Garzen

Garzen
Reruntuhan Desa di Atas Gunung



Setelah ribuan tahun berlalu, orang-orang melupakan kejadian bersejarah tersebut. Tidak ada yang mengingatnya dikarenakan tidak adanya bukti yang kuat. Hanya ditemukan reruntuhan desa utara yang berada di atas gunung. Desa-desa yang lain telah hancur tak tersisa oleh proses alam.


Bulan ini, tepatnya hari ini adalah hari libur akhir tahun. Aku Rudi, seorang siswa kelas dua SMA dan umurku masih 17 tahun. Hari ini aku berniat pergi ke gunung untuk memanen sayuran di kebun. Karena rumahku berada di kaki gunung, jadi untuk pergi ke kebun membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Sayuran hasil kebun rencananya akan ku jual di pasar untuk mendapatkan uang tambahan. Aku tinggal bersama dengan ibuku dan kedua adikku, sedangkan ayahku sedang bekerja di luar kota selama sebulan.


Karena aku baru pindah ke kawasan ini sekitar 3 bulan yang lalu, aku masih belum memiliki banyak teman. Mungkin hanya ada 4 orang temanku yang sering mengajakku bermain atau hanya sekedar berkeliling desa. Aku berniat mengajak serta keempat temanku untuk membantu memanen sayuran, namun salah satu temanku menolak karena sedang tidak enak badan. akhirnya hanya kami berempat yang pergi ke gunung.


Di tengah perjalanan, salah satu temanku yang bernama Halin mengajak kami untuk mendaki gunung seusai berkebun. Dia bilang hanya mendaki ke reruntuhan desa di atas gunung.


"Hei! kalian pernah dengar tentang reruntuhan desa yang ada di atas gunung? kakekku bilang dia pernah ke sana sekali. Dia bilang di sana ada ruangan yang berisi emas dan koin-koin dari masa lalu." Halin bercerita tentang reruntuhan desa utara yang berada di atas gunung tidak jauh dari kebunku.


"Ah masa sih? Bukannya yang seperti itu cuma ada di dongeng?" Salah satu temanku, Rika menyanggahnya.


"Kalau di sana memang ada emas, seharusnya sudah ada orang yang mengambilnya sebelum kita. Lalu kenapa kakekmu tidak mengambilnya?"


"Dia bilang saat itu akan turun hujan dan hari sudah sore, akan berbahaya jika menuruni gunung saat hujan. Tapi dia benar-benar melihat ada benda kecil berkilau di bawah pintu, jadi ia yakin kalau di dalamnya ada harta berharga yang tersembunyi."


"Yah kalau belum dicoba, kita gak akan tahu. Ayo nanti selepas berkebun kita semua pergi ke sana!" Surya mengajak kami dengan semangat. Surya memang punya semangat yang tinggi, tapi dia terkadang suka bertindak sebelum berpikir hingga melukai dirinya. "Tenang saja, nanti kalau ada apa-apa, aku akan bantu sebisaku kok."


Sesampainya di kebun, kami bertemu Pak Ajin yang sedang menanam cabai di kebunnya yang berada di sebelah kebunku. "Weh.. Ada nak Rudi, mau panen sawi ya? Kalau mau dijual mending besok saja, karena besok di pasar ada banyak orang-orag dari kota yang berkunjung. Kalau jual sayur besok pasti laku semua."


"Oh iya, terima kasih sarannya pak! Satu lagi, bapak pernah naik ke atas gunung ini? Ke tempat yang lebih tinggi dari kebunnya Pak Soni?"


"Kalau itu sih pernah satu kali dulu, tapi gak sampai puncak juga sih, memangnya ada apa kok nak Rudi nanya seperti itu?"


Surya lalu meletakkan peralatannya dan menjawab pertanyaan Pak Ajin.


"Kami berempat berencana akan mendaki gunung ini sesudah berkebun, jadi kami mau bertanya pada Pak Ajin ada apa di atas sana."


"Ooh.. Mau mendaki gunung toh, di atas sana gak ada apa-apa. setelah melewati kebun Pak Soni, yang bapak lihat hanya pepohonan lebat dan batu-batu gunung."


"Bapak tahu tentang reruntuhan desa di atas gunung? Kakekku pernah menceritakannya padaku dulu. Benarkah di sana ada ruangan berisi harta kuno?"


"Oh kalau reruntuhan desa itu, memang ada sih. Bapak dulu juga diajak kakeknya Halin ke sana. Waktu itu bapak masih kecil, jadi mungkin sudah lupa tentang reruntuhan desa itu. Tapi yang bapak ingat adalah di reruntuhan itu memang ada sebuah ruangan yang masih utuh, bahkan dindingnya tidak ditumbuhi lumut. Sepertinya cuma itu yang bapak ingat. Tapi berbahaya loh mendaki gunung tanpa pengawasan orang dewasa."


"Kalau bapak mau, bapak boleh ikut mendaki gunung juga kok, nanti kalau ada yang berbahaya kan kami jadi sedikit tenang." Surya mengajak Pak Ajin ikut mendaki gunung menuju reruntuhan desa tersebut.


