
Suasana kantin benar benar ramai menyaksikan pertengkaran anatara dion dan al, banyak yang menyindir bahawa al tidak tahu malu dan mempunyai wajah tebal karena dia tetap setia menangis dan mengemis di hadapan dion, yang notabenya adalah most wanted alexadra.
Para gadis pun membandingkan dirinya dengan al, jika al yang sangat cantik dan baik hati ditolak bagaimana dengan dirinya, tak sedikit para gadis mencemoh al.
Al tak menghiraukan perkataan orang orang disekelilingnya, dia masih setia menangis dan berdiri dihadapan dion membuat dion muak dan jengah
"kalian bisa liatkan, betapa ga tahu malunya dia" ucapan tajam yang dion lontarkan membuat echa tidak bisa menahan emosinya lebih lama lagi
"bukan al yang ga tahu diri , tapi lo. Harusnya lo bersyukur bisa dicintai dengan tulus sama al, meskipun lo selalu bersikap kasar ke dia, dia tetep muja lo tau gak si" bentakan echa membuat argan dan ken bergidik ngeri
"gue ga mintak dicintai gadis munafik kaya dia, ada nya dia yang mohon ke gue" balas santai dion.
"kasih tau apa salah gue ke lo, gue akan berusaha memperbaiki diri. Apa masih kurang perjuangan gue buat lo?" ujar parau al
"lo gak salah al, cowo itu aja yang ga tau diri" echa masih setia membela al.
**
Disatu sisi el, gladis dan genta baru saja tiba di kantin kebingungan dengan kehebohan yang terjadi, gentapun membelah keramaian diikut el dan gladis dibelakangnya. Mereka bertiga terkejut melihat keadaan al yang menangis menjadi seperti itu, el masih mencerna situasi dan mendengarkan semua permasalahannya.
Dia mendengar dengan seksama apa yang menjadi pokok masalah yang al alami, el pun menggeram tak suka ketika dion berbicara dengan kasar pada al.
Diapun menghampiri dion dan menampar dion dengan sekuat tenaga membuat dion terjatuh dari duduknya, argan dan ken terkejut melihat kejadian itu. Tak hanya mereka tapi seisi kantin terkejut dibuatnya.
"lo jadi cowo kalo ngomong itu yang lembut dikit ke cewe" bentak el dihadapan dion yang terjatuh. "mau gue ajarin tata krama hah"lanjutnya
"el lo apaan sii, gak usah ikut campur masalah gue! " al berbalik memarahi el yang berdiri didepannya.
Dion kebingungan dengan apa yang dihadapannya, pasalnya dirinya melihat dua al. Namun dion bukanlah anak bodoh, diapun segera menyadari situasi. Dirinya bangkit dan tersenyum,namun terasa nyeri dibagian ekor bibirnya. Dia memegangnya dan ternyata bibirnya berdarah akibat tamparan seorang gadis.
"al lo jangan akting jadi gadis lugu, lo ga liat harga diri lo di injek injek, dan lo masih sukak mainin drama lo" ucapan el membuat al malu, pasalnya didekat mereka ada dion.
"lo kalo mau buat gue malu ga gini caranya el" al membentak el seperti orang kesetanan.
"gue? Gue yang bikin lo malu, gue disini mau belain lo. Lo malu karena omongan gue, tapi lo ga malu di injek injek sama dia hah! " balasan el membuat al menggenggam erat tangannya membuat kuku jarinya memutih. Dari kejauhan dirinya melihat alvaro ingin menghampirinya.
"ma-maafin gue el.. " dengan suara paraunya dia berjalan memeluk el, making Bagas, El mentoring El dengan Kuat hingga membuatnya jatuh membetur menja dan kursi.
"Elicyaa!" teriakan alvaro bergema membuat el berdiri kaku. "apaan apaan lo dorong al kayak gitu hah" bentakan keras alvaro lontarkan tepat didepan el.
Tangan alvaro terangkat akan menampar el namun dengan sigap di hadang oleh dion, dion langsung menarik el kebelakangnya untuk melindungnya. Hal itu disaksikan oleh al yang sedang ditolong oleh echa, membuat dia semakin marah.
"gak usah ikut campur lo" geram alvaro
"gimana ya, sayangnya gue juga harus terlibat" dion hanya tersenyum santai menanggapi alvaro
"karena hal ini gue makin yakin lo itu palsu" lanjutnya sembari menatap al.
Dionpun menarik kasar lengan el dan membawanya menjauh dari kantin, diikuti oleh genta, ken dan argan.
Alvaro melihat kondisi al dan terkejut ketika melihat darah mengalir dengan indahnya di lengan dan kaki al. "dek lo berdarah" alvaro dengan paniknya membopong al menuju uks diikuti oleh echa temannya.
