
Aisyah tidak percaya garis takdir. Apalagi sebuah kebetulan. Takdir dan kebetulan adalah alasan semata untuk mengelak dari keadaan. Namun, diantara keduanya selalu meninggalkan percik-percik rasa yang tertinggal. Begitulah dengan awal perkenalan Aisyah dengan dia. kebetulan atau takdirkah? entahlah..Aisyah terus menatap lekat ponsel ditanganku. Sembari jemari menggeser ponsel touchsreen keluar terbaru. Ah, seperti biasanya, kabar berita di beranda FB-nya penuh dengan status teman-temannya yang super alay. Si-Tika bikin status galau gara-gara cowoknya tidak memberi kabar, katanya tanpa kabar dari sang kekasih dunia ini terasa sepi. Kalau yang
baca anak kecil sih mungkin percaya kayak gituan. Tapi NO bagi Ais. Jelas saja pacarnya tidak memberi kabar, kalau setiap hari mereka selalu pulang pergi bareng. Sekolahnya sama, rumahnya berdekatan. Apanya yang harus dikasih kabar? Tambah alay lagi, teman Ais yang satu ini, sebut saja dia Raya. Status FBnya penuh dengan ungkapan kata-kata mutiara.Cinta adalah kesucian, bak mutiara yang berkilau Indah dan mahal, bersembunyi didalam karang dan tak mudah untuk memilikinya. “So sweet’ mungkin itu yang orang lain ucapkan saat membaca status Raya. Bagaikan dibawa terbang oleh bidadari, ditaburi bunga-bunga mawar. Aih… Gak banget!!. wanita yang terjebak dengan rayuan kata-kata itu berarti dia Kurang Waras!. Terlalu banyak nonton drama romance jadi ikutan melo. Menganggap hidup ini akan selalu berakhir dengan happy ending. Memang nggak salah kalau Aisyah julukin Raya dengan Ratu PHP. Gadis yang ngakunya cantik itu, sudah banyak menghasilkan korban dari gombalanya. Status di FBnya mampu menyulap ribuan followers jatuh cinta padanya. Bahkan sekarang ia disebut Ratu Cinta. karena banyak memberikan solusi tentang permasalahan cinta.
Tapi sayanganya, Raya hanya mampu menggombal dalam dunia maya saja. Dalam nyatanya dia belum pernah pacaran apalagi jatuh cinta. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan kaca mata tebalnya di perpustakaan. Entahlah, kadang Aisyah heran dari mana dia menguasai dunia percintaan sedangkan dirinya saja belum pernah merasakanya. Teknologi informasi sekarang semakin pesat. Jauh jadi dekat. Jarak hanya hiasan. Mata bisa saling menatap setiap saat. Tua- muda, saling unjuk gigi dalam dunia maya. Berbanggalah kepada pasangan kekasih yang sedang LDR, karena berkat sosmed, kerinduan mampu terendam olehnya. Tapi tidak bagi Aisyah, ada tidaknya sosmed tak berperangaruh dalam hidupnya. Aisyah hanya sebagai pemeran pasif yang mampu melihat kebahagiaan atau kesedihan orang lain.
Sudah hampir 7 tahun Aisyah mengenal dunia sosmed, dari facebook, twitter, BBM dan semacamnya. Hidupnya sama saja. Malah tambah parah. Jujur saja Aisyah paling benci sama Facebook, karena baru awal Aisyah bikin akun FB, hal yang Aisyah ketahui disaat itu adalah, Aisyah baru mengerti bahwa kekasihnya jatuh cinta dengan temannya sendiri. Dan berkat FB pula, kisah cinta selama 9 bulan berakhir dengan kata ‘Putus’. Nyesek
banget kalau ingat itu semua, kepercayaan yang Aisyah bangun setiap detik secara perlahan. Rasa rindu yang menguak Aisyah redam. Rasa khawatir bercampur curiga selalu Aisyah sisihkan atas nama cinta. Namun semua itu sirna, setelah membaca percakapan pacarnya dengan sahabatnya sendiri yang begitu mesra.
“Pandang aja terus tuh ponsel?” Suara arum mengagetkanya.
“Bisa ndak sih nggak usah bikin orang kaget,”
“Abisnya kamu mandang ponsel kayak mau dimakan aja. lihat tuh, sudah jam berapa?” Arum menunjuk ke arah jam
dinding.
