
Kami terkunci di dalam ruangan itu dengan sebuah buku misterius yang nampaknya mengeluarkan kekuatan aneh. Cahaya putih dari buku itu makin membesar sedangkan asap hitamnya merembet seakan ingin mencengkeram kakiku. Keadaan makin mencekam saat keluar suara-suara aneh yang mengelilingi ruangan. bisikan-bisikan yang seakan menyambut kami.
"Tenang saja Surya! Pak Ajin pasti menyelamatkan ki.."
"TIDAK MUNGKIN! Gak usah mikir kalau Pak Ajin dan yang lainnya datang kemari! Kau tahu kalau pintunya terkunci dari dalam kan? Mana mungkin mereka bisa membukanya! Kalau saja aku tidak mengikutimu tadi, pasti tidak akan berakhir seperti ini."
Aku terdiam pasrah setelah mendengar perkataan Surya. Memang benar, kalau saja aku pergi sendiri dan tidak mengajak Surya, pasti dia tidak akan bernasib sama sepertiku. Pasti dia dan yang lainnya segera pergi kembali ke desa.
Asap hitamnya berhasil mencengkeram kakiku. Cahaya putihnya pun menerangi seluruh ruangan hingga aku kesulitan melihat wajah Surya. Terdengar suara bisikan-bisikan aneh yang memanggilku. Aku memejamkan mata dan berharap semua ini tak terjadi. Hingga suara-suara bisikan tadi menghilang. Saat aku membuka mataku, aku melihat sekeliling. Hanya kegelapan yang terlihat, tidak ada secercah cahaya pun yang dapat kulihat.
"Rudi...."
Seorang pria memanggilku dari belakang. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dariku, kulitnya putih, dan ia memakai jubah hitam.
"Siapa kau?"
"Aku adalah seorang mantan garzen bayangan, Deri. Kau berada di sini karena kau layak mendapatkan kekuatan garzen bayangan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi."
Tentu saja aku tak mengerti apa yang dia katakan. Sebelum aku sempat bertanya, dia melebur menjadi sosok bayangan hitam yang bergerak mendekatiku.
Aku berlari menjauh secepat mungkin agar bayangan itu tak bisa mengejarku. Sialnya, ada semacam dinding tak terlihat yang menghalangi lariku. Bayangan itu mengulurkan tangannya untuk memegang kakiku. Aku tak bisa lari lagi.
Tangan bayangan yang lainnya menyentuh kepalaku, saat itu aku merasa melihat sesuatu dalam ingatanku.
Seperti kejadian di masa lalu. aku melihat bahwa ada sekelompok orang yang berbuat kejahatan besar-besaran. Mereka merampok, membakar, bahkan membunuh warga tak bersalah. Di tengah-tengah kelompok itu, ada seseorang berpakaian putih yang memerintahkan anggota kelompok itu.
"Hancurkanlah semuanya! Jangan sisakan apapun! Ada kegelapan di hati mereka, dan cahaya menuntun kalian semua untuk membersihkan segala kegelapan!"
Mendengarnya berkata seperti itu saja sudah membuatku muak. Sebenarnya siapa orang itu? Dan untuk apa dia melakukan itu?
"Dia adalah garzen cahaya sebelumnya
dia memengaruhi banyak orang agar menuruti keinginannya. Dia menggunakan kekuatan cahayanya untuk membutakan orang lain dan mengontrolnya sesuai keinginannya. Dengan cara itu, dia bebas melakukan apapun yang dia mau." Suara dari bayangan hitam tadi berbisik di telingaku.
"Apa dia tidak bisa dihentikan?"
"Yang bisa menghentikan garzen cahaya, hanyalah garzen bayangan. Itupun dengan perhitungan dan strategi yang matang."
"Itu berarti, dulu kaulah yang menghentikannya. Benarkan?"
"Ya, saat itu aku berhasil menyeretnya ke dimensi kegelapanku. Namun tepat sebelum dia terseret ke dalam, dia memakai jurus pamungkasnya. Yaitu dengan membuat ribuan tombak di langit dengan menggunakan cahaya. Dia berniat membunuh semua orang di sekitarnya."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Si garzen cahaya terseret masuk ke dimensi kegelapan. Tapi ribuan tombak di langit tetap jatuh ke bumi. Aku memutuskan untuk melindungi orang-orang di sekitar dengan membuat lapisan bayangan di atas mereka. Para warga pun segera berlari menyelamatkan diri, meninggalkanku yang sedang menahan tombak-tombak itu agar tidak jatuh. Namun sinar matahari membuat lapisan bayanganku menipis dengan cepat. Akhirnya tombak-tombak itu jatuh juga, dan aku tertusuk beberapa tombak cahaya. Tapi tidak apa, karena tak ada warga yang terluka."