"Baiklah kalau kalian memang maksa ingin ke sana, maka akan bapak temani."


Lalu kami memanen sawi di kebunku dan menyimpannya di gubuk kecil yang dibangun Pak Ajin. Setelah beristirahat dan makan siang, kami berempat dan Pak Ajin berangkat menuju ke reruntuhan desa itu. Saat setelah melewati kebun Pak Soni, Surya nampak tidak bersemangat. Tidak seperti biasanya yang selalu berjalan paling depan. Dia nampak sedikit gelisah sepanjang perjalanan.


Di tengah perjalanan, Halin dan Rika juga terlihat sedikit gelisah. Seperti orang yang terkena masalah atau akan menghadapi masalah. Namun saat kutanyai ada apa, mereka semua menjawab baik-baik saja. Situasi ini membuatku bingung, jangan-jangan akan ada masalah saat kami semua sampai di reruntuhan desa.


"Ah gapapa kok pak, cuma sebentar kok. Kami cuma mau berkeliling melihat-lihat reruntuhan itu. ya kan teman-teman?" Aku meyakinkan Pak Ajin agar mau menemani kami semua sampai di reruntuhan desa itu.


Teman-temanku pun juga ikut meyakinkan Pak Ajin.


"Ah baiklah, tapi nanti kalau ada apa-apa, langsung panggil Pak Ajin ya! Jangan dihadapi sendiri!"


"Siap pak, tenang saja."


Akhirnya kami sampai di reruntuhan desa itu. Ternyata desanya tidak terlalu luas, hanya ada sekitar 15 rumah kecil dan satu bangunan besar di tengah-tengah desa. Kami berjalan menyusuri desa sembari mencari ruangan berisi harta yang diceritakan kakeknya Halin. setelah mencari di setiap reruntuhan rumah, kami masih belum menemukannya. Hanya bangunan besar di tengah desa yang belum dijelajahi.


Kami semua beristirahat sejenak di bawah pohon yang rindang. Saat Pak Ajin, Halin, dan Rika sedang beristirahat, aku mengajak Surya untuk menjelajahi bangunan besar itu terlebih dahulu.


"Tapi Rudi, bukannya berbahaya kalau tidak menunggu Pak Ajin dan yang lainnya?"


"Tidak apa kok, kan kita hanya akan melihatnya dari luar. Ayolah biasanya kamu semangat, kok sekarang kelihatan loyo gitu? Takut ya?"


"E.. e.. enggak kok, ya udah ayo kita ke sana."


Aku dan Surya pergi ke bangunan besar itu tanpa sepengetahuan Pak Ajin, Halin, dan Rika. Kami mengelilingi bangunan itu, dan berhenti di pintu depan.


Aku melihat ada koin emas di bawah pintu. setelah ku ambil ternyata koin itu merupakan koin kuno dan tidak seperti koin-koin yang dimiliki orang-orang. Aku yakin di dalam bangunan ini masih banyak koin-koin yang seperti ini. Aku lalu mengajak Surya masuk ke dalam.


"Gak, aku gak mau. Kita harus masuk bersama yang lain bersama! Jangan melakukan hal ceroboh di tempat seperti ini! Kalau ada apa-apa gimana?" Surya menolak keras ajakanku. Ini tidak terlihat seperti Surya yang biasanya. Biasanya, Surya lah yang mengajakku untuk mencoba hal baru.


"Tenang aja kok, aku gak akan bertindak ceroboh."


Akhirnya Surya mau menemaniku memasuki bangunan itu. Saat diamati, dinding bangunan itu tidak ditumbuhi lumut sama sekali. Bahkan bangunan lain disekitarnya sampai lapuk gara-gara lumut dan tanaman lain.


Aku membuka pintu besar yang terbuat dari kayu. Kegelisahan Surya makin menjadi-jadi, seperti tengah berlari dikejar ular. Setelah dibuka, yang ada didalam bangunan itu ternyata sebuah perpustakaan. Perpustakaan itu punya banyak buku, dan berlantaikan batuan mengkilap. Namun ada satu bagian di tengah perpustakaan yang lantainya berwarna lebih gelap dari tempat lainnya.


Aku berkeliling perpustakaan dan mencari harta yang diceritakan Halin. Sampai aku menemukan sebuah buku cerita dengan sampul berlapis emas. Aku mengambil buku itu daru rak dan akan membacanya. Sebelum aku membuka buku itu, Surya menarik tanganku dan membawaku keluar, buku yang kupegang terjatuh dan terbuka.


Buku itu mengeluarkan dua cahaya berbeda. Di halaman kiri mengeluarkan cahaya putih kekuningan, sedangkan di halaman kanan mengeluarkan cahaya hitam keungu-unguan. Aku terkejut melihatnya, Surya yang memegang tanganku segera menarikku untuk pergi keluar ruangan.


"Tuh kan! Apa kubilang! Pasti ada yang gak beres sama ruangan ini!" Saat mendekati pintu, tiba-tiba pintu tertutup seketika hingga menimbulkan bunyi cukup keras. Kami terjebak di dalam perpustakaan itu dengan buku yang mengeluarkan dua sinar.


......................