Friendship And Love

Friendship And Love
FRIENDSHIP AND LOVE 9



Ryska dan jefran memasuki Mension, terlihat sudah banyak orang, Ryska mencoba mencari di mana Zidan berada.


"Ryska jangan jauh-jauh" peringat jefran ke Ryska.


"Iya maaf".


Tepat setelah itu ada pria yang menaiki panggung.


"Saya Graham dhaniswara mengucapkan terima kasih telah datang ke pesta yang saya selanggarakan hari ini, saya berharap para tamu menikmati pesta ini" ucap tuan rumah.


"Itu tuan Graham, ayahnya Zidan" bisik jefran ke Ryska.


Sudah lama Ryska mendengarkan tn Graham berbicara membuatnya bosan, dia segera meninggalkan tempat itu, selain merasa bosan dia juga tidak melihat Zidan di sana sehingga dia memutuskan untuk berkeliling mencari keberadaan zidan. Tapi sudah lama mencari dia tidak menemukan Zidan di mana pun, Ryska sedikit kesal datangnya dia ke pesta ini untuk mencari pria yang hampir membunuh kakaknya tapi tidak menemukan nya dimana pun.


"Halo nak, butuh sesuatu?" ucap seorang wanita seperti nya sudah cukup berumur, dia bertanya ke Ryska karena melihat nya kebingungan.


"Saya lagi nyari seseorang" jawab Ryska sopan.


"Nama kamu siapa?, kita kayaknya baru pertama kali ketemu" tanya wanita itu.


"Saya Alora" ucap ryska sedikit tersenyum canggung karena wanita itu melihat ryska sangat intens.


"Nama yang bagus, kenalin Helena dolorance" ucap wanita itu masih melihat ryska dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Salam kenal nyonya Helena" balas ryska.


"Kamu cantik sekali, andaikan anak aku masih ada pasti dia secantik kamu" ucap Helena dengan nada sedih nya.


Ryska benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi, dia juga entah kenapa merasakan kesedihan dari wanita yang ada di depan nya ini.


"Maaf yah kalau aku ganggu kamu, aku pergi dulu" ucap ny Helena sembari mengecup pipi Ryska.


Ryska melihat Helena berjalan pergi, mungkin dia merasa sedih karena tidak pernah melihat orang tuanya sejak kecil.


"Ryska lo darimana aja, gw cariin kemana-mana gak ketemu" ucap jefran terlihat ngos-ngosan.


"Lo yang habis darimana" tanya ryska melihat jefran meminum 2 gelas air Dengan rakus.


"Gw daritadi nyari lo, tapi gak ketemu ketemu" balas jefran.


"Sekarang kan udah, lagian daritadi gw nyari Zidan" ucap ryska.


"Zidan gak ada, katanya dia ada urusan hari ini" ucap jefran.


"Tau darimana lo?" Tanya ryska.


"Gw dengar tadi percakapan cewek cewek, mereka kayaknya kecewa karena Zidan gak datang" ucap jefran.


Ryska menghela nafas, dia berpikir percuma datang kalau akhirnya tidak dapat hasil yang di inginkan. Tiba-tiba saja pintu utama terbuka, Ryska pikir itu cuma tamu yang terlambat, tapi setelah melihat lebih dekat dia menyadari kalau itu Zidan dengan seorang pria.


"Itu siapa?" Tanya ryska ke jefran sambil menunjuk pria yang ada di samping Zidan.


"Itu adeknya" balas jefran.


"Mereka gak mirip" ucap ryska.


"Zidan itu anak dari istri pertama tuan Graham, Zidan memang mirip ibu nya kalau adeknya anak dari istri tuan Zidan yang sekarang" jelas jefran.


Ryska menyimak penjelasan jefran, terlihat dia mulai tertarik dengan keluarga dhaniswara.


