HABIBI QOLBI

HABIBI QOLBI
Bab 8 Rapat



Ndalem pak kyai sudah ramai oleh beberapa santri yang sudah datang untuk rapat.  Khusus komplek putra ada 5 komplek terdiri dari komplek huffadh, komplek K, Komplek N, komple S serta komplek M . Masing-masing komplek mengirimkan delegasinya untuk menjadi panitia khaul.  1 bulan lagi adalah khaul Kyai Marzuki Anwar yang ke 12, beliau putra pertama dari Kyai Anwar Zainudin pendiri pondok pesantren.  Setelah Kyai Marzuki wafat kepemimpinan pondok diurus oleh putranya Kyai Fathoni Marzuki, kakak sulung Ustadzah Nurul.


“rangkaian acaranya kita buat seperti tahun lalu saja, sesuai dawuh bu Nyai Fatimah. Satu hari sebelum haul ada majlis simaan Al-Qur’an dari pagi sampai dzuhur, sorenya Ziarah maqbaroh,  malamnya sebelum majlis haul di isi dengan prosesi khotmil Qur’an” terang kang nurdin membacakan rangkaian acara yang telah disepakati.


“Bagaimana dengan pembicaranya  kang” tanya seorang santri komplek S


“Kalau itu sudah diatur oleh Kyai Fathoni, Insya Allah yang akan mengisi  Gus Baha dari rembang,” jawab Gus Hafiz


“Pejabat pemerintah yang diundang pak kyai Fathoni, apakah perlu dikirimkan surat undangannya?”


“Kalau masalah pejabat pemerintah juga sudah diatur sama pak Kyai, kita hanya perlu mempersiapkan panggonan


dan sambutan yang baik,” lanjut Gus Hafiz


Acara Haul Kyai Marzuki memang sudah biasa dihadir oleh pejabat pemerintah. Tahun lalu wakil presiden RI juga


ikut hadir di majlis Haul. Bukan hanya para pejabat, para ulama dari pulau jawa juga ikut hadir. Kebanyakan yang hadir dari kyai-kyai yang dulu pernah mondok di pesantren Mutua’allimin. Kalau tahun lalu, jamaah yang hadir sampai ribuan, mungkin tahun ini akan lebih banyak. Jadi tidak heran, bila persiapanya pun  jauh-jauh hari.


“Kalau persiapan untuk prosesi Khotmil Qur’anya bagaimana kang?” tanya rosyid


“Ehmm.. kalau itu aku belum tahu, Syid. Belum ditanyakan sampai mana persiapannya,” jawab kang Nurdin


“Bagaimana kalau kamu tanyakan langsung saja Syid, sama lurah pondok putri,” Gus Hafiz menambahi


“Maksudmu Ning..Zizah, kang?”   tanya Rosyid terbata-bata. Gus hafiz mengangguk.


“Bener itu kang, kamu kan humas Syid, jadi sudah jadi tugasmu, ajak kang Ridwan dari komplek N untuk menemanimu,” tambah Kang Nurdin melirik kearah Gus hafiz yang disampingnya. Mereka tersenyum tipis melihat ekspresi Rosyid yang terlihat bingung dan gelagapan. Rasanya dia baru saja menjadi korban kejahilan kedua sahabatnnya.


Dilain tempat, tepatnya di Aula pondok santriwati calon khotimat sedang berlatih.Setiap haul akan ada Prosesi haflah khotmil Qur’an yang bergantian dengan komplek putra, tahun ini adalah kebagian santri putri. Ada 20 khotimat 30 juz Bil Hifdzi,  34 khotimat 15 juz bil Hifdzi, dan 60 khotimat juz 30 Bil Hifdzi. Kalau pondok putra terdiri beberapa komplek, khusus putri hanya ada satu komplek, namun santrinya  mencapai 1.500 santri putri.  Pondok Mutua’allimin adalah salah satu pondok Qur’an tertua dijawa, jadi tak heran kalau santrinya rata-rata yang mondok disini selaian mengkaji kitab kuning juga di wajibkan untuk hafalan.


“Dimana Aisyah?” tanya ning zizah kepada Zaira yang sedang mengatur barisan para khotimat.  Pertanyaan Ning zizah membuatnya baru menyadari, sedari tadi dia tidak melihat Aisyah di aula. Kemana lagi kau, Aisyah?? Jangan bilang kau kabur lagi...


***


Aisyah memakirkan motornya.  Jam ditangannya menunjukan pukul 17.00, ia bergegas berlari menuju ruang TU Akuntansi. Seperempat jam yang lalu, dia mendapatkan telepon dari Tika kalau ada masalah tentang kelompok KKN. Semua kelompok KKN yang ditugaskan di Banten sudah berada di depan ruang TU. Tika melambaikan tangan ke arah Aisyah yang berjalan kearahnya.