“Ya ampun aku telat nih…” Aisyah bergegas memasukan ponselnya ke tas dan mengambil helm diatas meja.
“Jangan lupa nanti ada jadwal ngaji jam tiga sore. Awas loh, kalau keluyuran lagi,”
“Ahh.. tenang aja. kali ini aku nggak bakalan bikin teman sekamarku dapat hukuman lagi deh, Assalamualaikum” Aisyah berlalu pergi. beberapa detik kemudian terdengar suara motornya sudah berlalu meninggal pesantren.
Hampir menginjak satu tahun, gadis berkulit sawo itu tinggal di pesantren. Keputusannya untuk menjadi santri di pesantren Mutaa’llimin, terbesit setelah ia menjalani hidup di Yogyakarta selama dua tahun. Kejenuhannya hidup di kontrakan yang serba bebas membuatnya ingin menghirup udara dan suasana yang berbeda.
***
Tika dan Raya telah menunggunya di taman batu. Setelah Aisyah memakirkan motornya ia menuju ke arah kedua
sahabatnya yang melambai-melambai kearahnya. Arlojinya menunjukan pukul 06.45 masih tersisa waktu lima belas menit untuk bersantai menghirup udara kampus. Sebelum jam pelajaran di mulai jam 7.
“Mending banget kamu agak siangan?”
“Itu semua gara-gara kamu,” tekan Aisyah kewajah Raya
“Why, kok aku?”
“Iyahlah, gara-gara lihat koment
kamu di Fb, bikin aku muak aja,” sindir Aisyah mengeluarkan buku dari tasnya
“Hahaha… Kalian tahu nggak? sekarangfollower aku nambah lagi. Mungkin ini gara-gara ratu cinta melayani dengan baik kliennya,” Ucap Raya sembari membenarkan kaca matanya.
“ceilah…bahasanya pake klien segala. Menurut aku, itu karena semakin banyak orang yang depresi. jadi larinya ke kamu deh,”
“Enak aja. Emangnya aku ini rumah sakit jiwa.” Aisyah tersenyum tipis.
Beberapa menit, percakapan mereka jadi hening. Aisyah yang memfokuskan matanya pada buku yang ia baca. Raya yang sedari tadi pula mengotak-atik laptopnya. Mereka hanyut dalam suasana keheningan. Udara yang segar membuat Aisyah nyaman, setiap kali membaca buku di tempat ini. Semua itu wajar saja, karena tempat ini yang terkenal dengan sebutan taman batu adalah tempat santai yang di sediakan oleh pihak universitas untuk mahasiswanya. Disebut taman batu, karena tepat duduk dan mejanya terbuat dari batu-bata semen. Aling-aling dari seng membuat cahaya matahari tak gampang masuk. Ada beberapa taman batu di area kampus. Tepatnya setiap fakultas selalu ada. Tapi yang paling nyaman dan teduh itu diarea danau, pojok kampus. Disanalah tempat mahasiswa pada nongkorong atau setidaknya mengerjakan tugas.
Raya menyenggol kaki Aisyah. Sontak Aisyah terperanjat. Raya mengelihkan lirikanya kepada Tika memberikan isyarat kepada Aisyah. Mereka menatap wajah Tika yang terus menatap layar ponselnya. Mukanya
“Ada yang salah dengan layar ponselmu?”
Tika terdiam.Bahkan terlihat ia seperti tak mendengar pertanyaan Ais.
“Ray, Kayaknya tadi aku lihat Rizal deh,”
“Kamu lihat dimana? lagi sama siapa? kok dia nggak ngabarin aku sih,” cerocos Tika
“Oh, jadi kamu lagi nunggu kabar dari ayang Rizal, nih,” ledek tika
“Aku sih nggak kaget. memasang muka lemas, kayak mayat hidup siapa lagi kalau bukan gara-gara Rizal. palingan dia selingkuh lagi tuh, iya nggak Ray,?”
