Hear Me

Hear Me
Hear Me 4



XII ips 6


Suasa hening mendominasi kelas ini, didalam kelas hanya ada beberapa anak saja termasuk dion dkk, karena memang beberapa guru sedang mengikuti rapat.


"gimana? Masih sakit?" tanya argan kepada ken


"lo kalo nanya yang berbobot dikit napa, jelas masih sakitlah ****. " balas ken sembari mengusap lengannya.


"gue heran deh, si al kesambet apa si tenaga kuat banget sumpah, salah ngasih makan lo yon" lanjutnya


Dion yang disinggung namanya hanya mendegus tak suka "akhirnya sifat asli dia keluarkan, dari awal gue udah nebak ga mungkin dia kalem kaya gitu"


Dion pun beranjak dari duduknya membuat kedua temannya terkejut


"mau kemana?" tanya argan


"kantin! "


Ken & argan ikut menyusul dion berjalan menuju kantin sembari menunggu genta, kelas mereka dan genta memang beda , mereka berempat adalah teman semasa kecil dan genta adalah yang termuda diantara mereka, genta menduduki kelas xi ips bahasa menjadi adik kelas kesayangan dion dkk


**


Krieet, pintu kelas XI ips bahasa dibuka


sosok yang memasuki pintu membuat mereka semua terpana, seluruh gadis penghuni kelas menjadi heboh dan ricuh begitu juga guru wanita yang sedang memberikan pengarahan didepan kelas sebelum memberkan jamkos.


"ehh pak kepsek, ada perlu apa yah?" guru yang akrab dipanggil bella itu bertanya dengan nada suara manja yang dibuat buatnya.


Glen hanya tersenyum saja menanggapi dan mulai masuk kedalam kelas sembari menarik lengan el, "maaf menggangu waktu anda bu bella, saya disini ingin mengenalkan murid baru"


"eh.. Biar saya aja pak, bapak bisa kembali ke ruangan" balas bu bella.


"terimakasih bu bella, biar saya sendiri" glen melirik ke arah el yang bersembunyi dibelakangnya dan menunduk, membuat seiisi kelas penasaran dengan dirinya.


"ngapain lo diem, cepet perkenalin ****" bisik glen pelan.


El hanya mengembuskan nafas dan menghempaskan tangan glen, ketika dirinya mendongak seluruh siswa siswi terkejut melihat el.


"looh itu bukannya alicya ga si, anak efektif"


"eh iya iya itu al, ngapain dia masuk sini, otaknya konslet yah hahaha"


"anak kalem ga cocok masuk ips, kesambet setan badung kali"


Mereka semua berbisik menggosipkan el yang berdiri didepan kelas, namun seisi kelas berfikir bahwa dia adala al.


"ehem... Kenalin nama gue elicya agatha addison, panggil aja el" el pun melirik tajam kearah glen "udahkan"


Genta salah satu anak ips bahasa pun langsung terkejut, berarti kejadian tadi pagi bukan al yang melakukannya


"oh jadi lo kembaran si al?" tanya genta yang jauh duduk dibelakang sana


El hanya tersenyum tipis, "gue kembaran al, dia kakak gue, cuman beda 5 menit"


"ngapain lo masuk ips, kembaran lo aja di ipa, lo **** ya" pertanya sarkas yang dilontarkan bertha.


"lo kali yang ****, maaf ya otak gue itu ga selevel sama otak lo dasar cabe timbangan" jawaban itu mulus keluar dari mulut el membuat seisi kelas melongo


Bertha benar benar geram dibuatnya, namun dia menahanya karena ada kepala sekolahnya saat ini didepannya.


"kamu ya, ada pak kepsek kok ngomongnya ngelantur" bentak bu bella pada el


El tak mendengarkan bentakan bu bella "uda deh gue mau duduk, lo ga liat kaki gue pegel hah..." diapun malah merengek pada glen membuat glen menghembuskan nafas pelan


Namun bukannya duduk, el menyodorkan tangannya seakan meminta sesuatu, membuat glen kebingungan, "apa si" tanya glen


El memutar bola matanya jengah "yaelah.. Gapaham ni orang tua" el pun meraba sendiri kantong celana glen membuat bu bella menutup mulutnya mencegah teriakanya keluar.


El berhasil mendapatkan apa yang dia cari, yaitu dompet glen, dia menghitung uang tunai yang ada didalam dompet dan mengambil semuanya "lagi ga da duit, ntar gue ganti" el melempar dompetnya pada glen dan berjalan menuju tempat duduknya.


