HABIBI QOLBI

HABIBI QOLBI
BAB 4 Mungkinkah Kau, Yusuf masa kini?



Suara gema lantunan Ayat suci Al-Quran menyinari langit sore jogja.   Nada yang teratur, serta ketukan yang pas, memerindah suara. Semua santriwati duduk membentuk huruf U, dengan tatapan masih terpaku pada kitab Al-Quran yang dipangkuan mereka.  dibagian depan terlihat sosok seorang lelaki yang memakai baju koko dibalut dengan sarung khas santri.  Lelaki itu, beberapa kali mememberikan intruksi kepada santriwati untuk mengulang kembali bacaan mereka.


“Bacaan Idgham Bighunnahnya kurang dengung, coba ulangi dari awal,” Ucap ustad Hafiz.


Santriwati yang ditunjukpun mengangguk.


“Subhanallah, benar kata orang, ustad Hafiz, dilihat dari sisi manapun tetap cakep waelah,” kata Arum penuh kekagaguman.


“Jaga matamu, rum,  jangan sampai jadi Zina mata,” Zaira menegur.


“Astaghfirulllah, kamu benar sahabat. Tapi,


beginikah terpesonanya Zulaikha pada ketampanan Yusuf? ” bisik Arum pada Zaira.


“mana aku tahu, aku bukan Zulaikha,” Kata Zaira judes.


“Ah, kau ini…”  tatap Arum Sebal. Aisyah tersenyum, melihat tingkah kedua sahabatnya.


Siapa saja mungkin tak bisa mengelak dengan ketampanan Ustad Hafiz. Bukan hanya Arum, yang terbawa dalam keindahan makhluk ciptaan Tuhan itu. Lihat saja, santriwati yang lain pun, terdengar bisik-bisik akan kekagamumannya.  Bedanya, para santri lebih memilih menunduk untuk menekan rasa kagum kepada lawan jenis, dibandingkan ia harus menatap memuaskan mata. Walau hanya sekadar memandang, mereka tak berani.  Mereka takut, pandangannya nanti menimbulkan bentik-bintik Zina.


Kehadiran Ustad Hafiz, benar-benar membawa warna tersendiri di pesantren putri. Ini kali pertamanya, di  pesantren putri memiliki Ustad yang masih muda, tampan, dan sholeh. Walau ustad Hafiz hanya sebagai guru pengganti di pesantren, tapi sunggguh, kehadiran dan tausyiahnya selalu dinanti-nanti para santri.  Baru satu bulan yang lalu, ustad Hafiz mulai mengajar, menggantikan Gus Faiq, ustad Hafiz sudah menjadi idola baru di pesantren putri.


“Baiklah, mengajinya kita sudahi sampai ayat ini.  Untuk penutup, saya akan bercerita sedikit tentang salah satu ayat  di surah Ar-rum” kata Ustad Hafiz.


Seperti biasanya, setelah selesai mengaji, Ustad Hafiz akan memberikan tausyiah dengan


menerjemahkan kandungan ayat yang di baca.  Dibagian inilah yang ditunggu-tunggu santri.  Tausyiah Ustad Hafiz berbeda dengan ustad yang lain.  dalam Tausyiahnya, Ustad Hafiz lebih memberikan kesempatan kepada santriwati untuk berbicara, mengemukakan pendapat mereka.   Jadi lebih tepatnya bisa dibilang  diskusi. Ustad Hafiz lebih menjadi pemantik, sedangkan alur dari pembahasan tergantung pada setiap pandangan santri terhadap


masalah.  Metode ini lebih efektif, dibanding dengan ceramah satu jam non stop tanpa ada interaksi dengan audien.  Lebih membosankan, bikin ngantuk. Its not Good!!


“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang…” Ustad Hafiz membuka tausyiah.Ia menghela napas,


“Menurut hadis Nabi, man ahabba syai’an katsura dzikruhu, orang yang sedang jatuh cinta cenderung


selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya,. Dalam hadist lain  diebutkan pula; man


ahabba syai’an fa huwa `abduhu,  orang juga bisa diperbudak oleh cintanya.  Diciptakanya lelaki dan perempuan untuk saling merasakan kasih dan sayang, atau anak muda sekarang menyebutnya cinta.  Kehadiran cinta dapat membuat nista seseorang,  cinta  juga membuat mulia. Yang jadi masalahnya, cinta yang berbentuk seperti apa  yang memuliakan  atau menistakan kita?”