"Aku menceritakannya karena kau akan menjadi penerus garzen bayangan, dengan hati yang terang benderang. Aku tidak yakin, tapi sepertinya peristiwa seperti itu akan terulang suatu saat."
"Kenapa aku bisa mendapatkan kekuatan itu? bukannya kekuatanmu itu hilang saat kau meninggal?"
"Tidak. Kekuatan garzen itu bersifat abadi, dan hanya diturunkan dari generasi ke generasi. Tapi tidak hanya kekuatannya saja yang diteruskan, namun sifat pengguna sebelumnya juga akan menurun."
"Lalu siapa pengguna garzen cahaya sekarang?"
"Kau ingat anak terakhir yang berada di dekatmu sebelum kau kesini? Kemungkinan dia akan menjadi seorang garzen cahaya."
"Hah? Tidak mungkin Surya akan melakukan hal seperti itu kan?"
"Hal itu mungkin saja terjadi, mengingat garzen cahaya sebelumnya melakukan hal sekeji itu. Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah mencegahnya sebelum itu terjadi."
"Aku masih tidak percaya kalau Surya akan berbuat seperti itu, tapi bagaimana jika seandainya dia benar-benar melakukannya? Dengan apa aku harus menghentikannya?"
"Haha.. Kau sekarang adalah penerus garzen bayangan. Gunakan kekuatanmu itu untuk menghentikannya!"
"Baiklah jika itu satu-satunya cara."
Setelah berkata seperti itu, aku terbangun di ruangan perpustakaan tadi. Aku melihat Surya masih tak sadarkan diri. Mungkin dia masih diceramahi oleh mantan garzen cahaya. Sesaat kemudian, pintu dibuka dengan paksa. Pak Ajin, Rika, dan Halin mendobrak pintunya dan berhasil membukanya. Mereka segera menggendong Surya dan membawaku kembali ke desa.
Sepanjang perjalanan, aku dimarahi habis-habisan oleh Pak Ajin. Namun Surya masih belum sadar. Aku berharap semoga apa yang dikatakan Deri tidak akan pernah terjadi. Saat kembali ke rumah, Pak Ajin menceritakan segalanya pada ibuku. Tentu saja aku dimarahi karena berbuat seenaknya. Hingga aku tidak boleh pergi ke reruntuhan itu lagi.
Keesokan harinya, Halin bilang kalau Surya sudah sadar. Aku pergi segera menjenguknya di rumahnya. Sesampainya di rumah Surya. Pintunya tertutup rapat, semua jendela juga terkunci. Halin pergi ke pintu belakang untuk mencoba masuk.
Aku melihat ada catatan kecil di bawah pintu rumahnya. Kuambil dan kubaca catatan tersebut.
"Lihat ke belakang! Bodoh!"
Aku menoleh ke belakang, rupanya ada Rika dibelakangku. Sejak kapan dia ada disana?
Rika menggenggam sebuah pisau yang sepertinya diarahkan padaku. Dia berjalan ke arahku sambil mengarahkan pisaunya. Aku terkejut dan mundur hingga menabrak pintu. Pintunya terbuka tiba-tiba dan seketika aku merasa tersedot ke dalam rumah.
Di dalam rumah Surya gelap sekali, tapi aku bisa merasakan bahwa ada lima orang di dalam rumah. Apa mungkin karena kekuatan bayangan yang dibicarakan Deri? Tapi setahuku, Surya hanya tinggal bersama ibu dan ayahnya. Lalu siapa dua orang yang lain?
"Yo.. Akhirnya kita bertemu lagi dasar pembunuh teman sendiri! Kalau saja aku tidak ikut denganmu ke dalam bangunan itu, mungkin saja aku tidak akan bernasib seperti ini. Tapi ini tidak buruk juga, sekarang aku bebas membuat senjata dari cahaya untuk membalas perbuatanmu."
Surya muncul dari kegelapan dan mulai menyalahkanku tentang kejadian kemarin.
......................