Garzen

Garzen
Tragedi Menyedihkan di Gunung



Aku berusaha menyadarkan ibuku dengan menarik-narik tangannya dan memanggil namanya berkali-kali. Begitu pula dengan kedua adikku, namun mereka tidak merespon sama sekali.


"Mereka tidak bisa mendengarmu, Rudi! Hanya Freki yang bisa mematahkan pengaruhnya. Sepertinya kita harus mengikuti arus ini."


"Yah, setidaknya aku bisa meminta si Freki sialan itu untuk membebaskan keluargaku."


Kami sudah setengah perjalanan menuruni gunung. Mendadak ibuku berhenti menarikku, adik-adikku jiga berhenti berjalan. Mereka nampak sangat lemas tak berdaya. Sepertinya mereka butuh istirahat dan makan. Sepertinya Freki tidak benar-benar memberi para bonekanya istirahat dan makan yang cukup. Ini menjadi satu-satunya kesempatanku untuk melepaskan diri.


Aku berusaha keras melepaskan ikatan tali di tubuhku. Setelah lepas, aku membuat sayap di punggungku dan berencana terbang pergi. Tapi melihat keluargaku menderita, aku berusaha membawa keluargaku terbang bersamaku. Aku akan membawa kedua adikku menjauh terlebih dahulu, lalu aku akan membawa ibuku pergi juga.


Tepat sebelum tubuh adikku berhasil kuangkat, Tembakan cahaya kuat mengenai salah satu sayapku dan membuatnya hancur. Aku tidak bisa terbang sementara waktu. Aku yakin kalau Freki yang menembakkan cahaya itu.


"Hey.. Hey.. Lihat ada siapa disini?" Freki menyapa dari kejauhan.


"OY FREKI! CEPAT BEBASKAN KELUARGAKU! JIKA KAU LAKUKAN ITU, AKU AKAN MENYERAH!"


"Cih! Hey bocah! Berpikir dulu sebelum bertindak! Kau hanya akan ditipu! Keluargamu pun tidak akan selamat jika kau menyerahkan diri."


"Tenang saja Deri! Aku sudah memikirkan rencana bagus!"


"Hoo.. Jadi kau ingin menyerahkan diri dengan alasan ingin menyelamatkan keluargamu? Baiklah! Akan kulepaskan kontrol pikirannya! Dan sebagai gantinya, aku akan membunuhmu!" Freki lalu melepaskan kontrol pikiran pada ibu dan kedua adikku.


"Sekarang saatnya pembalasan untuk kekalahanku saat itu!" Freki menghimpun cahaya di tangan kanannya dan bersiap menembakkannya. Jika yang kulakukan sesuai yang kubayangkan, maka seharusnya aku bisa mengalahkan Freki. Awan mendung menutupi sinar matahari. Kondisi yang sangat sesuai dengan rencanaku.


Aku membayangkan menciptakan kubah bayangan yang menjebak Freki di dalamnya, tepat setelah dia melepaskan serangan.


"TERIMA INI! CAHAYA PEMBALASAN!"


Sekarang!


Kubah bayangan dengan cepat mengelilingi Freki dan mengurungnya tepat setelah Freki melancarkan serangan. Serangan cahaya itu kesulitan menembus kubah bayangan itu dan akhirnya meledak di dalam. Freki hanya bisa diam dan terkena ledakan tersebut.


Beberapa saat kemudian, kubahnya mulai menghilang. Freki terlihat pingsan di tempatnya berdiri. Aku segera kabur dan membawa kedua adikku ke tempat tersembunyi terlebih dahulu. Sepertinya tidak lama lagi Freki akan bangun. Sepertinya serangannya tadi sanga kuat hingga membuatnya pingsan setelah terkena ledakannya.


"Haha.. ide yang bagus nak! Sepertinya kau sudah mulai bisa menggunakan kekuatanmu."


"Yah lumayan sih, sekarang tinggal menyelamatkan ibu..." Aku terdiam melihat Freki yang bersiap menembakkan cahaya ke ibuku. Dengan segera aku menggunakan kekuatanku untuk membuat dinding penghalang dari bayangan di antara Freki dan ibuku.


Namun, kekuatan dinding itu tidak cukup kuat untik menahan serangan Freki dikarenakan awan yang menutupi matahari telah pergi, dan bayangan awan itu menghilang. Sehingga kekuatan bayanganku menurun.


