Hear Me

Hear Me
Hear Me 2



Matahari sudah menunjukan sinarnya dengan terang, cahaya nakal mulai masuk melalu cela gorden berwana hitam sembari menyoroti seorang gadis cantik berwajah imut yang sedang tertidur pulas dengan selimut kesayanganya bsrwarna hitam dengan gambar panda.


Ttok ttok ttokk


"non bangun yuk non, udah jam 6 lebih lo non. Ntar telat sekolahnya" bi minah berusaha membangunkan el yang notabenya susah bangun pagi. Dengan penuh perjuangan bi minah semakin mengencangkan gedoranya dipintu kamar el


Alvaro yang baru saja keluar dari kamarnya terheran dengan suara berisik yang dibuat oleh bi minah, diapun berjalan menghampiri bi minah sembari mengunakan dasinya.


Hanya dengan Beberapa langkah dia sudah berdiri disamping bi minah, karena memang kamarnya yang bersebelahan pas dengan kamar el.


"ada apa si bi, pagi pagi bikin ribut? "


"eh.. Anu den.. Bibi lagi bangunin non el, dari tadi nggak mau bangun bangun" bi minah membalas pertanyaan alvaro dengan raut wajah terkejut


"tinggal buka aja napa si bi, dari pada bibi ngetok ngetok kaya gitu" alvaro menjawab dengan santainya.


"kamar non el dikunci den dari dulu, masak boleh saya masuk kamarnya. Kan uda kebiasaan non el ngunci pintu kamarnya, bibi aja ga pernah ngebersihin kamarnya non el, penampakan kamarnya aja bibi ga tau. Non el musti nyetorin baju kotornya langsung ke bibi."


Lucas yang baru saja keluar dari kamarnya yang berhadapan langsung dengan kamar el mendengar pembicaraan alvaro dan bi minah, "tinggal ambil kunci cadangan apa susahnya si bi" dengan wajah bantalnya lucas langsung berbicara pada mereka.


Lucaspun berjalan kearah meja disamping kamarnya tempat semua kunci cadangan Baik untuk kamarnya ataupun untuk para adik adiknya, dia mebuka nakas dan mulai mencarinya.


"aduh den lucas, kunci cadangannya juga diambil sama non el, kalo ada mah ngapain bibi repot repot bangunin dari luar, non el tuh den dari dulu uda gitu. Baik dia ada ataupun enggak kamarnya musti dikunci"


Ucapan bi minah membuat alvaro dan lucas terkejut, untuk apa el menyimpan kuncinya. Lucaspun mendengus kesal "haiss udalah bodoamat, biarin aja tuh anak mati di dalem kamar" lucaspun berlalu menuju ruang makan meninggalkan alvaro dan bi minah.


Keributan diluar kamarnya membuat mata el perlahan terbuka, sembari mengerjabkan kelopak matanya beberakali, dia melihat kearah nakas dan meraih ponselnya. Jam sudah menunjukan pukul 07.00. Diapun beranjak dari tidurnya dan berjalan ke arah pintu.


Clekk


El membuka sedikit pintu kamarnya, hal pertama yang dilihat adalah wajah lucas yang berada didepan kamarnya


"ngapain lo disitu? " el melontarkan pertanyaan pada alvaro membuat alvaro mendengus tak suka.


"eh non uda bangun, tadi bibi cuman mau bangunin non aja. Uda kesiangan non ntar telat kesekolah barunya" dengan tiba tiba bi minah menjawab ucapan el.


Alvaro yang melihat itu berlalu meninggalkan keduanya menuju ruang makan, berkumpul bersama yang menjadi rutinitas keluarga addison.


El melihat alvaro hanya berlalupun tersenyum miris, el mulai membuka pintu kamarnya sedikit lebar dan tersenyum pada bi minah. Dapat dengan jelas bi minah melihat wajah sembab, karena kejadian kemarin yang membuat el menangis.


"ini el uda bangun bi, tolong ya siapain bekal buat el sarapan dijalan ntar" el tersenyum tulus kearah bi minah.


