HABIBI QOLBI

HABIBI QOLBI
BAB 5 Aku dan Masa Laluku



“Rum,apa yang kamu rasakan kalau kamu dilamar oleh lelaki seperti Ustad Hafiz?”  tanya Zaira yang sedang berbaring disampingnya.


“Perasaanku? jangan ditanya lagi,   pastinya seneng bangetlah. mungkin hanya cewek bodoh aja yang menolak Ustad Hafiz. udah tampan, akhlaknya baik, kalau orang jawa bilang; bibit, bebet bobotnya jelas,” Balas Arum sambil melirik ke temanya yang sedari tadi fokus menatap bukunya di meja.


“Wanita bodoh? benar juga,sih”


            “Sudahlah, kalian jangan nyindir aku terus. Iyah, aku memang bodoh. Kalian puas?! Nyesel tadi aku cerita ” kata Aisyah sebal mendengar sindiran dari kedua sahabatnya.


“Akhirnya sadar juga kamu, Ais.  lebih baik kamu minta maaf sama Ustad Hafiz dan akui kekhilafanmu telah menolaknya”


“Aku Enggak mau!” jawab Aisyah enteng.


“Terus?”


“Tanpa kalian minta aku pasti akan meminta maaf  lagi sama Ustad Hafiz.  Namun bukan berarti aku menarik perkataanku,  I never think of it.  cinta tak bisa dipaksakan bukan? “


Arum dan Zaira mengangguk. “Terserah kamu aja, Ais.  kami hanya takut nantinya kamu menyesal, apa kamu tahu Ais, kalau sebenarnya ustad Hafiz adalah seorang Gus?” (gus panggilan untuk anak pak kyai).


“Gus?” tanya Aisyah menyakinkan apa yang didengarnya itu benar.


“Iya, ternyata Gus Hafiz putra  pak Kyai Masduqi pesantren Lasem,”


“Aku dengar juga gitu, kang-kang santri pada bilang Gus Hafiz itu putra terakhir Pak Kyai Masduqi,” lanjut Arum.


“Tapi kenapa beliau tidak pernah cerita?” tanya Aisyah heran.


“Emang kamu iku sopo Ais, apanya Gus Hafiz sampai kamu harus tahu?”  Seperti ada sebuah jarum yang menusuk dihati Aisyah mendengar sindiran Arum.


“Itulah kenapa kita memintamu berpikir ribuan kali menolak Gus Hafiz, beliau bukan hanya  menguasai teori ilmunya yang luar biasa, akhlaknya sejalan dengan ilmunya. Rendah hati. Di pesantren ini bahkan beliau


tak memamerkan kalau gus hafiz seorang putra pak kyai. Kamu tahu bukan, pesantren Lasem itu bukan pesantren kecil. Ribuan muridnya dan banyak santri keluaran pesantren Lasem menjadi ulama-ulama besar” suasana hening mendengar penjelasan Arum.


“Asal kamu tahu Ais, mudah saja Gus Hafiz menemukan seorang wanita yang berkali-kali lipat lebih baik dibanding kamu, Ustadzah Nurul contohnya, tapi... beliau memilih kamu itu tandanya ada sesuatu yang


Allah tunjukan kepada Gus Hafiz tentang kamu, yang tidak dimiliki wanita lain,” tambah Zaira.


“Ah, sudahlah kalian ini berlebihan. Kalian tenang saja, Insya Allah aku tidak menyesal dengan keputusanku,” ucap Aisyah tersenyum


“Beneran?” tanya Zaira memastikan


“Terserah kalian saja kalau enggak percaya.  Udahlah jangan dibahas lagi, aku mau belajar, besok ulangan,”


Entah kenapa rasanya Aisyah enggan sekali membahas kejadian sore tadi. Mengingat ucapanya yang menolak lamaran ustad Hafiz membuatnya serba salah. Walau matanya fokus pada  buku ia pegang, namun entah pikirannya melayang menjelajahi kabut hitam. Apakah itu rasa penyesalan lantaran menolak ustad Hafiz, atau memang ia merasa bersalah. Entahlah, yang pasti saat ini keputusanya sudah bulat untuk menolak Ustad Hafiz.


