Garzen

Garzen
Freki, Si Garzen Egois



"Aku minta maaf soal yang kemarin Surya, memang seharusnya aku tidak memaksamu untuk ikut."


"Aku memaafkanmu untuk kejadian yang kemarin di reruntuhan." Aku sangat lega mendengarnya.


"Tapi.. Kau tidak meminta maaf atas kejadian dulu."


"Yang mana?"


"Jangan pura-pura lupa! Kau menyeretku masuk ke dimensi kegelapan kan?"


"Hah?" Itukan kejadian yang diceritakan Deri. Kenapa aku harus meminta maaf atas perbuatan Deri? Bahkan Deri seharusnya tidak bersalah. Justru garzen cahaya sebelumnya yang jelas-jelas bersalah.


"Apa maksudmu Surya?"


"Cih.. Tidak ada lagi Surya di sini! Aku adalah Freki, Sang Garzen Cahaya sejati! Dan tak tergantikan!"


Sejenak otakku menolak untuk berfikir.


"Hey! Kau itu Surya kan? Sudah jelas kalau kau itu Surya! Benar kan Rika? Halin?"


Rika dan Halin hanya terdiam, tak berkata sepatah-kata pun. Bahkan tak bergeming.


"Haha.. percuma saja, mereka sudah berada dalam pengaruhku. Mereka tidak akan bergerak jika tidak kuperintahkan! Dan juga mereka akan melakukan apapun perintahku! Suka atau tidak. Bisa dibilang, mereka itu bonekaku!"


Apa-apaan itu? Rika dan Halin bonekanya?


Jelas hal itu membuatku marah. Aku mengepalkan tanganku dan berniat akan memukulnya dengan sekeras mungkin. Tapi aku ingat bajwa itu adalah tubuh Surya. Berarti apabila aku memukulnya, Surya juga akan merasakan kesakitan. Akhirnya aku hanya bisa menahan emosiku.


"Sekarang kau harus merasakan apa yang kurasakan, KEMATIAN!"


"LARILAH! Segera pergi dari situ!"


Aku mendengar bisikan Deri yang menyuruhku untuk pergi dari tempat itu.


Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari keluar. Tapi di luar, sudah banyak warga yang membawa senjata tajam menatap ke arahku.


"Wahai para bonekaku, tidak, PARA PRAJURITKU SERANG ANAK ITU!"


Para warga bergerak menyerangku sesaat setelah Freki memerintahkan mereka. Bagaimana ini? Aku dikepung dari berbagai arah.


"TERBANGLAH! Bayangkan saja jika kau punya sayap dan segeralah terbang tinggi untuk menyelamatkan diri!"


Sesuai bisikan Deri, Aku membayangkan terbang seperti burung. Tiba-tiba muncul dua sayap hitam di punggungku. Aku melompat dan mengepakkan sayapku. Ternyata lebih mudah dari yang dibayangkan dan aku terbang!


"Teruslah terbang dan carilah tempat tersembunyi yang tidak diketahui temanmu itu!"


Aku mengikuti bisikan Deri dan akhirnya aku bisa selamat dari mereka. Dan sekarang tinggal mencari tempat yang tidak diketahui Surya. Satu-satunya tempat yang tidak diketahui oleh Surya hanya pondok kecil di dekat sungai. Hanya sedikit orang desa yang mengetahui pondok itu. Aku bergegas pergi ke sana.


Sesampainya di sana, aku merasa sangat kelelahan hingga kesulitan berjalan.


"Hey Deri! Ada apa dengan Surya? Kenapa dia bilang kalau dirinya adalah Freki?"


"Ini haya pendapatku, tapi kemungkinan Freki menggunakan kekuatan mengendalikan pikiran pada Surya. Hingga Freki bisa mengendalikan tubuh Surya sepenuhnya."


"Kapan dia melakukannya? Sedari kemarin Surya tak sadarkan diri sejak pulang dari reruntuhan. Apa mungkin saat tidak sadarkan diri itulah Freki mengambil alih Surya?"


"Sepertinya begitu. Saat ini mungkin Surya yang asli, jiwa dan pikirannya masih tak sadarkan diri dan ada dalam tubuh yang dikendalikan Freki."


"Sialan kau Freki! Seenaknya saja mengambil tubuh orang lain!"


"Hey Rudi! Gunakan kekuatanmu untuk mendeteksi makhluk hidup disekitarmu!"


"Aku kan sudah bilang kalau energiku hab.."