Duh, Gusti. Topik yang dipilih oleh Ustad Hafiz sungguh menggetarkan siapa saja yang mendengar. CINTA, kata sederhana dengan berjuta makna, bermiliyaran bentuk.  Bahkan untuk menafsirkan makna sesederhana itu, bukan hanya mulut yang berucap, tapi  akal dan hati terbawa terbang dalam keindahan maknanya. Adakah cinta yang menistakaan? bila yang menciptaknya saja penuh dengan kemuliaan? Adakah cinta yang menjerumuskan? bila sang pecipta-Nya selalu menunjukan kebenaran? Ah, cinta… Seperti apakah wujudmu, hingga mendengarnya saja siapapun akan terdiam dalam seribu makna.


Ustad Hafiz telah melontarkan pertanyaan, itu tanda waktunya santriwati mulai mengemukakan pendapatnya.  Santriwati kebanyakan menunduk. Entah, apa yang mereka pikirkan mendengar kalimat cinta disebut oleh ustad yang tampan. Apakah cinta seindah ketampanan ustad Hafiz?


“Kenapa kalian diam, bukankah setiap hari kita merasakan jatuh cinta? bukankah nantinya kalian akan menjadi seorang istri yang akan mencintainya suamimu? atau jangan-jangan kalian  ingin jomblo selamanya?”  canda ustad Hafiz.


“Mboten, gus” jawab santriwati serentak.


“Nah, disinggung masalah jomblo, baru mau bersuara. tadi diam semua,” ledek Ustad.


“Sekarang, siapa yang merasakan cinta, utarakan What is love versi santri?”


“Saya ustad”  ucap salah satu santri mengacungkan tangan


“Iya,silahkan”


“Cinta itu kertas putih.  Suci dan bersih.  adanya tinta hitam, di kertas adalah akibat dari penikmat cinta yang tak menjaganya”


“Keindahan cinta adalah pernikahan, kenistaan cinta ialah pacaran” jawab santri yang lain.


“Cinta ialah Kulfah, perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meskipun sulit,” sahut yang lain. Sungguh beragam mereka memandang cinta. Ustad Hafiz tak perlu menerangkan lebih jauh tentang cinta.


Pada dasarnya, mereka sudah dapat menafsirkan cinta dengan baik.  Dapat terlihat dari wajah para santri, yang


***


“Aisyah, bisakah aku berbicara denganmu sebentar?” tanya Ustad Hafiz. memberhentikan


langkah Aisyah dengan sahabatnya.


“Maaf, ustad ada apa?” jawab Aisyah menunduk.  melihat ekspresi Ustad Hafiz yang serius. Zaira langsung paham agar memberikan mereka kesempatan berdua. mungkin saja Ustad Hafz risih untuk berbicara.


“Ah, iyah Ais,  aku lupa harus memebeli detergen  ditoko, benerkan rum? “Zaira mengedipkan mata ke Arum memberi kode.


“Ouh yah, kami  duluan yah,”   Arum dan zaira berlalu.


“Tapi…..”


Sia-sia. Aisyah tidak mampu menghalangi sahabatnya pergi.  Arum dan Zaira sudah  merencanakan untuk


meninggalkan dia  sendiri.  Dan lihatlah, Aisyah hanya mampu menunduk. Ia tak berani memandang lelaki yang di idam-idamkan para santri.


Wanita yang berdiri dihadapanya sekarang, adalah sosok yang selalu ia panjatkan dalam setiap doa. Entah mulai


saat kapan,  Aisyah berada dalam untaian doanya.  Mungkin satu bulan yang


lalu?  ustad Hafiz tak mampu menentukan kapan perasaan itu muncul.   Inilah yang


menarik dari cinta, datang dan pergi kapan saja, tanpa permisi.  Datangnya sederas air, dan perginya secepat angin.  Namun, ustad Hafiz tidak akan membiarkan cinta itu cepat pergi.   Dalam prinsipnya, ketika Tuhan telah menganugrah cinta padanya, tak akan ia biarkan ia berlalu.  Cinta yang ingin dia raih, tentunya dimana ada Jalan Tuhan yang meridhoinya.


Tidak perlu lama menyadari cinta.  Jika ia merasa lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain.  lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain.  lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemahuan orang lain atau diri sendiri. Tentu, semua itu adalah cinta.  Ustad Hafiz bukan lagi anak  ABG yang menyukai seseorang dengan mengajaknya jalan-jalan, makan, terus jadian.  Tak ada dibenaknya ingin memperlakukan orang yang ia cintai dengan mendekatkan ia ke neraka. Cukup dengan mengatakan aku ingin bertaaruf denganmu, itu sudah cukup melambangkan keseriusanya. Itu pula yang ia katakan  kepada Aisyah dua minggu yang lalu. Ditempat dan waktu yang sama. Masjid menjadi saksi, keseriusan Ustad  Hafiz ingin menjaga putihnya cinta dihatinya.


