
“Ais, kayaknya kamu belum menceritakan sama kita, gimana hasil nontonmu kemarin?” celethuk Zaira menutup bukunya
“Ah, kau benar Za, biasanya belum nonton aja, Aisyah udah bisa memprediksi siapa yang menang,” Arum menatap Aisyah yang duduk disampingnya.
“kirain aku kalian udah bosen dengar coletahanku tentang badminton,” Zaira
dan Arum menggeleng. “Mau aku ceritakan ,nih?” mereka mengangguk. Aisyah memperbaiki posisi duduknya.
“Pertandingan badminton kemarin sangat seru. Seperempat tribun gor Amongrogo terisi penuh penonton. Padahal itu masih perempat final. Walaupun pertandingan ini berskala nasional, tapi banyak juga pemain dari luar negri yang ikut tanding,”
“Apa disana ada Hendra Setiawan juga, Ais?”
“Nggak ada Za. Kalau Hendra itu sudah masuk Platnas. Kalau pertandingan ini, kebanyakan yang main dari tim asuhan Djarum, Jayaraya Jakarta dan banyak lagi. Tapi, aku salut banget, permainan mereka keren. Apalagi pemain dari Djarum, mereka sudah mempunyai skill yang mumpuni. Aku yakin satu tahun kedepan pasti mereka masuk tim Platnas.”
“Kalau pemain asuhan dari Djarum, jangan ditanya lagi. Memang aku nggak tahu banyak tentang dunia badminton, tapi pemain keluaran djarum kayak Hendra, Ahsan, markis Kido, semuanya jadi juara dunia,” Ujar Arum
“Wahh.. Kamu kok tahu banyak pemain badminton, Rum?” Ucap heran Zaira Arum tersenyum. “ya iyalah, bukan hanya Aisyah saja yang ngefans sama badminton, tapi keluargaku juga, Ahh.. jangan pedulikan ucapanku, lanjutkan ceritamu Ais,”
“Apanya yang harus dilanjutkan? kalau membahas jalanya pertandingan, sampai malem juga enggak bakalan selesai, intinya aku senang banget, bisa nonton badminton kemarin”
Aisyah tak mampu lagi, menggambarkan ekspresi kegembiraanya karena bisa nonton pertandingan badminton. Hobinya bermain badminton sudah mendarah daging dari kecil. Pernah terbesit dalam pikiranya menjadi seorang atlit. Sayangnya, cita-cita itu pupus setelah ia menyadari bahwa tubuhnya tak mendukung cita-citanya. Tubuh Aisyah yang kurus dan pendek, membuat ia harus mengubur cita-citanya itu. Mengingat masa lalu, hanya bisa membuka luka lama. Bagi Aisyah, walaupun ia tidak bisa menjadi seorang atlit, tapi tak menyurutkanya menyukai badminton. I like badminton!
“Ais,apa kamu enggak kepikiran jadian sama seorang atlit?” cetus Arum
“Emangnya kenapa?ada yang salah? aku yakin pasti kamu bukan hanya sekadar nonton badminton, tapi lirik-lirik juga sama pemainya, iya kan?” goda Arum menyikut Aisyah.
“Bisa jadi tuh, ngaku aja deh Ais….pasti kemarin kamu juga cari cem-ceman juga kan?” ledek
Zaira menaikan kedua alisnya.
“Ah, kalian berdua ini, ada-ada aja.Saat ini, bukan waktunya untuk mikirin pacar. Kaliankan tahu, kita enggak mengenal istilah pacaran,hehehe…” tawa kecil Aisyah
“Tapi itu enggak berlaku untuk ustad Hafiz kan?” kata Zaira menenkankan pada kalimat terakhir.
“Loh, kok ustad Hafis sih, emang apa hubungannya dengan beliau?” Aisyah memanyunkan bibirnya.
“Hubungannya akan terjawab sore ini, ayoo… kita sudah telat!” Arum berdiri, berlalu pergi.
“Maksudnya?” Aisyah bingung
“Ah, dasar kau Ais, lolanya kumat lagi,” Zaira menepuk bahu Aisyah, dan menyusul Arum.
Sungguh menyebalkan mereka berdua. Mengucapkan sesuatu tanpa diteruskan maksudnya. Bikin penasaran saja. Kenapa pula, ustad Hafis masuk dalam percakapan tadi. Ah, sudahlah…
***