“Lama bener kamu datangnya, Ais” cerocos Tika


“Kamu enggak lihat, aku aja masih ngos-ngosan gini, masih aja di marahin”  Aisyah  mencoba mengatur nafasnya.


“Soalnya kamu kan ketuanya, jadi seharusnya kamu yang tahu dulu kalau kita di pindah?”


“Pindah? Maksudnya?”  tanya Aisyah penasaran.


“Ia kita di pindah tempat KKN-nya, tadi bu Desi bilang kalau kelompok KKN yang di Banten di pindah,”


“di pindah kemana? Kok bisa?”


“Mana aku tahu, sekarang kamu masuk saja ke kantor, bu Desi tadi nyariin kamu,”


Aisyah memasuki kantor, disana sudah  berdiri lima ketua  kelompok KKN yang ditempatkan di Banten. “Apa kata bu desi?” bisik Aisyah ke salah satu ketua kelompok,


Beberapa menit menunggu, bu Desi menghampiri kami yang masih berdiri, sembari memberikan selembar kertas. Yah, benar saja yang dikatakan Tika tadi, kelompok KKN Aisyah di pindah.


“seperti yang kalian tahu, banjir yang melanda daerah Banten tidak memungkinkan untuk kalian melaksanakan KKN disana, jadi pihak universitas memindahkan semua kelompok KKN yang di banten. Sebagian di tempatkan di daerah jawa tengah dan yang sebagian di jawa timur.  Saya harap kalian bisa memakluminya, besok pagi kalian harus sudah berangkat,” jelas bu Desi.


Aisyah menghela nafas, melihat selembar kertas ditanganya. Tika yang sedari tadi menunggunya sudah mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


“Heh Aisyah!!” bentak Tika melihat Aisyah tak menanggapi pertanyaan tentang pemindahan KKN-nya.


“ Apa sih Tik, iya aku denger kamu ngomong kok,”


“terus?”


“Baca sendiri aja nih,” Aisyah menyodorkan kertas ke Tika


“Kudus?” Tanya Tika menyakinkan. Aisyah hanya mengangguk.


“Kenapa sih harus di pindah, aku kan sudah persiapin semuanya. Jadinya kita kan harus buat program kerja


yang baru biar sesuai tempatnya,” gerutu Tika


“kalau itu gampang besok kita diskusikan sama teman yang lain, kamu kabari yang lain saja, aku mau pulang,”


Aisyah berlalu pergi meninggalkan Tika yang masih mengamati surat tugas KKN. Entahlah, hari ini Aisyah begitu lelah, ingin rasanya ia memeluk Zaira dan Arum meluapkan rasa lelahnya. ibu Aisyah baru saja menelponya, kalau ibunya tidak bisa mengirim uang bulanan. Usaha bapaknya sedang merugi, ditambah lagi, Aisyah butuh asupan dana untuk persiapan kegiatan KKN-nya. Duh, gusti rezeki, maut, panjenengan ingkang ngatur, sabarkanlah kulo..   batin Aisyah melihat isi dompetnya tinggal sepuluh ribu rupiah.  Beginilah, kehidupan seorang mahasiswa, kalau tidak mendapat kiriman dari orang tua, rasanya hari terasa panjang. Aisyah pun mencoba mengerti keadaan orangtuanya, tidak mungkin ia memaksakan orangtuanya untuk mengirim uang bulanan.Ini bukan kali pertamanya Aisyah mengalaminya, keluarganya bukan PNS yang setiap bulan ada kepastian gaji, ia harus menyadari, diberi kesempatan untuk melanjutkan kuliah saja, sudah nikmat yang tiada tara untuk dia syukuri.  Allah, maha kaya. Tak pantas hamba ini takut akan kelaparan apalagi putus asa.Allah telah menjamin rezeki untuk hambanya yang


sedang menimba ilmu. Cukup satu,  sabar!


Aisyah membaringkan badanya dilantai kamar, ia tidak mendapati Zaira atau Arum dikamar. Mungkin saja,


mereka masih latihan khotmil Qur’an. Tak lama berselang suara adzan menggema, membuat Aisyah bangkit untuk mengambil wudhu.


“Sudah pulang kamu, Ais?” tanya Zaira melihat Aisyah keluar dari kamar mandi.


“Sudah setengah jam lalu Ra,  kamu baru selesai?” jawab aisyah lemas.


“Hee mm... tadi kamu dicariin ning Zizah, kirain aku kamu kabur lagi,”


“ Ndak lah, aku sudah izin sama ustadzah Nurul kok,”


“Ais, barang-barang KKNmu kok tinggal satu tas, bukannya kemarin ada 2 tas?” Tanya Arum, menunjuk tas ransel


berukuran besar di pojok pintu kamar.


“Ndak jadi bawa banyak-banyak, repot. Lagian KKN ku dipindah ke kudus kok,” jawab Aisyah sambil memakai mukenah.


“Beruntung kamu ditempatkan di kota kudus,” ucap Zaira


"Beruntung kenapa?"