
Jika sebuah kematian adalah traffic light berwarna merah, maka Allah sedangmenunjukanku lampu kuning, tandanya berhati-hati. Aku tidak tahu kapan aku mati, kapan Raqib Atib lelahmenulis catatan dosaku menumpuk. Namun, bayangan akan mimpi itu takseditkpun hilang dari ingatan. Berhari-hari aku memendam kegundahan, membuka masa lalu yang hanya banyak dosa.Aku baru sadar, kekuranganku yang begitu banyak menjadikan sebuah alasan dalam hidupku untuk menjauh dari perintah-Nya. Semenjak realita membungkam semua
cita-cita dan keinginanku, semenjak Kakak meninggal, rasanya kebencianku terhadap Tuhan yang menyudutkanku terus menerus menggerus keimananku kepada-Nya. Aku jarang sholat, jarang beramal, bahkan
Al-Qur’an mulai lapuk tak tersentuh. Andai kalian tahu, dulu aku selalu memborong piala dalam lomba tartil Al-Qur’an. Iqlab, Idgham Bighunnah , bisa disebut makanan keseharianku. Ditambah sekarang aku kuliah diluar kota, jauh dari orangtua, membuat keseharianku penuh berwarna dengan kegilaanku pada dunia shopping, main game dan sebagainya.
Sekarang pertanyaan itu muncul, Bagaimana jika aku mati masih dalam keadaan kotor? Sudikah Allah menerimaku? Apa yang mampu aku menjawab saat munkar dan nakir, bertanya “Siapa Tuhanmu?” mampukah tangan ini menjawabnya, sedangkan di dalam dunia aku sering lupa kepada Tuhan.”Siapa Nabimu?” sanggupkah aku mengucapkan nama Nabi Muhammad, manakala dalam kehidupanku sendiri, jarang sekali mengamalkan perintah beliau. Masih maukah baginda Rasul menerimaku masuk dalam golongan ahli surganya? sungguh, jangan pernah berharap menjadi kaum baginda Rasul jika dalam diriku saja masih membelenggu Kesombongan, keangkuhan, dan kebatilan.
Semuanya terjawab sudah, bahwa mimpi itu adalah peringatan dari Allah padaku. Aku tidak tahu apakah jika aku memperbaiki semuanya, Allah akan menerimaku atau tidak. Namun, jalan yang kuambil saat ini keliru. Aku ingin memperbaikinya sebelum lampu merah memberhentikan nafas ini didunia.
***
Papan nama persegi yang terbuat dari triplek terpampang di depan gedung tua bercat hijau. Kalimat bertuliskan ‘Pondok Pesantren Mutua’allimin’, menyapa kedatanganku. Pondok pesantren ini, adalah pilihanku mencari ilmu
agama. Letaknya yang berada di tengah kota Yogyakarta, serta tak jauh dari kampusku membuatku semakin yakin. Apalagi, Pondok Pesantren Mutua’allimin adalah salah satu pesantren dengan tokoh ulama yang terkenal akan
keilmuan dan keteladanya, sudah pasti santri disini mendapatkan pelajaran yang berkualitas.
Dengan mengucap bassmalah, kuyakinkan niat dan bertemu Bu Nyai Fatimah atau pemilik pesantren Komplek R (blok selatan). Kujelaskan maksud dan tujuanku menghadap beliau. Dengan tas ransel dan beberapa kardus yang aku bawa, nampaknya beliau sudah mengetahui maksud kedatanganku. Tak banyak yang beliau katakan, selain nasihat-nasihat tentang susah –senang menjadi santri. Tak lama berselang, oleh pengurus aku diantrakan di dalam
kamar.
“Ini kamarmu, yang berada di pojok, dia bernama Zaira dari Kalimantan, yang disampingnya itu, Arum Oktaviani dari Sumatra,” Ucap pengurus pesantren. Orang-orang yang di sebut namanya tersenyum padaku. Aku pun memperkenalkan diri.