Ustad Hafiz...Ehh, maksudku Gus Hafiz.... begitu banyak pertanyaan melayang dipikiranku. Bukan karena kau seorang putra pak Kyai, melainkan tentang ajakan taarufmu. Benar kata Arum, Aku iki sopo?  membayangkanmu saja tak berhak apalagi menerima ajakanmu itu.


Kamu mau menjadikanku bu Nyai? Aku bukan cinderella,Gus..


Dan tidak ada kisah cinderella di pesantren, Gus...


(22 februari 2017 diary


Aisyah)


***


Aisyah sudah berdiri di bibir pintu. Ia ragu untuk mengetuk pintu. Setelah ia diberi tahu Arum kalau Ustadzah Nurul ingin bertemu denganya, ada tanya besar menggelut fikiranya. Tak biasanya Ustadzah Nurul memanggilnya, apalagi pagi-pagi seperti ini. Apakah ini berkaitan dengan lamaran Ustadzh Hafiz? Mungkinkah keluarga Pak Kyai tahu, kalau Ustad Hafiz melamarku? Kalau  itu benar, penjelasan apa yang mampu ia berikan kepada Ustadzah Nurul.


Semua santri tahu, kalau ustadzah Nurul menyukai Ustadz Hafiz. Terlebih Ayah Ustadzh Nurul adalah pemilik pesantren ini. Minggu lalu, malah menyebar kabar kalau keluarga ustadzah Nurul sendiri  melamar  Ustadz Hafiz.  Mimpi apa kamu Ais, bersaing dengan anak pak Kyai?.


“Kenapa berdiri saja, ayo masuk,” Aisyah terkejut merasakan ada yang menepuk bahunya. Ia menengok, sudah ada Ustadzah Nurul yang tersenyum padanya.


“Silakan duduk, Ais!”  Ustadzah Nurul meletakan buku di meja, kemudian menghampiri Aisyah yang sedari tadi menunduk.


“Ais, bagaimana hafalanmu?”


“Alhamdulillah lancar, ustadzah,” ucap lirih Aisyah


“Saya dengar lusa kamu mulai KKN, kamu ditempatkan dimana?”


“Di daerah Banten, Insya Allah lusa saya sudah berangkat”


“Jauh juga Ais, kalau begitu jaga dirimu di kota orang. Walaupun kamu jauh dari pesantren, jangan pernah lupa ibadahmu, jaga terus hafanlamu,” Aisyah mengangguk. Ia melihat Ustadzah Nurul mengeluarkan kertas dan menyodorkanya pada Aisyah.


“Itu surat pengeluaran kamu dari pesantren,”


Apa? Surat pengeluaranya dari pesantren? Apakah ia tidak salah dengar. Aisyah dikeluarkan dari pesantren. Apa salahnya? Apakah dugaanya benar, kalau Ustadzah Nurul marah padanya karena ustadz Hafiz melamarnya.


Sungguh ini gila! Haruskah ia menerima keputusan Ustadzah Nurul, disaat ia nyaman dan mulai memperbaiki diri di pesantren. Bagi Aisyah pesntren adalah tempat yang mampu membuatnya jauh dari hal-hal negatif yang merajalela


“Ya ampun Ais, saya hanya bercanda. Lihat itu wajahmu sudah kayak mau mati saja,”  Ustadzah mengernyitkan bibirnya melihat Aisyah bak mayat hidup menatap kertas di depannya. “Itu  surat izinmu untuk KKN, jangan lupa diisi lengkap,”


“Assalamualaikum, Ustadzah sudah waktunya mengajar, sudah ditunggu di kelas,”  suara dari salah satu santri menghampiri ustadzah Nurul.


“Oh, baiklah. Saya akan segera kesana, “ Ucap Ustadzah Nurul kepada santri tadi. Ustadzah Nurul kembali mentap Aisyah yang masih berkutat dalam lamunanya.


“Ais, kamu isi surat ini, maaf saya tidak bisa menunggumu, saya harus mengajar. Kalau sudah selesai letakan saja di meja,” Ustadzah Nurul  meraih beberapa buku kemudian ia  pergi. Tak lupa ia menepuk pundak Aisyah berharap gadis itu sadar dari lamunanya.