"IBUUUU......" Dindingnya hancur dan ibuku terkena tembakan cahaya yang sangat kuat. Beliau mati dengan setengah badan yang terbakar cahaya. Aku tidak bisa lagi menahan kesedihanku. Rasanya aku ingin mati juga.


"DIAM KAU DASAR ROH ORANG MATI! Aku akan membalaskan kematian ibuku sekarang juga! Tidak peduli itu hal baik atau bukan!"


"Heh kau ini dasar kepala batu, tidak, DASAR KEPALA BESI!" Sudah jelas kau tidak bisa mengalahkannya sekarang! meskipun perbedaan kekuatannya tidak terlalu jauh, kau masih belum mahir dalam menyerang! Lalu dengan apa kau ingin mengalahkannya?"


"Pasti ada cara!"


Aku memikirkan cara untuk mengalahkan Freki. Hingga terbesit di pikiranku untuk mengirim Freki ke dimensi kegelapan seperti yang dilakukan Deri. Aku segera menciptakan dimensi kegelapan tepat dibawah kaki Freki. Freki yang menyadarinya segera pergi dari tempatnya dengan sangat cepat. Tau-tau saja dia sudah berada di belakangku.


Dia melapisi tangannya dengan cahaya dan memukulku di udara. Aku terhempas ke tanah akibat pukulan cahayanya. Pukulan itu membuat kedua sayapku hancur dan aku tidak bisa terbang sementara. Setidaknya aku masih bisa membuat dinding bayangan dengan kekuatan yang tersisa.


Di udara, Freki membuat tiga tembakan cahaya yang ditujukan ke arahku. Aku menyadarinya dan dengan cepat membuat dinding bayangan untuk melindungi diri. Namun Freki menembakkan ketiga cahaya itu sekaligus. Aku menduga kalau dinding bayanganku tak akan kuat menahannya, lalu aku segera berlari menjauh. Benar saja, dinding bayangannya langsung hancur begitu tekena tembakan cahaya itu. Aku berhasil kabur dari tempat itu dengan berlari ke puncak gunung melewati pepohonan rindang. Freki kesulitan menemukanku di balik pepohonan ini karena daunnya sangat lebat. Tapi Freki menembakkan cahaya ke berbagai arah hingga menumbangkan pohon-pohon besar di sekelilingku. Beruntungnya aku tidak tertimpa pepohonan tumbang itu. Sialnya Freki menemukanku.


"Hey bocah! bagaimana jika kita membuat perangkap bayangan untuk menghambatnya?"


"Bagaimana caranya?"


"Terlebih dahulu, kau pancing Freki untuk pergi ke tempat gelap!"


"Baiklah! Aku melihat sebuah gua di balik pepohonan tadi. Tapi jika hanya dengan berlari tidak akan sempat."


Jadi aku membuat sayap baru lagi dengan kekuatanku yang sudah pulih saat berada di bayangan pepohonan tadi. Dengan segera aku terbang menuju gua yang kulihat tadi. Untung saja, pintu guanya tidak tertutup pohon tumbang, jadi aku bisa masuk ke dalam dengan mudah. Freki yang menyadarinya segera menyusulku masuk ke dalam gua.


"Sekarang kau hanya perlu menyamarkan keberadaanmu di gua yang gelap ini. Tentu mudah untuk dilakukan. Setelah Freki masuk cukup dalam, tinggal serang dia dari berbagai arah!"


"Hehe ternyata kau pintar juga ya? Roh orang mati!"


Freki mulai masuk ke dalam gua tanpa rasa curiga sedikitpun. Kemungkinan dia tidak menemukanku yang bersembunyi di kegelapan gua.


Kondisi yang pas sekali! Aku membuat tangan-tangan bayangan yang menempel di dinding-dinding gua dari segala arah. Freki yang terkejut terikat oleh tangan-tangan bayangan tersebut dan kesulitan melepaskan diri.


"Dasar pengecut kau Rudi! Bertarunglah denganku secara adil!"


"Tidak, ini cukup adil menurutku." Aku keluar dari penyamaranku dan bersiap membuat lubang dimensi di bawah kaki Freki.


"Hhh.. Kalau yang kau sebut adil itu bertarung di markasmu sendiri, maka aku hanya harus menghancurkan markasmu!"


Kedua tangan Freki mengeluarkan cahaya terang dan Freki menyatukan kedua cahaya itu di depannya. Hingga tercipta sebuah pedang bersinar di depannya.


......................