Football Philosopher

Football Philosopher
Semifinal Piala FA, Stadion Millenium Cardiff



17 April 2005 pertandingan semifinal piala FA antara Newcastle United vs Manchester United akan berlangsung di Millenium stadium, Cardiff. James dan David menonton langsung pertandingan tersebut bersama. Stadion yang dapat menampung 74.500 penonton itu hampir penuh diisi dengan penggemar dari kedua tim.


Susunan pemain Newcastle United yaitu, Penjaga Gawang Given, dan menggunakan 4 bek yaitu Carr, Boumsong, Taylor, Babayaro, 4 gelandang yaitu Milner, Faye, Butt, Robert, dan 2 penyerang yaitu Ameobi dan juga legenda Newcastle United dan juga pencetak gol terbanyak di liga premier Alan Shearer. Menjadikan formasi 4-4-2 klasik.


Sedangkan skuad yang diturunkan oleh Manchester United yaitu, Penjaga Gawang Tim Howard, Bek Kanan Gary Neville, 2 Bek Tengah Wes Brown dan Rio Ferdinand, Bek Kiri Gabriel Heinze, Gelandang Sayap Kanan Cristiano Ronaldo, 2 Gelandang Tengah Roy Keane dan Paul Scholes, Gelandang Sayap Kiri Fortune, serta 2 Penyerang Rooney dan Van Nistelrooy.


Dan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, setelah peluit pertandingan dimulai Manchester United terus menekan pertahanan Newcastle United, pada menit ke-19 umpan dari Ronaldo dari sisi kanan tepat menuju Ruud van Nistelrooy, tendangannya meluncur ke sisi kiri gawang tidak dapat diantisipasi kiper dan masuk, membuat tim asuhan Sir Alex Ferguson unggul 0-1. Melihat itu James bersorak gembira, walaupun ia sudah tahu hasilnya, tetapi lebih menyenangkan menonton langsung dengan puluhan ribu penonton, sensasinya berbeda.


Pertandingan terus berlanjut dengan jual beli serangan tetapi skor masih bertahan, saat memasuki menit akhir babak pertama, lagi-lagi umpan dari Ronaldo membuahkan hasil, umpannya tepat menuju kepala Paul Scholes menyundul bola ke tiang dekat menggandakan keunggulan sebelum turun minum. James kembali bersorak bersama yang lainnya.


Saat istirahat pertandingan James berbicara dengan David, "Apakah kau memperhatikan formasi kedua tim David?"


"Meskipun tidak terlalu mengerti sepakbola aku masih tahu sedikit, kedua tim memakai formasi 4-4-2 klasik, apa ada yang salah dengan itu James?" David menjawab dan penasaran mengapa James menanyakan hal itu padanya.


Sejarah 4-4-2 pada 1960an. Formasi ini datang dari kepala pelatih asal Ukraina, Viktor Maslov. Meski begitu, ada peran penting yang dijalankan oleh Valeyriy Lobanovskyi dalam perkembangan formasi ini.


Pada 1961, Lobanovskyi adalah seorang pemain sayap muda yang bermain untuk Dynamo Kyiv. Saat itu posisi kursi nahkoda Dynamo dipegang oleh Viktor Maslov. Lobanovskyi sejatinya adalah pemain sayap yang lincah, punya visi bermain bagus dan punya teknik individu yang dominan. Namun gaya bermainnya ini sedikit dibatasi karena taktik yang diterapkan oleh Maslov saat itu.


Mungkin kamu berpikir kalau formasi 4-4-2 kan sangat mengandalkan peran pemain sayap. Tidak, ini bukan formasi dengan gaya bermain yang populer di Inggris saat ini. Saat awal diterapkan oleh Maslov di Dynamo, formasi 4-4-2 tidak mengenal peran pemain sayap. Hal inilah yang membuat peran Lobanovskyi kurang menonjol saat itu.


Akhirnya ia meninggalkan Dynamo pada 1964 untuk bergabung dengan Chornomorets Odessa dan Shakhtar Donetsk. Namun ia merasa benar-benar kecewa, karena sepeninggal dari Dynamo, kariernya malah meredup. Terlebih pada 1968 mantan klubnya meraih tiga gelar berturut-turut tapi Shakhtar Donetsk malah terpuruk di posisi ke-14.


Percaya atau tidak, hal itu membuat dirinya frustasi dan memutuskan untuk pensiun dini pada usia 29 tahun. Meski begitu, dia belum menyerah pada sepak bola. Lobanovskyi mulai memasuki karier sebagai pelatih pada 1969 menangani Dnipro Dnipropetrovsk. Di sana lah dia memulai eksperimen formasi yang terpikirkan di kepalanya, termasuk mengembangkan formasi 4-4-2 milik Viktor Maslov.