Dibawah sinar senja,  yang menerebos di sela-sela pohon.  Sinarnya memantul ke jendela, membiaskan kesilauan di  kerudung putih Aisyah. Wajahnya masih menunduk.  Kegugupan jelas terpancar dari raut wajahnya. Ia mencoba bersembunyi dari silau senja atau ia ingin menghindari kontak mata dengan lelaki di depanya. Entah apa yang dipikirannya.


“Apakah kamu sudah memiliki jawabannya?”


Akhirnya, kalimat itu terucap juga setelah lama keheningan menghampiri. Kalimat itu pula yang tidak ingin Aisyah dengar.  Hari ini ia melupakan, bahwa ia harus memberikan jawaban.  Ini bukan masalah menjawab-jawaban pada saat ujian, yang mudah di pelajari dalam buku. bukan.  Bukan pula, sebuah teka-teki silang, yang biasa ia jawab dengan sempurna.  Bertaaruf? adalah kalimat asing yang belum pernah ia dengar sebelumnya.  Apalagi jika yang


mengucapkan adalah seorang lelaki yang tau penuh makna taaruf sesungguhnya.   Nah, sekarang apa yang harus Aisyah lakukan?  menghindari Ustad Hafiz seperti yang ia lakukan minggu lalu, atau ia harus mencari alibi lain?


“Maaf, Ais. aku tak ingin menyudutkanmu atau  memaksamu untuk menjawabnya sekarang, tapi setidaknya kamu tahu bahwa  perkataanku bukan main-main,” Ucap Ustad Hafiz sungguh-sungguh.Semakin terpaku Aisyah dalam kebingungan. Lelaki di depanya sudah menangkap jelas apa yang dipikirnya.


“Tadi Ustad Hafiz, berdiskusi tentang cinta, bukan?”  tutur Aisyah , “Apa makna cinta menurut  Ustad Hafiz?”  tanya Aisyah.


Ustad Hafiz menghela napas.  Ia memperbaiki kopyah menatap lurus kearah sinar senja.


“Jika kau bertanya makna cinta bagiku,   cinta itu seperti Zulaikha menyukai Yusuf.   Zulaikha tak mendapatkan cinta Yusuf ketika ia berambisi kepadanya, namun cinta mendekatkanya ketika ia mendekati pemilik cinta sesungguhnya. Begitupun denganku, aku selalu  membawa


namamu dalam untaian doaku,”


Duh, Gusti mana mungkin aku berbicara kepada lelaki yang begitu sempurna di depanku ini, kalau aku tak


memiliki perasaan terhadapnya? jangankan memiliki perasaan, memikirkan akan ajakan taarufnya saja, aku lupa.  Pantaskah aku menerima cinta sesuci hatinya? Allah,bukankah setiap malam kau mendengar rintihan doanya, mengapa kau tak katatakan padanya bahwa aku bukan jodoh terbaiknya.   Di pesantren ini, banyak  yang  lebih baik dariku, kenapa harus aku yang dipilihnya?. Duh, Ustad Hafiz, pujuaan para santri, tahukah dirimu sedari tadi aku diam, bukan karena aku tak mempercayai keseriusanmu, melainkan bibir ini sangat takut, apa yang akan aku ucapkan melukai hatimu yang suci.  batin Aisyah bagai tertimpa beban berat.


Jika santri lain akan bersorak dan ditaburi bunga dalam hatinya, mendengar ucapan Ustad tampan.  Lain halnya dengan Aisyah. ia merasa seperti ada beban berat dalam batinya.  Kaget dan tak percaya kata taaruf terucap dalam bibir manis ustad hafiz idola para santri.   Untung saja, yang tahu perihal lamaran ustad Hafiz hanya teman sekamarnya, jika para santri tahu, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.  Makanya, sebelum perasaan ustad Hafiz larut dalam harapan dan sebelum ada gossip yang menyebar lebih baik  menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang ia rasakan.


“Ustad benar, kisah cinta mereka begitu indah.   Jika cinta Yusuf pada Zulaikha sama dengan rasa yang Ustad Hafiz rasakan kepadaku, sungguh beruntungnya aku. Tapi… maafkan Ais, Aku bukan Zulaikha untuk Ustad,  aku tak pantas berada dalam  setiap doa Ustad Hafiz,”


“Tapi Ais….”


“…Ustad, bukankah ustad sudah tahu akan  jawabanku. aku belum siap untukberbicara tentang pernikahan,” sela Aisyah. “Entah apa yang membuat ustad hafiz menyukaiku, tapi aku yakin rasa itu akan cepat pergi, angin akan


membawa cinta yang baru untuk Ustad,  yang melebihi aku,” Aisyah berlalu pergi. Ia meninggalkan Ustad Hafiz yang terpaku  tak percaya dengan ucapanya.