“Betul banget!. aku kalau jadi Rizal, pasti sudah cari cewek yang lain. Jenuh dong setiap kali mau kemana-mana harus izin dulu sama pacar. Itu pacar apa nyokapnya,”
Aisyah mangut-mangut. Sependapat dengan ucapan Raya. Ekspresi Tika menyunggingkan bibirnya kedepan. Mereka sengaja menggoda Tika. Apalagi melihat ekspresi Tika saat ini, rasanya mereka puas banget. Sifat Tika yang posesif terhadap pacaranya memang senjata paling ampuh untuk menggodanya. Bagi Tika, Rizal adalah segala-segalanya. Waktu Rizal juga waktu Tika. Apa yang dilakukanya, apa yang dipikiranya, Tika selalu ingin tahu. Ia tak ingin melewatkan sedetikpun untuk tidak mengetahui kegiatan Rizal. Sekarang, ia dibingungkan dengan ucapan kedua sahabatnya. Apakah benar sikap tika terlalu posesif? dan jika benar mungkinkah Rizal akan berpaling mencari gadis yang lebih membuatnya nyaman. Tika tidak bisa membayangkan jika Rizal akan
memutuskanya. Mungkin hidup Tika akan redup atau bahkan gelap. Cahaya yang membuatnya hidup meninggalnya dalam kesunyian. Tika menggeleng-gelengkan kepalanya. Bayangan yang tidak ingin dibayangkanya.
“Ais, Ray, memangnya sikap aku ini posesif sama Rizal ?”
“Banget malah!!!” jawab serentak.
“Kenapa, kamu baru nyadar?” sahut Raya
Tika menngangguk. “Terus aku harus gimana dong? ini sudah menjadi kebiasaan aku. waktu Rizal adalah waktu aku juga”
“Kalau masalah itu, tanya tuh sama ahlinya,” lirik Aisyah kepada Raya.
“Begini yah, sahabat aku yang baik. Tanya kabar tentang dia nggak apa-apa. Tapi jangan kebangetan. Setiap detik,
menit selalu tanya dia lagi apa, sama siapa, sudah ini itu belum. Cowok itu suka di perhatiin tapi yang wajar-wajar saja. jangan sampai perhatianmu mengganggu kebebasannya,” Raya mulai mengoceh
“Tapi Rizal nggak pernah keberatan tuh, kalau aku menghubunginya setiap saat?”
“Tika sayang, masa ada pacar yang mengakui dirinya terganggu sama ceweknya sendiri. Tentunya kita yang harus lebih peka. Begini yah Tik, rasa cinta ataupun sayang pada saatnya akan menemui titik jenuhnya. Baik sekarang atau nanti. Semua itu tergantung pada kita yang mengolah rasa cinta itu, agar dia tetap nyaman dan tumbuh bersemi di hati,”
Aisyah berdecak kagum dengan uraian kata Raya. Benar-benar tidak diragukan lagi kalau sahabatnya itu
terkenal sebagai Ratu Cinta. Ia bisa menjelaskan dengan kalimat yang sederhana mungkin agar Tika mampu menyerapnya. Tutur kata Raya juga menunjukan dia seperti berpengalaman. dipandang-pandang kedua sahabatnya itu, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Raya yang terlihat seperti cewek kutu buku, justru ia tahu perihal tentang cinta dengan kedewasaanya. Sedangkan Tika yang super modis, layaknya model yang cerdas, malah ia yang sedikit lola dalam urusan seperti ini. Mengolah rasa cinta memang sulit adanya. Curiga , kangen dann kekhawatiran akan sang pacar kerap kali menjadi belenggu di dalam hati. Ditambah pula, ketika sang kekasih memiliki kelebihan yang mampu menyedot perhatian, tak salah jika sebagai pacar posesif dibenarkan. Namun, bukan berati kecurigaan itu lebih besar dari rasa kepercayaan. Ketampanan, mapan, dan kedudukannya sebagai presiden kampus adalah kelebihan yang luar biasa. Siapa saja pasti ingin memiliki kekasih seperti Rizal. Good Tallent begitulah istilahnya.
Aisyah dapat merasakan rasa kekhawatiran Tika. Cewek yang sederhana dengan segela kekurangan dapat dicintai
oleh orang yang banyak kelebihan. mungkin seperti mendapatkan jackpot. Dilain sisi Tika ingin mempertahankan cintanya. Dilain sisi pula, ia takut kebebasan yang akan ia berikan nantinya, akan memberi dampak renggangnya hubungan mereka. Tak ada jalan, selain bersabar dan menyadari realita yang ada.
Ponsel Aisyah bergetar. Satu message muncul dilayar depanya. Ia buka pesan yang telah mengganggunya menikmati tausyiah cinta dari ratu cinta. Tak berselang lama, Aisyah menghela napas. dan memasukan kembali buku-bukunya kedalam tas.
“Kamu mau kemana,Ais?” ucap Raya mengetahui Aisyah yang terlihat terburu-buru.