POV AMEL RISNA


Mereka berjalan menuju kampus, terlihat Amel tersenyum, tidak seperti biasanya, padahal dia selalu memberikan pandangan datar setiap harinya. Risna hanya menghela nafas panjang berharap temannya tidak di kecewakan oleh pria yang di sukainya. Amel mengucapkan selamat tinggal kepada Risna karena ingin menemui seseorang, Risna tau betul siapa yang akan di temui Amel.


"Duluan yah gue" ucap Amel meninggalkan Risna.


Dan di sinilah Amel, tempat di mana dia pertama kali bertemu dengan Daniel, dia memegang kue dan sebuah kotak, sambil melihat kanan-kiri mencari keberadaan pria itu.


"Ada apa?" Terdengar suara pria yang sudah di tunggu Amel daritadi.


Amel sudah membuat janji dengan Daniel, awal nya di tolak begitu saja, tapi Amel bersikeras dan akhirnya di terima oleh Daniel. Amel tidak memberi tahu kalau dia membuat kue untuk Daniel dia hanya meminta Daniel untuk menemui nya di taman belakang kampus.


"Eh" Amel sedikit kaget, melihat tatapan tajam yang di berikan Daniel membuat keberanian nya menciut begitu saja. Tapi akhirnya dia memberanikan diri, toh dia sudah buat kue susah payah.


"Ini gw cuman mau ngucapin selamat ulang tahun buat lo kak" Ucap Amel sambil mengangkat kue yang ada di tangannya sedari tadi, dia juga memperlihatkan kotak yang berisikan kado untuk Daniel.


Amel benar-benar gugup, pasalnya pria yang ada di hadapannya diam setelah Amel mengatakan itu, dia tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk beberapa saat.


"Buang saja" ucap Daniel acuh tak acuh.


Kata-kata Daniel sukses menghancurkan hatinya, dia sudah menduga Daniel akan menolaknya tapi dia tidak berpikir akan sesakit ini.


"Gw cuma mau ngucapin selamat ulang tahun, kalau lo gak mau kuenya tolong hadiahnya di ambil" ucap Amel sambil menahan sesuatu.


"Gak butuh" ucap Daniel langsung meninggalkan Amel, Daniel sama sekali tidak peduli dengan Amel.


Amel melihat Daniel yang berlalu begitu saja sukses membuat nya meneteskan air mata, Amel berpikir untuk membolos pelajaran saja.


Cuaca yang sangat cerah, tapi Amel menangis di bawah pohon dia tidak nyangka akan sesakit ini, padahal dia sudah menyiapkan mental kalau dia di tolak tapi masih terasa sakitnya. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Amel dari belakang, sontak Amel menghapus air matanya dan menoleh ke belakang.


"Ada apa cantik, kok nangis?" Tanya Dio, langsung duduk di samping Amel mencoba menenangkan pujaan hati nya.


"Gak papa" jawab Amel singkat.


"Kalau mau cerita, cerita aja, tapi kalau gak mau juga gak papa kok" balas Dio selembut mungkin, takut menyakiti hati Amel.


Amel mendengar itu langsung menangis sejadi-jadinya, sontak Dio langsung membawa kepala Amel ke dalam pelukannya. Dio tidak mengerti, Dio juga kesal siapa yang berani membuat wanitanya menangis, yah begitulah pikir Dio. Amel menangis cukup lama, dio juga tidak masalah dengan hal itu, meskipun Amel masih enggan mengatakan kenapa dia menangis. Tak selang beberapa lama Amel mendongakkan kepalanya menatap dalam ke mata Dio, Dio yang melihat perlakuan Amel mencoba untuk menahan dirinya, bagaimana tidak, Dio melihat wajah cantik Amel sangat dekat dengan wajahnya sekarang. Dio mencoba menguatkan imannya, meskipun Amel terlihat sangat menggemaskan sekarang wajahnya yang cantik, hidung nya yang memerah karena habis menangis dan bibir natural kemerahan, juga Mata biru yang sangat indah seindah laut, Dio menahan diri untuk tidak mencium Amel sekarang juga, dia tidak mau Amel berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


"Gw ingat hari ini Daniel ulang tahun, makanya gw buatin kue, tapi di tolak" ucap Amel menjelaskan ke Dio masih dengan posisi memeluk Dio.