Aisyah masih melongo.  Candaan Ustadzah Nurul benar-benar manjur membuat jantunganya serasa mau copot. Aisyah merasa berdosa, telah berpikir yang tidak-tidak pada Ustadzah Nurul. Bahkan pikiran negatifnya membuat ia menjadi bodoh dihadapan Ustadzah Nurul. Efek dari kekhawatiran yang berlebihan. Hingga ia tidak sadar kalau baru saja setan menghasutnya untuk suudzon. Santri macam apa dia yang berani suudzon pada gurunya? Semoga saja ia tidak kena kualat atas pikiran negatifnya.


***


Aisyah yang kau kenal bukanlah wanita yang sempurna layaknya tokoh utama dalam novel ayat-ayat cinta.  Putri pak Kyai,  putri presiden, atau putri pengusaha? Ia hanya seorang putri peternak ayam. Setiap hari membersihkan kotoran ayam, dan memeliharanya sampai siap dipanen. Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa. Tak


ada istimewa darinya. Aisyah putri bungsu dari dua bersaudara.  Namun, kakak perempuan yang kedua diambil oleh pemiliknya diusia 18 tahun, kala itu Aisyah masih duduk di bangku SMK. Jadilah dia sekarang, putri bungsu satu-satunya yang belum menikah. Kakak Perempuanya yang pertama sudah menikah dan ikut sang suami. Jangan bepikir Aisyah ini secantik sayyidah Aisyah istri Rasulullah, Aisyah adalah gadis


berbadan  kurus, pendek, hidung pesek, kulit sawo matang, tapi dia punya lesung pipit yng terlihat manis saat dia


tersenyum., perti temannya yang lain.


Rumahnya, sebatas kayu yang berdiri tegak. Orangtuanya belum bisa membangun rumah semi permanen seperti para tetangga. Maklum, berapa sih penghasilan seorang peternak? Bisa makan setiap hari saja sudah bersyukur.


Hidup dibawah Gunung Slamet membuat Aisyah tumbuh dengan alam sebagai temannya. Membantu kakeknya disawah rutinitas yang tak tertinggal setelah ia pulang sekolah. Tandur, megawe, mencari keong emas disawah, mungkin anak zaman now asing dengan istilah itu, tapi itulah kegiatannya. Aisyah tak mengenal yang


namanya gudget,  ia baru tahu pun gara-gara ia masuk SMK favorit di kabupaten.


Yah, selama sekolah dasar sampai SMP Aisyah masuk dalam tiga besar. Karena itulah sekolahnya gratis dan dia mendapatkan beasiswa melanjutkan SMK di kota. Dari SMK pula lah gadis bertubuh mungil itu mulai


hidup mandiri, sampai saat ini ia masuk semester 6  di  Universitas terkemuka di Yogyakarta. Semuanya beasiswa penuh.


AISYAH POV


Akan ada waktu dimana semuanya terasa hambar. Lelah  dan letih mengarungi kehidupan ini yang menuntut kekuatan. Siapa yang lemah maka mereka yang akan terinjak atau terhempas. Hidup terombang-ambing tak


jelas, prinsip yang sedari awal menjadi pegangan kuat, hilang entah kemana. Berada di titik puncak kejenuhan, begitulah yang aku rasakan sekarang. Dengan indah aku melukis alur kehidupanku, tak ada kata sedih, kegagalan ataupun air mata  didalamnya yang ada hanya kebahagiaan. Akan tetapi, bukan namanya Tuhan bila  Ia melepaskan hamba-Nya bebas dalam mengatur hidup. Semua yang terjadi dalam hidupku, penuh dengan kejutan.


Aisyah menyandarkan kepalanya di meja. Pelajaran aqidah akhlak telah usai, tapi perkataan Bu Nyai tadi membuka masa lalu yang telah ia kunci rapat.  Siapa aku? Wanita yang  sombong, angkuh, dan lupa kalau aku ini


manusia, yang hanya numpang ngombe di dunia ini.  Manusia yang penuh dengan keluh kesah, Allah


menghembuskan nafas pada gumpalan darah yang seiring waktu dengan kehendak-Nya,  dari jari-jari sampai


bentuk sempurna. Kadang aku berfikir, kenapa aku lahir dari keturunan  keluarga miskin


atau dengan bibit atau bobot yang tak sempurna? Aku dihadapkan pada dunia yang begitu banyak persaingan dimana yang mempunyai kelebihan atau kekuasaan pasti akan menang. Sedangkan aku dengan berjuta mimpi tapi tak mempunyai keterampilan atau kelebihan yang bisa menunjang mimpiku.


