FORCED

FORCED
Aborsi ?



Pagi itu Elin memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sendiri, ia tidak mungkin membangunkan suaminya itu. dengan berat hati, ini lah yang harus ia lakukan .


Rumah sakit Saka bahari .


" Permisi mba "


" Iya ada yang bisa saya bantu mba ? "


tanya resepsionis itu


" Saya ingin melakukan operasi "


" Maaf mba saya tidak bisa mendengar suara anda , bisa anda ulangi lagi ? "


" Saya ingin melakukan aborsi "


" Oh baiklah tunggu sebentar , operasi ini akan di lakukan oleh anda sendiri? "


" Iya mba "


" Boleh saya minta kartu nama anda untuk persyaratannya? "


" Oh iya ini " sembari mengeluarkan ktp nya


" Tunggu sebentar yah, nanti kita akan melakukan USG dulu sebelum melakukan operasi nya "


" Iya mba "


Suara memanggil namanya membuat Elin menengok ke arah belakang, ia terkejut melihat seorang laki laki yang sangat ia benci itu ada di rumah sakit ini .


" Elin .. " Elin yang bergegas pergi ternyata di cegah oleh laki laki itu


" Mau apa kau ?! "


" Heii kau sedang apa disini ? bukannya ini tempat orang orang melakukan aborsi "


" Bukan urusanmu " elin pun kembali pergi dan di cegah lagi , tangannya di genggam dengan sangat kasar nya


" Apa lagi? "


" Kau belum jawab pertanyaan ku "


" Untuk apa aku harus menjawab perkataan mu hah! laki laki brengsek ! "


" Wah wah.. kau sudah berani yah sekarang "


" Untuk apa kau juga ada di tempat ini hah ! "


Seorang wanita menghampiri mereka berdua, kemudian dia menampar pipi ke wajah laki laki itu dengan mata yang berkaca-kaca . Elin yang terkejut dengan kejadian itu pun hanya diam.


" Plaakkkk... brengsek ! "


" Aaa.. " sambil memegangi pipi nya


" Apa kau sudah puas? bukannya bertanggung jawab, tapi kau malah melakukan hal gila ini ! "


" Apa yang terjadi? " tanya elin pada wanita itu


" Kau siapa?? kau wanita keberapa dari si brengsek ini ? apa kau akan melakukan aborsi juga ? "


Hah. apa maksudnya ? jadi Daniel kemari untuk melakukan aborsi juga pada gadis ini


Satu tamparan kembali ke wajah Daniel, Elin begitu ingin nya membuat laki laki itu sadar atas perbuatannya . ia masih tidak menyangka dengan melakukan Daniel selama ini.


Selesai kejadian itu, Elin masuk kedalam kamar persalinan, disana sudah ada dokter kandungan menunggunya .


Diwaktu yang sama , Elvan yang baru saja bangun dari tidurnya melihat ke arah sofa tidak ada gadis itu , membuat nya bangun dan bergegas keluar . ibu yang tau anaknya sedang panik menghampiri nya .


" Elvan ada apa ? "


" Dimana Gadis itu ? "


" Elin? bukannya dia di kamar, ibu belum menemuinya pagi ini "


" Gawat , dia pasti kesana "


" Gawat? gawat kenapa? ada apa? kenapa dengan menantuku?? "


" Tidak ada Bu. aku harus pergi dulu, nanti akan ku ceritakan yah , " sembari melangkah pergi dan mengeluarkan ponsel nya untuk menelpon seseorang


" Hallo kau dimana? "


" Kenapa? " suara di balik ponsel


" Bisa kau carikan gadis itu, dia pergi rumah sakit , aku akan mencari informasi tentang gadis itu di rumah sakit terdekat . "


Ponsel pun dimatikan, El sudah berada di dalam mobilnya , menghidupkan mesin mobil dan keluar dari rumahnya.


El sudah bertemu dengan Ben di salah satu rumah sakit terdekat, mencari informasi tentang gadis itu, namun pihak rumah sakit tidak menemukan nama gadis itu .


Mencari lagi ke salah satu rumah sakit dan menanyakan kembali alhasil dia menemukan nama gadis itu.


