Garzen

Garzen
Kedai Berdarah



Menjadi bayangan dan menyelinap pergi dari kedai. Semua berjalan lancar. Aku bebas berpindah dari bayangan benda ke benda lainnya atau ke bayangan pelanggan. Namun ternyata agak susah mempertahankan wujud ini. Aku tidak boleh membuang-buang waktu dan harus secepatnya keluar dari kedai.


Saat mendekati pintu keluar, ada seorang boneka Freki yang memasuki kedai. Sepertinya dia diperintahkan untuk mencariku di kedai ini. Tapi dia tidak bisa menemukanku dalam wujud bayangan ini. Aku bersembunyi di bawah meja dekat pintu agar saat boneka itu pergi, aku bisa secepatnya pergi juga. Boneka itu menanyakan kepada pelanggan apakah dia pernah melihatku mampir ke kedai ini. Pelanggan itu menjawab sambil menunjuk ke arah toilet. "Ya, sepertinya orang yang kau cari sedang berada di toilet. Jadi tunggulah sebentar."


Boneka itu berjalan ke arah toilet, ini jadi kesempatanku untuk pergi. "Hallo semuanya! Selamat siang!"


Aku dikejutkan oleh Freki yang tiba-tiba muncul di pintu keluar.


"Aduh, kenapa sih orang itu selalu muncul di waktu yang tidak tepat?"


"Deri, apakah Freki bisa melihat wujud bayanganku?"


"Kurasa tidak. Karena saat aku mengintainya dulu, dia tidak pernah menyadari keberadaanku meskipun aku tepat berada di bawahnya."


"Jadi kita tetap bisa pergi dengan lancar."


"Oh, Tuan Freki. Saya mendengar bahwa orang yang anda cari berada di toilet tersebut. Saya akan memeriksanya untuk anda." Boneka hidup itu berbicara layaknya pelayan yang melayani tuannya.


"Tidak! Bisa jadi itu adalah perangkap, atau hanya pengalih perhatian. Aku yakin dia tidak berada di dalam toilet itu." Meskipun hanya perkiraan Freki, tapi nampaknya boneka hidup itu sangat mematuhinya.


"Eh.. Ada yang bisa saya bantu tuan? Atau mau memesan sesuatu?" Seorang pelayan kedai menanyakan keinginan Freki.


"Aku ingin jiwa kalian semua, terbang melayang di langit." Sebuah permintaan yang sangat tidak masuk akal. Deri mengira kalau Freki akan mengubah semua orang di kedai menjadi bonekanya.


Tapi yang terjadi adalah Freki mengeluarkan pedang cahayanya dan membunuh semua pelanggan dan pelayan di kedai tanpa terkecuali. Meskipun hanya dengan melihat pedangnya, itu membuat orang biasa menjadi tak sadarkan diri. Ada seorang pelanggan yang jatuh tergeletak di depanku. Aku mengecek nadinya dan menemukan bahwa orang itu telah meninggal. Padahal dia hanya melihat pedangnya Freki. Sungguh perbuatan yang keji. Aku terdiam sejenak setelah melihat kejadian mengerikan itu yang terjadi sangat cepat. Aku menahan niatku untuk kabur dan memilih menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku yakin dia sengaja melakukannya untuk memancingku keluar dari wujud bayanganku demi menyelamatkan orang-orang di kedai.


Freki lalu memeriksa ke dalam toilet, memastikan apakah aku benar-benar ada di dalamnya. Dia keluar beberapa saat setelah tidak menemukan apapun di toilet. Sedangkan aku yang berwujud bayangan hanya punya waktu lima menit tersisa untuk mempertahankan wujud bayanganku. Aku harap Freki segera pergi karena pemandangan lantai kedai penuh darah sangat menggangguku.


Beberapa saat kemudian, Freki pun pergi meninggalkan kedai. Setelah memastikan dia benar-benar pergi, aku kembali berubah ke wujud manusiaku. Berjalan berkeliling seisi kedai untuk mencari apakah ada orang yang selamat dan sedang bersembunyi. Sesampainya di dapur, tidak terlihat seorangpun yang masih hidup. Memang, Freki juga sempat pergi ke dapur untuk mencariku tadi. Pastinya semua orang di dapur pun telah dibunuh oleh Freki.


Namun, ada sebuah pintu yang nampak terkunci dari luar. Sepertinya itu adalah ruangan gudang. Kuncinya pun masih tertancap di lubangnya tapi dalam keadaan terkunci. Setelah kubuka pintunya, di dalam sangat gelap hingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Tercium bau amis sedikit busuk yang sangat kuat dari dalam. Kupikir itu hanyalah simpanan daging dan ikan yang mulai membusuk. Namun, saat mulai masuk ke dalam gudang, baunya mulai menyerupai bau darah.