Al menangis sesegukan didada alvaro dengan mengalungkan tangannya dileher pria itu. Tangisannya sangat menyakiti hati alvaro, "dek tahan ya.. Gue tau itu sakit banget.. Tahan ya"
Jika alvaro berfikir al menangis karena kesakitan itu salah besar, al menangis karena saat kondisi seperti itu dion lebih memilih el daripada dirinya. harusnya dion menolongnya, harusnya dion mengangkatnya, dia yang terluka tapi mengapabel yang ditolong.
"ka-kaak.. Gue ga mau kehilangan dion, gue cinta banget sama dia. El tega ngambil dia dari gue, gue udah berjuang mati mati an buat dapet perhatian dari dia tapi el, semudah itu dapetin perhatiannya" gumanan parau al membuat hati alvaro sesak, Adik kecilnya yang malang.
**
Seorang pria paru baya sedang duduk dikursi kebesarannya disebuah ruangan pribadi miliknya, walaupun sudah menua aurah gagahnya masih terpancar dengan jelas.
"bagaimana keadaannya"
"seperti biasanya, keadaanya tidak baik"
"aku ingin kau menjaganya, karena dia permataku. Awasi saja dia dari kejauhan"
"baik tuan, anda tak perlu khawatir, saya selalu memantau kondisinya"
Pria tua itu mematikan telfon secara sepihak setelah puas dengan berita yang ia dengar, dia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah foto gadis kecil yang sangat lucu sambil membawa boneka, terlihat gadis itu tertawa bahagia. Pria tua itu menatap nanar potret sang cucu tercinta,
"kumohon bertahanlah sayang, berikan kakekmu ini sedikit waktu untuk bisa membawamu. Hidupmu sudah cukup menderita cucuku" dalam gelap pria tua itu menangis dengan melihat potret gadis kecil itu.
**
Dengan tiba tiba el menghempaskan tangan dion yang menggengamnya membuat dion terkejut dan menghentikan langkahnya, dibelakang mereka sudah ada argan, ken, genta dan gladis yang menonton.
"ngapain lo?" dengan kepala menunduk el bertanya pada dion
"maksud lo" dion bertanya dengan kebingunan
"ngapain lo narik gue! Harusnya lo biarin aja gue kena tamparan, lo gak usah sok sokan jadi pahlawan" bentakan keras el membuat mereka semua terkejut, namun tidak dengan dion, ia memasang wajah datar melihat el.
"harusnya lo biarin gue ditampar, harusnya lo ga usah nolongin gue. gue salah udah ngelukai al, gue pantes nerima itu" lanjutnya dengan penuh emosi.
"wah cewek ini bener bener ya! Uda ditolongin bukannya makasih kek malah nyerocos gak jelas" argan yang berada dibelakang mereka mulai mengeluarkan suaranya
Gladis masih setia bungkam memperhatikan el yang memarahi dion, gladis paham apa yang dirasakan el. Karena diapun melihat kejadian itu, diapun menyadari bahwa el tidak mendorong al, melainkan al yang menjatuhkan sendiri tubuhnya.
Dion masih diam terpaku melihat el yang menunduk ke bawah, tiba tiba tetesan air mata jatuh ke lantai membuat dion terkejut. Dengan refleks dion meraih kedua wajah el dan mengangkatnya. Dapat dia melihat mata biru yang indah itu penuh dengan airmata yang sudah siap menetes.
El menepis kasar tangan dion, diapun menghapus air matanya yang siap meluncur. El mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan.
"lo mau gue diem, lihat lo ditampar karena kesalahan yang ga lo perbuat? "ujar datar dion
"ga gue perbuat? Lo buta? Emang gue yang salah uda ngedorong al" jawab el dengan tenang
Dion tertawa miris mendengar ucapan el "wah... Uda berapa lama lo kaya gini, mengakui kesalahan yang ga lo perbuat."
El tak mengindahkan perkataan dion, diapun melihat kebelakang dan mendapatkan gladis berada dibelakang, el dengan sigap menarik lengan gladis dan membawanya pergi.
Dion hanya diam termenung melihat kepergian el. Dirinya pun menghembuskan nafas kasar karena sangat kesal akan kejadian ini, lagi lagi al si gadis sialan itu menepatkan orang yang tidak bersalah untuk mencari perhatian.
"aaarrrghhhh...brengsek" dion menendang keras tong sampah disampingnya dan berjalan menjauh.
Argan, ken dan genta terkejut akan sikap dion hari ini, serasa dia melihat orang yang berbeda.
"gue ga pernah liat dion kaya gini" ujar ken
"kita uda dari embrio bareng dia, dan baru ini liat dion emosi kaya gitu" balas argan dengan cengo nya.