Tapi barulah pada 1973, momen di mana Lobanovskyi kembali ke Dynamo Kyiv lagi, namun kali ini sebagai pelatih. Di sana ia menemukan jawaban dari unek-uneknya selama ini: sepak bola butuh keseimbangan antar lini. Ia juga menyebutkan kalau keseimbangan antara kebutuhan pemain di dalam dan luar lapangan juga sama pentingnya.


Pada akhirnya, keseimbangan yang diadaptasi Lobanovskyi di Dynamo Kyiv lewat formasi maupun kebutuhan pemain membuat klub ini mampu bersaing di kancah Eropa. Buktinya dengan formasi 4-4-2 ala Lobanovskyi, Dynamo Kyiv mampu melibas Ferencvaros 3-0 di final Cup Winners' 1975, sekarang Europa League. Dynamo juga mampu mengandaskan Atletico Madrid di final ajang yang sama pada 1986. Sementara itu, mereka juga mampu menahan Bayern Munich 3-3 di leg pertama semifinal Champions League 1999.


Formasi 4-4-2 diakui sebagai formasi yang mudah dipahami oleh para pemain. Formasi ini juga menjadi populer di tanah Inggris pada 1970an. Kebanyakan klub inggris mengadaptasi formasi ala Lobanovskyi yang mengandalkan kedua sisi sayapnya. Fullback dan pemain sayap perannya sangat dominan di sini.


James melihat ke lapangan sebelum berbicara, "Tidak ada yang salah dengan formasi kedua tim, akan tetapi formasi itu sudah tua dan kebanyakan mengandalkan pemain sayap di kedua sisi lapangan pada saat ini. Lihat saja proses terjadinya kedua gol tadi, keduanya selalu mengandalkan bagian sisi lapangan sebelah kanan. Bagaimana pendapatmu David?"


"Sejujurnya aku bingung dengan itu, walaupun formasi itu memang sudah tua akan tetapi banyak tim di liga premier mengandalkan formasi tersebut, bahkan timnas Inggris memakainya." Jawab David sedikit bingung.


"Ada benarnya juga akan tetapi menurut pandanganku sebagai sebuah formasi kita harus membuat seimbang baik dari segi menyerang maupun bertahan seperti total football khas Tim Belanda. Walaupun aku bukan fanatik gaya total football, akan tetapi kita bisa mengadopsi gaya tersebut dan menyesuaikan sesuai dengan kebutuhan tim, lihat saja gaya bermain tim Barcelona di Spanyol yang semenjak ditangani Johan Cruyff, gaya total football di Barcelona bertransformasi menjadi Tiki Taka. Dan sampai sekarang warisan itu tetap dipakai, dan ini yang tidak dimiliki Manchester United." kata James menjelaskan.


'James bukan anak kecil yang selalu membuat ulah lagi, dia telah meneliti banyak hal tentang sepakbola dan terlihat sangat serius dibidang ini, aku harus membantunya sekuat tenaga' kata David dalam hati.


Tak terasa 15 menit berlalu dan pertandingan akan dimulai kembali.


Setelah 13 menit, tepatnya pada menit 58 pertandingan akibat kesalahan umpan dari Butt, bola didapatkan oleh Rooney dan langsung melancarkan serangan balik cepat, dia melakukan umpan satu-dua dengan Scholes dan Scholes mengoper ke Van Nistelrooy tendangannya langsung memasuki gawang dan skor menjadi 0-3.


Setelah gol ketiga Manchester United, pertahanan mereka sedikit kecolongan, baru satu menit setelah gol, Ameobi meluncurkan tembakan melalui kaki kiper Tim Howard untuk menyalakan kembali harapan The Magpies saat mereka mendapatkan peluang dari kurangnya fokus pertahanan Manchester United. Skor menjadi 1-3.


Given masih menjadi penjaga gawang yang lebih sibuk dan dia menepis tendangan chip Van Nistelrooy sementara juga menggagalkan upaya dari Rooney.


Dan tendangan jarak dekat Ronaldo pada menit ke-76 setelah umpan dari Van Nistelrooy yang tanpa penjagaan melengkapi kemenangan Manchester United yang mengesankan menjadi 1-4.


Manchester United melaju ke Final Piala FA dan akan bertemu dengan tim asuhan Wenger, Arsenal yang sehari sebelumnya mengalahkan Blackburn Rovers 3-0.