FORCED

FORCED
Kediaman Elvano



Setelah sampai di rumah Elvano. Zeline yang baru memasuki ruangan rumah sudah di sambut oleh ibu mertua dan para pelayan disana. begitu antusias dengan kedatangannya untuk pertama kali menginjakkan kaki di rumah orang kaya sekaligus rumah suaminya sendiri .


" Selamat datang menantuku dan calon cucuku . silahkan masuk "


" Apa kabar bu "


" Ibu baik baik saja sayang. ayo masuk, ibu akan tunjukan kamar tidur untukmu "


Elin pun mengikuti langkah mertuanya itu , sedangkan Elvan pergi ke ruang kerjanya , entah apa yang ia lakukan di sana .


" Tadaaaaa... ini adalah kamar tidur untuk menantuku "


Elin yang baru masuk pun ternganga melihat sekeliling ruangan itu, kamar tidur dengan ranjang berukuran king dan lemari yang besar bahkan ada ruang kerja sekaligus.


" Kau boleh istirahat dulu, nanti kebawah yah kita makan bersama . "


" Iya Bu . sebelumnya elin sangat sangat berterima kasih atas semua ini "


" Tidak perlu sungkan sayang, kau sekarang sudah menjadi bagian keluarga ini . "


" Terima kasih Bu "


" Yasudah ibu ke luar dulu yah "


" Ah iya Bu "


Setelah ibu mertua meninggalkan nya , elin yang membawa satu buah koper pun merapihkan pakaiannya di salah satu lemari , ketika ia membuka lemari ia di kejutkan dengan beberapa pakaian wanita dan bayi . dan satu buah surat di dalamnya .


" Selamat datang menantuku. kau pasti terkejut , ini adalah hadiah dariku untukmu sayang, jaga kesehatan mu dan calon cucuku. semoga kau suka dengan hadiah ini . " begitu isi dari sebuah surat dari ibu mertuanya


Diwaktu yang sama elvan merebahkan tubuhnya di atas meja kerjanya. memejamkan mata sambil memikirkan istri barunya itu. ia masih belum bisa menerima istrinya dan calon anaknya itu . entah apa yang terjadi kedepannya, ia masih belum memikirkan caranya.


Selesai merapihkan beberapa pakaian miliknya. Di elus elus perut yang masih rata itu, sambil tersenyum.


" Ibu jadi tidak tega melihat nenek mu yang sangat menginginkanmu, maafkan ibu yah "


Suara pintu terbuka, elin melihat Elvan baru saja masuk. dengan wajah tidak semangatnya membuat Elin tahu apa yang di pikirkan suami barunya itu .


" Kau juga tidur disini ? " tanyanya


" Memangnya dimana lagi . ini kan kamarku "


Elin tidak menjawab sekilas menatapnya dan kembali membuang muka.


" Di lemari sana ada bantal dan selimut untukmu tidur disini " menunjukkan ke arah sofa


" Apa? tidur disini? "


" Kau mau tidur denganku? " elin menggelengkan kepalanya


" Yang berhak tidur dengan hanya Tamara, kau ingat Tamara "


Wanita itu lagi? apa dia kekasihnya?


" Iya saya mengerti "


" Baguslah "


Acara makan bersama sudah selesai. Elin yang selalu di manjakan oleh mertuanya itu pun sedikit merasa tidak nyaman. Elin kembali menerima sebuah amplop dari mertuanya itu , di bukalah amplop itu dan melihat sebuah prosedur kelas kehamilan , ia sudah di daftarkan untuk mengikuti kelas kehamilan Minggu depan. elin kembali menatap ibu mertuanya dan suaminya .


" Ada apa ? " tanya Elvan sembari melihat surat di tangan elin


" Kelas kehamilan ? Ibu mendaftar kan nya ke kalas kehamilan? " Tanyanya lagi


" Tentu saja . elin kan sedang hamil, ia harus mengikuti kelas kehamilan itu "


" Tapi kan perutnya masih rata "


" Memangnya kenapa kalo perutnya masih rata ? itu juga baik buat dia, elin kau mau kan mengikuti kegiatan itu ?? "


" Iii iya Bu " dengan gugupnya


" Minggu depan kau sudah bisa masuk kelas kehamilan dan suamimu yah "


" Aku juga ikut? Bu dia bisa sendiri. aku kan harus bekerja "


" Kau ini , diakan istrimu , ibu tidak mau tahu. kau harus datang ke kegiatan kelas kehamilan itu bernama menantuku , itu kan cuma diadakan satu Minggu Sekali, apa susah nya sih "


Elvan yang sudah tidak bisa berbuat apa apa pun akhirnya menyetujui permintaan ibunya itu .