"Sudah lakukan saja! Energimu mungkin sudah pulih sedari tadi, para garzen bayangan dapat memulihkan energi mereka saat bersentuhan dengan bayangan benda. Jadi seharusnya energimu sudah pulih jika berada di tempat teduh seperti ini! Jadi lakukan saja!"


"Ba.. baiklah."


Aku berkonsentrasi untuk merasakan kehadiran makhluk hidup lain di sekitarku. Ternyata aku bisa mengetahui makhluk hidup lain dari bayangan mereka. Hasilnya, ada beberapa hewan mamalia. Dan ada seorang anak kecil. "Anak kecil?"


"Gawat Rudi! Bisa jadi anak itu adalah salah satu bonekanya Freki! Kita harus pergi menjauh dari sini! Sekarang!"


Aku terbang lagi, menjauh dari pondok itu. Terbang ke arah gunung. Aku berhenti saat akan mencapai puncak gunung. Kupikir warga akan membutuhkan waktu untuk mencapai puncak gunung. Jadi aku akan bersembunyi di sini.


"Huuh.. Akhirnya kita bisa selamat."


"Benar! Setidaknya kita bisa mengulur waktu untuk memikirkan sebuah rencana."


"Hey! Bagaimana bila yang kau ceritakan padaku waktu itu, benar-benar terjadi lagi?"


"Kalau hal itu sampai terjadi, kaulah yang harus menghentikannya! Mau bagaimanapun dia bukanlah Surya temanmu! Dia adalah Freki! Mantan garzen cahaya yang berusaha menguasai dunia kembali!"


"Kalau cuma bilang ya gampang, masalahnya jiwa Surya juga masih ada dalam tubuh itu juga kan?"


"Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana cara keluar dari situasi ini. Meskipun mereka menjadi bonekanya Freki, mereka tetap butuh beristirahat kan? Tidak mungkin mereka mengajar kita siang malam."


"Tidak, Dulu saat masih hidup Freki memperlakukan bonekanya tanpa belas kasih. Tidak memberi mereka istirahat, dan hanya makan satu kali sehari. Intinya mereka benar-benar diperlakukan layaknya boneka. Jika bonekanya rusak, ya dibuang. Jika bonekanya mati, ya cari yang baru. Entah sudah berapa banyak bonekanya Freki yang meninggal dibawah pengaruhnya."


"Jadi hal itu juga akan terjadi pada para warga yang dipengaruhinya?"


"Ya itu bisa saja terjadi."


Aku sangat terpukul mendengar hal itu. Kalau saja hal itu benar-benar terjadi, maka seluruh warga desa akan.. menjadi boneka sekali pakai. TERMASUK IBU DAN KEDUA ADIKKU?


Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, aku harus menghentikan Freki bagaimanapun caranya. Saat ini aku hanya bisa membuat sayap dari bayangan dan merasakan makhluk hidup di sekitar. Aku masih belum bisa membuat senjata apapun, sedangkan Freki bilang kalau dia bisa membuat senjata cahaya sesukanya. Bagaimana caraku agar bisa menang?


"Mungkin ada seseorang yang bisa membantumu, Rudi! Dia adalah seorang mantan garzen sepertiku. Sekarang sepertinya dia tinggal agak jauh dari sini, tapi aku yakin kalau dia masih hidup!"


"Hmm.. Baiklah kita akan pergi ke tempatnya besok. Sementara aku akan bermalam di tempat ini."


Aku membuat tenda sederhana dari kayu dan daun. aku menyamarkannya dengan tanah agar tidak mudah ditemukan oleh boneka Freki andai saja mereka berhasil mencari kemari. Malam semakin gelap, aku segera tidur agar bisa bangun sepagi mungkin esok hari.


Esok hari telah tiba.


Aku bangun dari tidurku, dan menemukan diriku terikat dan sedang diseret menuruni gunung.


Diikat dan diseret menuruni gunung?


Ini sudah jelas boneka Freki yang melakukan hal ini. Saat melihat sekeliling, aku melihat dua orang anak kecil berjalan di belakang. Mereka tampak kelaparan, tapi aku seperti mengenal wajah kedua anak itu.


Aku melihat ke arah orang yang menyeretku, dia seorang wanita berambut hitam panjang. Dia menoleh kepadaku. Saat kulihat wajahnya, ternyata dia adalah...


Ibuku sendiri? Dan kedua anak kecil itu adalah... Adik-adikku?


......................