Mendengar hal itu membuat Dio sangat marah, Dio mengeratkan pelukannya ke Amel.


"Ini kue yang gw buat sama hadiahnya, buat lo aja" ucap Amel melepas pelukannya dari Dio, lalu memperlihatkan kue dan kotak hadiah yang berada di sampingnya.


"Yaudah ayo makan bareng" ucap Dio memotong kue nya.


Biarkan Amel sejenak melupakan Daniel, mungkin Amel pikir Dio adalah pria yang baik, mungkin dia bisa memberikan kesempatan untuk dio.


Risna sudah selesai dengan kuliahnya, dia sudah mencari Amel di manapun tapi tidak menemukan di mana Amel berada, jadi dia berpikir kalau Amel sudah pulang duluan. Dia berjalan menuju mobilnya di parkir, dia berpikir untuk pulang, tapi niat nya di halangi melihat seorang Narendra berdiri di depan mobilnya.


"Ayo pergi" ucap narendra langsung memegang tangan Risna menuju motor nya.


Risna terkejut dengan apa yang di lakukan narendra langsung melepaskan tangannya dari genggaman Narendra.


"Mamah nyuruh gue buat jemput lu, katanya di suruh cari cincin dan fitting baju" jelas narendra.


"Saya bisa pakai mobil sendiri, lagian saya tidak nyaman memakai motor seperti itu" balas Risna.


"CK, terserah, lu ikutin gue aja dari belakang kalau gitu" ucap narendra langsung menaiki motor nya.


Mereka sampai di tempat salah satu butik langganan mamah narendra, tempat inilah mereka akan fitting baju. Mereka segera memasuki butik itu.


"Eh Narendra, datang juga akhirnya, daritadi udah di tungguin" ucap seorang wanita yang sudah cukup berumur menghampiri narendra.


"Ini pasti Risna kan, calonnya Narendra, kenalin Diandra, panggil aja Tante Dian" ucap wanita itu.


"Salam kenal Tante Dian" ucap Risna.


"Yaampun cantik banget kamu, Narendra gak salah pilih ini" puji Tante Dian.


"Iya makasih Tante" balas Risna tersenyum.


"Ayo masuk, Tante udah nyiapin gaun yang pas buat kamu" ucap Tante Dian menuntun risna ke dalam untuk memperlihatkan gaun yang sudah ia siapkan. Risna mencoba gaun yang akan di pakai nya saat akad nanti, terlihat sangat simpel tapi cocok dengan Risna, gaun putih polos dengan hijab senada. Narendra melihat risna cukup lama, lalu memalingkan wajahnya setelah itu


"Aduh gak usah malu gitu dong, gakpapa kali lihat calon istri sendiri" goda Tante Dian.


"Apaan sih Tan" balas narendra.


"Hahahaha, yaudah kamu coba baju kamu juga sana" ucap Tante Dian menyenggol lengan narendra.


Narendra mengenakan jas berwarna hitam, narendra terlihat lebih berwibawa dengan jas itu.


"Waduh pengantin aku cakep nya, jadi gak sabar" ucap Tante dian memuji keduanya.


"Makasih Tante" ucap risna malu-malu.


"Jadi kalian kapan nikah?" Tanya Tante Dian.


"Libur semester Tante" jawab risna.


Cukup lama mereka mencoba baju disana, akhirnya selesai juga. Risna dan Narendra sedang berada di toko perhiasan yang terkenal, orang tua mereka sudah memesannya terlebih dahulu jadi mereka hanya akan pergi mengambil nya. Cincin cantik berwarna silver, cukup simpel cincin Risna yang memiliki berlian yang cantik di tengahnya juga beberapa berlian kecil yang mengelilingi nya sedangkan cincin narendra polos.


