HABIBI QOLBI

HABIBI QOLBI
Bab 7 Gus Hafiz



Kalau kau punya keinginan


namun keinginan itu tak mampu membangunkanmu sholat malam


berarti itu hanya angan-angan.


***


Hafiz POV


Waktu menunjukan pukul 03.00 Wib. Gus Hafiz masih berkutat di layar laptopnya. Sembari beberapa kali membuka


lembaran buku tebal di sampingnya. Ia mungkin lupa kalau ini sudah pagi, bahkan secangkir kopi sudah habis saat ia mau menyeruputnya.  Rahman, Nurdin, Rosyid, Kholis teman sekamarnya sudah lelap tertidur. Dengkuran rosyid menjadi nada indah menemani Gus Hafiz dengan setumpuk pekerjaanya.


“Belum selesai ngerjain tesisnya, kang?” tanya Nurdin dengan nada masih mengantuk.


“Bukan tesis Kang. Aku mengganggu tidurmu, kang?”


“Pagi ini jadwalku adzan subuh, “ Kang Nurdin bangkit dan menyambar kopyah di atas lemarinya. “Masya Allah,kang  Hafiz sedang mengkaji kitab kuning?” ucap Kang Nurdin melihat tumpukan kitab –kitab di samping Gus Hafiz.


“Ini hanya beberapa  kumpulan hadist sahih yang diambil dari Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, At-tirmizi,sunan An-Nasai, Sunan Ibnu Najah, serta beberapa hadist shahih yang sudah ada  di Riyadhus Shalihin,  tapi aku ambil khusus yang membahas Ahli Sunnah Wal Jamaah (Aswaja),” jelas gus Hafiz


“Seperti kitab karya K.H. Ali Maksum  juga membahas Aswaja, sayangnya,  kitabnya kurang tebal gus, padahal isinya mantap,”


“Yah kurang lebih seperti itu,  bergegaslah ke masjid sebentar lagi subuh,”


“Iya kang,  aku pergi ke masjid, nanti keburu keduluan pak Kyai, hehe..” Labib meninggalkan kamar.


***


            Suara Kang Nurdin mengalun indah memanggil asma Allah menggema dilangit Jogja. Menyeru kalimat tauhid mengagungkan kebesaran-Nya. Hai, kaum yang merasa diciptakan oleh Allah bangkitlah dari tidur nyamanmu, ucapkan bissmillah saat setan membisikkan rayuan tidur indah. Karena sesungguhnya ketika seseorang akan bangun untuk sholat setan mengikat 3 tali ke manusia. Tali pertama akan putus saat membuka mata maka dianjurkan untuk membaca doa setelah tidur , tali kedua putus ketika disiram oleh percikan wudhu, Tatkala melakukan sholat subuh setan menangis karena tali yang ia ikatkan kalah.   Iman telah Allah Ta’ala letakan dan keyakinan pada setiap lubuk hati hamba-Nya yang beriman dan berislam. Namun mampukah cahaya iman dan


keyakinannya itu menyinari setiap anggota badanya sehingga membawa semua yang ada pada dirinya untuk diajak bersimpuh, bersembah sujud, dan mentauhidkan Allah Ta’ala. Iman itu telah menelusuk setiap aliran darah, menggetarkan jiwa setiap nama-Nya disebut. Ia bersimpu khusyuk dalam doa yang diucapkan sang imam. Bahkan setetes butiran bening, jatuh sebagai saksi dalamnya ia berharap.


         Dialah hamba-Mu, Ya Allah, yang engkau karuniakan ketampanan padanya, tapi tak ada kesombongan yang ia tampakkan. Dialah hamba-Mu, ya Rabb, yang Engkau karuniakan nasab  dan ilmu yang lebih, namun ia tak tamak dan berpaling dari keanggungan-Mu. Gus Hafiz, apa yang bisa melukiskan wajah dan indahnya akhlakmu


bila siapa saja yang melihatmu tertunduk malu.  Putri malu pun akan kuncup tatkala kau melewatinya. Sungguh beruntung siapa pun kelak yang akan mendampingmu, biarkan takdir Allah yang berbicara.


“Kang, jangan lupa nanti jam 9 ke ndalem pak kyai,” Ucap rosyid mendekati Gus Hafiz yang sedang duduk di depan serambi masjid.


            “Ada acara apa di ndalem Syid?”


            “Astaghfirullah, aku kok bisa lupa haul pak Kiai sendiri,”


            “Gus, sudah kasih undangan ke komplek putri?”


            “Kenapa harus aku, kamu kan sering lewat depan komplek putri titipkan saja sama calonmu,”


            “Calonku?” Rosyid menatap Gus Hafiz bingung.


            “Iya, Azizah Nur Aini, gadis berkerudung putih,”  ucap Gus Hafiz tersenyum.


            “Darimana kang hafiz tau aku suka Azizah?” Rosyid masih menatap bingung..


            “Dari mana lagi kalau bukan dari secarik surat berwana biru muda, ‘Untukmu calon makmumku, dan bidadari hidupku’ ”Ucap Gus Hafiz sembari tertawa menunjukan  penggalan surat rosyid.


            “Lho kok suratnya ada di sampean, kang?”


            “Makanya di masjid itu tempatnya berzikir, bukan malah bikin surat cinta,”


            “Yah kan biar cepat diijabah sama Allah,” Rosyid mengernyitkan gigi gingsulnya.


“Eaalah gak gitu juga kali Syid, sampaikan perasaanmu melalui jalan yang benar.  Sampai kapan kamu nulis surat tapi enggak dikasih sama orangnya yo percuma,” Gus Hafiz menggeleng-gelengkan kepala. Sahabatnya ini memang sudah lama menyimpan perasaan kepada lurah (ketua pondok) putri. Ia tuliskan rasa rindu dan kekagumanya melalui surat yang kemudian ia simpan. Entah sudah  berapa surat yang ia buat.


“Belum waktunya Kang, hafalanku belum selesai” ucap Rosyid dengan nada sedih.


    “Syid, menghafalkan Kitab Allah itu tidak mudah, ada cobaanya. Salah satunya adalah wanita,”


    “Iya kang, pak Kiai pernah ngendika seperti itu juga,”


“Terus gimana nasib ning Zizah? ,”


“Yang benar gimana nasib cinta dalam hatiku ini kang, ning Zizah mah banyak yang naksir,”  rosyid duduk dihalaman masjid, menyender ditiang penyangga masjid.


“Cantik, lurah pondok pula, aku juga mau,Syid,”  Hafidz menepuk pundak Rosyid


“Jangan gitu kang, kalah telak kalau harus bersaing dengan sampean,” Rosyid menunduk menatap secarik surat di genggamanya.


“ojo nyerah ngono tho kang,..  kalau sudah jodoh insya Allah diberi jalan”


“nggeh Gus...”