"akhirnya gue paham kenapa dia benci al" tambah genta, perkataan genta membuat ken dan argan melihat dia secara bersamaan seakan penasaran dengan apa yang genta ucapkan
"maksud lo apa nyet?" tanya argan
"paham apaan lo hah" tambah ken
Genta hanya menghiraukan mereka dan berjalan menyusul dion, sedangkan argan dan ken sudah ngedumel tidak jelas karena kesal pertanyaanya tak ditanggapi
**
Di uks alvaro setia menemani adik kecil tersayangnya, dia mengusap pelan rambut al, semua luka sudah diobati oleh dokter sekolahnya. Namun luka dihati al masih terbuka dan sakit.
Al masih saja terisak dan menangis membuat alvaro sakit hati melihatnya, karena el adiknya jadi seperti ini, karena el, al jadi terluka. "dasar anak pembawa sial" batinya.
"kak.. Aku mau mati aja, aku ga sanggup liat el sama dion kak, aku ga sanggup. Gue kurang baik apa sama el sampek dia tega banget ngerebut dion dari gue" al berkata dengan suara paraunya.
"dek tenang aja ya, ntar kakak coba ajak ngomong el biar dia jauhin dion. Lagian dia masa kenal sama dion, diakan baru sehari disini" jawab alvaro
Al bangkit dari duduknya dan memeluk alvaro erat, "enggak kak, kakak ga ngerti sejahat apa el sama aku. Dia bakal ambil semua kebahagian aku, aku siap ngasih apa aja asalkan jangan dion kak, aku ga mau" al menangis terisak isak sembari memeluk alvaro.
Alvaro hanya terdiam, bingung akan menjawab apa. Yang bisa dia lakukan kini hanyalah mengusap punggung kecil adiknya, guna mememberikan ketenangan pada adik kesayangannya.
**
Sedangkan el saat ini berada di taman sekolahnya bertepatan dengan lapangan, matanya menatap kosong kearah murid murid yang sedang bermain basket.
Dirinya duduk termenung memikirkan bagaimana nasibnya ketika sudah ada dirumah nanti, yang jelas diakan jadi sasaran empuk amarah seluruh keluarganya karena membuat al terluka. Lagi lagi seperti ini, hanya dia seorang yang dianggap orang asing didalam rumahnya sendiri.
Ketika sedang asik dengan lamunannya tangan el ditarik seseorang dengan kasar membuatnya mau tak mau mengikuti langkah orang itu.
"kakk ngapain si lo" bentak el pada alvaro selaku orang yang menarik tangannya, namun tak di indahkan oleh alvaro
Mereka kini sudah berada di samping sekolah, tempat yang sepi biasa digunakan oleh anak anak badung membolos pelajaran. Alvaro memhempaskan kasar tangan el, wajahnya menyiratkan amarah.
"lo sadarkan uda buat al terluka hah" bentak keras alvaro pada el "ga hanya tubuhnya aja tapi hatinya juga," lanjutnya.
El hanya tertawa miris, baru saja memikirkannya dan sekarang dirinya sudah dihadapkan oleh alvaro, kakak keduanya.
"dia pantes dapetin itu kak.. Dia terluka karena kesalahannya sendiri"
"apa! ngomong apa lo hah! Pantes? Yang pantes itu lo, harusnya lo mati dasar pembawa sial" kalimat pedas yang alvaro katakan sukses membuat el naik pitam
"sebenci itukah lo sama gue kak, gue juga adek lo, harusnya lo tau itu. Gue juga anak mommy sama daddy, tapi kenapa kalian semua perlakuin gue berbeda kenapaa! " kini el mulai mengeluarkan semua yang dia rasa pada alvaro, berharap menyadarkan sang kakak.
"asal lo tau ya, gue gak sudi punya adek pembawa sial kaya lo. Gue berharap waktu itu lo yang mati" ucapan yang alvaro lontarkan sukses menusuk tajam kehati el
"kalo gue mati, gadis sialan itu juga harus ikut gue mat-... "
Plakkkk
Tamparan keras mendarat dipipi el, membuat el menunduk dan menangis. Dirinyapun mulai sadar akan posisinya. Benar memang ini yang harus diterima, memang ini yang biasa ia terima.
Air matanya jatuh dengan nakal namun tak ada isakan, hanya mata terkejut yang terpampang
"jaga omongan lo ya, kalo sampe gue liat lo ngelukain adek gue lagi. Liat aja lo apa yang bakal gue lakuin ke lo" alvaropun berjalan meninggalkan el.
El mulai menengadahkan kepalanya menatap langit biru dengan awan putih yang indah. Air matanya sudah mulai keluar tak terkendali, dirinya benar benar lelah dan jenuh. Dunia ini bersikap kejam kepadanya
"omaa sampek kapan el harus kaya gini, oma bilang el harus bertahan demi daddy, tapi el cape berjuang sendiri oma.. berjuang disekitar keluarga yang benci akan kehadiran el"