"Makasih" ucap Risna setelah keluar dari toko perhiasan tersebut.


"Buat apa?" Tanya narendra.


"Buat hari ini, ternyata kamu gak seburuk yang aku pikirkan" ucap Risna.


Narendra entah kenapa tersenyum mendengar hal itu, dia menatap dalam mata risna.


"Iya, makasih juga" ucap narendra masih tersenyum sambil menatap Risna.


"Yasudah gue pergi dulu" sambung narendra, langsung menaiki motor nya lalu pergi.


Hari yang cukup menyenangkan bagi Risna, setidaknya dia tau kalau narendra tidak seburuk itu, meskipun masih banyak cuek nya.


POV RYSKA


Dia sedang memikirkan bagaimana cara mendekati Zidan, sedangkan Zidan sendiri di kelilingi banyak wanita. Untung saja tak selang beberapa lama Zidan meminta semua wanita itu menjauh, segera Ryska berjalan berpura-pura ingin mengambil wine yang ada di samping Zidan.


"Oh hai cantik, kayaknya kita belum pernah ketemu deh" rencana ryska berhasil, Zidan menyapanya duluan.


"Hii, kenalin gw Alora, asisten tuan Kenzo" ucap Ryska.


"Kalau lo jadi asisten gw aja mau gak?" Ucap Zidan sambil memegang pinggang ryska.


"Emang gw di bayar berapa?" Ucap ryska mengalungkan tangannya di leher Zidan.


Sebenarnya Ryska ingin menonjok dan memukuli Zidan saat itu juga, tapi dia mencoba untuk menjalankan misi yang di tugaskan Elvin sebaik mungkin.


"Gw bayar berapapun yang lo mau" ucap Zidan mendekatkan wajahnya ke Ryska.


Sontak Ryska langsung memalingkan wajahnya, dia takut kalau Zidan menciumnya tiba-tiba.


"Maaf, ayo ikut gw, gw tunjukkin sesuatu" ucap Zidan menuntun Ryska menuju suatu tempat.


Zidan menuntun Ryska ke tempat yang terlihat seperti taman bunga, terlihat sangat cantik.


"Bunga ini milik ibuku, tapi sekarang gw yang rawat" ucap Zidan sambil menjelaskan nama bunga juga artinya.


Ryska bukan penggemar bunga, tapi melihat bunga sebanyak itu membuat nya bahagia. Tiba-tiba saja Zidan memetik bunga mawar berwarna merah dengan gunting.


"Bunga mawar melambangkan cinta, tapi hati hati di bawah tangkai nya ada duri" ucap Zidan memberikan bunga itu ke Ryska, tentu saja Ryska menerima nya dengan senang hati.


Tiba-tiba saja Zidan melihat jam nya.


"Maaf Ryska gw harus pergi, ada sesuatu yang penting" ucap zidan sedikit panik, lalu berlari dari tempat itu begitu saja.


Ryska sebenarnya sedikit kesal, tapi akhirnya dia meninggalkan Tempat itu menuju ball room atau bisa di bilang tempat dansa.


"Halo nona cantik mau berdansa bersama" ucap seorang pria mengulurkan tangannya ke Ryska.


"Lo bukannya soudara nya Zidan" ucap Ryska.


"Iya, kenalin Eros dhaniswara" ucap pria itu.


"Alora" Ryska mengamati Eros dan Zidan tidak mirip sama sekali, Zidan dengan rambut pirang dengan sedikit warna hitam juga mata biru, dan Eros berambut cokelat dengan mata hijau persis dengan tuan Graham.


"Jadi bagaimana, apakah nona cantik bersedia menerima ajakan berdansa?" Ajak Eros sekali lagi.


Ryska Langsung mengulurkan tangannya pertanda setuju.


CAPEE GAYSS 2 EPS GITU DULU YAAA, MAU TURUU MUAHH~