Semua mata menatapnya tak percaya, wajahnya benar benar cerminan dari al, namun sifat mereka seakan bertolak belakang.


"maaf bu bell, saya titip el dikelas ini ya. Jaga dia baik baik, terimakasih" suara glen memecah keheningan, belum sempat bu bella berbicara, glen sudah berlalu meninggalkan ruang kelas.


Bu bella mengerjapkan matanya beberapa kali "ehem.. Baiklah saya akhiri sampai disini, kerjakan tugas yang sudah saya berikan" ujarnya dan berlalu meninggalkan kelas


El menoleh kebalakang ketika ada seseorang yang mengutuk punggunya, dia melihat salah satu lelaki yang tadi pagi membuat keributan dengannya, el hanya menaikan kedua alisnya.


"jadi lo kembaran al, gue udah yakin banget al ga akan kaya gitu. Cewe kalem mana bisa nyerang cowok" genta berbicara sembari tertawa renyah membuat teliang el gatal.


El hanya tersenyum menanggapi ucapan genta, dirinya pun melirik teman sebakunya. "lo ga kekantin?" tanya el pada cewe itu. Pasalnya kelas sudah sepi hanya ada mereka bertiga.


"nan-nanti aja, kamu duluan"


Hanya dengan sekali lihat el bisa menebak bahwa cewe disebelahnya ini korban pembulian, terlihat dari canggungnya dia berkomunikasi dan tak ada teman yang mengajaknya ke kantin bersama.


"anterin gue, ntar gue traktir lo" ajak pada gadis itu, namun yang diajak tak hanya berdiam diri tak menyahuti membuat dia habis kesabaran, dan langsung menarik tangannya agar berdiri.


El mendekatkan matanya pada dada sebelah kanan dan membaca name tagnya


"gladis putri anggraini? " setelah membacanya el tersenyum manis "nama lo cantik"


"gue bareng ke kantin yah" ucapan genta menbuat el menoleh padanya. Tidak ada balasan untu genta, karena el langsung menarik lengan gladis dan meninggalkan genta.


Melihat itu genta berlari menyusul el dan gladis, dirinya berjalan beriringan dengan mereka menuju kantin.


**


Saat ini dion sedang duduk dikantin bersama argan dan ken, mereka hanya memesan minuman. Hanya argan &ken yang berbicara banyak dan ditanggapi seadanya oleh dion, saat ini suasana hati dion sedang buruk.


Brakkkk


Tiba tiba seorang gadis menggebrak meja mereka dengan kasar, menbuat argan dan ken terlonjak kaget berbeda dengan dion yang masih tenang memainkan game dihpnya.


"dasar kutu Air , ngapain si ngagetin orang" bentak ken pada echa.


"urusan gue bukan sama lo ya kutil, al sini lo" karena hinaan dari echa membuat ken memegang dadanya bersikap alay seakan tertancap puluhan anak panah.


Al yang disebut namanya berjalan menghampiri echa, dengan mata sembab akibat menangis dan hidung merah dirinya berdiri didepan dion.


Ken & argan tak berani berbicara ketika situasinya sudah seperti ini, mereka memilih untuk menjadi penonton setia. Dion yang melihat wajah al hanya tertawa garing "pengen akting jadi pemeran utama lo?" sindiran kejam dion membuat air mata al keluar kembali, dia menangis sesegukan dihadapan dion dan temanya.


"ngomong apa si lo yon, yang bener dikit dong, al salah apa sama lo sampek lo kasar ke dia hah" bentak echa yang geram melihat dion


"gue heran deh sama lo ca, mau banget dibabu sama anak manja macem dia. Suka ya lo jadi temeng buat dia," ucapan tajam dion membuat echa naik pintam.


"kenapa lo benci banget sama gue, padahal gue sayang sama lo dion. Jelasin ke gue alasan lo benci sama gue" pertama kalinya al membuka suaranya, echa yang disamping al ikut menangis melihat al yang terisak isak.


"karena lo itu palsu, semua yang ada didiri lo itu palsu. Gue heran berapa topeng yang lo pake, membuat kesalahan dan berlindung dibelakang prang lain, bersikap seolah olah love putri raja yang harus dilayani. Gue jijik liatnya" kata kata menohok dari dion membuat al terpaku, tubuhnya bergetar semakin hebat dan menangis dengan kencang.


"yon lo kelewatan, omongan lo terlalu kasar ****" argan yang sudah tidak tahan mulai membuka suaranya.


"parah lo, kasian tuh cewe lo. Gila lo bro" balas ken.


"bodo amat, biar dia sadar diri" jawaban menusuk dari dion membuat mereka berdua terdiam