Garzen

Garzen
Pergi Dari Gua



"Pusaka Garzen?"


"Apa maksudmu? pedang itu kah?"


"Ya pedang itu! Itu adalah pusaka garzen, senjata khusus yang diciptakan dengan kekuatan terlatih para garzen. Normalnya, butuh waktu sekitar satu sampai dua bulan bagi para garzen untuk menciptakan pusaka itu. Tapi dia kan baru menjadi garzen kemarin?"


"Hey! dia itu lagi kerasukan roh garzen ingat! Gak mustahil kan dia bisa punya pusaka itu."


"Hahahaa... Saatnya bersenang-senang!"


Sinar dari pedang itu menerangi setiap sudut gua dan melemahkan kekuatan bayangan. Mau tidak mau aku harus mundur terlebih dahulu. Pergi keluar gua untuk mencari tempat gelap lainnya. Tapi nampaknya Freki berusaha mencegah aku pergi dari gua ini. Dia menebas pedangnya di udara dan menciptakan gelombang cahaya yang menghantam dinding pintu gua. Dindingnya runtuh dan pintu keluarnya hampir tertutup reruntuhan sepenuhnya dan hanya menyisakan satu celah kecil.


"Kita terjebak di gua ini bersama seorang bocah yang kerasukan roh? haha... kegilaan apa lagi yang sekiranya akan terjadi?"


"Ya kau lihat saja sendiri!"


Freki mengangkat pedangnya dan membuat bola cahaya di atasnya. Lalu dia mengarahkan pedangnya ke arahku dan bersiap menyerang. Pedangnya tidak lagi memancarkan sinar yang terang, namun sinar terang tadi beralih ke bola cahaya tersebut.


"Oy oy.. bagaimana ini? Haruskah aku menutupi bolanya dengan tangan bayangan? Kalaupun iya, pasti tangannya lebih lemah dari sebelumnya."


"Pokoknya kita harus kabur dari gua ini terlebih dahulu!"


Freki melesat ke arahku dan bersiap menerjang dengan kecepatan tinggi. Aku bingung harus apa dan aku yakin kalau kekuatan tangan bayanganku tidak cukup kuat untuk menghambat pergerakan Freki. Satu-satunya solusi yang kupunya hanyalah bertahan atau menghindar. Tapi, apakah aku sempat menghindarinya? Dengan kecepatan secepat itu, dia akan tiba dalam beberapa detik. Dan jika aku lari sekarang, mungkin dia masih bisa mengejarku.


Bagaimana jika aku menahan pedangnya. Yang jelas tanganku atau tubuhku akan terluka parah. Aku terlalu lama berpikir hingga kehabisan waktu untuk lari. Menahan serangannya pun nampaknya tidak akan mudah. Jika ditahan dengan tangan kosong sepertinya merupakan hal yang buruk.


Tapi apa jadinya jika aku melapisi tanganku dengan bayangan? Entah berhasil atau tidak, hanya itu yang bisa aku lakukan. Akhirnya, dengan kekuatan bayangan lemah yang ku fokuskan, jadilah sarung tangan bayangan. Dengan tepat aku bisa menahan serangan pedang Freki dan tanganku tidak terluka sedikitpun. Ternyata cara ini berhasil!


Pedang itu kugenggam dengan dibantu kekuatan bayangan hingga sulit untuk ditarik Freki. Namun, Freki tak kehabisan akal. Dia menambahkan energi pada bola cahaya di atas hingga bersinar lebih terang. Cahaya sangat menyilaukan, tapi aku harus tetap menahan pedangnya. Kesempatan ini digunakan Freki untuk menyerang.


Dia mengerahkan energi lebih untuk mengangkatku bersama dengan pedangnya. Bayangan yang dilemahkan oleh sinar yang menyilaukan membuatku kehilangan keseimbangan hingga dapat dilemparkan dengan mudah oleh Freki. Aku terlempar cukup jauh hingga mendekati pintu gua yang tertutup batu. Namun, sisi ini lebih gelap karena jauh dari bola cahaya tersebut. Energi bayanganku meningkat di tempat ini dan bisa kugunakan untuk memulihkan diri.


"Hey Rudi! Sebaiknya kau segera mencari cara untuk pergi dari sini! Dia bisa memerintahkan para bonekanya untuk mengepung kita dari luar."