Aku, Aisyah yang pernah terjerumus dalam lembah hitam. Dengan indah aku melukis alur


kehidupanku, tak ada kata sedih, kegagalan ataupun air mata  didalamnya yang ada hanya kebahagiaan. Akan


tetapi, bukan namanya Tuhan bila  Ia melepaskan hamba-Nya bebas dalam mengatur hidup. Semua yang terjadi dalam hidupku, penuh dengan kejutan. Dari sekian list yang aku buat tentang masa depanku, tak ada yang tercapai. Kuliahku berantakan, aku dicampakan oleh orang yang aku sayangi. Bukan hanya itu, keluarga yang menjadi pedoman hidup, mengkhianatiku. Setiap hari aku harus mendengar tangisan ibu,  tatkala Ayah menamparnya, dan membawa wanita lain ke dalam rumah. Titik puncaknya, aku kehilangan untuk  mengenal siapa diriku dan siapa Tuhanku sebenarnya. Dan aku sadar, aku sedang diperlihatkan kekejaman dunia. Apalagi


setelah kakak meninggal,  semuanya terasa pahit.  Dipenghujung tahun 2016,  entah apa yang terjadi dalam diriku, malam itu hatiku diguncang dengan kegundahan, bimbang dan apa yang aku lakukan seperti tak nyata. Penyebabnya adalah mimpi kematian yang hadir dalam tidurku.  Kalau mimpinya sekali, mungkin aku menganggap itu mimpi buruk semata, namun bukankah aneh jika kita bermimpi dalam satu minggu dengan mimpi yang sama? makna apa dibalik sebuah mimpi?.


Mimpi pertama, disana tergambar jelas wajah ayahku yang sedang dibalut dengan kain kafan oleh para


tetangga.  Kapas putih menutupi hidungnya,  kedua matanya terkatup oleh kapas yang menutupi. Kain kafan membalut semua tubuh Ayah yang sangat aku cintai.  disana pula, aku melihat diriku sendiri yang


menangis, meronta-ronta melihat semuanya. Tak berselang lama,  keranda besi memasuki ruangan, para pelayat


memasukan Ayah ke keranda dan kemudian tertutupi oleh kain hijau bertuliskan huruf arab.


Sebelum keranda diangkat, aku  berteriak menyebut nama Ayah sekeras-kerasnya hingga semua pelayat memandang kerahku.  Aku  menghadang beberapa orang yang akan membawa jenazah Ayah keluar dari rumah. Ah, tidak itu bukan jenazah Ayahku!  Aku tidak akan membiarkan orang yang aku sayangi pergi begitu saja. Tidak mungkin ayahku meninggal. Ia masih sehat, kuat dan selalu bekerja keras untuk membiayaiku kuliah.  Bahkan Ayah sudah berjanji denganku, ia tidak akan mati sebelum aku bisa membawanya ketanah suci bersama ibu.  Apalagi Ayah belum melihatku mengenakan toga,  sangat tidak adil jika Tuhan membiarkan ia pergi.


Sungguh tuli atau memang mereka burpura-pura tuli, para pelayat tidak memperdulikan teriakan kemarahanku,


mereka memandangku sinis.  Keempat lelaki keduanya, aku bermimpi yang sama.  Bedanya mimpi ini membuka tabir masa laluku. Aku diperlihatkan detik-detik kakak meninggal. Aku seperti mayat hidup.


Melihat orang yang berlalu lalang seperti semu. Hati ini menangis keras,  terus mengronta-ronta tetapi tak ada sebutir  airmata pun yang menetes.   Nafas tak teratur, dada sesak. Apa yang aku alami semakin mendera berat, ketika suara ambulance menyingit di telinga. Kerumunan warga melingkari mobil jenazah yang berhenti di


halaman rumah. Pintu ambulance dibuka seorang perawat berpakaian serba putih


keluar membawa jenazah kakak. Terpampang jelas detik terakhir  kali aku mencium pipinya sebelum kain kafan


menutupi wajahnya. Disaat itupula, aku mengenang wajah pucat kakak dalam pingsanku.