"siap non el, bibi bakal siapin bekal yang enak buat non, yaudah ya bibi kedapur dulu"


Bi minah pun berjalan dengan cepat menuju dapur guna menyiapkan sarapan yang lezat untuk nona bungsunya.


El hanya terkekeh pelan melihat tingkah bi minah, dia pun mulai masuk kedalam kamar tak lupa mengunci pintu kamarnya, dia menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya melakukan ritual mandi khas wanita, hanya butuh beberapa menit el pun keluar dan menuju lemari pakaiannya yang berwarna hitam.


Dia mengambil baju seragam khas sekolah barunya, baju bekas milik al yang dulu. Karena satu sekolah dirinya tak perlu repot repot membeli seragam baru, walaupun seragamnya nampak sedikit kedodoran dan terlalu panjang, membuat tubuhnya terlihat mungil. El mulai memasukan barang barang yang diperlukan ke dalam tasnya.


Di ruang makan keluarga addison, terdapat meja makan yang cukup besar. Satu demi satu lauk pauk tertata indah diatas meja.


"mana alvaro sayang?" tasnya bertanya pada lucas yang berjalan lunglai kearah meja.


"masih diatas mom" jawab lucas seadanya


"tumben dia telat, biasanya dia paling rajin" tasya berbicara sendiri.


"mungkin kak alvaro kecapean mom" al membalas perkataan tasya.


"oh ya, sayang kamu mau makan apa, biar mommy ambilin" ucap tasya lembut pada al


"apa aja boleh kok mom" al membalas ibunya sambil tersenyum, dia mulai memainkan ponselnya.


Alvaro berjalan dengan wajah datarnya menuju meja makan yang sudah di isi oleh kehadiran, lucas, alrick, tasya, dan al. Diapun duduk dengan tenang, meminum airnya dan mulai mengambil makannya.


Mereka semua memakan makananya dengan tenang, tapi ketenangan itu hanya berlangsung beberapa menit. Dari kejauhan tasya melihat bi minah menyiapkan bekal, membuat lidahnya gatal ingin berkomentar.


Tasya menghentikan makannya "bik. Ngapain nyiapin bekal, buat siapa?"


Bi minah terkejut mendengar teriakan nyonya besarnya "eh.. Anu nyon, ini buat non el"


"kenapa harus dibekalin, suruh anaknya kesini" perintah tasya.


"udalah mom, dia ga bakal mau. Kan emang uda kaya gitu dari dulu" kali ini lucas yang menimpali ucapan tasya


"anak itu makin hari makin ga tau diri, harus dikerasin dong.. Bik pok.... "


"Tasya!" bentakan alrick membuat semua yang ada di meja makan terkejut. "diamlah dan lanjutkan makanmu"


"minah, cepat siapkan bekal untuk el" lanjut alrick


Mata tasya berkaca kaca karena suaminya membentaknya didepan anak anak, membuat dia sakit hati. Tasya hanya menatap nyalang suaminya, al yang melihat itu hanya mengusap pelan punggung sang ibu. "udah ya mom, lanjutin makannya"


baru saja beberapa suap alvero langsung membating peralatan alat makan yang di genggam keatas piringnya, dirinya pun bangkit menyambar tas yang terselempang di punggung kursi makannya. Dengan wajah datar dirinya beranjak "alvero duluan!"


Alrick yang melihat itu menghembuskan nafas kesal, diapun melempar alat makanya ke arah sang istri, membuat tasya terkejut.


Alrick pun bangkit dan berangkat menuju perusahaannya, al dan lucas hanya menatap terdiam kepergian sang ayah.


"lagi lagi karena anak sialan itu" tasya menggeram merapatkan giginya, dia meremas kuat alat makannya.


Tak ingin ditinggal sendirian al berlari menyusul alvero, baru saja alvero menyalakan mesin mobilnya. Dia melihat adik berlari terengah engah


"kak aku nebeng yah, mobilku lagi masuk bengkel"


"hm" hanya dengungan yang keluar dari bibir alvero, al pu langsung memasuki mobil dan memakai salbelt nya dan duduk dengan tenang. Mobil alvero pun berjalan dengan mulus meninggalkan perkarangan massion mewah keluarga addison