"Bicara doang gampang. masalahnya, energi bayanganku masih belum cukup kuat untuk membuka jalan dengan celah kecil itu. Dan juga, jika aku mendekatinya, energiku akan berkurang akibat bola cahaya yang dibawanya itu."


Sungguh situasi yang sangat mendesak. Sangat sulit memikirkan strategi dengan kondisi seperti ini. Terlebih lagi, aku belum memakan apapun semenjak pergi dari pondok di pinggir sungai itu. Aku sangat kelaparan saat ini. Hingga membayangkan kalau bola cahaya itu adalah jajanan yang biasanya ku beli di pasar. Yang dilapisi gula merah cair dan berisi kelapa parut di dalamnya. Memikirkannya semakin membuatku lapar.


Tunggu...


Nah! "Aku dapat ide bagus!"


"Seperti apa idemu?"


"Aku akan melapisi bola cahaya itu dengan bayangan!"


"Hah?"


Dengan memanfaatkan bayangan di stalaktit gua di depan bola cahaya, aku akan mengalirkan bayangan cair tepat di atas bola itu saat Freki membawanya mendekatiku. Entah berhasil atau tidak aku mencairkan bayangan, tapi ini kesempatan satu-satunya untuk melengahkan Freki dan pergi dari gua.


Dengan sedikit konsentrasi, aku bisa mengubah bayangan menjadi cairan seperti minyak. Tinggal menahannya sampai bolanya tepat berada di bawah stalaktit itu. Beberapa detik kemudian, Freki melewati stalaktit itu dan disusul oleh bola cahayanya. Dengan cepat kulepaskan penahan bayangan cairnya dan cairannya pun mengalir membasahi bola cahaya itu.


Bola cahayanya tertutup oleh bayangan cair yang masih menempel. Keadaan gua pun menjadi lebih gelap. Energiku dengan cepat pulih dan aku bisa kabur dengan membuka celah batuan dengan tangan bayangan. Saat berhasil keluar, ternyata tidak ada bonekanya Freki di luar. Tapi aku bisa merasakan banyak manusia yang berlari kemari. Sepertinya mereka adalah para bonekanya Freki.


Terbang dengan sayap bayangan adalah cara tercepat untuk kabur. Aku berhasil melarikan diri dengan sedikit mendekati kota. Untuk sementara, aku pergi ke sebuah kedai untuk beristirahat, makan, dan menyamar dengan pelanggan kedai lainnya. Kuharap Freki kesulitan menemukanku jika aku berada di kedai ini. Beberapa saat kemudian, para boneka Freki mulai berkeliaran di jalanan untuk mencariku.


Aku merasa tenagaku cukup pulih setelah memakan beberapa menu di kedai itu, dan bergegas pergi tanpa diketahui oleh para boneka hidup itu. Tapi bagaimana caranya? Aku pergi ke toilet kedai untuk memikirkan cara kabur. Toilet saat itu sedang sepi, jadi kurasa tidak apa menggunakan kekuatanku di toilet.


"Deri! Bagaimana caraku kabur dari sini? Jika aku keluar lewat pintu depan, mereka akan langsung menemukanku. Sedangkan jalan keluarnya cuma lewat pintu depan. Bagaimana ini?"


"Hmm... kurasa kau harus menggunakan kekuatanmu untuk kabur dari kedai ini."


"Bagaimana caranya? tidak mungkin aku mengeluarkan sayap bayangan di depan pelanggan kedai. Kau bilang para garzen tidak boleh memperlihatkan kekuatannya secara langsung di depan manusia lain."


"Caranya adalah dengan menjadi bayangan."


"Bisa diulangi? Atau dijelaskan?"


"Dulu aku pernah berubah menjadi bentuk bayangan untuk mengintai Freki tanpa ketahuan. Aku dapat berpindah-pindah dari bayangan suatu benda ke bayangan benda lainnya. Kurasa dengan cara itu, kau bisa pergi tanpa ketahuan."


"Ok, kurasa itu layak dicoba."


Aku berkonsentrasi untuk berubah wujud menjadi bayangan benda. Ternyata lebih sulit dari yang kubayangkan. Setelah dua kali gagal, pada percobaan ketiga akhirnya aku bisa berubah wujud menjadi bayangan di bawah tempat sampah. Sekarang tinggal kabur dari tempat ini.


......................