Dengan berjalan sembari meraba dinding, akhirnya kutemukan saklar lampunya. "Klik" Lampunya hidup dan terlihatlah apa yang sebenarnya ada di dalam gudang tersebut.


"Ta-tangan? Kaki? Dan apa daging panjang ini? Semuanya masih dipenuhi darah. Baunya membuatku ingin muntah."


"Jangan-jangan ini adalah mayat para pelayan kedai yang ada di dapur."


"Hey ja..ngan.. mikir yang aneh-aneh dong! Mana mungkin ini semua potongan tubuh manusia kan?"


"Kau ini bicara apa? bisa saja ini daging hewan. Kera mungkin?" Meskipun yang kulihat tidak semirip anggota tubuh primata.


Saat akan keluar dari gudang, kakiku menginjak sesuatu yang berlumuran darah. Bentuknya seperti sebuah dompet. Dengan tangan sedikit gemetar, kucoba mengambil benda itu. Setelah dicuci dengan air, ternyata benda itu memanglah dompet seseorang. Di dalamnya terdapat kartu penduduk dan beberapa uang, dan sebuah kartu pengenal. Di kartu itu tertulis bahwa dompet ini milik seorang karyawan kedai. Mungkinkah semua mayat di gudang itu merupakan karyawan kedai?


Aku kembali ke gudang untuk memastikan kebenarannya dan setelah ku periksa dengan teliti, di bawah beberapa potongan tubuh terdapat kartu yang sama dengan kartu yang kupegang. Ternyata mereka memang mayat para karyawan di kedai ini. Sungguh kejam! Setelah dibunuh, tubuh mereka dimutilasi. Organ dalamnya dikeluarkan dan dibiarkan tergeletak di lantai. Mengetahui hal itu membuatku mual, pusing, dan tidak kuat untuk berdiri.


Diantara tumpukan daging manusia, terdengar suara lirih seperti seseorang meminta pertolongan. Aku memberanikan diri lagi untuk mencari asal suara lirih itu. Kusingkirkan beberapa potongan tubuh. Dan akhirnya kutemukan seseorang yang masih hidup dibawah tumpukan organ dalam. Dia memang masih hidup, tapi kedua kakinya dan tangan kirinya terpotong. Tapi orang itu masih sadar dan bisa diajak bicara.


"Hey tuan! kau masih hidup kan? Apa yang terjadi di sini?"


"Heee... Ta.. di.. ada... seora..ng berba...ju putih... menga....jakku kemari... Dia mena..nyakan... tentang... seseo...rang yang bisa.. mengenda..likan bayangan. Aku.. tidak mengetahuinya... lalu.. dia mengun...ciku di dalam gudang ini..."


"Bertahanlah pak! Aku akan mengambil minum!" Lalu aku pergi ke dapur untuk mengambil air mineral.


"Ini! Minumlah!"


"Teri..ma kasih!" Orang itu mulai bisa berbicara dengan jelas.


"Lalu, apa yang terjadi setelahnya?"


"Orang berbaju putih itu kembali ke gudang ini dengan membawa temannya yang mengenakan topi hitam." Tadi kulihat kalau Freki mengenakan topi hitam, berarti yang berbaju putih adalah bonekanya.


"Lalu orang itu menanyakan padaku dimana tempat yang bisa menampung orang banyak. Aku menjawab stadion yang berada tidak jauh dari sini. Setelah menanyakan hal itu, orang yang berbaju putih tadi membawa beberapa karyawanku kemari dan mulai membunuh mereka di depanku. Tidak hanya membunuh mereka, orang bertopi itu mengeluarkan sebuah pedang bercahaya dari tangannya dan mulai memotong-motong tubuh karyawanku. Kedua kaki dan tangan kiriku juga tidak luput dari sasarannya. Setelah dia memotong kakiku, mereka berdua pergi meninggalkanku terkunci di gudang ini."


"Jadi mereka berdua akan pergi ke stadion ya?"


"Ya, sepertinya benar. Tapi sebenarnya untuk apa mereka melakukan hal-hal seperti ini?"


"Ada beberapa hal yang mungkin anda tak bisa mengerti hal itu pak. Serahkan saja padaku. Oh iya, aku akan segera menelpon ambulan kemari, jadi tunggu sebentar."


"Baik nak."


Aku harus tahu apa yang akan Freki lakukan di stadion setelah dia mengumpulkan banyak orang. Apakah dia akan membunuh mereka semua? Ataukan dia akan menjadikan orang-orang itu menjadi bonekanya?


......................