FORCED

FORCED
Pulang ke rumah



Pagi itu ketika zeline sudah mendapatkan cutinya beberapa hari ia benar benar memutuskan untuk pulang ke kediaman ibu nya . sekitar 3 jam ia menempuh perjalanan dari kota ke kampung. Di perjalanan zeline masih memikirkan bagaimana cara memberitahu ibu nya tentang kehamilannya itu . Tapi jika ibu nya tahu bahwa ia hamil tanpa seorang suami, ibu pasti membunuhnya atau mencoretnya dari daftar keluarga.


" Bagaimana cara memberitahu ibu yah " sembari mengelus ngelus perut nya yang masih rata


" Tidak aku tidak boleh melakukan itu,Bagaimana pun juga ibu harus tahu ini kan,Tidak! aku tidak mau ibu tahu,Ahh bagaimana ini, aku juga tidak mau mengugurkan bayi yang tidak berdosa ini "


Setiba nya di kampung halaman ia harus berjalan kaki menuju rumah nya karna memang menuju rumah ibu harus berjalan kaki menyusuri sungai . tidak ada kendaraan yang melewati jembatan itu, hanya untuk pejalan kaki yang menyebrang untuk ke kota dan sebaliknya. Suara ponsel berdering, ibu yang menelponnya.


" Ibu "


" Hallo bu "


" Zeline kau dimana ? "


" Aku baru saja menyebrangi sungai "


" Kenapa kau pulang mendadak ? "


" Aku sengaja ingin bertemu ibu . aku merindukan ibu huuu huuu " Lirihnya


" Anak nakal. cepat kemari " menutup telponnya


" Ah ibu, dia selalu menutup panggilan secara tiba tiba . "


Di rumah


" Ibu aku merindukanmu " Sembari memeluk ibu nya


" Berapa hari kau di sini "


" Ibu!! kau tidak merindukanku"


" Elin kau kan bekerja tidak boleh mengambil cuti lama lama nanti gajih mu di potong "


" Elin hanya 3 hari saja di sini Bu "


" Baguslah kau lapar ? ibu sudah membuatkan makanan kesukaan mu "


" Benarkah?? sepertinya memang aku lapar "


Suara teriakan terdengar ketika zeline sedang menyantap makannya . ia melihat seorang masuk ke dalam rumahnya dengan tergesa gesa .


" Elinn kau kembali " memeluk nya dengan erat


" Bibi kau merusak pendengaran ku dengan teriakannnu itu "


" Hehe maaf yah aku sangat merindukanmu. "


Yah dia adalah bibi zeline . Sahin namanya, usianya hanya 5 tahun lebih tua dari zeline.


" Bibi kau merusak makan siang ku , sebaiknya bibi pergi saja "


" Elin.. kau berani nya . " memukul tangan zeline


" Heii Sahin kau jangan menyakiti anakku "


" Kaka.. "


" Sudah sudah sebaik nya kau pergi , kau memang tidak punya pekerjaan "


" Kaka aku kan akan menikah dengan laki laki kaya aku tidak akan bekerja "


" Cihh bahkan laki laki yang kau temui itu mana dia?? dia tidak kembali lagi kan ? orang seperti kita tidak layak dengan orang kaya seperti itu , kau harus sadar diri."


"Kaka kau menyakiti perasaan adikmu "


" Sudahlah "


Apa yang ibu bicarakan ?


" Bibi kenapa kau mau menikah? "


" Tentu saja mah . memangnya kau tidak mau menikah juga ? "


" Bibi aku masih muda usia ku baru 25 tahun "


" Iya aku tahu makanya aku ingin segera menikah agar tidak menjadi perawan tua "


" Sudah ku katakan padamu kau menikah saja dengan tetangga kita "


" Tidak mau ,aku mau menunggu pangeran ku kembali "


" Ibu memangnya siapa orang yang di bicarakan bibi? " sembari mengunyah makanannya


" ibu tidak tahu , cepat habiskan makananmu, Sahin kau tidur denganku , kamar tidur zeline sudah ku bersihan , "


" Kaka aku tidur dengan zeline saja yah "


" Ibu aku tidur denganmu saja, biarkan bibi tidur di kamarku "


" Kenapa kau? biasanya kau tidak mau tidur dengan ibumu "


" Aku kan sudah bilang kalo aku merindukan ibu "


" Baiklah baiklah kau tidur dengan ibu. "


Malam hari..