" Dia sedang berada di ruang persalinan, anda siapa nya yah? " Jawabnya kita El memakan nama gadis itu


Jadi dia benar benar melakukan aborsi ini


" Dimana ruangan itu ? cepat katakan ! "


" Ada di lantai 3 ke arah kiri "


El pun bergegas berlarian menuju tempat itu, ketika ia membuka pintu dan melihat Elin sedang menjalani pemeriksaan membuat nya menatap ke arah layar yang berwarna hitam putih itu.


Elin dan salah satu dokter pun terkejut dengan kedatangan El yang tiba-tiba .


" Siapa kau " Tanya salah satu dokter


" Saya? "


" Yah kau siapa? kenapa kau berani masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu "


" Saya suaminya "


" Oh kau ayah dari bayi ini "


" Apa itu? " Tanyanya ketika menunjuk ke arah layar itu


" Ini adalah bayangan seorang bayi. "


" Suara apa ini ? " ketika seorang dokter sedang melakukan pemeriksaan


" Detak jantung bayi, wah ternyata bayi ini sudah tahu ayahnya " sahut dokter itu


Elin hanya diam, dan memalingkan wajahnya nya namun ada senyuman di balik itu.


Selesai pemeriksaan, Elin dan El sudah duduk berhadapan dengan dokter itu, menerima sebuah prosedur untuk melakukan sebuah operasi membuat El terdiam.


" Ini adalah beberapa prosedur yang akan dilakukan sebelum operasi, kalian tinggal tanda tangan saja "


El menarik tangan zelin keluar dari ruangan itu . Setelah berada di area parkir El melepaskan genggaman nya .


" Apa yang kau lakukan " tanya Elin


" Lahiran anak itu "


Hanya itu kata yang di ucap Elvan saat Elin terus bertanya padanya , entah apa yang di rasakan El saat tahu Elin hamil , ia sangat senang ketika mendengar suara detak jantung bayi itu.


Terikan terdengar membuat El dan Elin terkejut dengan kerangan ibu nya .


" Anak kurang ajar , kau tega pada menantuku hah! "


" Ibu dengarkan dulu, ibu kenapa bisa kemari " sekilas melirik ke arah Ben, dan Ben hanya tersenyum memaksa seperti ia berkata


" Maafkan aku"


" Jangan bertanya padaku anak sialan! apa yang terjadi dengan cucu ku itu "


" Ibu dia tidak apa apa, tenangkan dirimu. "


" Kau benar-benar calon ayah yang kejam. "


" Ibu dia tidak melakukan apa apa, bayi nya masih ada "


" Benarkah "


" Iya Bu " jawab elin


" Syukurlah sayang " sembari memeluk menantunya itu


" Jika terjadi pada cucuku, aku tidak akan memaafkan kalian berdua "


" Terserah ibu saja , bawa dia pulang , aku akan ke kantor bersama Ben "


Elvan pun akhirnya pergi ke kantor dan Elin kembali pulang bersama ibu mertua nya itu. di perjalanan El masih memikirkan hal gila yang sudah ia lakukan tadi, kenapa dia bersikap seperti itu.


" Kau kenapa "


" Entah lah aku merasa lelah "


" Oh iya El , ini adalah foto anakmu , tadi setelah kau pergi suster memberikan ini padaku "


El pun melihat sebuah gambar yang di berikan Ben padanya. sebuah gambar hitam putih dan ada gumpalan darah yang belum berbentuk seperti bayi membuat nya tersenyum .


" Kau.. sudah membuatku merepotkan , apa kau sudah senang? "


Ben yang melihat El tersenyum dan berbicara sendiri, membuat Ben ikut tersenyum dan kembali pokus mengemudi menatap arah depan.


Setelah pulang dari tempat mengerikan itu, Elin terus di awasi oleh ibu mertua nya , takut takut Elin kembali merencanakan hal gila itu.


" Bu .. "


" Iya menantuku "


" Maafkan aku , aku bukan menantu yang baik untuk mu "


" Sudahlah . aku memaafkanmu , dan jangan pernah kau ulangi lagi hal gila seperti tadi "


" Iya Bu . "