Kamar berukuran 3X3 seharusnya diisi 5 orang tapi baru terisi 2, Arum dan Zaira. dengan kasur lantai yang cukup tiga orang dan lemari kecil. Sungguh sesak, apalagi kalau malam datang, dijamin pasti akan panas. Tapi tak apalah, mungkin akan ada hikmah dari kamar kecil ini’ pikirku positif.
Hari pertama kulalui dengan kekakuan. Aku lebih banyak diam, dan menyemdiri di pojok kamar. Ketika jam makan sore tiba, aku dibuat heran dengan tingkah laku teman sekamarku. Kami mendapatkan jatah makanan dengan porsi sedikit, 3 iris tempe dan nasi putih sedikit diwadah makanan. Sungguh, memandangnya saja, membuatku tak selera makan. Namun, Zaira dan Arum memakan makanan itu dengan lahap. Bahkan saat Zaira memiliki sebuah kerupuk, mereka bagi rata. Raut muka mereka terlihat penuh syukur.
“Apakah kalian kenyang, dengan makanan segitu?” tanyaku penasaran.
mensyukuri atas nikmat Allah yang diberikan kepada kita,” jawab Zaira. Aku terdiam, betapa indah pemikiran mereka.
Seusai makan, suara adzan berkumandang. Semua santri bergegas mengambil wudlu dan
berlalu ke masjid. Hikmat dan indah sekali, lantunan asma Allah, menggema
diruangan. Kedua tangan menadah di depan dada, untaian doa dipanjatkan dipandu sang imam
“Wahai Tuhan kami! Ampunilah dosa kami, orang tua kami, para sesepuh, para guru kami, orang-orang yang mempunyai hak atas kami, dan seluruh umat Islam. Lindungilah kami semua dari api neraka, dan jadikan
kami umat yang patuh pada pemimpin kami…”
Jamaah di sini, hanya ratusan. Namun doa yang di panjatkan bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk jutaan umat islam yang ada, dimanapun mereka berada. Saling mendoakan, tak kenal asal-usulnya, doa bertebangan menembus ruang dan waktu, melewati batas wilayah, menerjang angin, doa akan sampai ke semua umat muslim.
***
Satu bulan berlalu, berbagai pengalaman telah kulalui. Beradaptasi di pondok lebih mudah dibandingkan saat di kampus. Sikap terbuka, ramah, dan senyum yang tak tertinggal dari para santri, membuatku tak takut saat menyapa. Bahkan aku dibuat kagum lagi dengan toleransi dan sikap saling menghargai yang diterapkan. Dalam satu lantai terdiri dari 30 orang yang tentunya berasal dari berbagai pelosok negri. Adat dan istiadat serta kebiasaan
yang mereka bawa, menjadi keanekeragaman disini. Berbagai macam bahasa ada. Namun, perbedaan itu tak lantas membuat perpecahan melainkan sebuah ilmu untuk menghargai.
Saling menghargai dan tak mungungkit masa lalu dari para santri membuat semua terlihat sama. Tak ada yang beda. Mau santri baru atau lama. Tak mengenal senioritas. Mereka memperlakukannya sama. Aku jadi teringat apa yang disampaikan Gus Labib saat pelajaran “Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka...” (Q.s Al-Anfaal 63
Inilah Aisyah yang saat ini menjadi Asisten Dosen, di taksir oleh seorang Gus Hafiz putra pak Kyai. Masih pantaskah ia bersanding dengan laki-laki yang suci akhlakul karimahnya. Laki-laki penghafal Al-Qur’an
Qiroah Sab’ah, penerus Pesantren Lasem. Inilah Aisyah yang mencoba memperbaiki diri, menutup masa kelamnya. Ilmunya di pesantren belum ada apa-apanya. Saat santri yang lain sudah hafal kitab kuning, ia baru mengeja shorof dan jurumiyah. Adakah yang istimewa dari seorang Aisyah? Biarkan Allah yang menjawabnya.