukan ke rumah hanya untuk memeriksa luka kecil yang al alami.
Brakkk
Suara pintu terbuka dengan kasar oleh alvaro mambuat mereka yang ada diruang keluarga terlonjak kaget, terlihat dengan jelas alvaro yang mengabaikan keluarganya yang sedang berada diruang tamu, dirinya memilih mengambil langkah lebar menaiki tangga, alvaro terdiam dipintu kamar el.
Diam diam dia mecoba membuka pintu kamarnya, alvaro memegang handle pintu kamar el dan memutarnya. Dan benar saja, pintu kamar ini terkunci, dirinyapun berlalu dan masuk kedalam kamarnya, menghempaskan kasar tubunya ke atas kasur.
"sayang kakak kamu kenapa? " tanya tasya pada al
"gatau mom, tadi diasih pamitnya ikut ekstrakurikuler mom, mungkin ada masalah di sekolah" balas al seadanya.
"diputusin ceweknya mom" lucas menimpali dengan santai, namun pukulas keras dari tasya dan al yang ia terima
"aahhww ahhsww apaasi mom, dek tega banget, sakit tau gak" geram lucas
"kamu pikir alvaro kaya kamu, dia itu anak baik baik ga kaya kamu tau, dasar" balas tasya
"tau nih kak lucas, kak alvaro itu rajin, pinter gak kaya kakak yang sukanya mainin cewe" gerutu al.
Lucas yang mendengar ucapan al langsung meggelitikinya membuat tertawa lebar, "adduh ampun kak ampuun hahah hahah" tawa al
"makannya, kamu tuh dek kalo ngomong suka bener" balas lucas
Merekapun melanjukan menonton siaran tv dengan santai, dan tertawa bersama ketika ada adegan yang lucu.