" Kenapa lapar sekali sih padahal tadi siang aku makan banyak " melihat ke arah ibunya yang sudah tertidur pulas


" Ibu maafkan aku "


Berjalan ke arah dapur membuka lemari es melihat bahan bahan makanan yang tersisa hanya telur dan sayuran saja. Ia kembali membuka tudung saji di atas meja . ada beberapa makanan yang tersisa siang tadi . Zeline duduk di meja makan dan mengambil semua makanan di hadapannya . memakan dengan mulut penuh melihat sekeliling ruangan tidak ada siapa siapa, ia takut jika seseorang mengetahui nya . mungkin ini efek hamil nya ingin selalu makan banyak pikir nya. tiba tiba suara mengejutkan nya


" Zeline kau belum tidur? "


" Uhukk .. uhukk " dengan tangan yang terus memukul dadanya .


" Zeline minum dulu " menyodorkan segelas air putih kepadanya dan meminumnya


" Bibi kenapa kau selalu mengagetkan ku "


" Kenapa kau makan sebanyak itu ? bukannya tadi kau sudah makan ? "


Apa yang aku lakukan sekarang . bagaimana ini


" Cihh bahkan tadi siang kau makan begitu banyak "


" Bibi kenapa kau selalu menginterogasi ku terus sih,dan kenapa bibi juga belum tidur ?"


" Aku haus makanya bangun "sembari duduk berhadapan dengan zelin


Zeline menghentikan suapannya ketika bibi nya terus memandang ke arah nya . ia kembali meminum air di samping nya


" Kenapa bibi terus menatapku "


" Hah?! Ahh itu aku sudah hampir lupa sekarang kau makan begitu banyak. apakah makanan di kota tidak se enak makanan ibumu ? "


" Tentu saja ! " To do poin


" Tapi sekarang kau kelihatan berisi tidak seperti bulan lalu "


" Bibi kau mengira aku... aku hamil? "


" Tentu saja !! "


Apa? jadi bibi tahu ? apakah secepat itu


" Haha zeline kau ini , mana mungkin kau hamil . kau saja belum menikah "


Huhh untunglah bibi tidak secepat itu


" Bibi apa aku boleh bertanya?? "


" Tanya apa? "


" Bagaimana cara kita tahu kalo kita hamil? "


" Kenapa kau bicara soal kehamilan " mulai mencurigai


" Bibi temanku bertanya padaku "


" Oh itu . kau harus mencari informasi terkait kehamilan terlebih dahulu. kau harus membeli sebuah alat kontrasepsi dan menggunakannya di pagi hari . tapi kadang kadang alat kontrasepsi tidak menjamin bahwa kita benar benar hamil. kau harus periksa ke dokter kalo memang kau hamil. "


" Benarkah?? "


" Yahh seperti itu, lanjutkan makan mu aku mau tidur lagi "


" Iya bibi "


Ke esokan harinya masih dengan suasana menegangkan, di pagi hari ia kembali menatap sebuah alat kontrasepsi yang bergaris dua . tangannya bergetar hebat sembari memegang alat itu . ia memikirkan soal ibu nya tentang kehamilannya ini .


" Elin kau di dalam? "


" Ah iya Bu tunggu sebentar "


Bagaimana ini bagaimana? aku harus membuang ini kemana? disini tidak ada tempat sampah


" Elin cepat keluar ibu mau mandi "


" Iya Bu iya bentar "


" Kau lama sekali sedang apa sih "


" Ibu aku sakit perut, seperti nya aku makan terlalu banyak " teriak nya di balik pintu


" Kak Elin di dalam? "


" Yah " mengangguk


" Semalam dia makan banyak jadi dia seperti itu "


" Hah? tidak biasanya dia makan malam "


" Iya aku juga curiga padanya "


" Kau bicara apa hah. putriku baik baik saja " senbari memukul bahu adiknya


" Kaka "


Keluarlah elin dari kamar mandi , membuat bibi dan ibunya mematung melihat elin.


" Kenapa kalian menatapku ?"


" Tidak . kau sudah selesai? ibu mau mandi dulu "


" Iya Bu . " Berjalan melangkah pergi


" Tunggu ! " suara Sahin membuat elin berhenti melangkah


" kenapa?? " wajah yang mulai cemas


" Apa yang ada di tanganmu itu . kau menggenggam apa ?"


Ibu yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi pun melirik ke arah putrinya


"Tidak ada apa apa "


" Sini aku lihat "


" Tidak bibi ini bukan apa apa "


Sahin terkejut dengan benda yang ada di tangannya itu , iya benar benar tidak menyangka, membuat ibu Zelin menghampiri mereka dan melihat alat kontrasepsi itu .


" Jadi semalam bukan temanmu yang bertanya soal ini . tapi benar benar kau elin?! "


" Apa kau bilang ?! "


" Kaka semalam elin bertanya kepada ku tentang ini "


" Ibu aku bisa jelaskan semua ini "


" Kemari kau "ibu manarik lengan putrinya ke ruangan lain ,


" Siapa yang menghamili mu ?! "


Bersambung..