
Setelah pertandingan Final Piala FA berakhir dan dimenangkan oleh Manchester United, tim kembali menuju kota Manchester dan sudah ditunggu oleh ribuan penggemar. Walaupun hanya memenangkan satu piala, akan tetapi antusiasme penggemar tidak dapat dibendung. Mereka merayakan sepanjang hari di kota.
Setelah perayaan bersama penggemar dijalan kemudian perayaan resmi berlanjut dengan acara makan bersama seluruh elemen di Manchester United, dari pemain, staf dan bahkan para penjaga dan petugas kebersihan ikut dalam acara ini. James ingin persatuan dalam lingkungan kerjanya tanpa membeda-bedakan. Acara berlangsung hingga larut malam.
Seminggu kemudian James dan David terbang ke Jerman untuk mencari kandidat yang tepat untuk posisi Direktur Sepakbola bagi Manchester United. Mereka menuju tempat yang sudah dipersiapkan untuk pertemuan dengan bakal calon Direktur Sepakbola Manchester United tersebut. Tepatnya di Gelsenkirchen, sebuah kota pertambangan di Jerman.
Dia adalah Ralf Rangnick, yang saat ini menangani klub Schalke 04. Meskipun tidak banyak yang mengenal dia saat jadi pemain, akan tetapi sebagai pelatih dia sudah memiliki banyak pengalaman. Dia mulai menjadi pelatih saat berusia 25 tahun yang pada saat itu juga sebagai pemain dari tim kecil dikota kelahirannya Backnang, Jerman yaitu FC Viktoria Backnang tahun 1983.
Empat belas tahun setelahnya, di usia 39 tahun, ia dipekerjakan oleh mantan klubnya Ulm 1846. Ia kemudian memenangkan Regionalliga Süd di musim pertamanya. Rangnick kemudian ditarik oleh klub Bundesliga VfB Stuttgart, dan memenangkan Piala Intertoto UEFA pada tahun 2000, tetapi kemudian dipecat setelah rentetan hasil buruk. Pada 2001, ia kemudian bergabung dengan Hannover 96, memenangkan 2.Bundesliga kasta kedua liga Jerman, tetapi dipecat pada tahun 2004.
Saat ini musim pertamanya bersama Schalke 04 berhasil menjadi runner-up DFB-POKAL, dan berhasil menjuarai DFL-Ligapokal. Akan tetapi James disini bukan untuk membuat Rangnick menjadi pelatih, tetapi menjadi Direktur Sepakbola, karena memang bakat pria 47 tahun itu terletak dalam pemikirannya yang visioner. Dia pernah menjabat sebagai manajer interim Manchester United selama 6 bulan walaupun gagal total karena memang kondisi tim saat itu sedang kacau balau. Dia bahkan disebut sebagai profesor sepakbola selain Wenger dikehidupan James sebelumnya.
Rangnick diakui sebagai salah satu pelatih pertama yang mengandalkan taktik gegenpressing, di mana tim, setelah kehilangan penguasaan bola, berusaha secepat mungkin untuk memenangkan penguasaan bola kembali, alih-alih mundur untuk berkumpul kembali bersama. Hal ini dilakukan dengan mengandalkan kemampuan spasial pemain yang berkembang dengan meningkatkan kapasitas memori dan kecepatan proses berpikir. Rangnick mengembangkan taktik ini setelah melakukan pertandingan persahabatan melawan Dynamo Kyiv pada tahun 1984. Taktik ini terinspirasi oleh filosofi menekan dari Valeriy Lobanovskyi.
Dari sinilah James menginginkannya, dia ingin filosofi permainan terus menyerang dan menekan lawan tanpa lelah sampai akhir pertandingan.
"Apakah ini tempat kamu mengatur pertemuan, David?" James bertanya ketika dia turun dari mobil. Mereka berdiri di depan sebuah kafe tempat mereka bertemu dengan kandidat utama Direktur Sepakbola The Reds Devil.
"Ya, tapi kita 30 menit lebih awal, ini masih 1:30" Sean berkata sambil melihat arlojinya, "Dan kamu perlu menyewa sekretaris untuk membuat janji."
"Ya, saya akan memikirkannya, begitu saya bertemu dengan orang yang cocok sebagai sekretaris, sampai saat itu kau harus melakukannya." kata James main-main.
James meluangkan waktu sejenak untuk melihat sekeliling. Dia belum pernah ke Jerman sebelumnya. Itu adalah kota pertambangan batu bara di Jerman. Kota ini berada di tepi Sungai Emscher dan terusan kapal kanal Rhein-Herne. Kota ini sedikit mirip dengan Newcastle di Inggris.
Mereka duduk dan memesan kopi sambil menunggu jam menunjukkan pukul 2.
"James apakah kamu yakin tentang ini? Ini masalah serius. Keputusan yang salah di sini bisa membuat klub hancur." David berusaha memberikan masukan kepada James lagi.
"Tetapi dia belum memiliki pengalaman bekerja untuk klub Liga Premier." David mencoba yang terbaik untuk menjelaskannya kepada James.
"Akan tetapi dia pernah menangani klub asal Inggris Southwick saat sedang belajar di Universitas Sussex. Bahkan saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan." James menjelaskan.
"Baiklah kalau itu keputusanmu, sekali lagi aku meningkatkanmu untuk benar-benar tidak akan menyesali nanti." David mengingatkan James lagi.
"Aku sangat yakin tentang ini karena aku dari masa depan." James berkata seserius mungkin tapi David hanya memutar bola matanya.
"Ini bukan lelucon, kau tahu, kelangsungan seluruh klub terkait dengan keputusan ini."
"Ya, aku tahu dan aku menganggap ini lebih serius daripada siapa pun, itu sebabnya aku di sini untuk membujuknya bergabung dengan klub kami." James berkata dengan nada meyakinkan.
"Aku memilihnya karena dia pandai dalam data seperti profesor, data akan menjadi penting di tahun-tahun mendatang, terutama dalam pembentukan skuad dan pencarian bakat. Untuk tetap menjadi yang terdepan dalam kompetisi adalah kunci jika kita ingin sukses dalam sepak bola. Ini adalah kesempatan kita untuk mendapatkan keunggulan atas lawan kita." kata James sambil meminum kopinya.
David tidak sepenuhnya yakin tetapi dia tahu bahwa itu agak benar dan mungkin visi James akan membuahkan hasil di masa depan. Dan dia telah meneliti orang itu dan dia kompeten dalam pekerjaannya.
Saat jam menunjukkan pukul 1:57, seorang pria kulit putih dengan rambut hitam sedikit pirang dan kacamata berbingkai emas, mengenakan setelan hitam memasuki kafe dan berjalan menuju meja James,
"Halo, Tuan Packer, Tuan May, saya Ralf Rangnick." Dia memperkenalkan dirinya dengan bahasa Inggris yang fasih.
"Halo Tuan Rangnick, panggil aku James baik-baik saja. Bagaimana kamu mengenali kami?" James bertanya dengan perasaan benar-benar terkejut.
"Baiklah, James kalau begitu panggil aku Ralf saja. Aku mencarimu di internet sebelum datang ke sini." Ralf berkata saat mereka duduk.
James tidak terbiasa menjadi terkenal. Setelah berpikir sejenak, dia pikir dia harus terbiasa dengan ini karena meskipun dia tidak setenar selebriti, siapa pun yang mencari informasinya dapat dengan mudah mendapatkannya secara online.