Di dalam kamar Elvan membaringkan tubuhnya di atas ranjang . Elin yang melihat itu pun menghampirinya.


Elvan bangun dari tidurnya dan menatap Elin.


" Kau memang wanita rubah, kau bisa membuat siapa saja termasuk ibuku menyukaimu,tapi tidak denganku ! "


Cih dia bicara apa sih


" Kau benar , pergilah sendiri, aku terlalu banyak pekerjaan , hanya membuang waktuku yang berharga untuk datang ke kelas itu . "


" Baiklah jika begitu, " Elin meninggalkannya namun langkahnya terhenti ketika Elvan memanggilnya


" Heii. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi denganmu itu, "


" Maksudnya " elin yang bingung dengan perkataan Elvan


" Apa kau benar benar hamil? atau kau hanya ingin menjadi keluarga orang kaya? "


" Apa?! Kau !! "


" Kenapa? kau mau marah padaku? "


" Kita memang belum siap untuk menjadi seorang ayah dan ibu untuk anak ini , Aku minta maaf padamu . aku juga tidak tahu kalo aku hamil secepat ini "


" Kenapa kau tidak beritahu ku sebelumnya "


" Aku sudah katakan aku tidak tahu jika aku sedang hamil. Aku tidak ingin bayi ini lahir tanpa kasih sayang dari orang tuanya "


" Apa maksudmu ?! "


" Bukankah kau menyukai seseorang bernam Tamara ? kau yang meniduriku sambil berkata bahwa aku adalah Tamara, kenapa kau tidak tahu kalo aku bukan Tamara . kehamilan ini pun tidak akan pernah terjadi jika kau terus memaksaku ! "


" Kau menyalahkan ku? kau juga masuk ke dalam kamar hotelku kan "


Ini semua gara gara si Daniel brengsek itu! aku benci padanya


" Aku sudah putuskan untuk ini . besok aku akan pergi ke rumah sakit . "


" Untuk apa? "


" Aborsi "


" Apa?? kau mau mengugurkan kandungan mu itu ?! "


" Bukankah kau juga tidak menginginkannya "


" Kau memang ibu yang sangat kejam "


" Aku tidak mau jika bayi ini lahir dia tidak mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya. jika aku melakukan aborsi , kau juga akan kembali bersama Tamara bukan? "


" Yah kau memang benar, aku bisa kembali bersama Tamara. tapi, apakah kau pernah berpikir tentang ibuku? yang menginginkan seorang cucu ? "


Elin kembali memikirkan ibu mertua nya, yang selalu memberi perhatian lebih padanya. begitu sangat penting bagi nya untuk menjaga kesehatan dan calon bayinya.


" Kau bisa mendapatkan anak dari Tamara, bukankah kalian saling mencintai? "


Elvan pun memikirkan kembali ketika acara lamarannya itu gagal setelah ia menerima sebuah pesan dari Tamara yang memutuskan untuk pergi meninggalkan nya. seketika ia tertawa


" Hahaha.. kau benar benar pintar, pergilah bersama ku , akan ku antarkan kau ke rumah sakit "


Apa? jadi dia tidak menginginkan bayi ini? dasar ayah yang kejam


" Tidak perlu, aku bisa sendiri "


" Meskipun kita bukan orang tua yang baik, aku ingin sekali menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk ibunya "


Bertanggung jawab ? apakah ini caranya?


" Besok kau harus bekerja, aku masih memiliki beberapa hari cutiku, akan aku manfaatkan sebaik mungkin, kau bekerjalah seperti biasa "


" Aku akan tetap mengantarkan mu ke rumah sakit "


" Kau tidak perlu melakukan itu, aku sungguh bisa pergi sendiri "


" Kau memang keras kepala, baiklah terserah kau saja "


Elin meninggalkan Elvan dan duduk di sofa , sembari mengelus ngelus perut nya .


" Maafkan ibu yah sayang, " gumamnya


" Ibu memang seorang ibu yang sangat kejam, dan ibu yang jahat untukmu, maafkan ibu " seketika air matanya menetes , Elin kembali merapihkan tempat tidur nya itu ( sofa ) memejamkan mata agar semua ini akan menjadi mimpi baginya .